SILENT MEMORIES

SILENT MEMORIES
Prolog : Secangkir Kopi Ditemani Sejuta Kenangan Hampa



*Halo, ini Rona.


Salam kenal untuk semua


tuan dan puan yang akan


Menikmati bagaimana kisah


ini dimulai


Dari tempat tempat yang


telah dan akan menjadi kenangan


Dari waktu senja temaram


sampai rembulan datang


Menjadi kenagan yang tak


terlupakan


Serta datangnya kembali


kenangan sunyi


Kenangan yang mennyayat


hati


Tentang kamu, kita, dan


sejuta kenangan yang lainnya*.


( -Ronasenja )


   Tania sedang menatap lalu lalang kendaraan, cuacanya agak mendung, seperti biasa, duduk menyendiri di kursi, di depannya


tersaji secangkir kopi dan beberapa potong donat berwarna warni. Dulu Ibu Tania selalu mengajaknya ke tempat ini, membeli donat dan satu cone ice cream, lalu pulang kembali. Sekarang justru ia sendiri, sedang berusaha berdamai dengan hati, yang bertahun tahun selalu mengganggu pikirannya sendiri, tentang semua kehidupan yang selama ini ia jalani.


Tentang seseorang yang paling mencintai Ibunya. Tentang seseorang yang perlahan membenci Ibunya.


Dan Tania sekarang sudah berada di sini, sedang mengenang segala sesuatunya untuk yang terakhir kali. Mengenang kembali kenangan sunyi.


   Lagi lagi Tania tersenyum hambar, menyeruput kopi pahitnya, sekarang justru matanya tertuju pada sepasang orang yang


bergandengan tangan, mengunjungi rumah makan, duduk, memesan, lalu menikmatinya


berdua. Tania tersenyum lembut, ada satu hal yang membuatnya tergelitik, tentang kejadian yang tak pernah diduga dan semuanya berawal dari dia.


  Dia Vaazhera Keenan, biasa dipanggil Vaaz,


dia laki laki pendiam yang menyimpan seribu bahasa, menggantikannya dengan satu makna, dan laki laki yang pandai menyimpan rasa maupun rahasia. Juga memberikan


sejuta kenangan hampa.


***


    “ Mas! Pesen nasi goreng kaya biasa untuk


Tania, ya?” ucap perempan cantik berambut legam itu, ia duduk sambil memainkan ponselnya, sesekali tertawa karena melihat sesuatu, entah apa yang lucu. Lima belas menit berlalu, ia berjalan ke depan, disebelahnya juga ada orang yang mengantri, sama sama bersisian menunggu pesanan.


    “ Ini punya Mba Tania, ya?” kata penjual


sambil memberikan dua plastik berbeda, tanpa melihatnya Tania mengangguk dan


langsung berjalan keluar. Laki laki yang bersisian dengan Tania menatapnya bingung sekaligus kesal. Baru setengah perjalanan Tania mendapat telpon, ia cepat cepat mengangkatnya.


“ Namanya Vaaz. Vaaz apa? Vaaz bunga?” ia tertawa kecil dan kembali ke tempat semula.


   “ Mas! Kenapa nggak bilang sih, punya Tania ketuker?” Tania protes, mengembalikan nasi goreng itu pada penjual. “ Loh! Kok nyalahin saya? Mba Tania aja yang kerjaannya main handphone terus, nggak dengerin orang ngomong!” Tania yang mendengarnya menghela napas.


   “Ini nasi goreng Mba Tania, trus kasihin nasi goreng ini ke Mas- Mas yang duduk di pojok. Kasian loh, gara gara kamu dia jadi lama nunggu.” Tania melihat ke


pojok, seorang laki laki sedang memperhatikan dirinya dan penjual, Tania


menghampirinya dan memberikan nasi goreng itu.


“ Maaf ya Mas, gara gara saya jadi lama nunggu.” Ucapnya sopan sambil tersenyum kikuk, merasa bersalah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ia mengambil nasi goreng itu dari tangan Tania dan langsung pergi meninggalkannya.


   Dasar! Tidak ada sopan santunnya, pikir


Tania seperti itu. Tapi ini adalah salah Tania juga, kenapa ia sangat ceroboh sekali? Ah, sudahlah. Tidak ada untungmya juga memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Yang baru saja terjadi biarlah berlalu, prinsipnya seperti itu.


   Ia segera memberikan uang kepada penjual,


namun ia menolak. “ Telat! Nasi goreng hari ini dibayarin sama Mas Mas yang barusan pergi.” Uacp penjual itu cuek, kembali memasak nasi goreng pesanan orang. “ Loh! Tapi kan saya nggak minta bayarin.” Tania bingung dengan orang seperti itu, tidak tau siapa, tau tau membayar nasi goreng pesanan orang yang tidak sama sekali dikenal. Sudahlah, segala sesuatu bukannya harus disyukuri?


   Malam itu ia kembali ke rumah membuka bungkus nasi goreng dan memakannya sendiri. Lalu beranjak naik ke ranjang untuk


segera tidur dan bersiap bangun pagi untuk sekolah besok pagi.


   “Tania!” Mas Fahri abang satu satunya Tania


membangunkannya, mengguncang guncangkan tubuh Tania yang tidak merespons apapun.


“Tania, bangun! Kamu itu susah banget sih, kalo dibangunin.” Mas Fahri mendengus kesal, duduk di sebelah ranjang. Tak lama Tania membuka matanya, mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya ia bangun dari tidurnya.


    Matanya meilirik kearah jam dinding,


langsung bangkit dari tidurnya dan mandi untuk berangkat ke sekolah.


“Mas, besok temenin Tania nongkrong di warung kopi tempat biasa, ya?” Tania membuka topik pembicaraan pagi ini dengan mengajak Mas-nya untuk ngopi di warung kesukaannya.


“Kamu tuh sekolah yang bener, ngapain coba nongkrong di warung kopi? Udah kaya Bapak


Bapak aja.” Ucap Mas Fahri sambil menggoes sepedanya, membonceng Tania yang


sedari tadi terus berbicara.


   “Mas, kalo nggak ke tempat kopinya abis


pulang sekolah aja, deh.” Mas Fahri yang mendengarnya mendengus kesal, memberhentikan sepedanya karena sudah sampai di sekolah Tania yaitu SMA Kebangsaan.


   “Mas-“ baru ingin mengatakan sesuatu Mas-nya justru melotot, bilang. “Iya, Tania!” Tania yang mendengarnya tersenyum kikuk


sambil mencium punggung tangan Mas-nya, bersalaman. “Sekolah yang pintar, Tania.” Itu kata kata yang sering Mas Fahri katakan untuk Tania. Perempuan cantik itu tersenyum sambil mengangguk, lalu meninggalkan Mas Fahri.


   Seperti di sekolah kebanyakan, setiap hari


senin melakukan upacara bendera, tak sedikit siswa siswi yang terlihat mengantuk atau malas malasan berdiri untuk upacara. Semua menghembuskan napasnya ketika upacara selesai, mengibaskan tangannya ke wajah, matahari pagi ini bersinar terang dan mulai meninggi.


    Tania duduk di bangku tengah, asik membaca buku novelnya, tiba tiba seorang guru datang sambil membawa seorang siswa baru, Tania melirik orang itu, untuk beberapa detik novelnya terabaikan dan merasa kaget.


“Astaga! Itu kan Mas-Mas yang waktu itu


di tukang nasi goreng? Ngapain dia sekolah di sini?”


   Respon dari anak anak kelasan Tania adalah senang dan mau menerima Vaaz sebagai bagian dari  kami, iya, Namanya Vaaz. Semua


wanita menyukainya karena dia memiliki wajah yang tampan dan cool. Tapi sayang, Vaaz terlalu sombong dan banyak diam, Tania jadi tidak mengerti. Liat aja, besok juga tingkahnya aneh dan mulai banyak bicara.