SILENT MEMORIES

SILENT MEMORIES
Chapter 17 | 21.20 : Ronasenja



Ronasenja.


Semoga orang mengenal karya karyanya


Dan selalu bahagia untuk yang membaca dan menciptakan banyaknya tulisan penghantar rasa.


(-Ronasenja )


Gawai notofikasi menyala, handphone Tania berdenting.


“Hallo, apa kabar, Ronasenja. Sudah lama aku tak membaca puisi puisimu. Apa kau baik baik saja puan? Aku sungguh merindukanmu.” Tania yang membaca pesan itu tersenyum, seorang pengagum tulisannnya sedang merindukan dirinya.


Namun ia segera mematikan handphonenya, enggan membalas pesan itu.


Tentang ronasenja, ronasenja adalah pena tulisan Tania saat dulu sedang jatuh cintanya pada dunia sajak, puisi, atau apa itulah yang mengandung diksi.


Ronasenja, kenapa menyebutnya ronasenja? Rona adalah warna, sedangkan senja adalah senja. Pernah melihat senja? Bagaimana? Indah, bukan? Kalau digabung, maka menjadi warna senja. Sekali lagi apa pernah melihat warna senja? Sungguh indah, bukan?


Senja juga punya cerita tersendiri bagi kehidupan Tania, sesuatu yang Tuhan berikan pada Tania, selalu pada waktu senja, sore.


Waktu waktu yang indah yang menyenangkan, selalu ada senja, termasuk menghabiskan waktu bersama Vaaz di kedai kopi hampir setiap hari, sekali lagi ditemani oleh senja.


Maka senja waktu itu adalah senja paling indah yang Tania pernah lihat dengan Vaaz. Itu menjadi yang pertama dan yang terakhir melihat senja bersama dengan Vaaz. Terima kasih Vaaz, telah menunjukkan senja paling indah yang pernah terlihat oleh manik mata ini.


--


“Hari ini hari apa?” Vaaz bertanya, menatap wajah cantik Tania yang terlihat lesu.


“Minggu.” Tania menjawab pendek.


“Bagus! Ayo kita ke toko roti dulu.” Vaaz menggandeng tangan Tania, mengajaknya ke parkiran dengan terburu buru. “Ngapain?” Tania bingung, menyipitkan matanya karena terkena sinar matahari yang mulai meninggi.


“Makan roti, lah. Apalagi?” Vaaz naik motor, menghidupkannya. Menyuruh Tania naik dengan lirikan mata. Tania segera naik. Vaaz mulai meng-gas motornya dan meninggalkan kedai kopi itu.


Perjalanan tak lama, hanya lima menit kalau jalan dari kedai kopi ke toko roti tidak macet, karena biasanya macet.


Sampai, Vaaz memarkirkan motor di parkiran. Hari ini toko roti lumayan ramai, tapi Vaaz mau makan roti di sini, tidak biasa biasanya, kan.


Tania masuk berbarengan dengan Vaaz, orang itu langsung mengambil keranjang seperti orang kebanyakan. Memilih roti, sesekali bersenggolan dengan orang orang yang tidak mau kehabisan.


Selesai Vaaz langsung membayar, kasirnya Tania, ia menggantikan satu karyawan Ayah yang sedang kerepotan di dapur, mengangkat banyaknya donat dan langsung mengemasnya karena banyaknya permintaan.


“30.000” Vaaz memberikan uang lima puluh ribuan satu lembar, kemudian tersenyum.


“Kembaliannya buat Mba kasir aja, kasian mukanya kelaparan.” Vaaz langsung berbalik badan meninggalkan Tania dengan tawanya, duduk di bangku depan. Tania yang mendengar itu hanya tersenyum, kemudian melayani pembeli di belakang Vaaz yang sudah tertib mengantre.


Setelah dua puluh menit melayani, Tania duduk di sebelah Vaaz. Mengipas wajahnya dengan tangan, hari ini sungguh cuacanya sangat panas. Tania tersenyum, meninggalkan Vaaz yang sedang asik memakan roti sambil memainkan ponselnya.


Kemudian kembali dengan membawa dua gelas es cendol, memberikan salah satunya untuk Vaaz. Vaaz langsung mengambil, meminumnya.


“Gue heran sama lo, Tan. Kenapa punya toko roti tapi masih suka beli donat?” Vaaz menatap Tania yang sedang meminum es cendolnya, memasukkan satu roti ke dalam tas. Tania tau, pasti roti itu utuk Ibunya.


“Roti sama donat beda, Vaaz. Kalo donat tengahnya bolong, kalo roti kan, nggak.” Vaaz memutar bola matanya malas. “Kalo itu gue juga tau. Yuk, ah, cabut. Kita hari ini mau berpetualang ke tempat yang gue yakin pasti lo suka.” Vaaz langsung menghabiskan es cendolnya, meletakkannya di meja.


Sebelum ikut dengan Vaaz, Tania mengembalikan gelas ke seberang jalan di mana tukang cendol itu biasa mangkal. Kemudian langsung naik di jok belakang.


“Mau ke mana Vaaz?” Tania bertanya, “Liat aja nanti.” Tania kembali diam, asik menatap jalanan yang terang karena sangking panasnya hari ini. Melihat bayangan dua orang yang sedang berboncengan.


Vaaz membeli minuman dan permen, seperti anak kecil. Tania hanya membeli satu minuman, padahal tadi sudah minum es cendol, baru sebentar dalam perjalanan rasa haus kembali datang.


Selesai itu Tania keluar, meletakkan uang kembalian di tas, sebelum naik ke motor, seorang laki laki dengan sengaja menabrakkan tubuhnya pada Tania, Tania kaget, mundur beberapa langkah, orang itu kembali menatap tajam wajah Tania saat Tania menengok ke belakang. Vaaz yang baru sadar terlihat panik. “Kenapa? Lo baik baik aja?” tania hanya mengangguk, langsung naik ke jok belakang.


Dua puluh menit sampai. Sungguh tempat yang menyejukkan, di sini banyak pohon pohon besar, Vaaz mengajak Tania ke atas bukit, entah bukit apa Tania juga tidak mengerti. Bertahun tahun tinggal di sini baru sekali Tania mengunjungi tempat sebagus ini.


Keduanya duduk di rerumputan, berteduh kan pohon besar.


“Vaaz, orang yang tadi keliatannya jahat, deh.” Tania mulai takut, mengingat tadi tatapannya sangat tajam, seperti musuh.


“Kalau lo jadi bumi, gue siap jadi atmosfirnya, dengan begitu, gue siap melindungi lo dari serangan komet dan meteor selamanya.” Vaaz nyengir, rambutnya tertiup angin, menambah kesan tampan dalam penglihatan.


Tania yang mendengarnya tersenyum, biasa, laki laki kan suka gombal, seperi Mas Fahri. Belum pernah dengar Mas Fahri menggombal untuk Tania, ya? Tapi gombalan Mas Fahri berbeda, pertama yang mendengar akan terbang tinggi melayang, habis itu langsung terlempar ke permukaan.


Sembari menunggu senja, keduanya terlarut dalam cerita cerita Vaaz yang menyenangkan, sampai membuat Tania tertawa memegang perut. Yang hari ini baru Tania keahui, dulu Vaaz pernah tinggal di desa, katanya dia akrab dengan alam maupun hewan hewan.


“Dulu gue nggak sengaja pernah makan simpai.” Tania mengernyitkan dahinya.


“Simpai apa?”


“Simpai nggak tahu?” Tania menggeleng.


“Simpai itu monyet yang warnanya kuning.” Tania yang mendengarnya membulatkan mata. “Kok bisa!” Vaaz hanya mengangkat bahu, tidak tahu. “Kok bisa tahu kalo itu daging simpai?”


“Ibu yang bilang.” Tania mengangguk paham.


Dan keduanya saling bungkam, menikmati senja yang sudah datang dan akan tergantikan oleh malam. Keduanya juga asik dengan pemikirannya masing masing.


Lama berdiam, Vaaz mengajak Tania pulang, menikmati senja diatas motor juga tidak kalah bagusnya dibanding tempat ini. “Nanti malam gue jemput lo di rumah.”


“Ngapain?”


“Toko buku.”


Tania sampai di rumah sehabis adzan maghrib berkumandang, dan mengantar Vaaz ke toko buku tepat jam delapan malam, saat matanya sudah mengantuk dan bosan menunggu, saat itu juga ia datang dan menunggu di depan rumah.


Matanya kembali segar saat melihat ramainya jalanan, apalagi sepanjang mata memandang, di sepinggiran jalan raya berjajar banyaknya makanan.Vaaz berdecak sebal, “Makanan di pinggir jalan lebih menarik ya dibanding pertanyaan gue?”


Tania bingung sendiri. Emang tadi Vaaz bilang apa?


“Nanya apa? Coba ulang.”


“Nggak ada siaran ulang!” Mendengar jawaban itu membuat Tania terdiam, kembali asik menikmati ramainya jalanan. Dan dua puluh menit kemudian sampai di toko buku.


Vaaz langsung menghampiri penjaga toko, menanyakan sesuatu buku yang akan dibelinya. Penjaga itu menunjukkan suatu buku, katanya itu untuk membimbing seseorang menjadi orang yang lebih baik.


“Kalo mau jadi orang yang lebih baik, yang penting niat dan ada orang yang selalu ngingetin, semacam orang yang membimbing.” Penjaga toko itu memberi tahu, Vaaz langsung menunjuk Tania.


Eh, kok Tania? Maksudnya Tania adalah orang yang selama ini mengingatkan Vaaz terkait apapun.


Akhirnya Vaaz membeli tiga buku yang keduanya merupakan rekomendasi dari penjaga, sedangan buku yang satu lagi ia beli tentang religi.


Tania tersenyum, agaknya Vaaz perlahan akan berubah.