SILENT MEMORIES

SILENT MEMORIES
Chapter 21 | 21.50 : Berusaha untuk Baik Baik Saja



Saat luka masih menganga


Saya hanya ingin ada seseorang yang menemani


Sampai nanti saya pulih kembali


Dan melupakan segala yang pernah terjadi.


( -Ronasenja )


Suasana di kedai kopi malam ini lengang, menyisakan Tania dan beberapa orang, Tania menarik napas dalam dalam. Cuaca semakin malam semakin dingin, perempuan itu mengeratkan mantelnya, membenarkan kerudung yang tertiup angin.


Tania harus bersyukur karena pada waktu itu, saat dirinya sedang terpuruk ada Vaaz di samping Tania, orang itu selalu mencoba menghibur dan seperti biasa, mengajak Tania jalan jalan. Tapi apa daya, semua usahanya sia sia, bukankah Tania yang dulu sudah mati?


--


Pagi pagi sekali Tania sudah di jemput Vaaz di depan toko roti. Jadi, selama Tania diusir dari rumah itu, Tania tidak kembali lagi ke rumah dan kebetulan juga Ayah dan Mas Fahri sedang ke Yogyakarta. Mas Fahri yang ingin seleksi masuk Universitas, sementara Ayah ingin membuka cabang tokonya di sana.


Beruntungnya, toko ini memiliki dua lantai yang baru Tania ketahui dua bulan lalu, saat Mas Danang pernah terkunci di atas sana. Dan tangganya pun letaknya tersembunyi, ruangan itu biasa dipakai untuk menyi,pan bahan bahan pokok. Ruangannya lumayan besar kalau untuk ditinggali seorang diri, dan Mas Danang kemarin cerita, dia juga beberapa kali sering menginap di toko karena saat itu ban sepedanya bocor dan malam juga sudah larut.


Dalam ruangan itu juga hanya ada kasur untuk seorang diri dan lemari kecil untuk menyimpan pakaian sekolah dan yang lainnya, sisanya Tania simpan di koper.


Tania keluar rumah dengan seragam lengkap, Ia menguap melihat sekeliling yang masih gelap. “Yuk, naik.” Vaaz memberikan helm, Tania langsung naik di jok belakang.


Sepanjang perjalanan Tania tidak mengeluarkan suara, pun saat Vaaz bertanya.


Sampai di parkiran juga Tania langsung meninggalkan Vaaz, berjalan menuju kelas tanpa menunggu Vaaz.


Hari ini seakan mulut Tania dilem dan tidak dapat dibuka, atau jangan jangan akan selamanya seperti ini?


“Tania.”


“Tan.”


Tidak ada jawaban, orang itu terus berjalan melewati koridor kelas dua belas.


“Tania!” Vaaz berjalan cepat menghampiri Tania.


Orang yang dipanggil menoleh, hampir menabrak Vaaz yang ingin mengejar dirinya.


“Ck, apalagi, sih!”


Mendengar nada bicara Tania, Vaaz menghela napas, menunjuk helm di kepala yang masih menyangkut. Tania memegang kepalanya. Astaga, Tania bodoh!


Tania langsung mencopot helm di kepala, memberikannya pada Vaaz. Setelah itu jam pelajaran berjalan seperti biasanya, tapi sungguh Vaaz berbeda, biasa tidur saat guru menjelaskan, justru dia terjaga dan sesekali bertanya apabila tidak mengerti. Biasa malas menulis sekarang ia rajin sekali.


Tania menenggelamkan wajah di antara lipatan tangannya, mengabaikan seseorang yang tengah menjelaskan pelajaran di depan, sementara Vaaz asik mendengarkan. Seakan semuanya berbanding terbalik dengan Vaaz.


Tapi Tania senang Vaaz perlahan mau berubah menjadi lebih baik lagi. Pelajaran di kelas begitu membosankan dan terasa lama, Tania menghembuskan napas kasar saat menunggu Vaaz di ruang guru, sedang dipanggil wali kelas. Wajahnya sudah terlihat lelah dan ingin cepat cepat tidur.


“Mau ke kedai kopi atau langsung pulang?” Vaaz muncul dari ruang guru. Tania menggeleng dengan wajah datar. “Toko roti.” Melihat ekspresi Tania Vaaz hanya mengangguk paham.


Mereka berjalan beriringan menuju parkiran.


Dan dalam perjalanan pulang, Tania sama sekali tidak membuka topik pembicaraan seperti biasanya, jangankan topik pembicaraan, biang terimakasih saja tidak.


Entahlah, Tania sedang tidak ingin bicara, ia sedang berdamai pada dirinya sendiri dan berusaha melupakan segala yang telah terjadi.


Masuk ke dalam toko roti Tania langsung naik ke atas dan berganti baju, langsung turun ke bawah menemui Mas Danang.


“Mas, Tania bantuin jadi kasir boleh, nggak?” perihal Tania tinggal di toko ini, Mas Danang sudah tau, malah ia yang melengkapi semua keperluan Tania jika ia butuh sesuatu.


“Ya boleh banget dong, tapi nggak digaji, ya?” Mas Danang tertawa, Tania ikut tertawa, langsung mengambil posisi menjadi kasir, sementara Mas Danang sibuk bolak balik ke dapur, mengangkat roti roti yang sudah matang dan akan segera dikemas.


Tania sibuk melayani para pembeli dan lupa dengan apa yang terjadi. Sebenarnya kalau seperti itu, seseorang hanya butuh kesibukan agar semuanya cepat dilupakan. Menyadari hal itu, Vaaz langsung pergi meninggalkan toko roti.


Esok harinya Vaaz menjemput Tania di toko roti, tapi Tania urung berangkat dengan memberikan alasan tidak enak badan. Mas Danang dengan baik hati menuliskan surat.


Tania keluar masih menggunakan baju tidur, memberikan Vaaz surat agar disampaikan ke wali kelas. Vaaz tidak banyak bicara, langsung pergi ke sekolah.


Sementara Tania dan Mas Danang asik berbincang. “Kamu mau pindah ke toko yang satunya lagi, Tan?” Tania menatap bingung Mas Danang.


“Maksudnya?”


“Ayah kan mau buka toko roti juga, tapi kolaborasi gitu sama orang Belanda. Tokonya nggak jauh dari sini. Kamu lebih nyaman tinggal di atas toko yang di sana, tempatnya bagus, loh. Di atasnya emang khusus buat tempat tinggal, ada kasur dan barang barang yang lebih layak juga.”


“Kok Mas Danang tau, dan aku belum tau, ya?” Mas Danang mengangkat bahu. “kamu kurang update.”


“Kok Ayah banyak uang sih, bisa sewa toko sebesar itu?” Tania duduk di samping Mas Danang.


“Orang baik kaya Ayah kamu rezekinya selalu dateng dari arah yang nggak disangka sangka. Udah ah, Mas banyak kerjaan, pesanan juga banyak, udah gitu temen Mas juga nggak bisa masuk hari ini.” Mas Danang bangkit berdiri, namun Tania menahannya.


“Yaudah, aku bantuin, ya?”


“Jangan, kamu kan lagi sakit.”


“Aku bisa kok Mas kalau jadi kasir doang.” Tania memelas, berusaha meyakinkan Mas Danang.


Mas Danang akhirnya mengiyakan dan mulai membuat adonan, kemudian segera membuka toko satu dua kemudian. Tania bersiap mandi dan setelahnya ikut membantu Mas Danang.


Jam delapan tepat, Tania membuka toko, meletakkan roti di keranjang luar, setelah itu menata roti yang baru saja dikemas di tempatnya masing masing.


Pelanggan satu persatu masuk, memilih roti dan membayarnya di kasir. Ruangan terasa pengap saat pelanggan mulai ramai, Tania menyalakan AC ruangan. Tangannya sigap memasukkan roti ke dalam kantung plastik, memberikan kembalian dan seperti itu pekerjaannya.


Antrian sudah memanjang, Mas Danang sibuk mengemas roti untuk pesanan. Beberapa orang terlihat mengipas tangan mungkin karena AC ruangan yang tidak terasa, Tania mengaturnya agar AC-nya lebih terasa.


Tania ke belakang, mengambil roti yang sudah dikemas dan meletakkannya di ranjang, seseorang menabraknya tidak sengaja, roti roti itu tumpah, keluar dari keranjangnya, Tania cepat cepat memasukkan kembali ke keranjang yang ia pegang. “Gue bantu, ya?” Tania mendongak.


Vaaz?


Orang itu gerak cepat mengambil roti roti yang terjatuh, dibantu dengan orang orang yang melihatnya.


“Kok nggak sekolah?” Tania berjalan kembali ke kasir setelah meletakkan keranjang berisi roti itu, sementara Vaz mengekor di belakang, masih menggunakan baju sekolah, masker dan helm yang masih menyangkut di kepala.


“Gue kayak lo.”


“Maksudnya?”


“Nggak pengen sekolah.” Tania menghembuskan napas kasar, menatap Vaaz lamat lamat. Baru juga mulai jadi orang baik, malah kumat bolos lagi.


Tania mengalihkan penglihatan, tangannya cekatan memasukkan roti roti yang sudah dibeli pelanggan. Vaaz masih berdiri di samping Tania, memperhatikan.


“Yaudah bantuin Tania aja deh, ambilin roti di belakang, bilang aja sama Mas Danang disuruh Tania.” Vaaz masih bengong, memperhatikan Tania.


“Tapi lo beneran sakit?” Vaaz memegang kening dan pipi Tania yang terasa dingin. Tania hanya menggeleng, Vaaz langsung mencubit pipi Tania. “Ih, mulai bandel lo ya sekarang, tukang bohong.”


“Iya nih, ketularan Vaazhera Keenan.” Tania tersenyum, sementara Vaaz tertawa karena menyadarinya.


Tanpa disuruh dua kali Vaaz langsung ke belakang, mengambil roti roti di keranjang.


“Vaaz!" Orang yang dipanggil menoleh.


“Masker sama helmnya dibuka dulu.” Tania berkata datar sambil cekatan memasukkan roti roti ke dalam kantung plastik sesekali matanya memperhatikan tangan Vaaz yang sibuk menyusun roti di tempatnya.


Vaaz senang bisa mendampingi Tania dalam jarak yang dekat seperti ini, dan Tania juga berharap semoga Vaaz akan tetap ada saat ia melewati masa masa terpuruknya.