
''Udah baikan lagi kalian?'' Bryan berjalan menuju meja makan. Disana sudah ada Rayan dan Xena yang sedang sarapan.
''Lain kali, kalau berantem itu yang besar, biar putus aja sekalian.''
Rayan langsung memeberi tatapan tajamnya, begitupun dengan Xena. Sedangkan Bryan, pria itu tidak mempedulikan dan langsung memakan roti buatan Xena.
''Oh ya Xen.'' Bryan meletakan buku kecil diatas meja.
''Minta tolong kasih ke Clarissa.''
Mata Xena langsung menyipit, dia menelisik wajah Bryan yang nampak acuh tak acuh. ''Kenapa buku Clarissa bisa ada di kamu Bry?''
''Kepo aja.''
Bryan tidak menjawab. Dia mengambil susu yang sudah Xena siapakan dan langsung meminumnya hingga hampir setengah. Setelah itu, Bryan berdiri dan kembali masuk ke kamarnya.
Sebelum benar-benar menutup pintu kamarnya, Bryan kembali melihat pasangan itu. Ada rasa senang dihatinya, melihat Xena yang bisa kembali bahagia. Sekarang, sudah ada seseorang yang akan menjaga Xena dan mungkin juga sudah saatnya bagi dirinya untuk belajar membuka hatinya untuk orang lain. Karena bersama Xena, itu sudah tidak mungkin lagi.
''Hari ini kamu kuliah nggak?''
Xena menggeleng. ''Nggak. Hari ini aku bakal temenin kamu jalan-jalan.''
''Hhmm, tapi aku punya beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan lebih dulu, nggak masalah kan?''
Xena mengangguk. ''Nggak masalah, seharian di apartemen ini juga nggak masalah, asal ada kamu disini.''
Bryan hanya tersenyum, memencet pelan hidung Xena dan mereka pun kembali melanjutkan sarapan mereka.
*****
''Hans ...'' Sana berteriak, berlari menghampiri Hans. Semalam, wanita itu terus menunggu Rayan tapi Rayan tidak kunjung pulang.
''Mbak Sana?'' Hans bingung harus bereaksi seperti apa. Dia juga kaget melihat Sana di hotel ini. Aduh bisa gawat nih kalau mbak Sana ketemu mbak Xena, pikir Hans.
''Rayan nya mana?''
''Pa - pak Rayan? Saya kurang tau mbak.'' Sebenarnya, Hans keluar atas perintah Rayan. Rayan meminta pria itu untuk mengantar pakaian dan ipadnya.
''Jangan bohong, kamu nggak mungkin nggak tau dimana Rayan.'' Sana menatap apa yang sedang Hans bawa dan dia yakin kalau Hans akan pergi menemui Rayan.
''Maaf mbak, saya benar-benar nggak tau dimana pak Rayan.'' Hans tersenyum datar.
Tidak ingin Sana mengganggu atasannya, Hans pun memilih untuk kembali masuk ke kamarnya. Pria itu langsung menelpon dan memberitahu kalau dia bertemu dengan Sana.
''Kamu nggak usah keluar, nanti akan ada seseorang yang datang untuk mengambil barang-barang itu.'' Xena yang berucap. Setelah itu, dia menelpon Clarissa dan meminta tolong pada wanita tersebut.
''Berarti kamu benar-benar nggak tau ya kalau Sana ada disini?'' ucap Xena, sedikit merasa bersalah.
''Kan udah aku bilang. Xen aku mungkin bukan pria yang baik, tapi aku bukan pria yang suka berbohong.''
Xena mengangguk pelan. Tidak berapa lama, wanita itu sudah berdiri dan dengan cepat mengecup pipi kanan Rayan. ''Bonus untuk pria yang nggak suka berbohong,'' ucapnya terkekeh.
Rayan ikut tersenyum.
''Clarissa? Kamu Clarissa kan?'' Langkah Clarissa terhenti, saat seseorang menegurnya.
''Sana?'' Clarissa tersenyum dan menghampiri wanita itu.
''Oh ya ampun, sudah berapa lama aku tidak melihatmu?'' ucap Clarissa lagi.
Clarissa dan Sana adalah teman semasa SMA. Mereka cukup dekat, karena pernah satu kelas.
''Kamu ngapain disini?'' tanya Sana.
''Oh aku datang mengambil barang, kalau kamu?''
''Aku menyusul kekasihku.''
''Yah, aku masih ingin mengobrol denganmu, tapi aku harus segera mengambil barang titipin temanku.''
''Kebetulan aku sedang tidak punya kegiatan. Kalau aku ikut denganmu bisa nggak?''
''Boleh ... boleh, aku hanya akan mengantar barang ini setelah itu aku akan membawamu jalan-jalan.''
Clarissa pun pergi ke kamar Hans, untuk mengambil barang yang dititip Xena, sedangkan Sana, wanita itu hanya menunggu di lobby.
''Teman kamu cewek apa cowok?'' Sana memperhatikan Clarissa yang sedang menekan bel apartemen Xena.
''Xena.''
''Sana.''
ucap mereka kompak.
''Xen udah sampai barangnya?'' Rayan juga kaget, melihat Sana yang sudah ada di depan pintu apartemen.
''Sana.''
''Rayan?''
''Kalian saling kenal?'' tanya Clarissa melihat ketiganya secara bergantian.
Rayan tidak mempedulikan, dia mengambil barang dari tangan Clarissa dan ingin segera menutup pintu.
''Ray.'' Sana langsung menahan.
''Na pulanglah.''
Sana menggeleng. ''Aku nggak mau Ray, kecuali kamu ikut denganku.''
''Aku akan menemani Xena disini, sampai dia lulus kuliah.''
Xena langsung menatap pada Rayan. Agak kaget dengan ucapan Rayan barusan.
''Nggak Ray, aku nggak bisa biarin kamu disini, aku nggak bisa biarin kamu sama wanita ini lagi.''
''Dia kekasihku Sana.''
Sana diam dengan matanya yang mulai berair. Sekarang, Rayan secara langsung mengakui Xena sebagai kekasih dari pria itu.
''Lalu aku?'' tanyanya dengannya nada ketir.
''Sejak awal kamu hanya sahabatku Na. Tolong jangan bertindak berlebihan.''
Sana menggeleng. ''Sejak awal kamu mencintaiku, bukan dia. Dia hanya pelarian kamu Rayan, sadarlah.''
Rayan menarik nafasnya dalam. Harus bagaimana lagi agar Sana mengerti?
''Na, tolong pergi dari sini.''
''Nggak Ray, aku nggak mau.''
''Ini kenapa sih, kalian ribut-ribut dia apartemen orang?'' Bryan datang mendekat. Dia melihat mereka satu persatu.
''Bryan?'' Clarissa tersenyum melihat pria itu.
''Pokoknya aku nggak mau pergi dari sini kalau kamu nggak ikut aku pergi Ray.''
''Na tolong.'' Rayan masih berusaha berbicara baik-baik. Walau bagaimana pun dia tidak ingin berbicara kasar dan menyakiti wanita itu.
''Hei, pria itu tidak menyukaimu, untuk apa mengemis disini. Pergilah dan jangan mengganggu ketenanganku.'' Sana menatap nyalang Bryan. dia tidak terima dengan ucapan Bryan barusan.
''Ray.''
''Na, aku menyukai Xena dan itu tidak akan berubah jadi tolong kamu ngertiin. Sejak awal aku sama kamu emang ditakdirkan untuk menjadi sahabat, nggak lebih dari itu.''
Bryan kembali menatap Sana. Kurang lebih dia tau bagaimana perasaan wanita itu. Kisah mereka juga sama.
''Ray aku mohon tinggalin dia ....'' Sana masih berusaha.
Tiba-tiba, Bryan langsung menarik tangan Sana pergi dari sana, dia tidak peduli teriakan-teriakan Sana yang meminta untuk dilepaskan.
''Bryan.'' Clarissa berteriak memanggil Bryan, tapi Bryan tidak peduli.
''Bryan tidak akan menyakitinya, tenang saja.'' Xena menenangkan, karena melihat Rayan yang sedikit khawatir.
''Xen, kak Rayan aku pamit ya.'' Clarissa pun pamit pergi, karena tidak mau menggenggu pasangan itu.
''Aku harap Sana cepat mengerti dan aku harap dia bisa menerima semua ini.'' Rayan membuang nafas kasar. Walau bagaimana dia juga sedih, melihat Sana yang seperti tadi.
''Semoga saja Ray.'' Xena ikut menenangkan.
Bersambung .....