SILENT MEMORIES

SILENT MEMORIES
Chapter 22 | 22.00 : Tiga Hari yang ( Tidak ) Berarti.



Waktu berjalan seperti biasa. Vaaz pagi pagi selalu menjemput Tania untuk berangkat sekolah dan kembali mengantarnya ke toko roti.


Yang Vaaz pikirkan selama ini benar, Tania berubah seiring berjalannya waktu. Orang itu sikapnya berbeda, lebih senang diam dan enggan berada dalam keramaian. Sikap cerianya sudah tidak pernah kelihatan seperti pertama kali Vaaz dan Tania bertemu. Kadang Vaaz rindu dengan Tania yang dulu.


Tania juga jarang bercerita seperti dulu, seperti kehilangan kepercayaan pada siapapun orang.


Sorot matanya selalu terlihat sedih meski sedang tertawa. Seperti menyimpan luka. Seperti melihat Vaaz yang dulu yang sekarang berada dalam diri Tania.


Tapi Tania berhasil merubah Vaaz menjadi seperti ini. Menjadi Vaaz yang lebih berguna. Dan sekarang malah Tania yang berubah menjadi Vaaz yang dulu. Vaaz yang dingin.


Besok, tepatnya hari Senin, sekolah Tania sudah menjalankan ujian akhir semester.


Dan Tania tidak pernah semangat belajar lagi, prestasinya menurun drastis.


Lepas menyelesaikan ujian hari pertama, Vaaz tidak mengantar Tania pulang ke toko roti, melainkan mengajaknya pulang ke rumahnya Vaaz untuk belajar bersama. Ibunya Vaaz juga tersenyum puas saat melihat Vaaz sedang belajar dengan Tania. Menurutnya ini adalah sesuatu yang langka dan jarang dilihat.


"Tan, belajarnya yang semangat. Dari tadi gue liatin cuma nyoret nyoret kertas doang." Ucap Vaaz, orang itu sibuk membolak balikkan buku, sesekali matanya memperhatikan Tania yang sedang meletakkan kepalanya di atas meja, sementara tangannya asik menggambar sesuatu.


Tania diam, tidak menjawab apapun.


Vaaz langsung berdiri, meninggalkan Tania untuk mengambil sesuatu.


Kembali, Vaaz membawa toples berisi popcorn, meletakkannya di depan Tania. Orang itu langsung duduk tegak, menopang dagu sambil menatap Vaaz.


"Sekarang kita belajar sejarah. Gue tau ini nggak mudah, tapi gue mau jadi Tania yang dulu merubah Vaaz yang sekarang ada di diri lo."


Benar, sekarang berbanding terbalik. Sekarang Tania yang memiliki kepribadian seperti Vaaz dulu, sementara Vaaz perlahan semakin membaik dari hari ke hari.


Vaaz juga membuktikan ke Pak Syahdan, bahwa dia bisa berubah menjadi lebih baik.


Vaaz mulai bercerita pada Tania tentang sejarah, persis seperti apa yang selalu Tania ajarkan pada Vaaz apabila laki laki itu malas membaca buku.


Mulutnya tak berhenti mengunyah, kupingnya mendengarkan dongeng dari Vaaz, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menopang dagu. Matanya beberapa kali mengerjap, mengantuk.


Vaaz setiap hari selalu mengajarkan seperti itu pada Tania. Sampai seminggu berlalu. Tak lupa juga, untuk menyemangati Tania sebelum belajar, Vaaz mengajaknya berkeliling mencari makanan, apapun yang Tanya tunjuk pasti Vaaz belikan.


Sampai satu minggu berlalu, Vaaz izin sekolah selama tiga hari ke depan untuk mengungkap kematian Rayna dan menjalankan misinya dengan Zidan. Dalam waktu tiga hari ini semuanya kalau bisa diungkap agar Vaaz tidak merasa penasaran dan tidak akan ada korban lagi.


Ini hari terakhir mereka menyelesaikan ujian akhir semester ganjil. Vaaz dan Tania sedang berada di depan toko roti, duduk di bangku setelah lelahnya berkeliling mencari kerang hijau keinginan Tania.


Mau kerang hijau itu berada disudut bumi pun, pasti Vaaz akan cari. Sayangnya bumi itu bulat, tidak memiliki sudut.


Tania mencuci tangannya sebelum makan, matanya langsung berbinar kalau liat makanan dan seketika Tania merasa senang.


"Tania, jangan lupa aktifin handphone selama gue jadi detektif." Vaaz mengingatkan. Orang itu sedang membuka cangkang kerang, memasukkannya ke dalam mulut, sesekali mengangguk saat Vaaz berbicara sesuatu.


"Takut kangen." Vaaz nyengir, sementara Tania hanya terdiam dan memutar bola matanya malas.


"Tan, Lo berharap kasus ini terungkap atau nggak?"


"Aw!" Tania mengaduh saat kuah kerang hijaunya terpercik ke mata, Tania segera mengelap matanya dengan tangan, namun Vaaz menahannya, membantu mengelap mata Tania dengan sapu tangan.


Setelah mengerjap beberapa kali dan merasa matanya lebih baik, Tania kembali menikmati kerang itu. "Berharap... Iyalah, semoga pelakunya segera tertangkap."


"Tapi kalo pelakunya ketangkep, gue nggak mungkin ada di Jakarta lagi."


Baru merasa senang sesaat, justru Vaaz malah berucap seperti itu, membuat Tania diam sejenak berpikir sesuatu.


"Kenapa?" Tania menatap wajah Vaaz serius setelah tadi hanya terfokus pada kerang saja.


"Bahaya. Tapi gue pengen nemenin Lo terus sampai Lo berubah kaya dulu lagi."


"Kalo udah berubah kaya dulu, Vaaz pergi gitu? Kaya cerita yang kaya di novel novel." Tania tersenyum simpul, mengalihkan pandangannya.


"Nggak, lah. Berdoa aja gue nggak berhasil dalam tiga hari ini, jadi penyelidikannya ditunda lagi. Eh, Tan, pinjem buku buku puisi Lo boleh?"


"Buat apa?"


"Buat baca lah, Lo itu calon penulis terkenal, kalo karyanya nggak terpublikasi, orang nggak akan pernah tahu karya Lo apa dan gimana."


"Iya, nanti Tania ambil, ya." Tania berkata lembut, membereskan sisa makanannya dan masuk ke dalam toko.


Tak lama kemudian Tania kembali, membawa tiga buku yang isinya tulisan karyanya semua.


"Nih, pilih aja mau yang mana." Tania meletakkan buku itu di meja.


"Semuanya boleh?" Tania mengangguk. "Tapi jangan lupa dibalikin ya, Vaaz. Ini soalnya buku kesayangan Tania semua."


"Iyalah, masa minjem nggak dibalikin. Maling dong namanya." Tania yang mendengar tertawa, kemudian langsung terdiam, wajahnya mendadak berubah kalau tau Vaaz akan pergi selama tiga hari.


"Yaudah, gue pergi, ya." Vaaz pamit, berdiri dan meninggalkan Tania di toko roti ini. Tania mengangguk, melambai pada Vaaz yang sudah menyalakan motornya.


Matanya menatap Vaaz yang berlalu meninggalkan dirinya, tak lama Vaaz menghilang di kelokan jalan.


Tania menghembuskan napas dalam dalam. Tiga hari tanpa Vaaz bukan sesuatu yang mudah.


Tiga hari untuk Tania yang sama sekali tidak ada artinya kalau tidak ada Vaaz. Dan tiga hari yang paling berarti untuk Vaaz, untuk mengungkap kematian Rayna yang sebenarnya.