SILENT MEMORIES

SILENT MEMORIES
Chapter 7 | 19.55 : Pasar Malam dan Perempuan Paling Spesial



Kelvin mengangkat telpon dari seberang sana, sepertinya penting. Tania menatap sekeliling tempat yang berbeda dari lima tahun yang lalu. Sekarang tempat ini begitu indah jika dilihat, jalanan juga semakin lebar. Para pedagang sudah mendapat izin ketika menjajakan barang dagangannya, tidak seperti dulu, yang kalau setiap beberapa jam seorang anak berteriak, tak lama semua gerobak gerobak terpaksa kabur, menghindari petugas yang dianggap malaikat pencabut nyawa.


 


Kota ini juga tertata rapi, lampu jalan berwarna warni ada dimana mana. Tukang jajanan apa saja bisa ditemukan dan dirasakan selagi punya uang. Tempat ini sekarang layaknya pasar malam setiap hari. Yang paling spesial cuma satu, di daerah ini memiliki kedai kopi paling bersejarah dalam kehidupan Tania. Memiliki ratusan cerita dan seribu makna dalam menjalani suka maupun duka.


 


Tania mengetuk ngetukkan jarinya ke meja, berpikir sesuatu. Andai Vaaz ada di sini. Tidak mungkin, bahkan keberadaan Vaaz saja Tania tidak tau ada dimana. Tapi, satu hal yang masih Tania rasakan saat ini. Vaaz ma


sih menjadi orang spesial di dalam hati.


“Kak, pamit pulang dulu, ya. Ada sesuatu yang penting.” Kelvin menghabiskan kopi pesanannya dan beranjak pergi, meninggalkan Tania sendiri lagi. Tania menatap punggung Kelvin, dua menit dia menghilang. Sepertinya memang benar ada yang penting, terlihat dari sikapnya yang tergesa gesa.


***


 


Rabu hari itu, Vaaz kembali masuk sekolah setelah dua hari skorsing. Rasanya Tania senang bisa melihat Vaaz sekolah kembali, dua hari itu terasa lama sekali, tidak seperti biasanya Tania menjalani hari hari. Biasa dijahili, dua hari kemarin tidak sama sekali. Bahkan Tania mengurungkan niat untuk ke kedai kopi karena tidak ada yang menemani, ya, walaupun Tania sudah terbiasa sendiri.


 


Hari ini Tania tersenyum lega melihat Vaaz sedang duduk di depan, melamun. Entah apa yang sedang ia pikirkan, tagihan listrik? Dulu bahkan Tania mengira bahwa Vaaz pecandu narkoba, kalau dilihat lihat, ciri cirinya sama.


Tapi waktu menjawab semuanya, bahwa Vaaz tidak seperti itu. Tania memang tau kalau Vaaz kurang kasih sayang kedua orangtuanya yang sudah berpisah tiga tahun yang lalu. Jadi dia terbiasa nakal dan menjadi jiwa jiwa pemberontak.


Jam pertama pelajaran dimulai, guru sejarah itu masuk sambil membawa buku dan laptop. Duduk, dan mulai berbicara. Suaranya yang lembut membuat semua murid menguap, mengerjap beberapa kali menahan kantuk, saling menatap. Sama. Semuanya juga mengantuk.


 


Jangan ditanya perihal Vaaz, orang itu pindah tempat duduk setelah guru masuk dan mulai menenggelamkan wajah diantara lipatan tangannya, bersiap tidur di bangku paling belakang. Entah ini penyakit atau apa, pasalnya saat pelajaran sejarah, murid murid selalu mengantuk dan tidak bisa konsen dalam belajar karena pembawaan guru itu yang kaku dan membosankan.


 


Hari ini belajar di kelas seperti tersiksa sendiri karena rasa kantuk yang tak menghilang. Tania ingat, ia belum minum kopi dari dua hari yang lalu karena tidak mampir ke kedai kopi seperti hari hari biasanya.


Seakan atmosfer kelas mendadak sejuk dan cocok untuk tidur, apalagi di depan sedang ada guru yang mendongeng, menjelaskan pelajaran sejarah yang menurut semua orang sangat membosankan. Hari ini harus berlalu dengan cepat. Tania tidak sabar ingin duduk di pojokan, menulis sambil menikmati secangkir kopi dan dua potong donat gula yang bisa menjadikan semangat untuk menulis.


Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, bel pulang sekolah baru saja berbunyi satu menit yang lalu. Akhirnya hari yang membosankan berakhir juga. Tania bersiap merapihkan buku bukunya, memasukkannya ke dalam tas, memastikan semuanya tidak ada yang tertinggal dan segera pergi menuju kedai kopi langganannya. Sebelum keluar kelas, ia mencari keberadaan seseorang, nihil, sudah tidak ada di ruangan kelas. Orang itu mendadak segar kalau mendengar dua bel. Pertama bel istirahat, kedua bel pulang sekolah. Siapa lagi kalau bukan Vaaz.


Lupakan tentang Vaaz yang menghilang, nanti juga dia menyusul Tania di kedai kopi, kita tunggu saja. Sampai di kedai kopi dengan angkutan umum, Tania langsung duduk di kursi paling ujung, meletakkan tas lalu memesan kopi dan beberapa potong donat.


Tak lama apa yang di pesan datang, Tania segera membuka laptopnya dan menulis apa yang ada di imajinasinya. Menuliskan puisi dengan penuh elegi, diksi, dan apalah itu. Rasanya tenang sekali berada di sini, apalagi ditemani secangkir kopi, juga serenade yang membuat Tania ikut bergumam bernyanyi.


Jam terus berdetik, senja mulai


mengeluarkan cahaya jingganya, bumi terlihat menguning, bersiap menghilang digantikan terangnya rembulan kalau tidak hujan. Angin sore bertiup pelan, menyapu hangat rambut panjang hitam legam milik seseorang yang tengah berkutat dengan buku dan notebook-nya, asik mengetik sesuatu.


Tak lama adzan maghrib berkumandang, lalu lalang orang banyak yang berhenti untuk sembahyang. Tania masih di sini karena sedang berhalangan. Para pedagang juga sibuk membuka dagangannya, satu-dua ada yang sudah selesai merapihkan, tinggal menunggu pembeli yang berdatangan. Trotoar setiap malam itu sangat ramai, sudah seperti pasar malam, kebanyakan jual makanan.


“Tania.” Orang yang dipanggil mendongak. “Hai.” Sapa Tania sambil nyengir, senang ada Vaaz di sini. “Jangan nyengir gitu, deh, jelek tau.” Vaaz duduk di depan Tania, menyeruput kopinya yang tinggal setengah. Mendadak Tania jadi cemberut. Kopinya habis. “Haus atau apa sih!” Tania menggerutu. “Nanti pesen lagi.”


“Ngapain ke sini?” Tania bertanya sinis. “Melihat ciptaan Tuhan paling indah di bumi.” Vaaz nyengir, menatap wajah Tania yang terlihat jengkel. “Mana ada, ciptaan Tuhan yang biasa kita nikmati berdua, udah hilang. Ini udah malam Vaaz.” Tania berkata malas dan menutup notebook-nya, menatap Vaaz yang terlihat sangat senang, entah kenapa.


“Ada! Ciptaan Tuhan paling indah itu ada di depan orang yang sekarang lagi ngomong.” Vaaz mendekatkan wajahnya pada wajah Tania, melihat manik mata perempuan itu lebih dekat. Tana mendorong wajah Vaaz, “Ih! Apaan sih, Vaaz. Geli tau dengernya!” Vaaz yang mendengar ucapan Tania tertawa.


“Pasar malam, yuk.” Ajak Vaaz. “Ayo!” keduanya berdiri dan berjalan menuju parkiran. Vaaz memberikan helm pada Tania dan perempuan itu langsung memakainya, duduk di jok belakang, Vaaz mulai menggas motornya.


Pemandangan malam ini begitu indah, apalagi duduk di motor berdua dengan Vaaz, rasanya Tania merasa ketenangan dan nyaman, ya, walaupun Vaaz dalam mengendarai motor tidak pernah nge-rem.


Beruntung sampai dengan selamat setelah drama ugal ugalan di jalan, kadang Vaaz suka mendadak menjengkelkan. “Vaaz, awas ya kalau Tania tanya lagi jawabnya nggak serius. Untung aja nggak jatuh.” Vaaz memarkirkan motornya, meletakkan helm di motornya, lantas jalan beriringan dengan Tania.


“Kalau naik motor sama rossi, nggak bakal jatuh. Dijamin aman.” Vaaz nyengir, menggandeng tangan Tania untuk masuk ke dalam. “Jangan serius serius lah, Tan, biar ada yang lucu, gue paling suka liat perempuan senyum.”


Sungguh, hari ini hari yang paling menyebalkan, tapi hari ini juga hari yang menyenangkan. Menyenangkan kalau ada Vaaz, Tania tidak habis pikir, cowok pendiam seperti Vaaz bisa membuat nyaman perempuan seperti Tania. Dulu Vaaz yang Tania liat selalu berdiam diri, apalagi saat pelajaran olahraga, bukannya aktif seperti orang kebanyakan yang lari kesana sini, justru Vaaz lebih senang duduk melamun memikirkan utang.


Tatapannya juga setiap hari tidak pernah berbeda, kosong, tatapan kosong yang selalu Tania lihat. Sosoknya mulai terbuka juga baru baru ini, saat Tania berani mengajak ngobrol Vaaz tentang banyak hal. Vaaz juga hanya dekat dengan satu perempuan yaitu Tania. Dengan yang lain, Vaaz tetap berteman, namun yang lebih dekat dan spesial tetap Tania.


Pasar malam semakin ramai, masing masing pedagang sibuk menjajakan dagangannya sambil berteriak mempromosikan. Pembeli dari anak anak sampai ibu ibu juga sibuk memilah milih barang yang mau dibeli, beberapa menawar sebelum dibayar.


Pasangan yang lain, sibuk bergandengan tangan sambil bersenandung riang mengikuti irama lagu yang diputar dari kaset kaset yang dijual. Vaaz begitu eratnya menuntun Tania berjalan menyusuri pasar malam yang padat dengan kunjungan. Tapi bukan menggandeng layaknya pasangan, hanya menggandeng bagai kakak yang takut adiknya menghilang atau kesasar di kerumunan banyak orang.


“Tan, mau makan apa?” dengan cepat Tania menjawab dia mau makan nasi goreng. Nasi goreng memiliki sejarah tersendiri bagi kehidupan Tania, karena dari sanalah ia pertama kali dipertemukan dengan Vaaz dan sekarang Vaaz malah jadi orang spesial di hati yang paling dalam.


 


Keduanya duduk di bangku yang telah disediakan, Tania tersenyum. “Inget pertama kali kita ketemu.” Tania bergumam, Vaaz tersenyum. Kemudian tak lama pesanan datang dan keduanya menikmati nasi goreng itu. Setelahnya Vaaz mendongeng.


 


“Tan, kalau orang ikut tawuran emang salah?” lagi lagi Vaaz menjengkelkan. Tania menghembuskan nafas kasar. “Salah! Kalau mau mati cari cara lain aja. Nggak usah mati konyol!”


“Tapi kan kita nggak bisa menyalahkan nenek moyang kita yang memiliki semangat bertarung. Para pemuda darahnya mendidih setiap kali ada petarungan, entah itu petarungan yang benar ataupun salah. Tetep aja di dalam jiwa pemuda mengalir darah petarung yang kuat, jadi jangan salahin kenapa jaman sekarang masih banyak tawuran di mana mana, pemberontakan di mana mana. Pada dasarnya Indonesia memang ditakdirkan punya jiwa jiwa petarung.”


“Tapi kan Vaaz, jiwa petarung itu harusnya disalurkan pada peristiwa peristiwa yang membela kebenaran. Bukan tawuran.” Vaaz berpikir sejenak. “Sayangnya jaman sekarang penjajah Belanda udah nggak ada. Bisa di pastikan, kalau penjajah masih ada, gue bakal baris paling depan, memimpin pasukan.” Vaaz nyengir. “Masih nggak percaya kalau nenek moyang bangsa Indonesia itu para petarung?”


Tania menggeleng mantap. “Nggak!”


“Ada lagunya loh. Dengerin ya. ‘nenek moyang ku seorang petarung…’ “ Vaaz bernyayi, Tania yang mendengarnya langsung tertawa, menampilkan gigi putihnya.


“Yeee, malah ketawa. Nggak lucu tau.” Vaaz berdiri, berjalan ke tukang nasi goreng untuk memesan satu lagi. “Buat siapa?”


“Ibu.” Satu kata itu dapat menggambarkan sikap Vaaz yang memang benar benar begitu perhatian dengan Ibunya. Tania jadi terharu, anak sebandel Vaaz juga ternyata begitu berbakti pada Ibunya. Tania jadi melamun, memikirkan banyak hal tentang Vaaz, bahwa Vaaz memang tidak seburuk apa yang dipikirkan oleh orang orang kebanyakan. Vaaz tidak cuma bisa berantem, tapi ia juga sangat perhatian pada Ibunya.


“Tan! Kok ngelamun, sih?” Tania gelagapan sendiri. “Bandel boleh, tapi durhaka sama orangtua jangan. Dosa, kamu nggak akan kuat.” Tania yang mendengarnya tersenyum.


Cuaca malam itu mendadak mendung, kilatan petir juga melintas beberapa kali, membuat Tania dan Vaaz cepat cepat pulang ke rumah setelah berburu makanan untuk Ibunya Vaaz.


“Soalnya Ibu gue sama kayak lo, Tan. Suka makan. Makanya pipinya sama kaya lo, chubby.” Vaaz dengan sengaja mencubit kedua pipi Tania yang chubby, Tania yang mendapat perlakuan itu langsung cemberut, kemudian tersenyum kembali. Jarang-jarang Vaaz mencubit pipi Tania.


Keduanya sudah tiba di parkiran, Vaaz memberikan helm pada Tania, namun ia malah berdecak sebal. “Penuh nih tangan sama makanan.”


“Yaudah, gue pakein.” Vaaz memakaikan helm di kepala Tania, lanjut ia juga memakai helmnya. “Vaaz! Ih! Nyebelin banget, sih!” Tania berteriak geram. “Apa lagi si bawel?”


“Helmnya terbalik!!!” Vaaz langsung menoleh pada Tania yang sudah geram. “Oh, iya. Maaf.” Vaaz malah nyengir melihat Tania kesal seperti ini. “Tuh kan, rambutnya jadi berantakan. Rapihin, nggak!”


“Iya… ini dirapihin.” Vaaz merapihkan rambut Tania yang berantakan, bibirnya maju beberapa senti, sebal lama lama dengan sikap Vaaz. “Jelek tau kalau marah marah terus.” Lagi, sekarang Vaaz menarik kedua pipi Tania untuk tersenyum, Tania mengaduh.


Baru jalan lima menit, tiba tiba hujan deras mengguyur langit mendung itu, jutaan rintikan hujan mendadak dengan cepat turun, membuat semua orang berlarian, mencari tempat teduh untuk sementara waktu.


Wajah Tania terlihat mengantuk, maklum, sudah jam sembilan malam sekarang. Keduanya menatap hujan deras itu, kembali merasakan lapar, padahal tadi baru makan.


Menunggu sepuluh menit membuat Tania bosan, hujannya juga sudah tidak terlalu besar, gerimis. “Ayo Vaaz, pulang.” Vaaz mengangguk, melepas jaket miliknya dan memakaikannya pada Tania. Awalnya Tania menolak, Vaaz langsung bilang. “Gue bukan cowok romantis yang kaya di film-film yang sering lo tonton, yang kalau hujan, mereka akan ngasih jaket ke ceweknya buat melindungi si cewek. Bukan. Gue kasih ini buat lo pake, biar lo bisa melindungi makanan yang udah gue beli buat Ibu. Sampai rumah basah kan rugi di gue, nggak jadi dimakan.”


Sepanjang perjalanan Tania tersenyum tiada henti, perkataan Vaaz membuat Tania lagi lagi berpikir kalau ia sangat menyayangi Ibunya.


Malam itu, malam yang paling membuktikan kalau Vaaz benar benar mencintai satu perempuan yang paling spesial dalam hidupnya, Ibu.