
Terlarut dalam lamunan itu, Tania membuka handphonenya, sekarang pukul sembilan malam lewat lima menit. Di ujung jalan yang ramai itu, terdengar musik dan lagu yang saling berirama.
Sepertinya itu kumpulan dari beberapa mahasiswa, satu dua orang mendekat ke orang yang berlalu lalang, memberikan sesuatu di dalam kantung plastik, anak anak yang menerimanya ikut girang. Suaranya semakin terdengar di telinga, Tania jadi ikut bersenandung riang mengikuti irama lagunya. Tak lama seorang laki laki berdiri di depan Tania, memberikan sebuah coklat, di depannya ada sebuah kertas bertuliskan ‘Rindu’.
Tania tersenyum, bilang terima kasih. Kalau di pikir pikir, baik sekali orang itu memberikan banyak sekali coklat pada orang lain. Tania jadi teringat satu kenangan itu, kenangan paling berkesan.
***
Hari kamis pagi ini, jam pelajaran sekolah dimulai dengan pelajaran olahraga. Lihatlah laki laki tampan tapi menyebalkan itu, tengah duduk sambil melamun entah memikirkan apa. Handuk kecil biru yang selalu dicantolkan di bahu, celana panjang yang selalu digulung sampai bawah lutut. Kalau dilihat lihat seperti tukang becak, apalagi Vaaz sekarang tengah melamun, pasti memikirkan utang.
Penglihatannya sekarang tertuju pada seorang guru olahraga yang meniup pluit, menyuruh berbaris, bersiap memulai pemanasan. Jujur saja, Tania paling tidak suka kalau pelajaran olahraga. Sama seperti Vaaz, laki laki itu juga nampaknya berbeda dengan teman temannya yang lain. Kalau pelajaran olahraga paling cuma duduk duduk manis. Melakukan gerakan asal asalan sangking malasnya.
Tapi hubungan pertemanan Vaaz dan Tania sedang tidak baik, ya, ini berkaitan dengan masalah waktu itu. Entah kenapa Vaaz malah semakin menjauh.
Hari ini juga olahraganya basket, bertanding cewek dengan cewek. Tania maju bersama yang lain. Anak laki laki bersorak menyemangati, tapi Vaaz malah diam, melamun.
Sepuluh menit pertandingan berjalan lancar. Kalau dipikir pikir ini bukan pertandingan merebut bola, tapi pertandingan mengejar bola, ya abisan bolanya direbut tanpa dipantulkan ke lapangan, berlari sekencang kencangnya memasuki bola ke ring basket, berteriak heboh, saling sikut bahkan terguling guling merebut bola. “Bolanya dipantulkan! Dioper!” guru olahraga itu geram, tapi tidak satu pun anak muridnya mendengarkan, malah asik merebut bola, berteriak heboh, dan sebaginya.
Tania lelah, penglihatannya gelap, dan apa yang dilihat semuanya berbayang. Dalam detik kedua ia sudah tidak sadar, pingsan di tengah lapangan.
“Taniaaa!!!”
Guru olahraga itu panik dan menghampiri Tania yang sudah tergeletak di tengah lapangan.
Suasana lengang, seperti kehidupan ini berhenti sepersekian detik saat melihat Tania jatuh di tengah lapangan, di bawah terik matahari. Semua bergerumun mendekati. Seseorang dari sana baru sadar akan kejadian tersebut, berlari secepat mungkin, menyibak kerumunan, mengangkat tubuh Tania, memeriksanya.
Kemudian mengangkat Tania ke UKS bersama satu teman Tania yang lainnya.
“Vaaz, minta wangi wangian sama guru.” Nadila menyuruh Vaaz yang terlihat panik, baru kali ini Vaaz melihat Tania dalam keadaan seperti ini. “Ah, masa UKS nggak ada wangi wangian.” Vaaz membuka lemari.
“Dikunci Vaaz lemarinya.”
BRAKKK!!! Vaaz menendang lemari dan meninggaklan Nadila bersama dengan Tania yang belum juga siuman. Nadila yang mendengar suara itu mengelus dada, untung tidak jantungan. Biasa, Vaaz memang seperti itu.
Nadila mengipas ngipas wajah Tania, melakukan banyak cara agar sahabatnya cepat siuman. Tapi tetap saja hasilnya nihil, Nadila jadi pegal sendiri. Apa jangan jangan Tania emang tidak mau bangun?
Dua pulu menit berlalu, Vaaz belum kembali, Tania akhirnya siuman sendiri. Bangun dari ranjang UKS, mengerjap beberapa kali, menatap sekitar bingung. Nadila yang melihatnya mendekat pada Tania, tersenyum. “Udah siuman?” Nadila memberikan minum pada Tania, orang itu terlihat bingung.
“Vaaz?” aduh, kenapa jadi nanyain Vaaz? Bodoh! Tania gelagapan sendiri, “Hmm, maksudnya-“
“Iya, Vaaz lagi cari wangi wangian buat lo, tapi kok sampe sekarang belom balik ya?” keduanya terdiam, sama sama mendengar suara ketukan pintu, Nadila menghampirinya.
“Siapa?” Nadila menggeleng, menunjukkan minyak kayu putih pada Tania. “Tapi kenapa Vaaznya nggak ada?” Tania mengambil minyak itu dari tangan Nadila, memakainya di kening, sekarang ia merasa pusing, mungkin kelelahan.
Keduanya berbalik ke kelas, melewati ruangan kepala sekolah yang pintunya terbuka. Matanya melihat seorang anak laki laki yang tengah duduk, kalau dari belakang mirip dengan Vaaz, apa jangan jangan itu Vaaz?
Tania melihat kelas, Vaaz tidak ada semenjak tadi Tania baru masuk ke kelas. Tasnya juga tiba tiba menghilang. Ingin bertanya namun sungkan.
Pelajaran berlanjut seperti biasanya. Hari ini Tania lemas, baru sebentar bertemu dengan Vaaz malah orang itu menghilang entah kemana. Ketemu Vaaz sama dengan minum susu, bikin semangat.
Bel pulang sekolah berdering, Tania cepat cepat memasukkan barang barangnya ke dalam tas, bersiap pulang. Kali ini tidak mampir ke kedai kopi seperti biasanya, Tania sedang merasa lelah, ingin cepat cepat pulang ke rumah.
Sampai di rumah Ibu sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya, sesekali terlihat senyum senyum sendiri, sampai tak sadar kalau Tania sudah pulang. Entahlah, beberapa hari ini Tania merasa Ibu agak berubah, lebih senang memegang handphone, sesekali juga senyum senyum sendiri.
Tania merebahkan tubuhnya di kamar, terlintas pikiran tentang Vaaz. Tiba tiba pintu kamar Tania dibuka oleh seorang laki laki berambut panjang, melihat Tania sambil tersenyum. “Ngapain sih buka buka kamar orang! Dasar kuntilanak gila!” dengusnya kesal, menutup pintu kamar dengan cepat.
Malamnya, saat Ayah belum pulang, Tania melihat handphone Ibu, tiba tiba ada satu video call masuk. “Jiji banget, sih. Pake video call segala. Gila ya ni orang.” Tania langsung mematikan handphone itu, mengabaikannya.
Baru ingin duduk, handphone Ibu sepertinya bunyi lagi, Tania kembali, sekarang orang itu menelpon. “Hallo, dengan siapa ya?” Tania menirukan suara laki laki, orang diseberang sana langsung mematikan panggilannya.
Tania duduk di bangku, “Nyebelin tu orang, awas aja kalo berani deketin Ibu gue. Abis!.”
Tiba tiba suara ketukan pintu terdengar, Tania membuka pintu. "Kuntilanak gila, mau apa lagi, sih? “Kenapa!” Tania bertanya judes, orang itu gelagapan. “Bapaknya ada nggak, Dek?”
Hah? Kenapa jadi nanyain Ayah? “Nggak ada lagi kerja. Mau ngapain?” Tania bertanya sinis, menatap orang itu tidak suka. “Kalo Ibu ada?”
“Nggak ada, ada urusan apa?” orang itu menggaruk ujung hidungnya yang tak gatal, bingung. “Oh, nggak, mau beli roti.” Laki laki itu tersenyum. “Nggak ada, rotinya abis!”
Tania menutup pintu dengan kencang,
Tania mulai curiga, jangan jangan ada hubungannya dengan Ibu, jangan jangan orang itu suka Ibu, menjijikan. Sampai kapanpun Tania tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ya Tuhan, jangan sampai.
Esoknya, Tania kembali sekolah, berangkat pagi pagi sekali karena ada tugas yang belum dikerjakan. Tiba tiba ada anak osis yang masuk ke kelas, menitipkan bungkusan pada Tania, katanya itu buat Vaaz. Kenapa harus di kasihnya ke Tania? Emang Tania siapanya Vaaz?
Tania menunggu Vaaz sampai bel masuk berdering. Tapi orang itu sepertinya tidak masuk sekolah. “Nad, Vaaz kemana?, kok nggak sekolah?.” Tania bertanya sambil memainkan ponselnya. “Vaaz di skor lagi” Tania membulatkan matanya, menatap Nadila tak percaya. “Seriusan? Gara gara apa? Kok Tania nggak tau.” Nadila menggeleng, tidak tahu.
“Lo kaya nggak tau Vaaz aja, dia kan kasusnya banyak. Oh iya, Tan, nanti abis pulang sekolah kata Vaaz lo disuruh ke kedai kopi, katanya mau ngambil barang dari osis yang dititipin ke lo.” Tania yang mendengarnya lemas, ini pasti gara gara Tania jauh dari Vaaz dan terlalu sibuk dengan osis, makanya Vaaz jadi banyak ulah. Kabar baiknya Vaaz mau ketemu Tania lepas pulang sekolah nanti.
Bagus, setidaknya ada hal yang membuat Tania semangat hari ini, bertemu dengan Vaaz.
pelajaran berlanjut sebagaimana biasanya, tapi agaknya hari ini waktu terasa lambat karena Tania tak sabar ingin bertemu dengan Vaaz. Banyak sekali perihal yang akan Tania sampaikan pada Vaaz, rasanya rindu berada jauh dengan Vaaz. Eh, memangnya Vaaz siapa? memangnya Vaaz juga rindu dengan Tania? sepertinya tidak.
Bel pulang sekolah berdering, raut wajah Tania terlihat bahagia. Tersenyum sambil membawa bungkusan yang isinya entah itu apa. Dalam perjalanan selalu memikirkan hal hal yang baik, ya, mungkin ini jalan untuk Tania memperbaiki hubungannya dengan Vaaz.
Tania memesan kopi seperti biasa, Machiatto. Tak lama pesanan datang bersamaan dengan kehadiran Vaaz. “Hai.” Vaaz menyapa, Tania mendongak sambil tersenyum hangat. “Ini, isinya apa, sih?” Tania langsung memberikan bungkusan itu pada Vaaz.
“Ini bungkusan dari fans di sekolah, kita buka ya.” Tania mengangguk, tak sabaran ingin lihat isinya apa. Vaaz membuka bungkusan itu di meja Tania, puluhan bungkusan coklat memenuhi meja, merk coklat apa saja ada. Tania tak berkedip menatapnya.
“Wih… banyak banget, Vaaz.” Tania menatap wajah Vaaz yang tersenyum juga melihat semua coklat itu. “Mau?” Vaaz menawarkan. Tania langsung mengangguk, bilang iya.
“Bukannya lo juga dapet dari Daviar?” Eh, tau dari mana kalau Tania juga dapet coklat dari Daviar? Tania mengangguk, iya benar. “Ini mah coklatnya nggak spesial Tan, nggak kaya pemberian Daviar yang ada tulisan I love you-nya.” Senyuman Tania perlahan memudar. Vaaz tau dari mana tentang semua itu?
“Tapi gue juga mau kasih yang berbeda, tunggu sini.” Vaaz memasukkan semua coklat itu ke dalam bungkusannya. Membawanya pergi entah kemana, meninggalkan Tania sendiri di sini.
Sepuluh menit Vaaz kembali membawa bungkusan berisi coklat itu, memberikannya pada Tania. “Semuanya buat lo.” Vaaz tersenyum, Tania membuka bungkusan itu di mejanya. “Kok ada kertasnya, Vaaz?” Tania menatap Vaaz bingung. Di luar bungkusan coklat itu, ada kertas yang di tempel yang didalamnya ada tulisan.
“Biar sama kaya yang dikasih Daviar.” Vaaz nyengir, menyeruput kopi pesanannya.
Oh, ya, sudah berapa lama kita tak bersua di tempat yang sama? rasanya rindu, entah dengan perasaanmu.
Tania membuka satu persatu kertas, isinya sungguh membuat perut tergelitik, lucu.
"Maaf soal kemarin, Tania lucu, Tania bawel, Jangan ngomong mulu, jangan kebanyakan makan, Tania jelek, jangan kangen, jangan rindu, kita sahabat bukan?, ke pasar malam lagi yuk, jangan kebanyakan minum kopi, Tania Shaqila Aileen, puisi puisinya bagus, jangan terlalu khawatirin gue, makan nasi goreng yuk, semoga semoga, oh iya, ada yang lupa, Ibu kirim salam, gue di skor lagi, nggak papa, bukan masalah serius."
Kalimat kalimat pendek itu sukses membuat Tania tersenyum hangat, walaupun di sana tidak ada kata kata I Love You sama seperti yang ditulis Daviar di kertas itu. Tetap saja, pemberian paling spesial tetap pemberian dari Vaaz. Kalimat terakhir membuat Tania lagi lagi menghela nafas, senyumnya perlahan memudar.
“Kok jadi jutek gitu?” Vaaz bertanya, Tania menggeleng pelan. “Harus di skor lagi?” Vaaz mengangguk pelan, berusaha memasang wajah paling cool, meyakinkan Tania semuanya akan baik baik saja.
Di sekolah Tania, memang setelah diselenggarakannya acara sekolah, pasti pihak osis mengadakan acara pendukung seperti voice of heart, dimana semua siswa dan siswinya berhak memberikan surat untuk siapapun termasuk para guru dan kepala sekolah.
Tapi seiring berjalannya waktu, para siswa siswi lebih senang memberikan makanan yang diluarnya pasti ada kata kata sesuatu dan alamat si penerima.
Setelah memasukkan coklat itu, Tania banyak berbincang bincang dengan Vaaz. Cowok itu juga banyak menceritakan sesuatu pada Tania.
Rasanya bahagia dapat kembali bersua dengan Vaaz. Orang itu memang menyenangkan.
Senja mulai menghilang dari singgasananya, tergantikan oleh gelapnya malam dihiasi bintang gemintang. Tania beranjak pulang, membawa semua pemberian coklat dari Vaaz.
Sampai rumah Mas Fahri dan Ayah sudah pulang, sedang duduk bersama menonton televisi di ruang tamu. Terlihat Ibu sedang menyiapkan makan malam.
“Assalammualaikum.” Tania pulang dengan riang gembira. “Ih, kesambet apaan tuh dia senyum senyum sendiri?” Mas Fahri bergidik ngeri melihat Tania seperti itu. Jangan jangan kesambet setan lagi, kebiasaan sih, kalau pulang selalu sore menjelang malam, kan banyak setan berkeliaran.