SILENT MEMORIES

SILENT MEMORIES
Chapter 19 | 21.35 : Terlalu Benci



Tidak ada lagi kata kata untuk menggambarkan bagaimana perihnya luka.


Mungkin dibelahan bumi sana banyak yang merasakan sakitnya luka seperti saya.


( -Ronasenja )


-


Tania membuka tasnya, melihat album foto yang banyak sekali foto Vaaz, sungguh sekarang Tania sangat merindukan Vaaz. Foto foto itu menjadi obat rindu selama bertahun tahun.


Juga banyaknya foto keluarga Tania. Foto Ayah, Ibu dan Mas Fahri sedang foto bersama, Tania sengaja mencetaknya untuk kenang kenangan, saat rindu itu datang, maka obat paling mujarab adalah foto ini. Walaupun foto itu diambil saat Tania masih baik baik saja, Tania akan melihat foto itu juga baik baik saja, walaupun sudah beberapa tahun tidak bertemu mereka, Tania sungguh merindukan mereka terkecuali Ibu.


--


Setelah peristiwa kemarin, Tania tidak ingin sekolah, Tania mau pergi dari rumah, Tania butuh seseorang untuk menceritakan segala keluh kesahnya.


Hari ini burung yang biasa berceloteh setiap pagi, menanyakan banyak hal pada Mas Fahri, kini mendadak bisu, tatapan matanya kosong, padahal ini masih pagi, seharusnya ada banyak mimpi yang harus dibangun lagi.


Lima belas menit sampai, Tania mencium punggung Mas-nya, tanpa mengatakan sepatah kata pun, langsung berbalik badan dan masuk ke gerbang sekolah.


Hubungan Vaaz dan Tania masih membaik, Vaaz tidak tahu kalau saat ini Tania sedang hancur hancurnya, sungguh Tania memerlukan orang yang akan mendengarkan segalanya tanpa perlu ditanya mengapa dan kenapa.


Hari di sekolah tidak berjalan sebagaimana biasanya, di sekolah, Tania lebih banyak diam dibanding hari biasanya, ditanya oleh guru pun Tania sering gelagapan sendiri, terlalu sering berpikir tentang Ibu, mengapa Ibu sejahat itu pada Tania?


“Tan, kamu baik baik aja?” teman sebangku Tania bertanya, orang yang ditanya hanya mengangguk pelan.


Saat bel pulang sekolah, perwakilan kelas disuruh menemui ketua OSIS, karena Malik berhalangan datang, akhirnya Vaaz yang menggantikan. Tumben tumbenan orang itu mengiyakan.


Tania sedang duduk sambil membaca buku di kursi depan, seorang siswi membicarakan kalau keduanya ingin melihat Vaaz bertengkar di warung belakang. Emosi Tania memuncak, ia segera meletakkan bukunya di kursi, berjalan mencari Vaaz.


Ruangan yang harus pertama di datangai adalah ruang OSIS, apakah Vaaz menjalani amanah dengan baik atau tidak, awas saja kalau ia malah kabur, Tania tidak segan segan memarahinya, kalau perlu ngambek saja setahannya.


Tidak tahu mengapa deru napas Tania cepat sekali, sudah kesal melebihi batas, sama seperti kejadian kemarin. Rasanya ingin meledak. Tapi Tania harus sabar, ini sekolahan.


Sampai di ruang OSIS, Tania membuka pintu. Mencari seseorang. Bagus. Vaaz sedang duduk mendengarkan, walaupun Tania harus menahan malu saat semua pasang mata menatapnya bingung, ingin tertawa tapi ini sungguh menyebalkan, Vaaz malah memanggil Tania, tapi Tania acuh, mengabaikan dan segera balik ke kelas.


Setelah itu Tania kembali ke rumah, lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur, sesekali menangis sesenggukan.


Ayah dari luar mengetuk pintu kamar, mengajak makan malam seperti biasa, Tania keluar dengan wajah pucat dan mata merahnya.


“Kau sakit, Tania?” sakit Ayah melihat Ibu mencintai laki laki lain. Tania cepat cepat menggeleng, meyakinkan kalau dirinya baik baik saja.


Ibu segera meletakkan makanan di meja. Mana makanan yang dua hari lalu Tania pesan? Semua sudah mengambil lauknya masing masing, terkecuali Tania, ia hanya mengaduk ngaduk sup di mangkuk.


“Ayo di makan Tania, nanti nasinya keburu dingin.” Ayahnya mengelus lengan Tania pelan, kalau mendapat perlakuan seperti ini rasanya Tania sakit hati sekali, jelas jelas Ayah sangat baik pada anak anaknya apalagi terhadap Ibu, kenapa pakai segala harus ada laki laki lain yang lebih Ibu cintai daripada suami sendiri?


“Tania nggak suka makanan ini! Tania mau makanan yang dua hari lalu Tania pesen!!” Tania berteriak, menatap tajam Ibunya. Ibunya bangkit berdiri, menuang lauk yang ada ke piring Tania. Orang itu malah menggeser piring dengan kasar sampai mau terjatuh ke lantai, untung Mas Fahri buru buru menangkapnya. “Makan apa yang ada, Tania!!!” Ibunya balas berteriak, Ayahnya berusaha menengahi, Tania malah berlari ke kamar, menutup pintu kencang kencang.


“Sudahlah, Bu. Tidak baik berteriak di depan makanan.” Ayahnya berkata lembut, menenangkan Ibu yang sedang kalut dalam amarah. “Anak kamu tuh, bikin pala aku pusing tau, nggak.” Ibunya menitikkan air mata, sesegera mungkin mengelapnya.


“Mungkin Tania sedang ada masalah, Bu, makanya dia begitu.” Sekali lagi Ayahnya menenangkan Ibunya.


Tania menutup wajahnya dengan bantal, menangis sekencang mungkin. Sungguh, dalam situasi yang sedang Tania rasakan ini, kalau bisa, jangan ada sedikit kesalahan yang dilakukan siapapun termasuk Ibunya, Tania terlalu membenci Ibunya sampai ia berani melakukan hal itu, hal kecil kalau sudah sangat kecewa bisa begitu menyakitkan, bahkan hal yang terlihat sepele, justru Tania merasa sakit hati, lagi lagi hatinya tersakiti, tidak boleh ada kesalahan lagi, Ibunya sudah terlalu banyak memberikan luka perih itu.


Setelah makan malam kembali berlanjut tanpa Tania, Ayahnya segera mengetuk kamar yang terkunci itu. “Tania, buka, ini Ayah.” Tania langsung mengelap air matanya, lagi lagi matanya sembab karena terlalu banyak menangis.


“Kau kenapa, Tania?” Tania menggeleng, memeluk ayahnya dengan kuat, menangis di dalam dekapan Ayahnya.


Ya Tuhan, ingin sekali dalam kondisi ini Tania menceritakan segalanya pada Ayah, agar Ayahnya mengerti, kalau Ibu jahat, Ibu sudah mengkhianati keluarganya sendiri.


Kalau Tania tidak sayang dengan Ayah, pasti Tania sudah ceritakan segala sesuatunya.


Tania takut Ayah sama tersakiti nya dengan apa yang Tania rasakan, Tania takut Ayah membenci Ibu sebagaimana Tania membenci Ibu sekarang.


Tidak boleh ada hati yang hancur lagi selain Tania, Tuhan hanya mau menguji kesabaran Tania.


Tania melepaskan pelukannya, mengelap air matanya. “Kau mau makan apa, Nak?” Tania mau makan hati orang yang telah merusak keluarga kita, Ayah. “Ayah yang akan belikan.” Sayangnya Ayah, untuk mendapatkan itu, kita harus membunuhnya terlebih dahulu. “Apapun yang Tania minta Ayah akan berikan.” Termasuk hati orang yang telah merusak keluarga kita kah, Ayah?


“Tania, kenapa bengong? Ayo kita beli sekarang.” Tania mengangguk, segera mencuci muka dan berganti baju.


Ayah malam ini mengajak Tania makan di luar, padahal Tania hanya ingin makan pecel lele lengkap dengan sambal terasi, sebelum makan, Ayah mengajak jalan jalan, keliling sebentar agar amarahnya segera hilang.


Setelah itu baru turun dari motor setelah agak lama mencari angin segar. Tania memesan apa yang diinginkan, tak lama pesanan datang. Sungguh sudah tidak napsu melihat makanan yang tersaji di depan. Tapi Tania menghargai Ayah yang sudah mau mengajak Tania makan di luar.


Tania menikmati makanan itu dengan lahap, meskipun tidak demikian. Hanya pura pura agar Ayah puas melihat anaknya sudah makan apa yang diinginkan. Sekarang Tania sudah pandai menyimpan semua dengan kepura-puraan, sama dengan apa yang Ibu lakukan. Pandai membungkus semuanya agar terlihat baik baik saja.


Selesai. “Ayah, maafin Tania, ya. Nggak seharusnya Tania kayak gitu.” lagi lagi matanya berkaca-kaca. Ayahnya cepat cepat mengelus pundak Tania. “Sudahlah, Tania, tidak ada yang harus disesali.”


Setelah membayar, Tania diajak ke toko roti. Mau berbuat apa Tania tidak tahu, tapi rasanya Ayah mengajak ke sini semata-mata hanya ingin mendinginkan suasana, agar membaik seperti sediakala.


Ayah mengajak Tania untuk duduk di kursi di depan toko, menatap lalu lalang kendaraan yang semakin malam semakin padat oleh kendaraan. “Kamu tahu Tania, rumahnya Paman Juno yang memiliki banyak sekali anjing?"


Tania menggeleng, tidak ingat.


“Dulu waktu umur kau enam bulan, saat Mas Fahri pergi bermain keluar, saat kau sedang terlelap tidur, anjing milik Paman Juno masuk rumah, memberontak, memecahkan apapun yang ada di sana, kemudian Ibumu yang sedang mencuci di belakang segera menyadarinya, cepat cepat memeluk Tania dengan kencang, kalau Ibumu terlambat, mungkin kau sudah hilang dibawa anjing gila itu. Kemudian kata Ibumu, anjing itu menggigit bajunya, menariknya keluar rumah. Maka kau terlepas dari pelukan Ibumu, Ibumu ditarik oleh anjing itu, tangannya tergigit oleh anjing gila sampai akhirnya tak sadarkan diri.”


“Tania, maafkanlah segala kekurangan yang Ibumu lakukan. Maafkan segala kelalaian yang Ibumu lakukan pula. Semua orang punya kesalahan, bukan?” Tania hanya mengangguk.


Entah, biasanya saat Ayah menceritakan apapun itu, Tania selalu terharu, tapi tidak untuk saat ini dan selamanya, apalagi itu menyangkut masalah Ibu. Hatinya sudah terselimuti kebencian, mungkin. Sejahat itu kah, Tania? Iya, sebagaimana Ibu melakukan itu semua.


Bukankah seorang Ibu memang harus berkorban untuk keluarganya? Itu hal yang wajar, bukan? Hal yang biasa terjadi di dalam suatu keluarga. Lalu bagaimana kalau malah seorang Ibu berkhianat pada keluarganya? Hal itu wajar, kah? Atas segala yang telah diberikan, ketulusan tanpa kepura-puraan, itu yang sangat dibutuhkan, tanpa perlu mencintai seseorang yang sama sekali asing.


Tidak di kenal, tapi seorang Ibu begitu mencintainya, Ya Tuhan.