SILENT MEMORIES

SILENT MEMORIES
Chapter 9 | 20.15 : Siapa yang paling Kecewa?



Kalau mengungkapkan saja tak bisa


Bagaimana saya akan mengerti apa yang kamu pinta?


Mnggu-minggu ini Tania sedang sibuk dengan kegiatan OSIS di sekolah, karena dalam waktu dekat ini akan banyak sekali program sekolah yang harus dilaksanakan dan pastinya butuh persiapan yang matang.


Minggu-minggu ini juga Tania jadi jarang pergi ke kedai kopi dengan Vaaz seperti biasanya, paling Vaaz hanya mengangguk mengerti dengan wajah yang berbeda, wajahnya lebih datar dan tatapan matanya lebih tajam. Vaaz juga tidak pernah cerita minggu minggu ini, dia juga lebih banyak diam dibanding seperti biasanya yang selalu menggoda Tania.


Sepertinya ia marah, namun tidak bisa menyampaikan pada Tania, karena ia juga sedang sibuk dengan organisasinya. Apalagi Tania yang selalu berdekatan dengan Daviar-ketua OSIS di sekolah ini. Keduanya tidak bisa dipisahkan, di mana ada Tania, pasti di sampingnya ada Daviar.


Minggu ini juga Vaaz sudah dua kali bertengkar, pertama di kantin pada hari selasa setelah bel istirahat, yang kedua di gudang sehabis bel pulang sekolah. Lawannya bukan main, kakak senior yang paling populer di sekolah ini. Seketika nama Vaaz jadi buah bibir dikalangan murid-muris SMA Kebangsaan.


Lagi, rapat baru saja dimulai dari sepuluh menit yang lalu, hati Tania mulai merasa gelisah ketika mendengar bisik-bisik dari beberapa cewek yang lewat di depan kelas Tania, bilang. “Gue penasaran, mau liat Vaaz berantem kaya gimana.” Tania melihat kelas, Vaaz sudah tidak ada, saat itu hatinya sudah kacau, takut-takut kalau Vaaz memang benar mau bertengkar.


Suasana seperti ini yang paling dibenci Tania, suasana yang paling membuat hatinya kacau. Pelakunya adalah orang yang selama ini membuat hati Tania selalu merasa tenang dan nyaman, namun mendadak merubah segalanya, membuat hati Tania menjadi gelisah berkepanjangan.


“Dav, izin keluar sebentar, ya.” Tania keluar dari lingkaran rapat. Segera menemui Vaaz di warung belakang sekolah. Benar saja, orang itu tengah menarik kerah baju orang yang Tania tidak kenal, Tania mendekat. “Vaaz, cukup!” Tania berteriak.


“Cukup, Vaaz…” Tania berkata lembut.


.


“Ada apa dengan minggu-minggu terakhir ini Vaaz? Dua kali berantem dengan tempat dan orang yang berbeda. Maaf, Tania beberapa minggu ini juga sibuk sama OSIS, jadi kita nggak bisa cerita cerita kaya biasanya. Maaf, Tania nggak bisa ngertiin Vaaz dalam beberapa minggu ini. Belajar dewasa Vaaz, nggak semuanya bisa diselesaikan dengan pukulan.” Tania menunduk, suaranya semakin parau menahan isakan tangis. Tahan Tania, tahan, jangan jadi perempuan cengeng.


“Maaf, Tan. Gue belum bisa jadi temen yang baik buat lo.” Hanya kata itu yang dikatakan oleh Vaaz, hanya kata itu yang mengantarkan ekspresi kekesalan Vaaz pada Tania. Vaaz hanya bisa mengatakan itu pada Tania, yang sejujurnya ia sangat kesal, cemburu, dan merasa diabaikan oleh Tania minggu-minggu ini. Tapi Vaaz tidak pernah mengutarakan apa yang ia rasakan.


Setelah mengatakan itu dan keduanya saling terdiam, Vaaz tak lama pergi meninggalkan Tania sendiri, pergi menghilang dari hadapan Tania. Sungguh, baru kali ini Tania menangis karena perasaannya terhadap laki laki, baru kali ini ia meraskan kesalahan yang luar biasa.


Baru saat Vaaz pergi dari hadapan Tania ia bisa mengeluarkan air matanya, air mata kekesalannya mengenai sebuah pertanyaan. Kenapa Vaaz tidak bilang kalau ia sangat membutuhkan Tania, kenapa Vaaz tidak bilang kalau ia banyak masalah dan butuh Tania sebagai teman curhat dan tempat untuk menyelesaikan segala permasalahan. Kenapa Vaaz tidak berani mengatakan hal itu padahal ia sangat butuh Tania.


Padahal selama ini Tania sudah mengerti, Vaaz hanya butuh orang orang seperti Tania yang akan mengarahkannya ke jalan yang lebih baik. Tania juga tau kalau Vaaz hanya bisa menyelesaikan masalah dengan kehadiran Tania disampingnya.


Minggu minggu itu juga Tania jadi banyak diam, apalagi sebentar lagi kegiatan OSIS akan diselenggarakan, pastinya banyak yang akan dikerjakan dan lagi-lagi membutuhkan waktu yang lumayan banyak. Tidak punya waktu untuk menghabiskan bersama Vaaz, bahkan walau hanya menegur pun Tania jadi sungkan, sama seperti yang Vaaz lakukan.


Ada apa dengan minggu-minggu ini? Kenapa semua terasa begitu asing? Kenapa Tania merasa begitu jauh dengan Vaaz? Kenapa Tania jadi sungkan dekat dengan Vaaz?


Pertanyaan itu menjadi pr terbesar dalam waktu ini, entah kejadian apa yang akan mengembalikan semuanya, mengembalikan semua seperti biasanya.