SILENT MEMORIES

SILENT MEMORIES
Chapter 2 | 19.10 : Ulang Tahun Pak Han



Saya bahagia bisa diajak berbicara denganmu


Ya, setidaknya saya tidak perlu menunggu kamu menjawab sesuatu


Pun tidak usah berharap berlebih tentang dirimu.


( -Ronasenja )


Mengingat kejadian itu, membuat Tania mengeluarkan sapu tangan yang pernah diberikan oleh Vaaz, sapu tangan ini tidak akan pernah kembali pada sang pemiliknya, dan sampai saat ini Tania masih menyimpannya dengan baik.


 


Lagi ada satu hal yang membuat hatinya merasa malu, saat Tania berjanji akan membelikan espresso untuk Vaaz, sebagai tanda terima kasih kalau waktu itu ia pernah membayar nasi goreng milik Tania. Bukannya membayar tagihan pesanan waktu itu, Tania malah kabur karena Mas Fahri sudah memanggilnya. Ah, lagi lagi karena Mas Fahri.


 


-


 


 


Pagi ini seperti biasa Tania diantar oleh Mas Fahri ke sekolah, sepanjang hari Tania merajuk pada Mas Fahri, karena ia juga kening Tania benjol dan kakinya terkilir, jadi susah berjalan.


Nadila teman sebangku Tania pun bertanya soal ini, “Kening kamu kenapa, Tan?” Aduh! Tania jadi malas deh, jawabannnya, nggak penting. “Kemarin Tania jatuh.” Nadila melihat kening Tania lebih dekat. “Ih! Nggak usah deket deket juga kali.” Tania menjauhkan wajahnya dari mata Nadila.


“Benjol?” Tania mengangguk. Kenapa juga hanya cuma benjol pake di perban segala?


“Soalnya Tania malu kalo nggak di perban, ya walaupun cuma benjol. Biar kaya di film film aja, sih.” Nadila yang mendengarnya tertawa, “Kebanyakan nonton film, ih!” sampai percakapan mereka terhenti karena guru sudah masuk ke dalam kelas, pembelajaran akan segera dimulai.


Sedang asik mengerjakan soal-soal, Vaaz masuk dengan santai ke kelas, terlambat. Dengan wajah datar tapi tampannya itu, ia memberikan kertas point pada guru dan duduk di bangkunya.


Tak pernah berbicara, bicara seperlunya, entahlah, Tania belum bisa mengerti. Kepribadian Vaaz justru bertolak belakang dengannya. Tania yang cerewet dan Vaaz yang lebih suka diam seribu Bahasa.


 


Waktu melesat cepat bagai kedipan mata, hari hari juga berjalan seperti biasa, tapi Tania sudah lebih akrab dengan Vaaz karena perempuan itu selalu mengajaknya berbicara. Kadang Tania juga sok akrab dengan Vaaz, orang itu selalu merespon dengan wajah datar dan gerak malas malasan, berbanding terbalik dengan Tania yang hiperaktif. Juga beberapa waktu lalu, sudah tiga kali Tania memergoki Vaaz yang hendak manjat pagar sekolah, kabur. Tania langsung menarik Vaaz kembali ke kelas.


Entah, Tania tak mengerti, kehadiran Vaaz beberapa waktu ini membuat Tania merasa senang. Senang saja, seperti mendapat energi baru dan bersemangat untuk sekolah. Emangnya Vaaz itu apa? Susu? Yang dapat memberikan semangat dan energi baru?


Setelah pulang sekolah seperti biasa, Tania selalu mampir ke kedai kopi kesukaannya. Hanya mencari inspirasi untuk menyelesaikan puisi-puisi. Pemandangan di sini bagus, matahari terbenam dengan sempurna kalau sudah sangat sore, memperlihatkan cahanya yang menguning, indah.


Sebenarnya Tania juga sedang menunggu dua temannya yang katanya ingin ikut mengerjakan tugas. Semoga kedua orang itu tidak mempunyai penyakit seperti Mas Fahri, pelupa. Kadang saat perut meminta jatah untuk makan atau sekadar membeli jajanan, tapi kantung uang tak memberi jaminan, alhasil sore ini tanpa donat. Tapi tetap pada kopi kesukaan Tania. Machiatto.


“Pak Han ulang tahun, kamu mau ikut?” Tania menatap Nadila tak percaya. Benar benar rejeki. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia langsung memasukkan notebook-nya ke dalam tas, menyeruput kopi pesanannya yang masih panas, sayang sayang kalau dibuang, kan belinya pakai uang. Lantas langsung berjalan beriringan dengan Nadila.


Di luar kedai, ternyata sudah ada Vaaz dan Malik-ketua kelas di kelas Tania.


Lantas Nadila langsung menaiki motornya dan memboncengi Tania. Sepanjang perjalanan keduanya asik berbincang, tertawa sampai motornya oleng ke sana ke sini. Tapi keduanya tetap santai selama masih dalam kendali. Maklum, Tania itu anaknya terlalu receh, humornya anjlok sekali. Hal hal yang menurut orang tidak lucu sama sekali, tapi dia bisa tertawa girang karena menurutnya sangat lucu.


 


Alhasil dalam perjalanan menuju rumah Pak Han sempat terhenti, keduanya kehilangan jejak, lanjut menjadi permasalahan yang berujung salah menyalahkan orang lain, kalau sudah begini keadaannya menjadi rumit, apalagi koneksi internet yang kerap kali menghilang membuat Tania dan Nadila jengkel, saling menyalahkan.


 


Setengah jam terasa berjam jam karena keduanya tidak tau harus melakukan apa, duduk saja di pinggiran trotoar, kalau perlu letakkan mangkok kosong di depannya, nanti kalau sudah terisi penuh baru pulang. Emangnya Tania apa? Pengemis?


Keduanya hampir putus asa, karena masing masing tidak mengetahui tempat ini di mana, apa jangan jangan dari tadi Nadila mengendarai sesuka hatinya? Tidak melihat kemana motor Malik berjalan.


“Nadila!”


“Ih! Panik tau kita berdua nggak tau jalan.” Nadila menghampiri Malik, wajahnya dilipat karena kesal.


“Mangkanya jangan kebanyakan bercanda! Nggak di mana mana kerjaannya bercanda terus. Diem sebentar gitu kalau lagi di kendaraan.” Malik mengingatkan jengkel yang dibalas dengan tatapan sinis dari Tania.


“Yaudah Vaaz, lo aja yang bawa motor.” Vaaz langsung turun dari motor dan mengendarai motor miliknya. Sementara Nadila sudah duduk di motor dengan Malik, lalu Tania? Ia masih bengong memikirkan sesuatu.


“Lo mau tinggal di sini aja Tan, sampe besok?” Tania langsung naik ke jok motor. Vaaz mulai menggas motornya, mengikuti arah kemana Malik berjalan.


 


Entah kenapa, Tania merasa tenang sekali diboncengi Vaaz yang santai dalam mengendarai, ya, walaupun tidak pernah nge-rem. Setidaknya Tania bisa berjalan jalan naik motor dengan Vaaz. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan apapun, Tania hanya bilang terima kasih saat sudah sampai di rumah Pak Han.


Sampai rumah Pak Han sangat ramai, semua siswa siswi kelasan Tania hadir, ikut meramaikan acara, ya, walaupun hanya acara kecil kecilan, hanya syukuran seperti biasa. Ujung dari acara adalah pemotongan kue yang diberikan anak anak sebagai *surprise* dan beberapa kado yang sengaja dibeli dengan uang kas.


 


Dan pulang pada pukul delapan malam, lagi Tania diboncengi oleh Vaaz, sepanjang perjalanan juga tidak ada percakapan, entah, Tania jadi takut mengajak Vaaz berbicara, seperti ada rasa yang berbeda. Rasa apa Tania tidak tau, yang lebih jelas Tania belum tau.


Hanya saat sampai rumah Tania baru membuka suara, “Vaaz, hati hati, ya?” Vaaz menoleh, tersenyum sambil mengangguk. Tania langsung berbalik badan dan berjalan meninggalkan Vaaz. “Tania!” Tania menoleh kembali, mengisyaratkan, kenapa?


“Lagi sariawan? Kok dari tadi diem aja?” Tania yang mendengarnya tersenyum, menampilkan gigi rapihnya dan tidak menjawab pertanyaan Vaaz. Rasanya Tania bahagia diajak bicara dengan Vaaz. Ya, walaupun cuma satu kalimat.