SILENT MEMORIES

SILENT MEMORIES
Chapter 26 | 22.45 : Berdamai dengan Diri Sendiri.



Saya berusaha untuk tidak akan pernah melupakanmu,


Dan akan sekuat tenaga untuk tidak kembali membuka lembaran lama.


( -Ronasenja )


Berhari hari ia tak bisa melupakan kejadian itu, seakan semuanya kembali terulang di ingatan yang paling dalam.


Mungkin salah satu caranya adalah ia juga harus pergi, agar lembaran baru terukir lagi.


Tania mengemas semua barangnya, memasukkannya ke dalam koper. Hari ini juga ia tampil beda. Tania memutuskan untuk berhijab.


Tadi malam sebenarnya Tania juga sudah bicara dengan Mas Fahri, kalau ia ingin sekolah di Jogja. Kalau ia juga ingin pergi meninggalkan masa lalunya.


Tentang masalah Tania yang kemarin, Mas Fahri sudah diberitahu Ayah. Malam itu juga Ayah langsung menelpon Mas Fahri.


Semuanya tergantung Ayah tentang rencana Tania yang ingin sekolah di sana. Tania hari ini juga harus bisa membujuk agar mau mengizinkannya.


Maka hari itu juga, ia pergi ke rumah Ayah untuk meminta izin diantar dengan taksi yang sudah Rasya pesan.


Taksinya sudah menunggu di depan. Rasya pangling melihat Tania berhijab sekarang. Orang itu yang akan menemani Tania ke bandara.


Lima belas menit perjalanan ke rumahnya. Tania segera masuk. Mencari Ayah yang tengah membaca koran ditemani segelas kopi dan pisang goreng.


"Ayah, Tania pamit mau liburan ke Jogja. Mas Fahri udah beli tiketnya hari ini." Tania berbohong. Ayahnya melepas kacamata yang ia kenakan. Melihat Tania lebih dekat. "Ih, Ayah, jangan deket deket. Ini anak Ayah. Tania."


Ayahnya kembali memasang kacamata. "Cantiknya anak Ayah." Ayahnya memeluk Tania erat, orang itu balas memeluknya.


"Aduhhh, Ayahhh, Tania diizinin nggak? Sebentar lagi pesawatnya berangkat."


"Iya, Ayah izinin. Pamit dulu sama Ibu kamu di dalem."


"Aduh nggak usah deh, Tania takut ketinggalan pesawat , Ayahhh." Tania memelas, berjalan cepat menuju taksi yang sudah menunggu.


"Tania!"


Orang yang dipanggil menoleh. "Peluk Ibu dulu sayang." Tania menghentikan langkahnya. Berdiam seperti patung. Wajahnya berubah datar. Ibunya memeluk Tania erat, Tania tidak membalas. "Cepat pulang ya, sayang." Satu kecupan mendarat di kening Tania, orang itu hanya mengangguk tanpa ekspresi.


Dua menit kemudian mobil itu sudah meninggalkan rumah Tania. Berjalan menuju bandara.


Setelah sampai, Rasya dengan baiknya mebawakan koper. "Tiga hari doang perasaan barang bawaan Lo banyak banget."


Tania menoleh, "Tiga hari? Tania mau tinggal di Jogja dan nggak akan kembali." Ia tersenyum, sementara Rasya yang mendengarnya tersentak.


"Yah, kok nggak balik lagi, Tan?"


Tania sudah berada di pesawat dua puluh menit yang lalu. Tadi, sebelum berangkat ia meletakkan surat dari Vaaz di saku bajunya.


Dan Tania mulai membuka. Sebuah surat yang terlampau panjang, pantas dibuat dalam tiga hari tiga malam. Tania tersenyum, mulai membacanya.


*Dear Tania.


Entah kenapa saya bahagia bisa dikenalkan dengan seseorang sepertimu. Bisa menikmati senja di kedai kopi berdua, walaupun kadang tanpa bicara.


Saya juga senang kita bisa berbagi rahasia, tentang kenangan sunyi yang manyayat hati. Setidaknya kita sama sama bisa menghibur hati yang terluka untuk kembali bahagia. Tapi, nyatanya saya gagal mengembalikan rasa bahagia yang selalu kamu minta tanpa jeda. Nyatanya banyak sekali luka yang kamu alami bersama dengan saya. Nyatanya, saya tak lagi bisa menemanimu duduk duduk di kedai kopi atau sekadar bersua dan bercanda.


Kamu harus tahu. Mungkin kamu kesal dengan sikap saya yang terlalu nakal dan keras kepala. Tapi dibalik itu semua bukankah saya lebih istimewa dibanding yang lainnya?


Saya belajar banyak dari kenakalan yang pernah saya coba. Bahwa seseorang juga berhak untuk berubah kalau sudah waktunya. Dan kebanyakan orang baik belajar dari kesalahan yang pernah ia coba.


Tania, selamat, ya.


Kamu berhasil melewati masa masa sulit itu walau dengan air mata.


Kalau kamu sudah membaca surat ini, itu tandanya kamu siap untuk melupakan kenangan sunyi yang pernah menyayat hati. Dengan membaca ini kamu harus belajar beberapa hal dari buku yang pernah saya baca.


Bahwasannya; kamu akan tetap baik baik saja meski tanpa saya dan belajarlah bahwa kita tidak pernah mengenal sebelumnya. Sebab kenapa? Mengingat kenangan indah yang tertinggal itu sungguh menyakitkan dan apalagi sekarang saya tidak berada di dekatmu.


Kamu harus belajar melupakan, tentang kejadian yang paling memilukan, tentang kenangan kenangan sunyi yang kita yang miliki. Jangan pernah kamu menengok ke belakang, sebab kamu sudah pergi jauh, beberapa mil dari kenangan itu. Dan kamu pun akan pergi ke tempat baru yang semoga akan memulihkan jiwamu.


Kamu harus belajar menerima tentang segalanya, tentang ketidakinginan yang berubah menjadi pasti. Kepergian saya bukankah sesuatu yang tidak kamu inginkan? Tapi pasti itu terjadi. Sebab saya belum menjadi milik kamu, dan kalau suatu saat nanti saya memang ditakdirkan milikmu, maka saya akan kembali lagi. Dan bukankah sudah saya katakan? Bahwa pertemuan kita di bandara waktu itu, bukan pertemuan terakhir. Melainkan ada waktu waktu ajaib yang semoga Tuhan kirim.


Kamu harus berdamai dengan diri sendiri, memaafkan diri sendiri, jangan pernah mengungkit masa lalu itu kembali. Selama ini kamu berbeda, karena kamu belum bisa memaafkan diri sendiri, karena kamu merasa menyesal sekali tidak bisa menjaga Ibumu dengan baik. Maka, maafkanlah diri sendiri, setelahnya lupakan segala yang pernah terjadi, jangan pernah kamu ingat ingat sesuatu yang menyakitkan itu lagi. Saya percaya kamu bisa.


Bukankah kamu akan pergi jauh, jauh sekali, berniat ingin melupakan segala yang telah terjadi. Saya selalu berdoa agar kamu bahagia tanpa ada jeda mulai detik ini. Sebagiman kamu mendoakan saya supaya saya cepat berubah. Supaya saya menjadi seseorang yang berguna. Iya, itu bukan doa kamu untuk saya setiap harinya? Setiap kamu kesal melihat saya bertingkah banyak sekali gaya. Doamu mujarab sekali, Tania. Hati saya jadi tergerak untuk berubah menjadi lebih baik lagi.


Kalau mengingat saya membuat hatimu sakit, maka lupakan saya. Buka lembaran baru untuk kehidupan kamu. Saya janji saya akan mengembalikan buku puisi kamu dengan tangan saya sendiri. Kamu berhak bahagia setelah sekian lama memendam luka. Cerita tentang kenangan sunyi kita, sudah selesai. Sudah saya tutup rapat rapat agar tidak kembali terbuka dan menimbulkan kembali luka.


Banyak melihat senja bersama denganmu, membuat saya mengerti, bahwa sesuatu yang indah pasti akan pergi, esoknya mungkin masih ada senja, tapi mungkin berbeda dari biasanya.


Selamat berbahagia! Saya tunggu cerita tentang bahagia tanpa jeda yang sudah menunggu di depan sana*.


Sekian.


Vaazhera Keenan.


Tania menangis, mendekap surat itu dalam dadanya.