
Di pertigaan jalan sana, kira kira jaraknya lima ratus meter dari kedai kopi yang sekarang sudah memiliki tiga lantai ini, terlihat bangunan yang terkenal. Di sana ada toko roti yang katanya melegenda dan banyak di sukai orang. Nama tokonya, ‘ DanTa Bakery’s ‘.
***
Malam setelah Vaaz mengantar Tania pulang ke rumah. Tania bertemu seseorang di depan gerbang, habis bertemu dengan Ibu, katanya baru saja mengambil roti yang di pesan. Akhirnya Tania masuk ke dalam dengan jaket basah yang masih menempel di tubuhnya, ia berganti baju dan segera tidur.
Pagi hari, saat Tania membuka mata, tiba tiba jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, itu artinya Tania kesiangan dan sudah terlambat datang ke sekolah. “Bu, kok Tania nggak dibangunin ke sekolah?” Tania berkata datar, sedikit jengkel. “Kan badan kamu tadi malam panas, mana ngigo terus, emang dari mana sih, semalam?”
“Emang iya, Bu?” Tania menatap Ibunya tidak percaya. “Ya masa Ibu bohong.” Ibunya memberikan segelas susu untuk Tania minum. Tania mengangguk mengerti, berjalan keluar kamar dan duduk di meja makan, meminum susunya sampai habis.
Tania bosan kalau terus menerus di rumah, ia berinisiatif untuk peri ke toko roti miliknya. Tempatnya juga tidak terlalu jauh dengan kedai kopi yang biasanya ia kunjungi.
Perempuan itu cepat cepat mandi dan bersiap pergi ke toko roti milik ayahnya. Dua puluh menit selesai, Tania ingin meminjam handphone Ibu untuk menelpon Ayah, namun tiba tiba ada panggilan masuk, Tania tidak mengangkatnya. “Males amat ngangkat, paling penipu!”
Lagi, orang itu kembali menelpon ke nomor Ibu, karena kesal, ia langsung mematikan handphone itu dan langsung meletakkannya di meja makan, lanjut pergi meninggalkan rumah tanpa pamit pada Ibunya.
Perjalanan dari rumah Tania ke toko roti tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat, ya, lumayan, lah.
Saat Tania masuk ke toko itu, pembelinya sudah ramai mengantri. Tania bersalaman pada Ayahnya di dalam. “Ayah, Nggak papa kan, Tania ke sini?” Ayahnya tersenyum. “Bukannya kamu sakit?”
“Sembuh kalau ketemu Ayah.” Tania nyengir. “Ibu kamu ke mana?” Tania berpikir sejenak, bingung harus jawab apa.
“Tania juga tadi nyariin Ibu, tapi nggak ada di rumah, jadi langsung ke sini.” Tania tau apa jawaban Ayah setelah ini. “Tania, kalau mau apa apa pamit dulu sama Ibu, nanti kalau dia nyariin kamu ke mana mana gimana?”
“Iya Ayah, maaf. Tania udah nggak sabar mau ke sini.”
“Taro roti ini di depan sana.” Ayahnya memberikan satu wadah besar roti yang sudah di kemas, yang baru matang dari oven.
“Bukan disitu, letakkan di wadah yang ada tulisan ‘gratis’ “ Tania mengikuti instruksi dari Ayahnya. Ia meletakkan semua roti itu di wadahnya, kemudian kembali duduk di dekat Ayah, melihat Ayahnya begitu sibuk menguleni adonan roti yang nantinya akan di cetak.
“Untuk apa semua roti rotinya diletakkan di sana?” Tania bertanya, mengambil roti yang baru saja matang dari oven. “Untuk disedekahkan, Tania.”
“Untuk apa Yah, bukannya mereka semua mampu beli?” Ayahnya tersenyum, masih sibuk menguleni adonan roti yang belum jadi.
“Tania, di luaran sana, banyak sekali orang orang yang tidak bisa sarapan atau makan karena tidak punya uang. Lihat nanti, akan banyak orang yang akan mengambil roti itu satu persatu sampai habis. Kita sebagai orang muslim, wajib bersedekah. Jangan sampai tetangga atau saudara kita kelaparan, karena mereka para fakir miskin juga tanggung jawab kita, mereka wajib dibantu, bantunya juga semampu kita, Allah tidak pernah memaksa.
Dulu, pada zamannya Rasulullah, ada seorang ahli ibadah, tapi dia masuk neraka karena membiarkan tetangganya kelaparan. Jangan sampai Ayah masuk neraka gara gara membiarkan orang lain kelaparan.” Tania mengangguk mengerti, cerita Ayah pagi ini benar benar membuat Tania terharu dan mengerti, kalau semua orang, memang wajib meberi pada orang yang tidak mampu, jangan pelit.
Toko ini sudah ada sejak Mas Fahri berumur dua tahun, saat itu juga Ayah baru membuka toko ini dengan gerobak biasa, belum menyewa toko seperti sekarang. Kata orang\-orang, roti buatan Ayah paling enak diantara yang lain. Sampai sekarang rasa itu masih terjamin enaknya, tidak berubah walau sudah belasan tahun.
Tania menatap Ayahnya tak percaya. “Kok bisa?” Ayahnya tersenyum, “Kamu liat aja nanti.”
Tania diam, pembeli sudah banyak yang berdatangan, memborong semua roti yang baru diangkat dari oven. Setiap seorang itu keluar dari toko, pasti selalu meletakkan beberapa roti di wadah yang diletakkan di depan, sehingga kembali wadah itu penuh dengan sendirinya seiring dengan banyaknya pembeli yang berdatangan.
Tania mengerti, Ayah mengajarkan semua pembelinya untuk bersedekah, pantas saja toko ini tidak pernah sepi pembeli, rupanya Allah memang selalu mengembalikan apa yang Ayah berikan dan apa yang Ayah lakukan untuk mengajak orang ikut bersedekah.
“Ayah, Tania seneng kalau bisa bantu jualan di sekolah.” Tania ikut menyusun roti yang baru saja di kemas, ikut bergabung dengan para pembeli yang bolak-balik mengambil roti untuk dimasukkan ke dalam keranjang dan dibayar.
“Ayah lebih senang kalau Tania fokus belajar saja.” Tania yang mendengarnya tersenyum, duduk mendekati para pegawai yang bekerja. “Mas Danang, gimana kerja sama Ayah?” kebetulan, Mas Danang ini peawai barunya Ayah, dia juga teman lamanya Mas Fahri, mereka seumuran.
“Wih, mantap pokoknya, Tan. Ayah kamu terlampau baik, bijak, dan…dermawan pastinya.” Mas Danang tertawa lebar, Ayah mendengarkan percakapan keduanya, ikut tertawa. Mas Danang jadi malu sendiri. Tapi tidak papa, kan Mas Danang tidak mengada\-ngada dan tidak berbohong juga.
Tania mendekat pada Mas Danang. “Mas, boleh pinjem sepeda sebentar, nggak?” Mas Danang mengangguk mengiyakan, boleh. “Makasih, ya, Mas. Tania nggak lama, kok.”
“Eh, lama juga nggak papa. Semua akan ku berikan pada mu Tania.” Mas Danang tertawa, Tania ikut tertawa. “Beneran? Yaudah, Tania agak lama, deh.”
“Ayah, Tania keluar sebentar, ya.” Tania segera mengambil tasnya dan berjalan menaiki sepeda Mas Danang untuk pergi keluar. Kemana lagi kalau bukan ke kedai. Ia mengendarai sepeda dengan santai, lalu lalang kendaraan juga belum begitu ramai.
Sampai di depan kedai, ia memarkirkan sepedanya, naik ke atas untuk memesan kopi dan duduk-duduk mencari inspirasi. “Vaaz! Ngapain?”
“Lo sendiri ngapain?” Vaaz malah balik nanya, menatap Tania dari ujung kaki sampai ujung rambut. “Ngopi, lah.” Tania menjawab santai, duduk di depan Vaaz. “Kok nggak sekolah?”
“Sakit.” Tania menjawab datar, Vaaz langsung memegang kening Tania dengan punggung tangannya, memeriksa. “Ah, nggak panas.” Vaaz menyeringai, menyeruput kopi pesanannya. “Bolos sekolah lagi?” tidak usah dijawab pun seharusnya Tania tau apa jawaban pasti dari Vaaz. Paling kalau terlambat sedikit, ia malah belok ke mana mana.
Pagi cerah itu mereka gunakan untuk banyak membahas hal hal yang menurut Tania tidak penting, isinya cuma cerita-cerita Vaaz yang tidak ada artinya untuk Tania. Sekarang, giliran Tania yang akan membuka suara, bercerita tentang suatu hal yang minggu minggu ini mengganggu pikirannya.
“Vaaz, Tania punya sahabat namanya Aldi, orangnya ganteng. Kita temenan dari umur empat tahun, dulu rumah kita sebelahan, tapi dia pergi karena rumah itu dijual. Sekarang Tania pengen banget ketemu sama dia, tapi kayanya nggak mungkin.” Wajah Vaaz seidikit berubah, mengalihkan pandangannya ke lain arah.
“Nggak ada yang nggak mungkin, Tan. Kan sekarang banyak media sosial. Cari aja.” Vaaz memberikan solusi. Tania malah bengong memikirkan sesuatu. “Masalahnya Tania lupa nama panjang dia siapa.”
Lanjut, percakapan itu melebar ke mana mana. Hingga matahari semakin meninggi, Tania pamit pulang untuk kembali ke toko roti. Terakhir Vaaz bilang, “Jangan lupa minum obat, besok sekolah.” Tania mengangguk kemudian tersenyum. Dua menit punggung perempuan itu menghilang dibalik penglihatan Vaaz.
“Mas Danang, makasih ya, sepedanya.” Tania tersenyum, duduk di sebelah sang pemilik sepeda itu. Mas Danang hanya mengangguk takzim, kembali membaca koran harian yang biasa dibeli oleh Ayah.
Tiba tiba Mas Fahri datang dengan sepeda kesayangannya, masuk ke dalam toko, kaget dan langsung memegang dada ketika melihat Tania berada di toko ini. “Biasa aja kali, Mas! Ngeliatnya.” Tania tersungut ketika sifat asli Mas Fahri yang menyebalkan keluar, asik mengejek Tania .”Ngapain kamu di sini? Bukannya sekolah.”
Tania menatap malas Mas Fahri, malas berdebat juga tengah bolong seperti ini, lebih enak minum es cendol di seberang sana, dibanding harus melihat dan bersitatap dengan ciptaan Tuhan yang entah kenapa begitu menyebalkan.
“Bisu beneran loh kamu nggak jawab pertanyaan orang.” Mas Fahri mengambil roti di keranjang, membuka bungkusnya dan langsung melahapnya. “Ih, apaan sih, Mas! Kan tadi pagi Tania sakit.” Mendengar ucapan Tania, Mas Fahri hanya merespon dengan ber-oh ria, lanjut menikmati roti dan menghanpiri ayah di dapur. Dari tadi kek, perginya.
Siang itu Tania kembali ke rumah, lagi lagi ada telpon masuk dari nomor yang sama, dari nomor yang tadi malam juga menelpon ke nomornya Ibu. Tania tidak mengerti sebenarnya itu siapa, lama lama menyebalkan juga. Lihat saja kalau sekali lagi orang itu menelpon, Tania akan meneror kembali sama seperti yang orang itu lakukan.