
Kalau kamu pergi
Apalagi terjun ke dasar jurang
Saya harus ikut
Paling kamu berbalik arah menggandeng tangan saya
Kembali tidak akan pergi
Apalagi ke dasar jurang itu untuk yang kesekian kali.
Setelah memakan donat yang baru dipesan Tania, matanya menatap sekitar, semakin ramai. Gemerlap lampu sepanjang jalan turut memperindah pusat kota itu, lalu lalang kendaraan bisa dibilang lancar. Masing masing pasangan yang berkunjung ke tempat ini bergandengan tangan, takut pasangannya menghilang atau diambil orang? Hehe, Tania jadi iri.
Tiba tiba seseorang datang menghampiri laki laki yang duduk bersebrangan dengan Tania, menarik kerah bajunya, dan langsung menonjok orang itu. Suasana menjadi kacau, Tania mengernyitkan dahinya, sudah biasa Tania melihat seperti ini, melihat Vaaz bertengkar dengan orang lain. Saat keduanya saling memukul, hati Tania tiba tiba saja merasa sesak. Seakan semua kenangan Vaaz bertengkar kembali diputar ulang, menyedihkan.
Pak Mun datang dengan terburu buru, memisahkan kedua orang yang sedang bertengkar. Kemudian menarik salah satu orang itu untuk mendekat pada Tania, dahinya berdarah, sudut bibirnya lebam. Beberapa orang turut menyaksikan kejadian yang terjadi, hanya melihat tanpa membantu.
“Aduh, Mba. Pak Mun nggak punya obat merah lagi.” Ucapnya memelas melihat dahi orang itu terus mengeluarkan darah. Tania bersikap santai, membuka tasnya dan mengambil kotak p3k. kotak itu sedari dulu tak pernah Tania keluarkan dari tas, mengingat Vaaz suka berkelahi dimanapun dan kapanpun.
“Sini, saya obtain.” Ucap Tania sambil tersenyum, membuka kotak p3k. Laki laki itu mendekat pada Tania dan wajahnya terlihat kesakitan.
Tangannya mengelap darah di dahinya menggunakan kapas dan alkohol. “Mau sampai kapan sih, Vaaz, begini terus? Tania bukan malaikat yang senantiasa selalu ada di saat Vaaz terluka, bukan juga-“
“Maaf, nama saya Kelvin, bukan Vaaz.” Orang itu menyadarkan Tania dari lamunannya. Orang yang di hadapan Tania memang benar benar mirip Vaaz saat masih SMA. Tania hanya tersenyum manis sambil memasukkan obat obatannya ke dalam tas. “Kamu mirip temen saya, namanya Vaaz.” Orang itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya, mengajak Tania berkenalan.
***
Ini setelah beberapa bulan Tania berteman dengan Vaaz, setelah selalu ikut campur apabila orang itu bertengkar dengan siapapun itu. Setelah tak terhitung berapa kali selalu didiamkan Vaaz dan diacuhkannya. Vaaz selalu menganggap Tania terlalu ikut campur dalam kehidupannya.
Ini juga setelah Vaaz lebih banyak bertanya tentang puisi puisi yang sering Tania buat, Vaaz senang membacanya. Dan lambat laun orang itu jadi senang datang kesini, menemani Tania menulis puisi puisi sambil menikmati senja. Walaupun Tania tahu, Vaaz tidak langsung ke sini melainkan duduk duduk di warung belakang sekolah. Pantas kalau datang bajunya selalu bau rokok, dan Tania selalu berdecak kesal.
Tania sedang duduk di kantin, di depannya sudah ada Vaaz yang lagi lagi bibirnya sudah lebam membiru, biasa, bertengkar. Tania diam. Vaaz juga diam.
Bosan. Keduanya saling tatap. Emang dipikir Tania mau ngobatin Vaaz? “Tania bukan dokter yang setiap saat bisa ngobatin orang, bukan juga malaikat yang selalu bisa bantu orang.” Vaaz yang sedang terdiam pun menoleh pada Tania, menatapnya.
Vaaz tau kok ini sudah kelewat batas, Vaaz juga tau ia sudah melanggar janjinya pada Tania untuk tidak bertengkar di sekolah. Ini juga perkelahian yang ke… ahh, tak terhitung.
“Iya, Tan. Gue obatin sendiri.” Ucap Vaaz sambil mengambil obat obatan untuk dirinya sendiri.
Bukannya Tania tidak mau membantu Vaaz kala orang itu terluka, bukan. Hanya saja Tania sudah bosan dengan perilaku Vaaz yang selalu bertengkar, tidak pernah bisa menyelesaikan dengan kepala dingin. Ia juga selalu melanggar janji, selalu bilang. Besok tidak akan melakukan itu lagi. Namun kenyatannya nihil.
Jam pelajaran sedang berlanjut, baru jam ke tujuh di sekolah. Tania menghembuskan nafasnya kasar, menyesal juga Tania mau di suruh Pak Andi untuk mengobati Vaaz di sini. Lebih baik belajar sejarah dengan teman teman yang lain, jauh lebih enak. Apalagi guru seperti Pak Andi yang tipe tipe mengajarnya sangat menyenangkan dan tidak kaku, membuat semua murid tertawa lebar, tidak mengantuk.
Vaaz bangkit berdiri, memasukkan obat obatan ke dalam kotaknya lalu pergi meninggalkan Tania sendiri. Sepertinya Vaaz sadar kalau Tania sedang kesal dengan dirinya.
Lima belas menit berlalu, Vaaz belum juga kembali. Tak lama datang seorang laki laki yang duduk di hadapan Tania. Namanya Daffa Daviar- ketua osis di sekolah Tania. Biasa di panggil Daviar. Orangnya lumayan tampan, tapi masih lebih tampan Vaaz sedikit.
Kata Vaaz, Daviar termasuk laki laki yang suka dengan Tania. Apa Vaaz bohong, ya? Tania sempat tidak percaya dengan hal itu, soalnya kalau Daviar bertemu dengan Tania, Daviar biasa biasa saja, tidak pernah gugup atau menunjukkan kalau Daviar suka dengan Tania. “Tipe orang, kan, beda beda. Daviar udah biasa aja ketemu orang banyak.” Paling hanya itu yang akan dikatakan Vaaz apabila Tania bertanya.
Maksudnya seperti ini, kalau suka bilang, kalau tidak suka ya semoga suka. “Woy, Tan! Dari tadi lo gue tanyain malah bengong. Ngapain di sini sendirian? Emang lo nggak belajar?” seketika lamunan Tania buyar, ia sadar kalau di depannya sudah ada Daviar.
“Tadi kesini sama Vaaz, orangnya ilang kemana tau.” Tania nyengir, menatap sekitar.
Keduanya berlanjut pada obrolan yang membuat Tania tertawa geli, Daviar dalam urusan bercerita tentang sesuatu, itu nomor satu. Selalu bisa membuat suasana menjadi seasik mungkin.
Saat Daviar menceritakan kelanjutan ceritanya yang membuat Tania tertawa, saat itu juga Vaaz datang dengan terburu buru. Tiba tiba wajah tampannya pias setelah melihat Tania sedang tertawa bersama dengan Daviar. Tania berhenti tertawa dan menatap Vaaz dengan tatapan anehnya.
“Vaaz! Dari mana lo? Tania nungguin dari tadi.” Ucap Daviar sambil tersenyum melihat Vaaz yang wajahnya ditekuk. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Vaaz langsung menggendong tasnya dan pergi meninggalkan kedua orang yang sedang tertawa bersama itu. Tania bingung, menatap Daviar sebentar. Keduanya jadi saling tatap. Berpikir. Ada apa ya? Apa ada yang salah?
Yang sejujurnya, kalau Tania boleh geer pada sosok Vaaz yang tampan tapi pendiam. Sebenarnya Vaaz menyimpan sejuta arti dalam menatap Tania, ada hal yang berbeda atau rasa yang berbeda saat Vaaz menatap Tania. Tania merasakan itu, tapi, entah, arti tatapan yang sebenarnya itu apa, sampai sekarang Tania belum mengerti.
Walaupun Tania dan Vaaz sudah akrab seperti orang orang kebanyakan, dan Vaaz pun suka bercerita tentang keluarganya pada Tania. Dalam masalah ini Vaaz tidak pernah cerita, bahkan Tania ingin bertanya namun takut dibilang geer. Vaaz kan orangnya begitu, mulutnya jahil.
Tania bangkit, berdiri. “Vaaz!” lalu meninggalkan Daviar yang tercenung melihat tingkah keduanya. Aneh. Apa Vaaz cemburu? Ah, mana mungkin.
“Vaaz! Ih! Kenapa, sih?” Tania mengikuti langkah gontai Vaaz ke parkiran sekolah. Tasnya ia lempar ke luar gerbang, Tania melotot, pasti Vaaz mau kabur dari sekolah. Seketika laki laki itu langsung manjat bangunan tinggi itu.
“Tania ikuuut!” Tania berteriak dari dalam, Vaaz mengintip dari sela sela bangunan itu. “Nggak usah, gue mau nongkrong ke warung belakang.” Vaaz berjalan beberapa langkah, membuat Tania nekat memanjat bangunan itu dengan susah payah dengan rok sekolahnya.
“Tania jangan ikut ikut, aduh!” Vaaz menepuk jidat, membantu Tania turun dari pagar bangunan itu. “Lo mau ngapain sih, ikut ikut?”
“Ikut nongkrong, lah.” Tania menarik turunkan alisnya, tersenyum kikuk. “Bener bener lo, udah ah, gue nggak jadi kabur.” Vaaz kembali memanjat bangunan itu dengan lihai, seperti simpai yang memanjat pohon, dan Tania tertinggal di luar sekolah.
“Vaazhera!!! Ngapain kamu di sini? Nggak ada kapok kapoknya ya kamu.” Ucap salah satu guru.
“Tadi, saya niat mau kabur, tapi kayanya nggak jadi deh, Pak, soalnya Bapak keburu dateng.” Vaaz menjawab datar, guru itu melotot. “Sana balik ke kelas! Ada ada aja kamu.” Vaaz melangahkan kakinya, meninggalkan Tania sendiri di luar.
Baru jalan beberapa langkah beriringan dengan guru itu, suara Tania membuat Vaaz menoleh. “Vaaz! Tania nggak bisa naik!” Tania dari luar berteriak, guru itu ikut menoleh ke belakang, mencari di mana sumber suara.
Vaaz meringis pelan, menepuk jidat, kalau begini urusannya tambah ribet. Vaaz akan mengatakan alasan apa?
Guru itu melongok dari balik bangunan. “Tania! Ngapain kamu di luar?” “Pak, tolongin saya dong, saya nggak bisa naik.” Tania meringis, mengulurkan tangan. “Astagfirullah! Lewat pintu depan Tania, Bapak bukain.” Guru itu berlari ke pintu gerbang, membukakan pintu.
“Anak pinter aja ditolongin, anak bandel aja langsung negetif thinking.” Vaaz bergumam pelan, berjalan gontai menggendong tasnya.
Masuk melalui gerbang membuat Tania tersenyum menatap Vaaz, mengelus dada karena merasa lega tidak diberikan seribu pertanyaan mengapa orang itu berada di luar, orang itu hanya melirik sebal, berjalan beriringan menuju kantin.
“Hey, Vaazhera! Malah ke kantin kamu, masuk kelas!” Vaaz menoleh ke belakang, menatap Tania yang tersenyum kikuk. “Aduh Pak. Saya aus banget. Kalau nggak minum sekarang juga, saya bisa meninggal gara gara dehidrasi.”
Menghilang di kelokan, Vaaz berdiri di depan tukang soto, memesannya. “Ih, kok malah makan?”
“Bukan makan, tapi minum.”
“Minum?”
“Minum kuah soto!” Vaaz mulai menyuapkan sendokan pertama pada mulutnya, terlihat nikmat melihat Vaaz yang sedang mengunyah makanan, sambil sesekali meminum es tehnya, mungkin karena pedas.
“Kapan kapan Tania boleh main ke rumah, Vaaz?”
“Minggu depan anak OSIS ada kegiatan di luar, Vaaz mau ikut?”
“Terus tadi ada masalah apa dipanggil wali kelas?”
“Vaaz.”
Vaaz sekali lagi meminum es tehnya untuk tegukan terakhir, kuah sotonya dan sepiring nasi juga sudah habis, orang itu tersenyum, “Kalo lagi makan, nggak boleh ngomong.” Vaaz berdiri, mengembalikan piring ke tempatnya, tiba tiba handphone yang diletakkan di meja oleh Vaaz berbunyi, Vaaz menoleh dan menyuruh Tania yang mengangkatnya.
Tania mengangkatnya, mendengarkan orang itu berbicara apa. Ya Tuhan, rasanya hati ini langsung lemas dan suasana menjadi sesak, Tania cepat cepat mematikannya.
“Siapa?” Tania menggeleng, “Salah sambung kali Vaaz.” Tania meletakkan handphone Vaaz kembali di meja. Orang itu kembali ke tempat duduk setelah lumayan lama berdiri sambil berbincang dengan Mang Daus-tukang soto di sekolah ini.
“Ngomongin apa sih, sama Mang Daus?”
“Oh, negosiasi utang, kali aja Mang Daus mau perpanjang waktu.”
“Kalau ada uang langsung dibayar, kalau besok besok keburu mati kan repot.”
“Siap! Jangan mati dulu lah, belum punya anak sama istri kan gue.”
“Pikirin itu-“
“Vazhera!”
Keduanya menoleh, Vaaz cepat cepat berdiri, guru itu menghampiri. “Masuk kelas!”
Tania mulai melangkah meninggalkan kantin, sementara Vaaz masih bernegosiasi minta waktu lebih untuk duduk duduk sebelum ke kelas. “Dari tadi kan kamu udah duduk duduk Vazhera, cepet masuk ke kelas.”
“Yaelah, Pak, bentar lagi juga bel pulang sekolah.” Vaaz duduk di bangku, guru itu langsung melotot. “1…2…3…” bel pulang sekolah berbunyi, Vaaz nyengir meninggalkan guru itu, menarik tangan Tania untuk keluar dari gerbang sekolah paling pertama.
“Ayo, pulang. Kita duduk menikmati senja sambil minum kopi” Ajak Vaaz, Tania yang mendengarnya menatap Vaaz sinis. Kenapa tiba tiba jadi dramatis?
Sampai di kedai, langit mulai teduh, seperti biasa, duduk duduk di kedai ini selalu saja menjadi tempat paling favorit setelah pulang sekolah. Para pedagang pinggir jalan mulai membuka masing masing kedainya, menjajakan barang dagangannya.
“Cerita apa?” Tania to the point pada Vaaz yang tengah menikmati secangkir espresso.
“Bagaimana cara menghadapi kenakalan remaja?” Vaaz menatap Tania sambil nyengir. Pertanyaan bodoh. “Emang siapa yang mau dihadapi?” Tania bingung, sebenarnya Vaaz bicara apa sih?
“Adik sendiri. Gue punya adik namanya Janu. Banndeeeelll banget. Trus-“ belom sempat meneruskan kalimatnya, Tania langsung nyerocos. “Ya gimana mau punya adik rajin, baik dan pengertian kalo Vaaz sendiri nakal kaya gitu. Percuma mau dikasih tau kayak apapun kalau emang contohnya nggak baik dan nggak menirukan yang baik. Sia sia.” Vaaz tersenyum, ada benarnya juga.
Tania mengambil handphone Vaaz, memeriksa sesuatu, tapi anehnya Vaaz biasa biasa saja, tidak pernah marah jika Tania membuka sesuatu di handphonenya. Tania meletakkan kepalanya diantara lipatan tangan, asik memainkan handphonenya, sementara Vaaz sedang membaca buku milik Tania. Kalau mau lihat Vaaz sedang membaca buku, tempatnya di sini, bukan di sekolah apalagi di perpustakaan.
Tania beruntung bisa melihat wajah teduh Vaaz saat sedang membaca buku, bandelnya jadi tidak terlihat, justru ia terlihat genius seperti anak anak kutu buku.
Sedikit demi sedikit mata Tania merah, tenggorokannya tercekat, sedetik kemudian air matanya menetes, Vaaz masih fokus membaca buku, belum tahu apa yang terjadi.
“Tan, tulisan yang ini kayanya bagus deh, kalo lo ikut lomba puisi.”
Tidak ada respon, Tania masih diam.
“Atau judul yang ini aja?”
Untuk kedua kalinya masih tidak ada respon.
“Tan!”
“Bisu beneran lo nggak jawab pertanyaan orang.” Vaaz masih membolak balikkan lembaran buku puisi milik Tania.
“Tania!” Vaaz meletakkan bukunya di meja, melihat Tania tiba tiba bercucuran air mata.
“Tan, kenapa?” Vaaz langsung menelisik, “Gue salah ngomong?” Tania menggeleng, masih menggenggam handphone Vaaz.
“Pasti habis ini Vaaz ketemu sama anak anak nakal itu kan?” ucap Tania sambil menatap manik mata Vaaz. Orang itu diam, berpikir sejenak sebelum memberi jawaban. “Anak anak nakal siapa?”
“Anak anak geng! Vaaz ngerti nggak sih, kalau itu bahaya? Kalau Ibu tau gimana?”
Vaaz menarik napas dalam dalam, “Nggak, Tan, gue nggak akan pergi, janji.” Vaaz meletakkan bukunya, menatap manik mata Tania yang berair. “Kalau Vaaz pergi, Tania cari sampai ketemu, kemana pun itu.” Tania mengelap air matanya, memberikan ponsel itu pada Vaaz.
"Emang bisa naik motor?" Vaaz meledek perempuan yang sedang berlinangan air mata itu. Tania hanya menggeleng dan mengelap air matanya. "Nanti suruh Malik yang bawa motor."
"Bagus dong, sekalian nyari gue, sekalian jalan jalan aja nanti malem sama Malik." lagi lagi Vaaz meledek, Tania berdecak kesal. "Vaaaz!!!"
"Iyaa, nggak. Kurang kerjaan amat lagi main sama anak anak nakal. Mending gue tidur."