
Dalam perasaan sedih, pun.
kamu masih bisa membuat saya tertawa
Tetap jadi seperti itu, ya?
Agar saya bisa terus bahagia tanpa perlu ada jeda.
( -Ronasenja )
Malam semakin larut, kedai kopi berlantai tiga ini semakin ramai oleh kunjungan, kursi kursinya penuh dengan anak muda, mereka biasa menghabiskan waktunya bersama kerabat masing masing, ada juga yang membawa mainan balok yang disusun, jenga namanya, kemudian para pemainnya harus mengambil balok itu tanpa boleh merubuhkan bangunannya.
Itu juga mainan yang biasa Tania mainkan bersama Mas Fahri di rumah, maka sesekali para pemuda itu berteriak saking serunya permainan.
-
Cuaca pagi ini mendung, cahaya mentari yang beranjak tinggi tidak mampu menembus gumpalan awan hitam. Tania sudah siap dengan seragam sekolahnya, Mas Fahri juga sudah menunggu di depan dengan sepeda kesayangannya.
“Tania cepetan! Keburu hujan.” Mas Fahri berteriak, Tania segera bangkit dari duduknya dan bersalaman dengan Ibu. Pagi pagi sudah teriak teriak, macam Ibu Ibu kos yang menagih uang bulanan saja.
“Mas, beliin Tania sepatu baru dong.” Tania membuka suara terlebih dulu. “Besok gajian, kan?” belum menjawab, Tania bertanya lagi. Mas Fahri masih terdiam, belum menjawab.
“Mas!!! Denger nggak sih, kalau orang ngomong.” Tania mendongak, menatap rambut hitam Mas Fahri yang ikal dari belakang. “Nggak denger kalau kamu sepagi ini minta sepatu, kalau kamu cerita yang lain pasti Mas dengerin.” Tania yang mendengarnya cemberut, sepagi ini sudah membuat mood Tania berubah jadi jelek. Apa susahnya bilang iya, atau nanti belinya? Merusak suasana hati saja.
“Ah, bilang aja pelit!” Tania jadi sebal sendiri. Mas Fahri memperlihatkan sepatunya pada Tania, kayuhan sepedanya menjadi lambat.
“Mas aja udah dua tahun nggak beli sepatu, masa kamu minta beliin?”
“Ya siapa suruh nggak beli sepatu? Sama diri sendiri aja pelit, gimana sama saudara sendiri?” Mas Fahri tertawa kecil, “Emang kamu saudara Mas?” Tania yang mendengarnya memukul punggung Mas Fahri, orang yang dipukul mengaduh pelan.
“Emang buat apa sih, uang disimpan simpan?” Tania bertanya sinis. “Buat nikah lah.”
“Emang calonnya udah ada? Calon juga nggak ada mau nikah, nikah sama tembok kali.” Tania menjawab dengan nada sebal.
“Kamu mau punya kakak ipar tembok?” Mas Fahri tertawa. “Nanti juga Mas kenalin sama calonnya kamu kaget nggak percaya.”
“Nggak percayalah, orang belum ada.” Tania turun dari sepeda, sudah sampai.
Tania meraih tangan Mas-nya, bersalaman dengan wajah cemberut. “Iya, nanti kita beli sepatu baru.” Tania mendongak, menatap Mas Fahri tak percaya. “Bohong.” Tania bergumam pelan. “Ayah nggak pernah ngajarin anak anaknya bohong, Tania.” Mendengar itu, suasana hati Tania berubah senang. Kemudian senyumannya mengembang.
“Makasih, Mas.” Tania balik badan, berjalan menuju gerbang.
Pelajaran berjalan sebagaimana mestinya, namun dalam menjalani hari hari ini tentu ada yang kurang, iya, Vaaz belum masuk sekolah sampai kurang lebih satu minggu ke depan.
Entah dia melakukan pelanggaran apa, Tania tidak mengerti dan kemarin lupa menanyakan soal ini. Sebenarnya mulai hari ini sampai minggu besok Tania juga sibuk dengan rapat OSIS di sekolah, akan banyak sekali program yang akan dilaksanakan di sekolah.
Berjalan melewati koridor, Tania dipanggil kakak kelas, katanya Vaaz sudah menunggu di depan gerbang. Vaaz mau ngapain?
Tania segera berjalan cepat menuju gerbang sekolah, mencari Vaaz dalam keramaian orang yang sibuk juga mencari jemputan.
“Ayo, Mba, saya antar ke jalan menuju kebahagiaan.” Tania langsung naik di belakang, Vaaz kembali menutup maskernya dan mulai meng-gas motornya meninggalkan sekolah.
“Mau ke mana, Vaaz?” Tania membuka topik pembicaraan.
“Rumah Ibu. Gue pusing di rumah Ibu ngoceh ngoceh mulu, kayaknya dia butuh temen deh buat ditemenin.” Tania yang mendengarnya tertawa. “Ya gimana nggak mau ngoceh, anaknya bandel di skor terus, emang kalau udah gede mau jadi apa?”
“Jadi seseorang yang setia yang tulus mencintai wanitanya.” Vaaz berkata mantap. Tania yang mendengar memutar bola matanya malas, mulai menggombal.
Vaaz berhenti di sebuah resto, membeli makanan yang katanya kesukaan Ibu. Tania ikut menunggu di kursi yang disediakan, asik berbincang dengan Vaaz. Tania juga sedari tadi sedang memperhatikan seseorang yang agaknya mereka berdua sedang berpacaran, keduanya masih mengenakan seragam putih abu abu, si puan acapkali tertawa bahagia karena tuannya bercerita, lucu memang, sampai Tania yang mendengarnya ingin tertawa juga.
Jarak mereka tidak terlalu jauh dengan Tania dan Vaaz, jadi apa apa yang mereka bicarakan langsung terdengar, Tania masih memperhatikan, sesekali tersenyum melihatnya, Vaaz menyenggol, berbisik. “Jangan diliatin, nanti iri.” Tania yang mendengarnya tertawa.
Setelah menunggu sepuluh menit kemudian, orang itu beranjak pergi, si tuan menarik tangan si puan untuk berpegangan, Tania langsung menoleh, enggan melihatnya lagi.
“Tuh kaaan, jadi iri, makanya jangan diliatin.” Vaaz menghela napas, menatap layar ponselnya lagi.
“Tania selalu iri kalo liat orang naik motor boncengan.”
“Kenapa?”
“Ya Tania juga pengen dibonceng, tapi nggak ada yang boncengin.” Tania berkata lesu, melihat pasangan itu menghilang di kelokan. Vaaz tertawa, menepuk jidat.
“Iri itu dosa. Tapi ada solusi, mulai besok lo kalo pulang gue anterin, gimana?” Tania menatap Vaaz sambil tersenyum, ide bagus.
Setelah mengambil pesanan makanan itu, lima belas menit kemudian mereka sampai di rumah Vaaz, tenyata Ibunya Vaaz tengah duduk di ruang tamu sambil membuka lembaran majalah.
Melihat Tania turun dari motor, membuat Ibunya berdiri, melihat dari dekat, oh, ternyata Tania, Ibunya Vaaz menyambut dengan hangat, Tania bersalaman.
“Ini dia obat darah tingginya Ibu dateng, Ibu suka pusing loh Tan sama temen kamu kerjaannya di skor terus. Belum lama di skor, sekarang di skor lagi, kamu nasehatin dong Tania temennya, biasanya kalo orang nakal terus dinasehati sama orang yang dia sayang itu dia nurut loh, dibanding harus Ibu terus yang nasehatin, Vaaz kan nggak sayang sama Ibunya.” Mendengar itu Vaaz mendongak, menatap Ibunya lamat lamat, meletakkan gelas berisi air di meja.
“Ish, Ibu kalo ngomong sembarangan aja. Vaaz sayanglah sama Ibu.”
“Kalo orang sayang itu ya didengerin toh Mas, Ibunya ngomong.”
Vaaz yang mendengarnya hanya bergumam pelan, asik menatap layar ponsel, kemudian kedua orang itu masuk ke dalam, entah apa yang ingin dilakukan.
Sedang memikirkan apa yang barusan Ibunya bilang, Vaaz jadi sadar kalau selama ini ia terlalu memakai emosi setiap melakukan masalah, tapi ia juga sadar kalau dirinya tidak mampu untuk menghindar, peredam amarahnya hanya Tania, hanya Tania yang dapat menenangkannya dan mengerti dirinya, tapi mau sampai kapan Tania akan terus ada bersamanya?
Mendengar suara tawa Tania membuat Vaaz ikut tersenyum, berpikir apa yang sedang dibicarakan Ibu pada Tania sampai ia tertawa seperti itu. Ibu memang selalu punya segudang cerita yang lucu dan menarik untuk didengar.
Ponsel Tania yang sedang Vaaz pegang menyala, satu panggilan masuk, Vaaz mengangkat dan mendengarkan seseorang yang berbicara di seberang sana, lantas langsung mematikannya tanpa berkata apa apa.
Ia berdiri, memakai jaket, masker dan helm sebelum menunju ke sana.
Sementara Tania asik berbincang dengan Ibunya, sesekali tertawa mendengar cerita lucu Vaaz di masa kecil.
Tania tidak pernah tau kalau Vaaz sedang menyimpan luka lama, luka yang tidak akan pernah terobati sampai kapanpun juga. Tapi adanya Tania menjadi pereda sementara, untuk menutupi kenangan sunyi yang menyayat hati.