
Kalau seperti ini ujung ceritanya
Maka lebih baik mata saja
Saat orang yang saya cinta dan percaya justru menjadi luka setia
Atau pergi saja dari kehidupannya.
Yang jelas sampai detik ini saya bertahan karena kamu berada di samping saya.
Menopang tubuh saya apabila saya jatuh tak berdaya
Menjadi penyembuh luka yang semoga kamulah orangnya
Dan tak akan pernah pergi sebelum diri saya utuh kembali.
( -Ronasenja )
Semuanya yang menyenangkan berubah total, hati yang utuh sudah hancur berkeping keping. Tania menitikkan air mata, Tuhan dengan sangat mudah menggantikan semua kebahagiaan dengan kesengsaraan, sebuah kekecewaan yang sampai detik ini belum termaafkan, tentang laki laki yang merusak semuanya dalam sekejap mata.
Hatinya hancur berkeping keping. Tidak ada harapan hidup mulai saat itu, rasanya bertahan satu hari sungguh susah sekali, rasanya lebih baik mati daripada begini.
Tania berusaha tegar, semuanya sudah terjadi, walaupun sampai saat ini belum bisa memaafkan orang yang dulunya sangat Tania cintai.
Lembaran kebahagiaan dengan sendirinya tetutup, benar benar tertutup, rapat. Sekarang digantikan oleh lembaran baru, lembaran penuh air mata dan tangis pilu. Tak ada yang salah, semuanya pasti berubah, bukankah roda kehidupan selalu berputar?
--
Seiring dengan berjalannya waktu, semua terbukti, perlahan mata Tania diperlihatkan yang sesungguhnya sedang terjadi di dalam keluarganya.
Kekecewaan itu dimulai saat Tania mulai curiga dengan Ibu, tadi malam Ibu habis menangis entah karena apa, Tania tidak habis pikir, melihat statusnya di media sosial membuat Tania geleng geleng kepala, seperti anak ABG yang sedang patah hati, sungguh sangat tidak pantas.
Hari ini Ibu sedang belanja ke pasar, setelah itu berangkat ke toko roti. Kebetulan handphone Ibu tidak dibawa dan diletakkan di meja, sedari tadi terus berdering, Tania mengangkatnya, satu panggilan video call masuk. Tania mengangkat, namun orang di seberang sana mematikannya dengan cepat.
Lagi lagi orang yang waktu itu sempat ke rumah, sering membeli roti di rumah ini juga, beberapa kali Tania mengangkat telpon dari orang itu, beberapa kali Tania sadar kalau kadang setiap malam Ibu suka keluar rumah sekedar menemui pria brengsek itu, sesekali Tania menyadari kalau Ibu sedang menangis sesenggukan karena pasti menangisi laki laki itu, beberapa kali Tania di suruh ke toko roti dengan berbagai macam alasan bersama dengan Mas Fahri, seringkali Tania mendapati Ibu sedang senyum senyum sendiri dengan handphone di tangannya.
Memangnya Ibu punya hubungan apa? Tania membuka WhatsApp Ibu, seseorang dengan inisial Adi mengirim pesan, Tania membacanya.
Hati yang dulu tulus menyayangi Ibu, kini runtuh tergantikan dengan sebuah kekecewaan besar. Sungguh Tania tidak menyangka, Ibu memiliki hubungan dengan laki laki itu, terbukti dari semua kata kata Ibu, bahkan orang itu setiap malam menyuruh Tania keluar, dan segala macam cara agar rumah tidak ada siapa siapa. Untuk apa itu semua?
Kenapa Tuhan memberikan ujian ini? Kenapa yang diperlihatkan hanya Tania seorang diri? Kenapa selama ini Ayah dan Mas Fahri hidup dengan tenang hati sementara Tania hidup dengan mawas diri? Setiap hari selalu merasa ada yang aneh dengan Ibu, setiap hari selalu bertanya tanya, kenapa Ibu begini, kenapa Ibu begitu.
Tania sudah membaca semua percakapan laki laki brengsek itu dengan Ibu, sudah jelas, keduanya memang sama sama mencintai.
Tania tidak akan ikhlas keluarganya ada yang merusak, sungguh sangat tidak ikhlas ada orang baru yang selama ini Ibu cintai.
Mulai hari itu tidak ada rasa kasih sayang untuk Ibu, mulai saat itu hancur sudah perasaan Tania. Air mata terus keluar dari mata merahnya, Tania berusaha meredam amarah agar tidak pecah, berusaha menahan tangis sekuat tenaga, sungguh rasanya tenggorokan ini sakit sekali, ingin berteriak kencang, ingin melepaskan segalanya, ingin marah, Tania sungguh kecewa.
Ibu dengan sempurna telah menghancurkan hubungan yang selama ini terjaga dengan baik, Ibu selama ini bersikap palsu, pura pura mencintai Ayah padahal Ibu justru sedang mencintai orang lain selain Ayah. Ibu sanggup dan pandai membungkus semua kepura-puraannya dengan amat sangat baik, sampai orang tak menyadari kalau Ibu sudah sangat menyakiti hati.
Tania dengan cepat mencatat nomor telepon laki laki brengsek itu, cepat atau lambat ia harus menerima balasannya. Sungguh, Tania berjanji, tidak boleh ada orang baru yang boleh masuk ke dalam keluarga Tania, tidak boleh ada orang baru yang berhak dicintai.
Tania melempar handphone Ibunya ke meja, berlari ke kamarnya, menutup pintu dengan kencang, menelungkup kan tubuh di kasurnya, menangis di tumpukan bantal.
Seribu pertanyaan menghantui pikiran.
Sesak sekali rasanya mengetahui semua ini. Tania mulai terbawa mimpi dan tertidur.
Dua jam berlalu, ia membuka mata, tersadar kalau barusan tertidur. Duduk di depan cermin. Sekarang Tania melihat dirinya sendiri, kalau ini jelas bukan Tania yang dulu, sekarang matanya sembab, bola matanya merah, rambutnya berantakan, yang paling terpenting, saat ini Tania benar benar tidak ingin hidup, kehilangan semangat tentang segala hal.
Rasanya hanya tidur yang mampu mengobati segalanya, rasanya tidur cukup untuk lari dari kenyataan yang sesungguhnya, walaupun sebentar, itu amat sangat berarti daripada terus meratapi kejadian yang sudah terjadi.
Jam berdetik, hari mulai berganti malam, Tania tidak berniat makan malam bersama yang lain, Tania takut ditanya Ayah mengapa matanya sembab dan pasti Ayah akan memaksa Tania untuk bercerita.
Malam ini ia gunakan untuk mempertanyakan pada laki laki brengsek itu, mengapa ia berani sekali mempunyai hubungan dengan Ibu yang jelas jelas sudah memiliki seorang suami dan dua orang anak.
Semua sudah Tania keluarkan, sungguh itu semua kalimat yang pasti menyakitkan orang itu. Segala macam binatang sudah Tania keluarkan walaupun itu dilarang, Tania tidak peduli, Tania terlanjur sakit hati. Laki laki itu telah menghancurkan segalanya, menghancurkan kepercayaan Tania pada Ibu yang selama ini tertanam dengan aman.
Sumpah serapah juga Tania lontarkan, masa bodo dengan nantinya dia sakit hati Tania tidak peduli, yang sekarang harus diadili adalah hati sendiri, laki laki itu sudah membuat hati Tania sakit lebih dari pada perkataan Tania yang pasti menyakitkan.
Tak lama orang itu membalas, dia bilang tidak mempunyai hubungan apa apa dengan Ibu. Persetan dengan segalanya, Tania sudah membaca percakapan itu, sudah tidak ada lagi yang harus ditutupi, Tania tidak ingin mendengar alasan apa apa lagi, semuanya sudah jelas. Sudah hancur hati ini.
Tak beberapa lama orang itu menelpon, Tania mengabaikannya, karena dia takut kalau kalau Tania mengadukannya pada Ayah, Tania sungguh sudah mengancamnya, apabila dia berani mendekati Ibu lagi, maka semua orang akan tahu sifat jeleknya, Tania akan membongkar semuanya.
Maka, hari itu, Tania yang dulu sangat ceria sudah mati, terkubur oleh kekecewaan yang dalam sekali, sekarang hanya ada bayang bayang Tania, separuh jiwanya sudah tergantikan oleh kekecewaan dan pengkhianatan.