
Kelvin banyak cerita tentang dirinya pada Tania. Satu hal yang pasti, laki-laki itu cepat akrab dengan seseorang, berbeda dengan Vaaz yang butuh lamanya waktu untuk bisa bercerita seperti Kelvin.
Tania sesekali tertawa mendengar cerita Kelvin. Pembawannya begitu mengasyikkan sampai orang yang mendengar ikut merasakan. Matanya terfokus pada gantungan tas milik Kelvin yang berbentuk sepeda. Tania jadi ingat Mas Fahri. Tania rindu Mas Fahri.
“Kenapa, kak?” Kelvin bertanya heran ketika melihat manik mata Tania asik menatap sesuatu. Tania tersenyum, menggeleng.
“Nggak papa. Gantungan kuncinya bagus. Aku juga punya dulu, cuma sudah diberikan untuk seseorang paling spesial. Persis kaya punya kamu.” Tania kembali tersenyum hambar.
“Gantungan kaya gini banyak, kak, yang jual. Kak Tania suka? Kalau suka buat kakak aja. Aku juga dapet dari seseorang.” Tania menggeleng. Bukannya tidak suka, malah sangat suka. Cuma Tania tidak mau mengingat masa lalu itu, masa paling indah dan memiliki sejarah dibalik gantungan bersepeda itu.
-
Danendra Fahriansyah, usianya dua puluh tahun, Tania enam belas tahun. Beda umur empat tahun. Orangnya tampan seperti Ayah, memiliki garis rahang yang tajam, hidung mancung, alis dan bulu mata yang tebal, juga tubuh tinggi tegapnya.
Fahri, banyak orang yang memanggilnya dengan sebutan itu. Sosoknya amat dikagumi oleh siapapun itu, entah, mereka selalu melihat Mas Fahri dari fisik, jadi banyak orang yang mengagumi.
Sekarang ia bekerja sebagai penjaga toko buku di salah satu mall terbesar di Jakarta. Sebenarnya Mas Fahri ingin kuliah seperti kebanyakan orang. Namun ia sudah terlanjur mengenal dunia pekerjaan dan memang belum mau kuliah.
Walaupun sibuk dengan pekerjaannya sekarang, Mas Fahri akan selalu ingat nasihat Ayah tentang pentingnya Pendidikan dan menuntut ilmu.
Maka dari itu, jadilah sosok Mas Fahri yang cerdas dan ilmu pengetahuan umunya tinggi sekali karena rajin membaca. Dikala waktu senggang, Mas Fahri selalu bertanya pada Tania tentang pengetahuan umum, kalau berhasil menjawab, Tania boleh meminta buku mana saja yang ia inginkan dengan cuma-cuma.
Sementara itu, Ibu duduk di sebelah Tania, melihat foto kecil Mas Fahri yang tengah tersenyum lebar dengan memegang sepeda kesayangannya. Kata Ibu itu saat Mas Fahri menang lomba sepeda saat tujuh belasan di tingkat RT. Yah, baru tingkat RT.
“Mas Fahri itu sayang banget sama sepedanya. Dulu, waktu kecil juga suka naik sepeda, mau kemana mana naik sepeda.” Ibu menjelaskan sambil menuang teh manis ke gelas, meminumnya.
Tania ikut mendengarkan, sebenarnya malas. “Cuma tidur doang ya, bu? Yang nggak sama sepeda?” Tania meledek, lagi lagi Mas Fahri dari jauh melempar bantal.
“Ayah, sepeda Mas rusak.” Ibu menirukan suara khas Mas Fahri yang memelas. “Waduh, kamu kebiasaan sih, kalau kalah balapan pasti sepedanya di tabrakin kemana mana, kan jadinya rusak, Mas.” Ucap Ibu yang menirukan suara khas Ayah. Tania yang mendengarnya tertawa.
“Mas Fahri dulu kebanyakan gaya ya, Bu?”
Mas Fahri yang mendengarnya melotot tajam, Tania malah nyengir kuda, sementara Ibu tersenyum, bilang. “Iya, kaya kamu banyak gaya.” Sedetik kemudian tawa gelegarnya Mas Fahri terdengar di telinga, mebuat kuping pengang. Tania memutar bola matanya malas. Biasa aja kali.
Lanjut, percakapan malam itu makin melebar kemana mana, diikuti dengusan-dengusan Mas Fahri dan Tania yang kesal tidak terima dengan cerita yang disampaikan Ibu malam itu.
Tapi asik, Tania bisa kapan saja dan dimana saja menggoda Mas Fahri, apalagi saat Ibu menceritakan kisah cinta Mas Fahri pada Tania, itu cerita the best part malam itu.
Tania jadi tau, siapa pemberi gantungan kunci paling special itu, ternyata dari seseorang yang menganggap Mas Fahri paling special dalam hidupnya. Ahh, romantis sekali.