SILENT MEMORIES

SILENT MEMORIES
Chapter 5 | 19.40 : Kisah di Meja Makan



Apa saya boleh pinta?


Agar kebersamaan ini akan terus ada


Malam itu, Tania banyak berbincang dengan Kelvin, sosoknya menyenangkan seperti Vaaz. Di tengah tengah perbincangan mereka, Kelvin sempat memesankan menu makan malam untuk mereka berdua. Ya, itung itung Kelvin berterimakasih karena sudah dibantu oleh Tania.


Kata kata yang terlontar setelah keduanya selesai makan adalah ucapan Kelvin yang membuat Tania kaget. “Kak Tania sama kaya pacarnya Abangku, dia suka banget sama sambal terasi. Apalagi buatan Ibunya.” Tania mendongak, menatap heran Kelvin. “Oh, ya? Abang kamu punya pacar?” Tania bertanya sambil menyedot es teh yang dipesan Kelvin.


“Sebenarnya bukan pacar, sih, kak. Abangku nggak berani bilang kalau dia suka, tapi selalu menganggap perempuan ini sebagai pacarnya.” Tania yang mendengarnya terdiam, mendadak bisu dan tidak punya kata kata apapun untuk menanggapi ucapan Kelvin.


Tania cuma kasihan dengan perempuan yang menjadi pacar Abangnya Kelvin. Pasti perempuan itu agak tersiksa dengan keadaan yang dialami. Seperti mereka saling menyayangi atau menyukai namun tidak memiliki ikatan apapun. Jadi, mereka bisa pergi dan kembali sesuka hati.


Hal ini begitu membekas di hati Tania. Pasalnya Tania memang menyukai Vaaz dan menurut Tania, Vaaz juga menyukai dirinya. Namun Vaaz tidak pernah bicara tentang perasaannya pada Tania. Dan Tania selalu menunggu Vaaz untuk berbicara. Setidaknya jawaban benar atau tidaknya akan melegakan hati Tania dan akan merubah segalanya.


***


Sore setelah tau Vaaz di skorsing dua hari ke depan, perasaan Tania amat sedih sekaligus kecewa. Pengin marah namun sia sia, percuma juga jika Tania mengingatkan Vaaz berulang ulang namun laki laki itu belum mau berubah. Dua hari ke depan pasti terasa sangat lama jika tidak adanya Vaaz. Eh, emangnya Vaaz siapa?


Malam itu Vaaz dan Tania baru pulang pukul setengah tujuh malam. Vaaz banyak menceritakan sesuatu pada Tania. Hari itu ceritanya sangat lucu, ya, menurut Tania. Biasanya Vaaz suka bercerita hal hal yang umum saja, tapi hari itu ia banyak menceritakan sesuatu yang membuat Tania tertawa, mengeluarkan gigi putihnya. Entah, hari itu keduanya amat bahagia.


Tania pulang dengan keadaan perut keroncongan. Padahal sudah minum dan makan beberapa donat.


 


Jam jam seperti ini, biasanya Ibu sedang menyiapkan makan malam. Melihat Ibu tengah menggoreng sesuatu, membuat Tania cepat cepat mandi dan berganti baju, cepat cepat duduk di meja makan bersama Ayah dan Mas Fahri.


 


“Masakan Ibu.” Tania berkata pelan, melamun. “Masakan Mas Fahri!” tangannya iseng menggebrak meja, membuat Tania kaget dan melotot geram. Tak lama Ibu membawakan cobek berisi sambal terasi dan tempe juga beberapa potong ayam goreng.


Ibu mulai menyendok nasi untuk Ayah, disusul Mas Fahri baru kemudian Tania. Matanya berbinar melihat lauk pauk yang asapnya masih mengepul, baru diangkat dari penggorengan. Tania cepat cepat mengambil tempe goreng dan meletakkannya di cobek berisi sambal terasi, menumbuknya pelan sampai sambal itu tercampur merata ke atas tempe.


Nasi masih mengepul, lauk pauk baru diangkat dari penggorengan, Tania langsung melahapnya, memasukkan ke dalam mulut sangking kelaparannya. “Nggak makan setahun, ya?” Mas Fahri meledek. Biasa, di meja makan, dia selalu membuat Tania kesal yang ujungnya Ayah akan menasehati lagi, lagi dan lagi.


Tapi kali ini rasa lapar Tania lebih besar dibanding rasa kesal, jadi, ya, cuek saja. Yang lebih penting saat ini, Tania sangat lapar.


Selesai. Tania habis duluan dibanding mereka yang sedang melahap makan malam dengan santai. Mukanya merah karena kepedasan dan air matanya keluar sangking menikmatinya makanan malam ini. Begitu nikmat.


Disusul Ayah yang langsung meletakkan piring kotornya dan langsung cuci tangan, kembali duduk untuk minum. Jangan ditanya kenapa Tania tidak cuci tangan, karena tangannya sudah bersih ia **** bekas sambal yang masih tersisa. Kebiasaan.


“Sejatinya Tania, makanan terenak adalah makanan yang mampu memberikan kesan paling nikmat ketika sedang memakannya. Nikmat itu ketika kita mengeluarkan air mata saat sedang makan, berpikir kalau itu makanan terenak sedunia. Padahal menunya justru bisa jadi sangat sederhana. Kunci makanan terenak sedunia cuma satu, karena perut terasa sangat lapar. Coba bayangin kalau di depan tersaji makanan yang dihidangkan chef ternama, tapi kita dalam keadaan kenyang. Kira kira makanannya akan terasa enak tidak? Pasti jawabannya tidak, karena perut sudah kenyang dan menolak untuk memakan lagi.” Jelas Ayah panjang lebar, Mas Fahri yang mendengar mengangguk takzim, benar kata Ayah.


Hal yang paling Tania suka adalah saat makan malam bersama keluarganya, apalagi momen saat Ayah fokus membicarakan suatu hal yang membuat Tania mengangguk mengerti. Memberikan banyak pelajaran, apalagi tentang kehidupan. Tania sangat berterima kasih karena dibesarkan oleh Ayah yang sangat bijak.


Tiba tiba Mas Fahri menyela. “Tadi belajar apa di sekolah?” Aduh! Tania paling sebal pertanyaan ini. Sekarang saatnya Tania yang bercerita tentang pelajaran di sekolah. Hal ini menjadi pertanyaan wajib yang biasa Mas Fahri lontarkan setiap hari sehabis pulang sekolah.


Dalam keluarga Tania, disiplin itu wajib. Hal kecil yang menurut orang tidak begitu penting, tapi di keluarga Tania begitu sangat berarti. Saat Tania menceritakan pelajaran di sekolah, yang kemudian akan dipertanyakan Mas Fahri apa dan kenapa menjadi seperti itu, Tania harus tau.


Dari sanalah munculnya sebuah komunikasi dalam sebuah keluarga. Tak jarang bukannya menceritakan pelajaran, justru Tania menceritakan kejadian lain yang lebih menarik. Dan keluarganya mau mendengarkan serta menanggapi. Maka tak jarang, saat ada masalah sekecil apapun di sekolah, Tania selalu cerita dan keluarganya selalu tau.


Hal apa yang tidak diketahui keluarganya tentang Tania di sekolah, semuanya mereka tau. Hanya saja, Tania belum banyak menceritakan Vaaz pada keluarganya. Vaaz terlalu privasi untuk dibicarakan di sini. Apalagi cerita tentang Vaaz menyangkut dengan hati. Tania cuma takut mendengar nasihat yang berkaitan dengan perasaan.