SILENT MEMORIES

SILENT MEMORIES
Chapter 23 | 22.10 : Tania Segalanya



Entah Vaaz menjalankan misi apa di sana. Sebenarnya kasus ini benar benar tertutup dari siapapun. Termasuk Ibunya Vaaz. Kebetulan Ibunya pergi ke Bandung untuk satu Minggu ke depan. Alhasil Vaaz langsung meminta Zidan untuk membantunya mengungkap kematian orang orang terdekatnya dibantu dengan polisi.


Tiga hari tanpa kabar dan Tania pun enggan mengangktifkan ponselnya, juga tiga hari tidak bersekolah setelah selesai ujian akhir semester ganjil. Tania hanya berdiam di rumah, sesekali membantu Rasya menjadi kasir.


Rasya juga sesekali sering bertanya apa Tania mau berbicara dengan Al atau tidak, tapi Tania selalu menolak. Apa apa yang ia inginkan menjadi tidak berarti lagi.


Setelah tiga hari berlalu, Vaaz datang ke toko roti tepat tanggal 22 Desember. Mengajak Tania ke rumahnya. Tania segera berganti baju dan merapihkan dirinya setelah Rasya bilang ada seseorang yang sedang menunggu di depan.


Tania keluar toko dengan wajah segarnya, mengikat rambut hitam legamnya menjadi satu, tak lupa menambah pewarna bibir agar terlihat lebih segar.


Vaaz sedang menunggu Tania di depan. Pakaiannya lengkap sekali, memakai jaket, masker dan helm. Tania yang melihatnya melongo.


"Vaaz." Orang yang dipanggil menoleh, memasukkan handphone ke dalam sakunya.


Berdiri dan langsung naik ke motor tanpa bilang sepatah kata pun. Memberikan Tania helm.


"Tania!"


"Handphonenya ketinggalan." Rasya menghampiri Tania yang mungkin kalau ia tidak memanggilnya, Vaaz akan menggas motornya dan pergi meninggalkan toko roti.


"Siapa?" Rasya to the point bertanya, melirik Vaaz yang sedikitpun tidak menoleh pada Rasya.


"Oh, temen Tania. Vaaz kenalin ini Rasya, adiknya Al." Tania memperkenalkan keduanya.


"Vaaz untung Lo kesini."


"Kenapa?"


"Kalo Lo nggak ke sini, sampe tahun depan Tania nggak mandi!" Setelah memberi tahu hal itu pada Vaaz, Rasya tertawa dan langsung berlari meninggalkan Tania dan masuk ke toko.


"Jorok Lo, mandi aja susah amat." Vaaz berkata dengan nada yang berbeda, sedikit jengkel. Langsung meng-gas motornya meninggalkan toko.


"Handphone Lo kenapa nggak di aktifin, Tan? Kan gue suruh aktifin."


"Iya, jadi sebelum Vaaz suruh aktifin. Handphone Tania dipinjem buat nerima pesenan roti gitu. Tadi juga baru dibalikin sama Rasya."


Tania mengalihkan pandangannya. Maaf, lagi lagi Tania berbohong.


"Kalo handphone Lo nyala, harusnya aktif dong. Ini kenapa nggak aktif?"


Mampus. Tania bingung harus menjawab apa. Ya Tuhan, tolong Tania. Sebenarnya pertanyaan Vaaz adalah pertanyaan jebakan, kalau Tania tidak berhati hati menjawabnya. Maka Vaaz akan tahu kalau dirinya sedang berbohong.


"Hmm... Ya mungkin aja kartunya diganti." Tania menggigit bibir, takut mendengar respon Vaaz.


"Oh, iya, bener juga." Vaaz bergumam pelan.


Mereka sampai di rumah Vaaz. Tania lupa cerita dari awal, kalau rumah Vaaz itu bisa dibilang besar, di samping kanannya ada kolam renang dan taman.


Mereka tinggal di rumah seluas ini hanya berempat. Ibunya Vaaz, Vaaz, pembantunya, dan anak dari pembantunya yang baru berumur enam bulan.


Vaaz juga kadang menjaga anak pembantunya kalau orang itu sedang membereskan rumah atau sekalipun sedang bosan.


"Mbaaa!" Vaaz membuka pintu, melihat tidak ada siapapun orang di rumahnya.


Melihat meja makan sudah penuh dengan makanan pesanan Vaaz dari tiga hari yang lalu.


"Yuk, makan dulu lah." Vaas mengajak Tania duduk di meja makan. Menunya hari ini nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya. Seperti ayam goreng, telur suir, tempe orek, perkedel, kerupuk dan sambel.


Tania mulai menyendok nasi dan mengambil lauk pauknya.


"Siapa yang kalo ulang tahun dibuatin nasi kuning?" Vaaz bertanya, suasana mendadak hening. Tania selalu seperti itu, kalau di depannya sudah ada makanan, maka perhatiannya akan teralihkan.


"Saya!" Vaas menjawab sendiri. Sesekali melirik Tania yang sudah menikmati makanannya. Belum juga disuruh makan.


Tania sibuk dengan makanannya, sementara Vaaz sibuk membuka ponsel, menelpon seseorang.


"Assalamualaikum. Buuu, selamat hari Ibu. Liat Bu, disebelah aku ada siapa." Vaaz mengarahkan ponselnya pada Tania.


Mendengar ucapan Vaaz yang pertama membuat hati Tania teriris, biasa mengucapkan kata kata romantis sekarang justru tidak sama sekali. Biasa memberi Ibu hadiah sesuatu sekarang tidak lagi.


Tania menarik napas dalam dalam dan mendadak tidak napsu makan. Kemudian tersenyum saat seseorang di seberang sana dengan hangat menyapanya. Menggantikan posisi Ibu beberapa Minggu terakhir.


Sambil makan, Tania asik berbincang dan sesekali tertawa, membuatnya berkali kali tersedak.


"Pelan pelan!" Vaaz langsung menuang minum dari teko, memberikannya pada Tania. Sementara orang itu tidak menggubris, masih tertawa sambil makan.


Ya, Tuhan, bahagia sekali melihat Tania seperti ini.


Sementara Tania sibuk dengan Ibu, Vaaz berjalan ke dapur, mengambil sesuatu.


Lima menit kemudian Vaaz datang, membawa kue tart dengan lilin yang sudah menyala.


"HAPPY BIRTHDAY TANIA... HAPPY BIRTHDAY TANIA... HAPPY BIRTHDAY... HAPPY BIRTHDAY.... HAPPY BIRTHDAY TO YOU." Tania bangkit berdiri, meletakkan ponsel Vaaz.


"Tania ulang tahun?" Ia menatap Vaaz tidak percaya.


"Kok malah nanya gitu? Kan ini tanggal 22 Desember Taniaaaa. Ulang tahun Lo yang ke 17!!!" Vaaz girang sendiri, tersenyum lebar.


Hening.


"Mba, sejujurnya ini tanggal berapa, sih? Apa aku salah tanggal?" Vaaz mengambil ponselnya dari tangan Tania, memutuskan sambungannya secara sepihak, melihat kalender di ponselnya.


"Tuh kan, bener, Tan!!! Lo ulang tahun sekarang!!!" Vaaz histeris lagi. Kenapa jadi Vaaz yang bahagia sendiri, sih?


Tania menepuk jidat. "Lupa ulang tahun itu salah satu dampak dari setres, loh." Mendengarnya Tania tersenyum simpul.


"Ayo cepetan lilinnya ditiup, nanti keburu kuenya kebakar nih, capek loh gue buat dari jam 5 subuh." Vaaz mengedipkan mata pada Mba Rani yang berdiri di sampingnya.


Tania meniup lilin tanpa make a wish terlebih dulu. "Semoga Lo bahagia." Vaaz tersenyum. Sedetik kemudian lampu rumahnya mati bersamaan dengan lilin yang Tania tiup.


"Astagfirullah, Mba! Mati lampu!!" Vaaz memegang tangan Tania. Berusaha meraba kursi untuk duduk.


"Telpon Ibu deh, Mas." Mba Rani menyuruh Vaaz. Sementara orang itu cepat cepat menelpon Ibunya.


"Hmm."


"Gimana misinya sama Zidan?"


Vaaz menggeleng. "Belum ketangkep pelakunya, tapi udah ada beberapa orang yang diduga otak dari semuanya."


Sementara Mba Rani yang sedang menelpon Ibunya Vaaz. Di sini Vaaz merasa gelisah karena lampunya mati, ia sedari tadi mengetuk ngetuk meja tanda cemasnya.


"Nggak seru banget sih, masa ulang tahun mati lampu." Vaaz berdecak sebal.


"Tadi Mba udah suruh tukang listrik dateng kesini. Nanti sebentar lagi juga sampe." Mba Rani mengembalikan handphone Vaaz.


"Bilangin Mba jangan lama lama, aku kan mau rayain ulang tahunnya Tania."


"Alah, bilang aja kamu takut gelap."


"Tania kan nggak minta dirayain, Vaaz. Sama ulang tahun aja lupa." Tania berkata kesal.


"Bukannya begitu, hari ini itu, hari spesial Lo."


Lima belas menit kemudian percakapan diisi dengan kejengkelan Vaaz yang tidak sabar menunggu. Yang kemudian Mba Rani pun ikut kesal karena Vaaz tidak sabaran. Sementara Tania tetap diam, hanya mendengarkan.


"Lama banget sih tukang listrik."


"Ya sabar dong, Mas!"


"Ya gimana mau sabar, sebentar lagi baterai handphone aku habis."


Dan disaat yang tepat tukang listrik itu datang membawa perlengkapannya. Dan benar, handphone Vaaz mati kehabisan daya.


Mba Rani langsung mendampingi tukang listrik itu di ruangan seluas ini yang gelap. Tepatnya di samping kolam renang. Kemudian datang kembali. "Mas tukang listriknya nggak bawa obeng, tolong kamu cariin di atas sana."


"Kenapa pake nggak bawa segala si! Sialan juga tuh tukang listrik, nyusahin orang. Emang benerin listrik pake obeng segala?" Vaaz berdiri, meraba sekitaran untuk jalan ke atas.


"Stt, Mas! Kamu ngomong kaya gitu didenger tukang listriknya disetrum loh, kamu." Mba Rani jahil menakut nakuti.


"Bohong. Coba aku tes. Woy! Tukang listrik sialan!" Vaaz berteriak di ruangan tengah yang suaranya jadi bergema. Tania yang mendengarnya tertawa.


"Cepetan, Mas!"


"Kenapa nggak Mba aja sih, kalo mau cepet, aku kan nggak bisa liat nih, gelap." Vaaz mengomel.


"Mba mau buat minum di dapur." Mba Rani berjalan meraba menuju dapur.


Lima menit Vaaz tidak kembali, Mba Rani juga belum kembali dari dapur. Mungkin karena gelap, gerak mereka jadi terhambat.


Tania memejamkan matanya. "Nyala...Nyala...Nyala..." Tania bergumam, membuka mata.


Nyala.


Beneran sudah nyala? Tania mengerjap beberapa kali. Iya, kue tart di meja sudah nampak.


Tania menghampiri tukang listrik di sana. "Mas-" orang yang dipanggil menoleh, tangannya yang sedang memasukkan barang barang terhenti, melihat wajah orang itu membuat dada Tania seakan langsung ditikam ribuan pisau, sungguh menyakitkan. Wajahnya berubah. Deru napasnya menjadi cepat.


"Manusia anjing! Yang udah berani ngerebut istri orang! Yang udah berani ngancurin hidup gue!" Tania mendekat, menunjuk nunjuk orang itu.


Dia lah penyebab Tania seperti ini. Dia yang membuat Ibu Tania berubah. Dia yang menghancurkan kepercayaan Tania. Dia yang membuat Ibu lebih memilih dirinya dibanding Tania.


"Udah bisa ngejauhin Ibu gue?" Melontarkan pertanyaan itu membuat Tania menitikkan air mata. Ya Tuhan, perih sekali rasanya melihat seseorang yang Ibu sayang berada di hadapannya sekarang.


Orang itu perlahan mundur, Tania mendekat dan langsung mencengkram kerah bajunya.


"Lo emang manusia nggak punya hati yang bisanya ngerebut kebahagiaan orang lain!" Tania menitikkan air mata dan menampar laki laki itu, kemudian berlari ke dapur, melihat Mba Rani sedang memotong buah untuk membuat jus. Tania langsung merebut paksa pisau yang sedang digunakan. Berlari menemui tukang listrik sialan itu.


Melihat ada sesuatu yang tidak beres, Mba Rani ikut berlari. Tania berhasil mengejar manusia sialan itu yang ingin kabur. Menarik baju dan mengarahkan pisau tepat di depan matanya.


Deru napanya tersengal, air matanya terus mengalir. Mba Rani yang melihatnya langsung menghampiri Vaaz di atas yang dari tadi belum kembali.


Dengan histeris Mba Rani memberitahu sedang terjadi sesuatu di bawah. Vaaz langsung berlari menemui Tania. Matanya melotot saat melihat dari kejauhan Tania mengarahkan pisau sambil menangis. Mulutnya meracau sesuatu yang tidak Vaaz mengerti.


"Tania! Lepas!" Vaaz berteriak dari jauh. Kemudian orang itu langsung mendorong kuat tubuh Tania ke kolam renang. Tania tercebur didalamnya. Orang yang mendorong itu kemudian lari tunggang langgang.


Vaaz langsung menolong Tania, ikut nyebur ke dalam kolam yang lumayan dalam. Menggendong Tania yang sudah pingsan. Sementara Mba Rani sibuk membawakan air dan minyak agar Tania siuman.


Lima menit orang itu siuman, langsung menangis sesenggukan. Vaaz langsung naik pitam. "Lo ngerti nggak apa yang Lo lakuin itu bahaya! Lo ngerti nggak kalo tadi gue terlambat dateng kesini jadinya gimana! Lo ngerti nggak, gue sayang sama Lo, Tania!!" Mendengar itu Tania histeris, memukul dan melempar barang yang ada didekatnya, termasuk minuman yang Mba Rani bawakan.


Vaaz memegang kuat tangan Tania, berkata lembut. "Kenapa? Cerita, Tan. Gue nggak ngerti kalo-"


"Ibu..." Tania berkata lirih.


"Dia laki laki yang udah ngerebut Ibu dari Tania, Vaaz..."


"Dia laki laki yang punya hubungan sama Ibu, Vaaz..."


"Tania benci Ibu..." Tania menangis, melihatnya hati Vaaz langsung teriris, mengelap air mata Tania dengan tissue.


"Denger, Tan, di dunia ini nggak akan ada seorang Ibu yang membenci anaknya. Di dunia ini nggak akan ada Ibu yang nggak sayang sama anaknya."


"Tapi-"


"Nggak ada kata tapi Tania. Seburuk buruknya Ibu Lo, dia tetep orang yang udah ngelahirin dan ngebesarin Lo sampe sekarang. Mungkin iya kalo apa yang dilakukan Ibu Lo kelewat batas, tapi Lo juga harus inget, berapa banyak kebaikan yang udah Ibu Lo kasih selama tujuh belas tahun, nggak akan sebanding dan terbayar dengan apa yang Ibu Lo pernah lakukan sekalipun itu menyakitkan." Vaaz berkata lembut, sementara Tania menangis, wajahnya mendadak pucat.


"Gue janji, kalau gue yang ditakdirkan untuk menyatukan Lo sama Ibu Lo, gue akan lakuin sekalipun harus mengorbankan diri gue sendiri." Vaaz menatap Tania yang berhenti menangis, matanya terpejam.


"Tania!!" Vaaz menepuk pelan pipi Tania.


"Mbaaa, tolong Tania!!" Vaaz berteriak memanggil Mba Rani yang langsung secepat kilat datang.


Mendengar cerita Tania hati Vaaz teriris, ternyata sumber masalah Tania selama ini adalah laki laki itu, laki laki yang sempurna merebut orang yang dari kecil Tania cinta.