
Kamis malam itu, Tania pergi ke toko roti, ingin bertemu Dengan Ayahnya padalah nanti juga ia akan pulang. Tapi Tania mau ketemu Ayah sekarang, alhasil ia pergi sendiri dengan angkutan umum. “Ayah, Tania nggak papa kan, kesini malam malam?” Tania menyeringai, duduk di samping Ayahnya yang sedang membaca koran.
“Sudah mengerjakan PR?” Tania yang mendengarnya hanya mengangguk, berbohong. Walau Mas Fahri selalu mengingatkan, bilang, “*Tania jangan lupa kerjakan PR*” tetap saja Tania malas mengerjakannya. PR tidak akan selesai di rumah, entah kenapa ada saja godaannya. Lebih seru jika dikerjakan ketika detik detik mau mengumpulkan, rasanya begitu mendebarkan. Namun semuanya sama, bisa selesai juga.
Toko ini berdiri di pinggiran jalan raya, lalu lalang kendaraan selalu ramai apalagi menjelang malam, semua orang baru saja pulang dari kerjaan atau sekolah, sekalipun dengan urusan tertentu. Rasanya asik menatap jalanan yang ramai, juga interaksi orang-orang. Toko ini juga tidak sepi pengunjung, parkiran di depan sudah padat ramai, dua pekerja Ayah sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Tapi lihatlah Ayah sekarang, malah asik duduk membaca koran ditemani secangkir kopi dan sepiring singkong rebus. Orang mana tau kalau Ayah pemilik toko ini, yang orang tau, Ayah yang bekerja di sini, dan toko roti ini milik seseorang yang mapan dari sana.
“Tania mau?” Ayah menyodorkan piring berisi singkong rebus, Tania menggeleng pelan. “Tania nggak suka singkong.” Ayahnya menggeleng pelan, mengembalikan piring itu ke meja.
Toko ini tidak ada meja bangku yang tersedia untuk orang makan-makan, tidak. Hanya Ayah menyiapkan dua bangku rotan dan satu meja kayu jati untuk duduk-duduk di depan. Juga belasan kursi untuk para pelanggan yang menunggu antrean.
“Kau tau Tania? Zaman Ayah kecil dulu, singkong adalah makanan paling favorit, zaman dulu belum ada roti. Rasanya makan singkong satu saja sudah sangat senang. Tak terbayang senangnya sampai mengeluarkan air mata, karena terlalu lama perut kosong dan hanya ada singkong saat itu. Ayah merasakan bagaimana tidak ada nasi, tidak ada lauk pauk, hanya ada singkong, umbi umbian dan sayur-sayuran yang dimasak tak ada rasa, hambar.”
Tania menyimak, membenarkan posisi duduknya, menatap Ayahnya serius.
“Tapi, beruntunglah kau besar saat masa-masa modern, semuanya serba ada. Kita harus sering sering mengucap alhamdulillah Tania, senantiasa bersyukur atas semuanya. Ayah tak bias bayangkan bagaimana kalau kau lahir di zaman Ayah, pasti perawakanmu tidak secantik ini. Tidak sesehat ini, bagaimana akan sehat kalau singkong saja kau tak suka. Mau makan apa? Beruntung kau sekarang bisa lihat cahaya, zaman Ayah kecil mana ada cahaya atau lampu.
Ketika adzan maghrib berkumandang, anak anak sudah masuk ke rumahnya, mengerjakan tugas ataupun belajar, itupun menggunakan lampu templok yang kapan saja bisa mati apabila angin berhembus kencang. Dulu juga Ayah suka bertengkar dengan adik-adik, berebut lampu hendak mengerjakan tugas. Lepas itu, kakek kau akan berteriak kencang, menyuruh Ayah untuk membuat lampu baru, membuatnya dari sumbu-sumbu.”
Tania menelan ludah dengan susah payah, membayangkan kehidupan Ayah yang sangat susah pada zamannya. Tania jadi tidak habis pikir, bagaimana kalau ia lahir di zaman Ayahnya? Mati sudah.
“Ayah, bukannya tinggal di dekat hutan itu menyeramkan?” Ayahnya berpikir sejenak, tersenyum.
“Di zaman Ayah, waktu masih sekolah dasar, hutan bagai sahabat sendiri. Siang ikut Ambu untuk mengambil karet, sore Ayah gunakan untuk menangkap ikan di sungai dengan tombak, malam hari kadang ikut Mang Darmin ke kebun duriannya. Menunggu durian jatuh. Rasanya amat menyenangkan walau hanya duduk menunggu, mendebarkan, takut-takut kalau duriannya dicuri duluan. Disela sela itu semua, kadang Mang Darmin suka berdongeng layaknya Ayah sekarang, menceritakan semuanya.
“Iya! Tania dengar dari teman sekolah, mereka juga cerita yang sama, emang cerita itu bener, Yah? .” Tania bersemangat, membenarkan posisi duduknya agar senyaman mungkin. Sepertinya cerita Ayah kali ini akan Panjang kali lebar.
“Itu semua tidak ada Tania. Tidak ada manusia-manusia kerdil yang dikatakan. Tidak ada larangan mengenai Batasan. Tentang ‘putri mandi’ itu, memberikan penjelasan yang sebenarnya. Betapa senangnya Ayah saat itu melihatnya. Kau tau apa ‘putri mandi’ itu?” Tania menggeleng, haus akan penjelesan Ayah berikutnya.
“ ‘Putri mandi’ itu adalah rusa, rusa yang memiliki tanduk paling cantik. Saat itu Ayah diajak Mang Darmin untuk melihat, kenapa namanya ‘putri mandi’? karena rusa itu tengah bermain di sungai, menegak air dari derasnya arus sungai, mereka terlihat sangat indah.
Mengenai larangan itu hanyalah buaian semata untuk para pemburu liar, dengan mengatakan itu semua, mana ada orang yang berani nekat masuk, malah sampai sekarang itu terdengar seperti betulan. Padahal yang sebenarnya, itu lah cara nenek moyang kita untuk menjaga alam agar tidak dirusak oleh siapapun. Dengan begitu alam akan terjaga dengan sendirinya dengan berkembangnya mitos mitos yang berkembang di masyarakat. “
Tania yang mendengarnya mengangguk takzim, menatap Ayah tidak percaya. Terharu dengan semua cerita-ceritanya, begitu mengesankan, banyak pelajaran yang bisa diambil.
“Tania!” mendengar suara itu membuat Tania memutar matanya malas. Siapa lagi kalau bukan si jahil, Mas Fahri. “Tolong ambilin obat merah di dalam.” Mana ada sih, obat merah di toko roti. Terlihat Mas Fahri menggotong seseorang yang tangah kesakitam. Ayah berdiri, mempersilahkan pemuda itu untuk duduk.
“Fahri nggak sengaja, Yah, nabrak orang ini.” Terlihat wajahnya sangat merasa bersalah, Tania jadi ingin tertawa kencang kalau melihat raut wajah Mas Fahri yang kelihatannya panik setengah mati.
“Yeee, emang enak! Makanya kalau naik sepeda jangan ugal-ugalan, serasa jalanan milik sendiri.” Tania nyerocos mengomentari, Mas Fahri yang mendengarnya melotot tajam, menyuruh Tania untuk segera mencari obat merah.
“Nggak papa kok, ini lukanya sedikit doang.” Ucap pemuda itu masygul, tersenyum kecil pada Tania yang terlihat sebal oleh Mas Fahri. “Kamu dari mana?” Ayah mulai buka suara. “Cari kerja, Pak. Saya dari kampung.” Ayah mengangguk, sementara Mas Fahri mengobati kaki pemuda itu dengan hati-hati.
“Memang kamu sedang cari kerja apa?” Ayah bertanya lagi. “Kerja apa aja, Pak, yang penting saya ada kegiatan, nggak luntang-lantung seperti ini.”
“Kerja di sini saja, bagaimana?” pemuda itu langsung mendongak, menatap Ayah dengan serius, berdiri, mencium tangan Ayah, bilang terima kasih. Tak lama Tania datang dengan membawa obat merah, beli di warung seberang. Kelihatannya ada yang menarik. Ada apa ini? Tania segera menghampiri Ayah yang masuk ke dalam toko.
“Kenapa, Yah?” Tania bertanya bingung. Ayahnya malah tersenyum. “Tadi saat Ayah bercerita, sebenarnya Ayah memikirkan sesuatu, Ayah sedang mencari orang yang mau bekerja di tempat lain untuk membuka toko. Kau tau Tania? Dari mana Ayah dapat toko itu?” Ayahnya bertanya, Tania menggeleng mantap. Tidak tahu.
“Toko itu dari seseorang yang dulu pagi-pagi suka ke sini, meminta beberapa roti untuk bisa di makan, kadang kalau malam juga ke sini, melihat apa ada roti yang tersisa. Bapaknya hanya bisa memberi makan roti yang Ayah letakkan di luar selama bertahun tahun, beliau pernah cerita, kalau tidak makan roti, mereka hanya bisa makan nasi dengan kecap, itupun kalau kecapnya tidak habis. Kalau kecapnya habis, maka mereka hanya makan nasi tanpa lauk-pauk. Hampir dua puluh tahun mereka seperti itu, beruntung umat islam memiliki dua hari raya yang wajib setiap orangnya untuk memberi, sehingga dalam satu tahun, mereka bisa makan daging dua kali. Tapi Allah maha pengasih, setelah anaknya besar, ia menjadi orang sukses, dulu kata Bapaknya anaknya suka melukis, hingga sekarang anaknya menjadi pelukis terkenal, lukisannya bisa dipajang di pameran internasional. Dan kemarin, anaknya menemui Ayah, bilang, bahwa dia adalah anak dari Bapak Bapak yang suka meminta roti setiap hari. Demi membalas budi, ia mau menyewakan sebuah toko untuk Ayah.”
Tania yang mendengar cerita Ayah mengelap bulir air mata yang tak sengaja keluar dari matanya. Cerita Ayah hari ini begitu mengharukan. “Eh, anak Ayah menangis?” Tania tidak menjawab, langsung memeluk Ayahnya dengan erat. Tania bangga sama Ayah. Ayahnya pun balas memeluk Tania, mencium keningnya. Ayahnya tau, Tania paling tidak bisa mendnegar cerita yang menyedihkan, pasti selalu menangis.