SILENT MEMORIES

SILENT MEMORIES
Chapter 16 | 21.15 : Silent Memories



Saya dan dia menjadi saksi nyata


Bahwa betapa kamu begitu spesial yang telah Tuhan cipta


Tanpa perlu banyak orang yang tahu


Sebab nanti banyak sekali yang menginginkan kamu


( -Ronasenja )


Tania ingat Vaaz pernah memperkenalkannya dengan teman masa kecilnya, Rayna. Ia memberikan foto Rayna yang sampai saat ini masih Tania simpan sebagai kenangan.


Kalau boleh jujur, Rayna sekilas mirip dengan Tania. Tuhan adil. Mengganti kepergian Rayna dengan kehadiran Tania walau sampai kapanpun Tania tahu, Rayna tidak akan pernah terganti sesiapapun juga.


-


Satu setengah jam tanpa terasa, Vaaz kembali, berniat mengantar Tania pulang. “Aku pulang dulu ya, bu.” Tania mencium punggung tangan, Ibunya tersenyum mengangguk. “Nanti, abis antar Tania pulang jangan lupa ke rumahnya Ibu Rita dulu, kamu juga udah lama Vaaz nggak ke makam Rayna.” Mendengar itu membuat Vaaz lesu, wajahnya terlihat sedih, matanya berkaca kaca.


Rayna? Dimana Rayna sekarang?


Tadi Ibunya Vaaz banyak cerita tentang Vaaz dan masa kecilnya dengan Rayna. Tania jadi tahu, Vaaz juga memiliki sahabat perempuan sejak berumur empat tahun. Mereka berdua sangat akrab dan entah sekarang Rayna berada di mana, tapi kenapa Ibunya Vaaz bicara tentang makam?


Tadi sebelum pulang juga Ibunya Vaaz memberi album foto mereka berdua, kalau dilihat lihat, Rayna sangat cantik. Rambutnya hitam legam dan panjang. Dan Tania meminta foto itu untuk disimpan. Dan Ibunya Vaaz pun memberikan.


Vaaz langsung menggas motornya meninggalkan rumah, mengantar Tania pulang. “Tadi Ibu cerita tentang Rayna. Tania mau ketemu Rayna boleh?” Vaaz hanya mengangguk pelan, kemudian di tengah jalan berhenti untuk membeli dua tangkai bunga. Tania hanya diam, pasalnya saat ini wajah Vaaz terlihat berubah.


Setelah melanjutkan perjalanan lagi, Vaaz berhenti di sebuah pemakaman, ia mengajak Tania turun sebelum pintunya ditutup oleh penjaga setempat. Tania hanya mengikuti langkah kaki Vaaz dari belakang, dan berhenti di suatu pusara milik seseorang.


Rayna?


Vaaz meletakkan bunga itu di pusara Rayna, ia tersenyum simpul. “Ray, aku ajak temen aku ke sini, katanya dia mau ketemu kamu nggak apa apa, kan?”


Kemudian Vaaz diam, mengangkat tangan dan berdoa. Setelahnya langsung meninggalkan pusara Rayna dan mengajak Tania ke rumah Ibunya Rayna.


Vaaz duduk di bangku warung di luar pemakaman, membeli minum dan sesekali memperhatikan ponselnya. Tania mulai membuka topik pembicaraan. “Rayna sakit apa Vaaz?”


Vaaz menggeleng, raut wajahnya berubah serius. “Kecelakaan bareng gue. Dulu, berbulan bulan lamanya dia diincar seseorang, Rayna bilang dia suka diikutin, dan saat itu dia lagi sama gue dan kita berdua ditabrak mobil.”


“Kalo menurut gue, ini ada kejanggalannya, orang orang yang deket sama seseorang yang terlibat dalam geng, itu secara perlahan menghilang. Gue selama ini juga nggak pernah memutuskan gue masuk geng, tapi gue dijebak, Tan.”


“Itu nggak mungkin Vaaz, nggak masuk akal.” Tania membenarkan posisi duduknya, menatap Vaaz dengan serius. “Lo pernah nggak, denger atau liat hal hal yang nggak masuk akal di dunia ini? Itu semua konyol, kan? Tapi juga nyata. Apa apa yang didenger konyol dan nggak mungkin, itu beneran ada dan nyata terjadi, Tan. Nggak ada yang nggak mungkin, dan kalo pergaulan lo udah meluas, hal hal yang kayak gitu emang udah biasa.”


“Gue juga nggak pernah terlibat dalam geng mereka, gue ikut karena dijebak juga dan untungnya gue dipertemukan dengan Zidan. Abangnya Zidan, meninggal di pasar karena dikeroyok geng nggak dikenal, dan posisi Zidan waktu itu udah masuk sebagai anggota geng. Jadi gue sama Zidan lagi mengungkapkan kejadian kejadian konyol dan nggak jelas ini.”


“Kalo gue pergi kemana mana, jangan takut, gue cuma lagi mengungkap kekonyolan ini aja, berbaur dengan mereka mereka biar informasinya jelas. Nggak lama lagi juga semuanya dipenjara.” Vaaz tersenyum simpul, menegak minumannya dan berdiri memakai helm, lanjut berjalan ke rumah Ibunya Rayna.


“Berarti Vaaz juga di penjara dong.” Tania masih duduk di bangku, wajahnya terlihat bingung. Vaaz tertawa dan menepuk jidat. “Ya nggak lah, gue kan sebagai pelapor.”


“Maksudnya?” Tania mengekor Vaaz dari belakang. Vaaz menoleh, “Jangan bilang siapa siapa kalo gue jadi detektif yang diutus kepolisian untuk mengungkap ini semua.”


Tania tidak mengerti dengan ini semua, seolah olah apa yang dia dengar terasa tidak masuk akal. Tapi ingat, sesuatu yang baru didengar dan tidak masuk akal, sejatinya memang ada dan terjadi dalam kehidupan.


Vaaz mulai meng-gas motornya, meninggalkan pemakaman yang sudah ditutup oleh penjaga setempat. Lima belas menit sampai, Vaaz membawakan rantang berisi makanan untuk Ibunya Rayna. Tania ikut masuk ke dalam, berjalan di samping Vaaz menuju sebuah kamar.


“Raynaaaa!!!” Tania di peluk dengan kencang, perempuan itu menangis dalam pelukan Tania, mengelus punggung Tania, meracau tidak karuan. Tania menatap Vaaz bingung, orang itu langsung melepaskan pelukan Ibunya Rayna pada Tania.


“Tante, aku bawa makanan buat tante dari Ibu Mira.” Vaaz menahan amukan Ibunya Rayna.


“Bukan, Tan, itu temennya Vaaz namanya Tania, dia emang mirip dengan Rayna.”


Deg.


“Nggak itu anak tente!! Rayna sini nak, Ibu kangen banget sama kamu.” Ia meronta melepaskan tangan Vaaz, berlari memeluk Tania yang masih mematung di tempat. Ibu Rayna manangis dalam pelukan Tania, bergumam sesuatu, Tania balas memeluknya, ikut menitikkan air mata.


“Aku Tania tante, bukan Rayna.” Tania berkata halus. Ibu Rayna yang mendengar melepaskan pelukan, menjauh, berteriak histeris dan terduduk menangis.


“Tante, aku janji untuk ngungkap kematian Rayna secepatnya, tapi tante nggak boleh kaya gini, Rayna udah tenang di alam sana, Rayna udah bahagia. Aku juga terluka Tan, tapi Tante harus sabar.” Vaaz memeluk Ibunya Rayna, menenangkannya.


Namun ia lagi lagi mengamuk, memberontak dan melempar barang barang di sekitarnya, Tania langsung memanggil perawat di rumah itu, mencarinya di rumah yang besar bukan perkara mudah, ternyata perawat itu sedang menjemur pakaian di halaman belakang.


Keduanya berlari menghampiri Ibunya Rayna dan Vaaz, kalau sudah seperti ini perawat hanya bisa menyuntik Ibu Rayna agar tidak melakukan sesuatu yang berbahaya.


Saat pintu itu terbuka, Vaaz sedang memeluk Ibunya Rayna sambil membisikkan sesuatu, Ibunya menangis dalam dekapan Vaaz dan kening orang itu berdarah. Lihatlah sekeliling ruangan ini, sudah seperti kapal pecah.


Vaaz menyerakan Ibunya Rayna pada perawat, bilang kalau ada rantang berisi makanan kesukaan Ibu Rayna sambil mengeluh pelan, memegang keningnya yang terluka.


Perawat itu mengangguk pelan dan segera menangani Ibunya Rayna. Vaaz duduk di ruang tamu, sementara Tania mencari obat obatan di laci meja, ikut duduk berhadapan dengan Vaaz, mengobatinya.


Setelah selesai mengobati Vaaz, orang itu langsung mengantar Tania pulang ke rumah, meninggalkan rumah yang katanya banyak menyimpan kenangan masa kecil Vaaz dan Rayna.


Dan semenjak kejadian itu, Tania semakin yakin pada Vaaz, bahwa dia tidak seburuk yang orang lain katakan. “Tania beneran mirip Rayna emangnya?” Vaaz yang mendengar tertawa kecil. “Iya, sekilas.”


Tania langsung bersandar pada punggung Vaaz, menitikkan air mata seolah ia tidak ingin Vaaz pergi. Menyadari hal itu, Vaaz menarik tangan Tania, memegangnya agar memeluk dirinya.


Tania tertawa, menarik tangannya dari lengan Vaaz.


Sampai di depan rumah Tania, Vaaz langsung menggas motornya karena matahari sudah mulai tenggelam.


Waktu berjalan cepat, hari hari dilalui tanpa Vaaz di sekolah, memang agak berbeda, biasa ada yang menjahili satu minggu itu tidak sama sekali. Sekolah juga terasa aman dan tentram saat Vaaz tidak bersekolah, tidak ada lagi bisik bisik wanita yang bicara kalau Vaaz akan berantem di warung belakang sekolah.


Tapi sungguh, selama satu minggu berlalu, Tania benar benar merindukan Vaaz. Sangat. Hanya saja tak berani untuk mengatakan, sungkan.


Satu minggu kemudian, Vaaz kembali masuk sekolah. Kebetulan saat itu ada guru baru, namanya Pak Syahdan, dia memanggil semua anak anak yang bermasalah ke ruang audio visual, membicarakan sesuatu.


Tak kurang dan tak lebih isinya anak anak yang bermasalah semua dari kelas satu sampai kelas tiga. Pak Syahdan memberikan semangat untuk mereka yang sedang dalam masalah. Pastilah jiwa jiwa pemberontak itu disebabkan oleh suatu hal, bukan dari hati masing masing anak.


Dan sebagian dari mereka sudah terkena lebel buruk yang susah untuk dihilangkan, sehingga untuk berubah menjadi orang yang lebih baik pun rasanya sangat tidak mungkin, mereka tidak akan melakukan hal yang baik, toh orang juga tidak akan percaya kalau orang yang dapat lebel buruk bisa berubah dan mau berubah.


Termasuk Vaaz, dia juga di sekolah terkenal sekali, terkenal nakalnya oleh guru guru, dicap sebagai pemberontak oleh semua murid. Maka, apapun yang dilakukan oleh anak anak yang mendapat lebel buruk, mereka sungkan untuk berubah, namanya sudah tercemar duluan oleh orang orang yang sebenarnya tidak tahu apa penyebabnya mereka seperti itu.


Mereka tidak mau menerima anak anak nakal, pendidikan dibuat untuk mendidik bukan untuk menghukum sebab dan akibatnya. Mereka juga terlahir dengan latar belakang yang berbeda, yang barangkali mengungkapkan rasa kecewa dengan hal hal yang negatif.


Mereka hanya butuh dukungan bukan lebel yang seakan akan merusak nama baiknya. Siapapun orang itu, mereka bisa berubah selagi mereka mau.


Akhir dari pembicaraan Pak Syahdan adalah, dia mengajak untuk semua anak muridnya yang berada di ruangan ini untuk sama sama berubah menjadi lebih baik lagi, tunjukan pada masyarakat sekolah kalau kita bisa, kalau kita tidak seperti apa yang mereka katakan.


Maka mulai saat itu, terbentuklah suatu komunitas, isinya anak anak nakal dan pemberontak yang mulai dari sekarang berjuang membuktikan diri sendiri dan orang lain tentang bakat dari masing masing mereka.


Menunjukkan diri sendiri kalau anak nakal juga punya bakat yang sudah terpendam oleh lebel lebel buruk masyarakat sekolah.


Cukup tentang lebel itu, sudah saatnya semua berubah menjadi baik, tidak ada anak anak yang nakal dan pemberontak, yang ada hanya anak anak yang terkubur oleh lebel lebel buruk.