
Saat itu pintaku hanya satu,
Semoga waktu tak bergerak maju,
Dan mengembalikan kita seperti dulu.
( -Ronasenja )
Sampai kantor polisi Vaaz bertemu dengan pelakunya. Orang itu sudah ditangkap polisi, kakinya sengaja ditembak karena melawan dan berusaha kabur.
Setelah itu Vaaz diantar ke rumah sakit namun ia menolak dan lebih memilih untuk pulang.
Dua hari kemudian, Vaaz menjemput Tania di toko roti. Ini terakhir kalinya Vaaz mengajak Tania jalan jalan naik motor. Bukankah Tania suka sekali naik motor?
Tania sedang duduk di bangku depan menunggu Vaaz. Wajahnya datar tanpa ekspresi. "Yuk, jalan jalan. Hari ini gue mau ajak Lo ke tempat tempat yang paling berarti. Nanti di sana lo.boleh tanya apa aja kecuali masalah kemarin." Vaaz memberikan helm pada Tania.
Hari ini cuacanya bersahabat, tidak begitu panas. Vaaz mengajak Tania berkeliling untuk yang terakhir kali.
Pertama sekali, Vaaz mengajak Tania makan di kedai nasi goreng. Vaaz dengan lahap memakannya, sementara Tania tidak memesan apa apa, ia sedang menghapus memori tentang pertama kali mereka bertemu.
"Tan, jangan bengong terus." Tania yang mendengarnya hanya menggeleng pelan.
Lengang.
Vaaz masih lahap memakan nasi gorengnya. "Ada sesuatu yang mau ditanyain di tempat ini? Kali aja Lo mau ganti duit gue, waktu pertama kali kita ketemu, waktu gue bayarin Lo nasi goreng."
Tania mengucek matanya yang gatal "Tania nggak suka sama sifat Vaaz yang jutek." Vaaz yang mendengarnya tertawa. "Gue nggak suka sama cewek ceroboh dan pelupa." Tania mengernyitkan dahinya.
Setelah itu mereka lanjut ke kedai kopi. Ini tempat paling bersejarah. Tempat favoritnya untuk menulis puisi puisi. Vaaz memesan espresso kesukaannya, sementara Tania memesan es kopi susu.
Lamat Lamat Tania melihat sekeliling kedai, ia akan mengingatnya sampai kapanpun juga. Kedai ini tempat paling memiliki arti.
"Sebenernya dulu gue dihukum Bu Sri atas usul Lo apa bukan?" Vaaz menatap Tania yang tersenyum.
"Iya, Tania dulu kerja sama juga sama Malik. Tapi itu usul terbaik Vaaz, cuma nemenin orang nulis doang emang capek? Nggak, kan?"
"Emang kenapa sih? Lo perduli banget sama gue. Sampe kadang kadang gue risih dideketin sama Lo."
"Dulu, dulu banget, Tania punya temen nakal, sebenernya pengen sih, ngingetin dia ke jalan yang bener, tapi terlalu gengsi, sampe Tuhan ambil dia gara gara hal konyol, dan kalo aja saat itu dia dikasih perhatian, mungkin sampai saat ini dia masih hidup. Orangnya udah nggak ada, Tania jadi nyesel sendiri, kenapa dari awal nggak ngingetin dia untuk nggak melakukan hal itu."
"Trus pas SMP, ketemu sama Malik. Dan Malik nakalnya ngelebihin Vaaz. Mulai dari situ Tania deketin dia, emang nggak mudah, ya sama aja kaya deketin Vaaz waktu itu. Suka ngelarang ini itu. Suka ngoceh kalo Malik ngelakuin hal itu. Lambat laun dia ngalah, dia jadi suka dengerin saran dan masukan dari Tania. Pas SMA untungnya dia jadi orang berguna, coba kalo nggak, satu komplotan sama anak anak yang lain termasuk Vaaz."
Vaaz menepuk jidat, menatap Tania tidak percaya. "Demi apa? Malik? Malik ketua kelas kita. Nggak nyangka masa lalu dia juga suram." Vaaz tertawa, seketika membayangkan sifat Malik yang berbanding terbalik dengan sekarang. Sekarang Malik cerdas, ketua kelas, dan ikut organisasi, terlebih dia dikenal banyak guru karena kepandaiannya.
"Nah, pas di SMA, Tania ketemu Vaaz. Awalnya kesel sih, selalu di tinggalin dan dimarahin nggak jelas. Tapi, udah kebal juga karena dulu Malik lebih parah." Tania menunduk, mengingat kejadian itu ia jadi tertawa sendiri.
"Tania waktu pertama kali ketemu Vaaz di sini seneng. Keliatan banget kan, orangnya baik, nemenin minum kopi walaupun kita nggak saling bicara, terus ngasih sapu tangan juga. Tapi setelahnya Vaaz berubah menyebalkan. Nggak pernah senyum, nyebelin, marah marah mulu lagi."
"Bukannya gitu, gue awal awal juga seneng kenal sama Lo. Eh besok besoknya, nyebelin, mana setiap gue mau kabur dari sekolah Lo mergokin gue mulu, kan? Tapi berbulan bulan gue luluh kok, kayak Malik." Vaaz tersenyum.
Setelah itu keduanya menikmati senja untuk yang terakhir kali di kedai kopi. Berfoto saat mentari mulai meninggalkan singgasananya, saat buminya untuk beberapa saat berubah menguning indah sekali. Vaaz dan Tania berfoto berdua.
Setelah itu Vaaz mengantar Tania untuk pulang, nanti malam mereka bertemu untuk yang terakhir kali di bandara.
"Jangan lupa jam tujuh, udah sampe bandara ya." Vaaz mengingatkan. Tania hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian masuk ke dalam toko.
Kalau boleh Tania pinta, waktu jangan bergerak, biarkan seperti ini, dan jangan biarkan ia menyaksikan kepergian Vaaz yang sesungguhnya.
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh, di luar toko roti sudah ada taksi yang menunggu. Tania segera berangkat, tak lupa membawa beberapa hadiah untuk Vaaz.
Sampai bandara Tania segera berjalan menuju resto yang dibilang Vaaz. Rasanya untuk melangkah berat sekali. Tania sungguh tidak ingin ini terjadi. Ia duduk di hadapan Vaaz, memberikan bungkusan yang sudah Tania bawa dari rumah. Vaaz langsung mendongak, menatap Tania dengan wajah sumringahnya.
"Gue mau kasih tau Lo sesuatu, tapi Lo jangan nangis. Kemaren dua hari yang lalu gue ke kantor polisi, ketemu sama pelaku yang udah nyulik Lo, yang udah berani ngerebut Ibu Lo. Dan ternyata orang itu juga yang udah ngebunuh Rayna dan otak dari segala pembunuhan yang lainnya."
Tania yang mendengarnya tidak percaya, matanya berkaca kaca. "Kok bisa?" Vaaz mengangkat bahu. "Belum tau sih, kenapa dia berani ngelakuin semua kejahatan itu. Baru tes kejiwaan hari ini kayaknya. Kalo menurut gue orang itu psycho, mungkin."
"Gue ngelakuin ini buat kebaikan Lo, Tan. Kalo aja malem itu Lo ngomong yang ngelakuin semua itu ada hubungannya sama Ibu Lo. Gue nggak habis pikir, keluarga Lo terutama Ayah Lo pasti marah banget. Dan ujung ujungnya juga perpisahan. Apapun yang terjadi, semisal untuk menyatukan Ibu Lo sama Lo adalah mengorbankan diri gue sendiri. Gue nggak apa apa. Gue ikhlas. Toh orang lian juga udah tau kalo gue nakal. Yang penting, Tan. Gue nggak pernah berbuat kaya gitu sama Lo. Cuma Tuhan yang tahu apa niat gue."
"Apa Lo mau Ibu sama Ayah Lo berpisah? Nggak, kan? Gue yang paling ngerasain gimana rasanya orang tua gue berpisah. Itu beneran merusak mental."
"Gue juga nggak ngerti Tuhan punya rencana apa. Seakan semuanya harus dibayar dengan pengorbanan. Gue mau urusan Rayna selesai, gue mau Lo selamet malam itu, bayarannya hari ini. Perpisahan."
"Tapi gue lega, semuanya bisa baik baik aja."
Tania menitikkan air matanya, sementara Vaaz terlihat biasa biasa saja.
"Trus tujuan Vaaz mau ke mana?"
"Malaysia. Adek gue sekolah di sana. Kemungkinan juga gue sekolah di sana." Vaaz tersenyum. Memberikan Tania sapu tangan untuk mengelap air matanya.
"Oh, iya, Tan. Gue lupa bawain buku puisi Lo. Tapi, ada tapinya, buku puisi itu jadi jaminan. Kalau suatu saat kita bisa ketemu lagi."
"Kalo nggak, gimana?"
"Tenang, sesuatu yang menjadi milik Lo, nggak akan pernah bisa jadi milik orang lain. Kalo nggak memungkinkan gue balikin pake tangan gue sendiri. Nanti gue balikin lewat perantara."
"Kenapa sih, Vaaz, dari tadi keliatan bahagia banget. Seneng ya pengen pergi jauh?" Tania cemberut, matanya sembab.
"Iiih siapa bilang bahagia? Sedang pura pura bahagia. Gue bahagia aja Lo nangis, gimana gue nangis? Lo jerit jerit ntar. Malu kan ini di tempat umum. Lagian nggak pantes, kita kan udah dewasa. Kayaknya Lo takut banget gue nggak balik, gitu ya?" Mendengar hal itu Tania memukul Vaaz, tertawa.
"Habis nangis ketawa, makannya nasi putih." Vaaz meledek Tania, meminum pesanannya di atas meja.
"Gula Jawa!" Tania mengelap air matanya, tambah kesal Vaaz berbicara seperti itu.
"Sekarang Lo makannya gula Jawa? Nggak makan nasi putih lagi?" Tanya Vaaz penuh selidik, kemudian tertawa melihat Tania yang kesal. "Nggak, Tan, bercanda. Biar nggak cry cry lagi."
"Nih ada sesuatu dari Ibu. Trus gue buat surat buat Lo. Buatnya susah loh, Tan, tiga hari tiga malem dari yang abis pulang waktu itu." Vaaz memberikan kotak yang dibungkus dengan totebag.
"Hadiah ulang tahun Tania mana?"
"Kan udah, nasi kuning sama kue tart." Vaaz terkekeh.
"Tania kira ada lagi."
"Ada di dalem. Syarat membaca suratnya, kalo Lo pergi jauh dari rumah. Kalo Lo ada dirumah atau di toko roti, jangan dibaca."
"Kenapa?"
"Karena udah dibuat peraturannya kayak gitu."
"Yah, udah jam setengah delapan lewat. Gue pamit ya Tan. Lo jaga diri baik baik, jangan suka bolos sekolah ngikutin gue. Jangan berhenti menulis karena nggak ada yang nemenin lagi. Dan terakhir, JANGAN NYARIIN GUE!!!" Mereka sudah keluar dari resto itu, Tania yang mendengarnya menangis lagi. Vaaz langsung mengelapnya.
Tania hanya mengangguk. Vaaz mulai melangkah masuk, membawa dua koper dan satu Tote bag dari Tania.
.
Vaaz sudah jauh beberapa langkah dari Tania. Tania yang melihatnya menangis, kemudian Vaaz berhenti, menoleh ke belakang, kembali lagi menghampiri Tania. "Ada yang lupa, Tan."
"Apa?" Tania mengelap air matanya.
"Yang terakhir lagi, jangan pernah pindah ke lain hati. Tetap ada di sini." Vaaz menunjuk hatinya. Tania langsung memeluk Vaaz, menangis dalam dekapannya.
Ya Tuhan, kenapa nasibnya harus seperti ini?
"Sttt, udah. Gue pamit, ya. Assalamualaikum." Vaaz melepaskan pelukannya, melambai pada Tania. Terlihat dari belakang ia mengelap air matanya.
Tania gemetar menjawab salam Vaaz. Melihat Vaaz menghilang di kelokan membuat Tania berlari sekencang kencangnya.
Menyetop taksi dan langsung pulang ke rumah, membawa sesuatu yang telah Vaaz berikan.