
Kamu ingat tidak?
Bagaimana kita bertemu untuk pertama kalinya
Saat saya sudah jatuh hati untuk kali pertama
Saat jantung saya berdetak kala kamu berbicara dengan saya
Dan entah karena apa
Saya memiliki harapan yang barangkali menjadi nyata
Semoga kamu paling tidak menjadi teman sejati saya.
(-Ronasenja )
Sepasang kekasih yang sejak tadi Tania amati sudah menyelesaikan makanannya, berdiri, kemudian membayar. Lanjut berjalan menyusuri toko toko yang terpampang di sepinggiran jalan raya lalu keduanya menghilang dibalik mata Tania.
Seorang anak laki laki usia tujuh belasan duduk di dekat Tania, memesan makanan dan minuman seperti banyak orang, Tania memperhatikannya sebentar, orang itu mirip sekali dengan Vaaz, lantas menuggu
pesanannya sambil memainkan ponsel, sesekali tertawa, sesekali terlihat kesal.
Laki laki itu memesan espresso, kesukaan Vaaz dulu.
Tak lama seorang wanita yang kelihatannya mencari sesuatu duduk di sebelah Tania dan didekat laki laki itu, bertanya tentang sesuatu tapi Tania tidak mengetahuinya dan perempuan itu bertanya pada laki laki yang duduk tak jauh dari Tania. Entah mereka membicarakan apa, yang jelas sepertinya perempuan itu tersesat dan membutuhkan seseorang untuk membantunya.
Entahlah, Tania tidak mengerti dengan kejadian semua ini, seakan saat ia duduk di kedai kesukaannya, ia mendadak mengingat kejadian demi kejadian yang telah berlalu, yang lama bersemayam dalam
ingatan. Kata ‘espresso’ menjadi awal pertemanan antara Tania dan Vaaz.
***
“Hallo! Mas!” Tania mendengus kesal ketika jaringan ponselnya mendadak hilang, kalau begini caranya bagaimana ia akan menagih janji pada Mas Fahri? Tadi pagi Mas Fahri berjanji akan menemani Tania nongkrong di warung kopi kesukaanya. Tapi sampai sekarang belum datang juga. Ah, Tania sebal dengan sikap Mas Fahri yang pelupa.
Tania jadi kesal sendiri, masa sore hari untuk yang kesekian kalinya Tania menghabiskan waktu sendiri, duduk, memesan kopi, melamun, ah seperti orang gila. Tapi kalau kata Mas Fahri sih, lebih tepatnya kayak Bapak-Bapak. Tania melihat sekeliling, mana ada Bapak Bapak di tempat ini, kebanyakan anak muda yang sedang nongkrong dengan teman sebayanya.
Untuk mengurangi kejenuhan, Tania membuka notebook milik Mas Fahri dan buku puisi miliknya, Tania dari dulu sangat suka menulis, apapun di tulis, misalnya kejelekan Mas Fahri yang sudah Tania tulis menjadi berlembar lembar kertas, Tania kira Mas Fahri tidak akan menyentuh atau mengobrak-abrik file file milik Tania. Justru ia salah besar.
Setelahnya Mas Fahri akan mengoceh, bilang. “Tania! Apa apaan sih, kamu. Masa nulis tentang Mas Fahri yang jelek jelek.” Setelahnya Mas Fahri merajuk sampai besok.
Tania selalu menjawab. “Lagian Mas Fahri kebanyakan kejelekan daripada kebagusannya, jadi kan membuat penulis seperti Tania kebingungan.” Paling Mas Fahri melempar bantal kearah Tania, kalau Tania tidak suka pasti akan terjadi keributan setelahnya-perang bantal. Sampai nanti Ibu berteriak geram karena merasa
terganggu.
Tania suka berada di sini, duduk menepi di pojok kursi-meja yang tersusun rapi, sebelum senja pergi, dan matahari meninggi, lalu lalang kendaraan selalu ramai tiada henti, sore hari setelah matahari pergi, para pedagang pinggiran jalan baru akan mau membuka kedainya masing-masing, sibuk menyusun barang barang yang akan dijual.
Karena merasa lapar, Tania memesan donat gula kesukaannya, beranjak dari kursi dan menghampiri si tukang donat langganannya. Tak lama ia kembali, namun Tania kaget saat seorang laki laki duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
“Vaaz?” Tania menatapnya penuh kebingungan, berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau yang duduk di hadapannya adalah Vaaz.
“Vaaz, suka kesini juga?” Tania bertanya sambil memakan donat gulanya yang pertama. Lagi lagi Vaaz hanya menggeleng pelan.
“Atau lagi sariawan makanya daritadi nggak ngomong?” lagi lagi ia menggeleng pelan, membuat Tania menghebuskan napasnya kasar, membuat gula putihnya keluar menyembur wajah Vaaz.
“Mau pesen sesuatu? Nanti Tania yang bayarin, deh. Kan kemarin Vaaz udah beliin nasi goreng untuk Tania.” Ia menyodorkan menu yang ada di depannya.
“Espresso.” Vaaz berkata pelan. Manik matanya memperhatikan sesuatu dengan tajam. Ada apa? Ada penjahat di dekat Tania, ya?
Tania memperhatikan Vaaz yang sedang menatap sesuatu, kemudian langsung melambai memanggil pelayan, memesannya, tak lama pesanan datang. Di waktu berikutnya, mereka menikmati kopi berdua, di suasana sore hari yang dipadati lalu lalang kendaraan, serta ditemani cahaya senja yang sebentar lagi menghilang. Tanpa adanya percakapan, duduk berdua, berhadapan.
Sebenarnya Tania mau berbicara sesuatu, ya, wajarlah Tania itu banyak omong, sekali saja tidak bertanya pasti mulutnya akan terasa gatal. Tapi untuk kali ini biar saja mereka berbicara dan berkenalan
dalam hati, tanpa suara.
Dan melamun menjadi pilihannya saat ini, ia memikirkan sesuatu tentang Vaaz, menurut Tania, sepertimya Vaaz perlu teman untuk menceritakan segala permasalahannya, eh, kok Tania jadi sok tahu gitu? Menurut penglihatan Tania sih seperti itu, Vaaz banyak masalah, lihat saja wajah tampannya, terlihat datar dan banyak masalah, tatapannya juga kosong. Apa jangan jangan Vaaz pengguna narkoba? Plis deh Tania, jangan ngarang!
“Tania! Tania!” suara itu memecahkan pikiran negatifnya dan langsung mencari sosok itu. ”Mas Fahri!” ia cepat cepat memasukkan notebook-nya ke dalam tas, berdiri, meninggalkan Vaaz. Namun tangannya tertahan, seperti ada yang menarik, apa benar Vaaz? Tania langsung menoleh kebelakang, dilihatnya Vaaz ingin berdiri, mendekat beberapa langkah pada Tania, lalu mengeluarkan sapu tangan putih dari kantongnya, memberikannya pada Tania. Ragu ragu Tania mengambil dan mengelap bibirnya.
Dan mereka saling menatap sebelum akhirnya suara Mas Fahri membuat kuping Tania sakit. Ganggu orang aja, sih! Terakhir Tania bilang terima kasih lalu terburu buru meninggalkan Vaaz sendirian.
Saat menaiki sepeda, Tania selalu tersenyum mengingat kejadian yang terjadi satu menit yang lalu. Namun lagi lagi Mas Fahri mengacaukan segalanya. “Tania, kamu itu kalo diajak ngomong dengar atau nggak, sih?” Tania melongo, bingung. “Kenapa Mas, ulang.”
Mas Fahri menghembuskan nafas kesal, hampir saja sepedanya oleng menabrak pejalan kaki. ”Emang Mas-mu ini apa? Youtube yang bisa diuang ulang? Kamu kalau dididik sama kakek langsung di gampar loh, Tania.”
Tania yang mendengarnya ikut kesal. Tinggal ngulang kata kata emangnya susah? “Tapikan Tania dididiknya sama Ayah Ibu, bukan sama kakek.” Tania menjawab degan jutek.
“Sekarang Mas anter kamu ke rumah kakek!” seketika kayuhan sepedanya semakin cepat, mendahului kendaraan lainnya, membuat Tania berpegangan erat dengan Mas Fahri.
“Nggak mau! Apaan sih, Mas! Tania kan bercanda.” Perkataanya tak dihiraukan, justru Masnya itu semakin mengayuh sepeda dengan cepat, membuat Tania takut dan turun dari sepeda yang sedang melaju dengan cepat. Bayangain aja, sepeda lagi ngebut, tiba tiba Tania turun dari boncengan dan terjatuh.
Setelah mengalami kejadian itu, kalau dipikir pikir, buat apa juga Tania takut diantar
ke rumah kakek? Kan rumahnya beda kota. Ah, Tania memang bodoh! Ya, itu karena ia sangat takut dengan kakeknya, mendengar Mas Fahri ingin mengantar Tania ke rumah kakeknya, membuat Tania ketakutan duluan sebelum menyadari kalau rumah kakeknya beda kota. Itulah ketakutan yang membuat manusia kadang kehabisan akal dan pikiran.
Sampai di rumah Tania langsung mengambil minyak dan duduk di lantai.
“Bu, tadi Tania jatuh di tengah jalan hampir ketabrak mobil. Ini juga kening Tania sedikit benjol” Tania melotot melihat Mas Fahri yang sedang duduk di samping Ayah sambil menonton bola, mulutnya tak henti henti mengunyah rengginang yang diletakkan di dalam toples.
“Kok bisa? Emangnya kamu ngapain?” Ibu menghampiri Tania, duduk di sebelahnya. “Sini Ibu bantu urut.”
“Aduh, pelan pelan, Bu. Sakit banget ini masalahnya.” Tania meringis saat Ibunya mulai memijit pelan kaki Tania yang terkilir. “Tadi Mas Fahri nakut nakutin Tania, dia bilang mau anter Tania ke rumah kakek, Tania takut, jadinya loncat dari sepeda.”
Ibunya Tania tertawa, menggeleng pelan, “Lagian kamu ada ada aja, sih, kan rumahnya kakek di luar kota, ngapain juga kamu takut?” Ibunya mengernyit bingung. “Ah, pokoknya Tania kalo denger nama kakek langsung takut, Bu.”
Ibunya menghela napas, “Yaudah, habis ini istirahat, besok sekolah.” Ibunya mengingatkan, Tania menghela napas kasar. “INI SEMUA GARA GARA MAS FAHRI!” Tania bangkit berdiri dengan susah payah, melempar bantal ke arah orang yang masih serius menatap layar televisi.
“Aduh! Kok aku?” Mas Fahri menoleh ke belakang mencari Tania yang menghilang.