SILENT MEMORIES

SILENT MEMORIES
Chapter 14 | 21.00 : Lebih dari Bapak Rumah Tangga



Perjalannya tidak begitu jauh, lumayan, sampai di rumah Vaaz, rumahnya lumayan besar, didominasi oleh cat putih dan hitam. Tania turun duluan, membuka gerbang putih yang di kunci. Membuka pagar lebar lebar supaya bajaj bisa masuk ke halaman.


“Assalamualaikum.” Tania mengetuk pintu rumah, wanita usia empat puluhan itu keluar dengan senyum yang mengembang. “Tania, ya?” Tania bersalaman dengan Ibunya Vaaz, mencium punggung tangan wanita itu, sungguh ibunya baik sekali, mempersilahkan Tania duduk, dan celingukan saat melihat Vaaz belum kelihatan juga. “Vaaznya nggak kabur, kan?”


“Oh, itu dia.” Ibunya bergumam pelan. Tania melihat Vaaz membawa barang belanjaan yang banyak dan berat itu ke ambang pintu, terlihat lelah sekali. “Vaaz kamu nggak bilang kalau mau bawa tamu.”


“Maaf tante, saya bukan Vaaz, saya cuma tukang bajaj yang bantu ngangkatin barang.” Ibunya Vaaz terdiam, sekali lagi menatap anaknya serius. “Ihh!! Si Ibu mah, percaya aja anaknya jadi tukang bajaj.” Vaaz membuka topi yang menutupi wajah tampannya. Ibunya dan Tania tertawa. “Ibu beneran kaget, loh! Yaudah sana bawain belanjaan ibu ke dapur. Tania, mau minum apa, Nak?”


“Jus buah, bilang jus buah!” Vaaz melotot ke arah Tania, Tania menggeleng, “Nggak usah Bu, air putih aja.” Vaaz lagi lagi menghembuskan napasnya kasar, langsung mengangkat barang belanjaan ke dapur setelah tau jawaban Tania tidak sesuai apa yang diinginkan.


“Oh, iya, hari ini Vaaz mau masak seafood, nanti Tania cobain, ya?” Tania tersenyum, rupanya Vaaz pandai memasak juga. Hasilnya bagaimana, kita lihat nanti. “Kok jadi aku Bu, yang masak?”


“Ibu mau santai dulu nemenin temen kamu, kasian loh nggak ada yang ngajak ngomong.” Ibunya membela, sibuk berjalan ke sana kemari membuat es teh, padahal Tania minta air putih.


Ibunya meletakkan es teh di meja, “Vaaz cerita apa aja sama kamu?” Ibunya melihat sekitar, sepertinya takut kalau Vaaz mendengar percakapan dua wanita ini. “Banyak, Bu.” Tania mengambil es teh di depannya, meneguknya hingga sisa setengah.


“Emang bener Bu, pasar yang di sana itu angker? Terus kata Vaaz ada kakek kakek yang bilangin ke anak anak muda supaya tempat itu nggak dipakai untuk hal hal yang negatif?” Tania bertanya serius, menatap Ibunya Vaaz lekat lekat.


Ibunya Vaaz malah tertawa, “Vaaz beneran certain itu ke kamu?” Tania mengangguk, iya. “Kamu tahu nggak, siapa kakek kakek yang di maksud Vaaz itu?” Tania menggeleng, mana tahu. “Itu kakeknya Vaaz sendiri.” Tania melotot tidak percaya. “Dulu, waktu kakeknya Vaaz masih ada, dia suka cerita hal hal yang benar benar terjadi, yang jelas bukan mengada ngada.” Tania yang mendengarnya mengangguk, padahal tadi Tania enggan mempercayai Vaaz, pasti itu hanya bualan Vaaz seperti biasa, Vaaz memang belakangan ini suka mengarang cerita, sepertinya cocok kalau dijadikan penulis fiksi.


“Terus, Bu, tadi ada tukang ikan, Vaaz bilang Tania cocok jadi calon istri tukang ikan itu, katanya dia juga lagi nyari calon istri, Bu.” Lagi lagi Ibunya Vaaz tertawa, memegang perut. “Vaaz beneran ngomong begitu?” Tania mengangguk.


“Kamu tahu nggak, siapa tukang ikan itu?” Tania menggeleng. “Tukang ikan itu Pak De-nya Vaaz, kakak tertua dari Ayahnya Vaaz. Memang sih, setiap ada Ibu-Ibu yang beli ikan dia suka tanya, punya anak gadis atau nggak? Kalau punya mau dijadiin istri, padahal kamu tahu, calon istri itu untuk siapa?” Tania menggeleng, sepertinya cerita Ibunya Vaaz benar benar menarik.


“Buat Vaaz, meskipun tukang ikan itu bilang calonnya buat diri sendiri. Dan Vaaz sampai sekarang nggak tau, kalau calon istri itu untuk Vaaz.” Ibunya tersenyum. “Itu karena, Pak De-nya Vaaz suka dengar kabar kalau Vaaz di sekolah nakal, suka bertengkar, mulai saat itu dia berjanji mau cariin Vaaz calon istri di pasar, kalau ada yang cocok, Pak De-nya bilang sama Vaaz sendiri. Karena calonnya untuk Vaaz, bukan untuk Pak De-nya”


Ceritanya unik sekali. Tak lama Vaaz memanggil Ibunya untuk makan bersama dengan Tania. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas lewat, memang tepat untuk makan siang, Vaaz menyajikan banyak piring hasil masakannya.


Ibunya menyendok kan nasi untuk Vaaz dan Tania, Vaaz mengipas ngipas wajah dengan tangan, kepanasan, terlihat lelah habis masak makanan sebanyak ini. “Ayo, Tania, kita mulai makan. Ada seafood kesukaan Vaaz.” Tania mengangguk, mengambil lauk dan sayur secukupnya.


Vaaz di depan Tania justru sudah melahap nasi dan lauk yang masih panas, seperti tukang bajaj yang kelaparan, Tania menatap Vaaz yang sedang membuka cangkang udang, sausnya terpercik ke tangan, Vaaz mengelap dengan handuk kecil yang ia letakkan di atas pundak, itu kan bekas mengelap keringat, namun mulutnya tak berhenti mengunyah makanan selezat itu dengan nikmat. Tania jadi tahu rasa seafood itu padahal belum mencoba, pastilah rasanya enak.


Lanjut setelah makan, Tania membantu Ibu membawa piring piring kotor ke dapur, padahal Ibunya bilang tidak usah, tapi tetap saja Tania akan membantu, itu juga tugasnya di rumah saat selesai makan bersama dengan yang lainnya.


“Jadi Tania, kamu mau kan, jadi calon istri tukang ikan yang ada di pasar?” Ibunya tersenyum, melirik Vaaz yang menatap Tania dengan bingung, pastilah Tania tadi cerita cerita dengan Ibu, jadi Ibu tau, wanita memang suka menceritakan hal yang tidak penting, bukan?


Tania tidak menjawab, hanya tersenyum kecil sambil menunduk. “Iya, Bu. Tania di pasar di taksir sama Pak-De, mau di jadiin calon istri.”


Mendengar perkataan Vaaz, Ibu dan Tania tertawa bersama, Vaaz benar benar tidak tahu.


Saat menjelang sore, Tania di antar Vaaz pulang ke rumah dengan motor, kebetulan motornya sudah kembali, selesai habis dipinjam. Satu sama lain Tania jadi mengenal bagaimana baiknya Ibunya Vaaz, juga Ibunya jadi mengenal bagaimana Tania sebenarnya. Mereka jadi lebih akrab.


Selain cocok menjadi Bapak Rumah Tangga, Vaaz lebih dari itu, ternyata ia juga pandai memasak, sampai sampai Tania kalah. Masakannya luar biasa enak. Dan, satu hal yang Tania amati sedari tadi. Vaaz anak yang penurut, tidak pernah membantah perkataan Ibunya.


Masuk ke dalam rumah Ibu tidak curiga sama sekali karena Tania langsung masuk ke kamarnya, memikirkan ide dan alasan yang tepat. Tania menarik napas dalam dalam, ada baiknya ia berkata jujur, Ayah tidak pernah mengajarkan berbohong.


Makan malam kali ini berjalan sebagaimana biasanya, piring piring kotor sudah diangkut ke dapur, menyisakan Mas Fahri dan Ayah yang masih duduk di meja makan, membahas sesuatu. “Ayah.” Tania berkata pelan. Ayahnya menoleh. Tania duduk di sofa, memangku bantal dengan lukisan wajah Mas Fahri.


“Ayah, maafin Tania, ya.” Tania berkata pelan, merasa bersalah. “Kenapa?” Ayahnya betanya, Mas Fahri asik menguping pembicaraan.


“Tadi Tania nggak sekolah, so-“


“Astaghfirullah! Ya Allah… lama lama Tania di sekolah makin bandel, Yah.” Mas Fahri berteriak histeris setelah mendengarnya, memotong pembicaraan Tania, menggeleng gelengkan kepala.


“Soalnya tadi terlambat, trus gerbang sekolah nggak dibuka.” Tania berkata lirih, matanya melotot melihat Mas Fahri. “Kan bisa manjat gerbang, usaha sedikit gitu.” Lagi lagi ia berceloteh, ingin rasanya Tania sumbat mulut Mas Fahri dengan bantal yang sekarang sedang ia remas remas.


Tak lama Ibu datang, bergabung dengan percakapan di ruang tengah. “Kamu apa kabar dulu,? Kenapa ketua OSIS nggak manjat gerbang sekolah aja kalau terlambat sekolah?” semua pasang mata menatap Mas Fahri yang gelagapan, menggaruk ujung hidungnya yang tak gatal.


“Astaghfirullah! Ya Allah Mas… ternyata ketua OSIS lebih bandel daripada anak buahnya.” Tania berkata sewot, melempar bantal kea rah wajah Mas-nya dan langsung berlari ke kemar, menghindari pertempuran.


Catatan, seberapa banyak orang orang seperti Vaaz dalam dunia kenyataan? Yang dalam kehidupannya selalu mendapat stampel jelek dari sekitar karena kesalahannya sendiri? Seberapa sering kalian menemukan orang orang seperti Vaaz yang sebenarnya baik namun mereka menyembunyikan dan sungkan untuk berbuat kebaikan?