
Rasa ini kadang mengganggu pikiran saya
Tentang kamu yang selalu berbeda diantara yang lainnya
Dan entah kenapa saya selalu takut kamu pergi entah kemana
Seperti kisah kisah novel yang sering saya baca
Yang saya pun kadang terlarut di dalamnya
Dan enggan merasakannya
( -Ronasenja )
-
“Mba Tania!” panggilan itu berhasil membuyarkan lamunan Tania. Seorang laki-laki berumur empat puluh tahunan duduk di depannya memberikan selembaran kertas berisi menu. “Ada menu rasa baru.” Tania hanya melirik kertas itu dan kembali diam. “Kok diem aja?” Pak Mun kembali bertanya. “Pasti bayar.” Tania berkata datar.
“Ya bayar lah, Mba. Masa gratis?” Tania melihat menu yang di berikan Pak Mun, menarik. “Kok diliatin aja sih, Mba? Cepetan, mau rasa apa?” Tania malah menatap wajah Pak Mun, bingung. “Rasa apa ya?”
“Ini kan rasanya banyak, ada rasa yang pernah ada, rasa rindu, rasa sayang sama rasa suka juga ada. Nanti kalo Mba Tania makan donatnya, akan ada rasa rasa sama yang kaya ada di donat. Misalnya Mba Tania pesen rasa yang pernah ada, nanti tiba tiba inget temen Mba Tania tuh yang suka ke sini, siapa namanya? Vaaz?” Pak Mun semangat menjelaskan, berharap Tania tertarik. “Ah! Bapak ngarang, mana ada rasa donat kaya begitu. Yaudah, Nutellanya dua.” Ucap Tania sambil tersenyum, mengingat kejadian waktu itu
-
"Vaaz, Tania nggak akan ngebiarin siapapun untuk manjat pager sekolah!" Tania menatap Vaaz yang sedang berusaha keluar dari sekolah.
"Loh, peduli lo apa, ya?" Vaaz menoleh ke bawah, belum ada niatan untuk turun.
"Terserah! Kalo nggak turun juga, Tania laporin guru." ia mengancam Vaaz, seketika Vaaz langsung loncat. "Dasar Lo, cewek tukang ngadu!" Vaaz melotot, wajahnya seketika berubah menjadi datar, meninggalkan Tania sendirian di parkiran. Tidak apa apa, itu salah satu bentuk kasih sayang Tania sebagai teman.
"Sabar Tania, meluluhkan hati Malik yang sekeras batu aja bisa, masa meluluhkan hati Vaaz nggak bisa." Tania bergumam dalam hati, menghembuskan napas pelan dan berlalu meninggalkan parkiran.
Malik, salah satu teman SMP Tania yang bandelnya melebihi Vaaz bisa luluh dengannya. Tania awalnya benci, kisahnya dengan Malik seperti novel novel yang sering ia baca, tentang perempuan yang berusaha meluluhkan hati laki laki nakal, ujung dari ceritanya mereka berpacaran. Tapi tolong, cerita Tania dan Malik tidak seperti itu, masing masing mereka tidak menyukai satu sama lain. Malah keduanya sering bertengkar. Kemarin Malik juga bilang, kalau dia sedang naksir dengan temannya Tania. Kalian tahu siapa? Iya, Nadila.
Hari hari berganti seperti biasa, Tania masih sok akrab dengan Vaaz. Jangan ditanya, malunya sampai ubun ubun kalau laki laki itu malah mendiamkan Tania atau yang lebih menyakitkan Tania ditinggalkan.
Saat sedang makan di kantin bersama teman teman Tania yang lainnya. Saat seseorang tidak sengaja menumpahkan kuah gulai di baju Vaaz, laki laki itu langsung berdiri, ingin bertengkar. Tania langsung menarik tangan Vaaz, menyuruhnya duduk. "Jangan macem macem Vaaz, itu dia anak guru ekonomi yang galak itu." Tania berbisik pelan, Vaaz menatap Tania tidak percaya.
Pasalnya dua hari yang lalu, Vaaz baru saja dihukum dengan guru ekonomi yang super galak itu. Tapi yang jelas, orang yang tadi tidak sengaja menumpahkan kuah gulai, jelas bukan anak guru ekonomi itu, Tania hanya mengada ada. Malik yang mendengar melotot, tidak percaya dengan ucapan Tania.
Nadila yang duduk berhadapan dengan Tania memberikan tissue, Tania segera mengelap baju bagian belakang Vaaz. Setelahnya orang itu pergi entah kemana. Entah, saat berada di kantin, Tania hanya ingin duduk di samping Vaaz, agar orang itu mengendalikan dirinya jika terjadi sesuatu.
Saat pelajaran ingin dimulai dan guru juga sudah masuk ke kelas, Vaaz di panggil guru BK, entah ada apa. Tania mengelus dada saat semua rencana yang ia buat akhirnya berhasil.
Kamis sore ini ia biarkan rambut legamnya terurai panjang, wajahnya terlihat cantik ditambah kacamata yang ia pakai.
Kemarin baik sekali memberikan sapu tangan pada Tania, sekarang kenapa Vaaz jadi begini? Sepertinya Tania salah untuk menaruh hati.
Dengan kesal orang itu meninggalkan Tania dan duduk di bangku yang lain. Saat sedang serius, Vaaz langsung mengambil kamera dan memotret Tania, orang yang di potret malah mengangkat jarinya membentuk huruf V, tersenyum ke arah kamera. Vaaz yang menyadari itu langsung salah tingkah.
Pasti itu hukuman paling aneh yang pernah didengar. Iya, Tania sengaja melaporkan kenakalan Vaaz dengan saksi yaitu Malik.
Malik bercerita kalau dulu ia juga sama seperti Vaaz nakalnya, tapi karena Tania selalu mendampingi, jadi apa apa yang dulu Malik ingin lakukan selalu dicegah, dan wanita itu tidak mau mengalah. Lambat laun Malik berteman dengan Tania dan mau mendengarkan nasihat yang diberikan olehnya.
Bu Sri mengangguk sambil tersenyum. "Ibu nggak nyangka loh sama kamu, ternyata Malik sekarang udah jadi orang berguna. Nggak kebayang kan, kalau Tania dulu nggak jadi temen kamu? Pasti kamu jadi komplotannya Vaazhera juga."
Tania, Malik dan Bu Sri berbincang tentang Vaaz. Mau tidak mau Vaaz harus menjadi temannya Tania, dengan cara selalu menemaninya menulis di kedai kopi. Itu salah satu saran yang diberikan Tania. Pasalnya sudah tidak ada cara lain. Vaaz juga selalu menghindar dari Tania.
Memang kedengarannya konyol, tapi nanti Bu Sri akan memberikan alasan mengapa Vaaz harus mau melakukannya.
Satu minggu Vaaz selalu menemani Tania di kedai kopi. Mereka jadi banyak berbincang, Tania selalu menceritakan apapun pada Vaaz. Bisa dibilang Vaaz juga semakin terbuka dengan Tania.
Waktu pertama kali Tania bertemu dengan Vaaz, orang itu baik sekali, dan memang sempat duduk berdua minum kopi , namun Vaaz esok harinya berubah dan menjauh. Dan itu terbukti, sifat Vaaz setelah pertemuannya di kedai kopi waktu itu, membuktikan kalau Vaaz memang orang yang menyebalkan, sama seperti pertemuannya di tukang nasi goreng waktu itu.
Masa hukuman selesai, Vaaz masih sering ke kedai kopi sekadar menemani Tania atau bercerita. Ternyata usahanya berhasil dan tidak sesulit meluluhkan hati Malik dulu.
Pertemanan Tania dan Vaaz semakin membaik, ya, bisa dibilang mereka sudah akrab, layaknya orang orang biasa. Sikap Vaaz selalu menyenangkan, Tania sampai tak habis pikir kalau Vaaz memang semenyenangkan itu. Walaupun orang bilang Vaaz pendiam, tidak semangat hidup, tidak mau bicara, bandel dan sebagainya.
Walaupun mereka sudah menjadi teman, bukan berarti Vaaz lepas dari kenakalan sepenuhnya, hanya mengurangi beberapa persen. Tania hanya berusaha menjadi teman yang selalu ada, tapi masalah berubah atau tidaknya, itu tergantung masing masing pribadinya.
Vaaz hanya butuh pendengar seperti Tania, hanya butuh orang orang yang mau mengertinya dalam kondisi apapun. Termasuk kenakalan Vaaz di sekolah, walaupun ia terlihat pendiam, tapi siapa bilang tidak pernah melanggar peraturan. Prinsipnya, peraturan dibuat untuk dilanggar. Kadang Tania jadi pegal sendiri melihat kenakalan yang dibuat Vaaz di sekolah. Tania cuma bisa menasehati dan menghembuskan napas kesal.
“Mau sampai kapan, sih, Vaaz begini terus?” mendadak Tania mempertanyakan itu. “Hmm, sampai lulus sekolah kali, ya?” Tania langsung melempar gantungan kunci miliknya ke arah Vaaz. Laki-laki itu hanya tertawa melihat ekspresi kesal Tania. Emangnya apa urusannya dengan Tania? Vaaz yang nakal, kenapa Tania yang pusing?
“Yang penting kan gue nggak pernah ganggu cewek, Tan. Nakal mah, nakal aja, ngerokok, nongkrong, udah itu doang.” Ucap Vaaz terlihat sedih namun ia tetap memasang wajah cool-nya.
Tania mengangguk mengerti. Tania cuma takut satu hal, kalau suatu saat nanti point pelanggaran Vaaz melewati batas, ia akan dikeluarkan dari sekolah. Tania mengerti kondisi keluarga Vaaz bagaimana, ia anak brokenhome. Ibu dan Ayahnya bercerai saat Vaaz masih sekolah dasar. Itu artinya Vaaz memang kurang kasih sayang dan menjadi pendiam seperti sekarang.
“Donaatttt! Donaatttt!”
“Mas, donat!” Vaaz melambaikan tangannya.
Tukang donat itu berhenti, kemudian menghampiri bangku Vaaz dan Tania.
“Donatnya, Mas. Mau rasa apa?” Vaaz menatap wajah Tania yang sedang melamun. “Rasa apa, Tan?” Tania tersentak dan baru sadar kalau disampingnya sudah ada tukang donat. “Rasa apa, ya?” ia sendiri malah bingung, balik bertanya.
“Rasa suka ada nggak, Mas?” Vaaz meledek tukang donat itu sambil tersenyum menatap Tania. “Aduh, kalau rasa suka adanya di sini.” Tukang donat itu memegang dadanya, memberi tahu. Tania yang melihat ekspresi tukang donat itu tertawa. Buat apa juga Vaaz bertanya seperti itu?
"Dulu si cewek ngejar ngejar, sedangkan si cowoknya acuh banget kaya di novel novel." Vaaz bergumam sambil memakan donat yang baru dipesan.
"Siapa?" Tania mendongak, menatap wajah jahil Vaaz yang sedang tersenyum simpul.
"Kita." Mendengar hal itu Tania tertawa, menampilkan gigi rapinya.
Sebenarnya cerita saya dan kamu kemudian menjadi kita. Bukan sesuatu yang mudah untuk melakukannya. Sebab seseorang butuh banyak perjuangan dan pengorbanan untuk meluluhkan hati seseorang.