
Tania membereskan semua barang barangnya, membawa banyak fotonya dengan Vaaz, memasukannya di sebuah kotak.
Tania berpamitan dengan karyawan dan berterima kasih sudah mau mendengarkan akhir dari cerita kenangan sunyi. Yang mereka dengan sengaja mempertanyakan akhir dari segalanya.
Ia membuka pintu mobil, memasukkan kotak itu. Kenangannya sudah berakhir, sudah tertinggal empat tahun yang lalu, jauh sekali tertinggal di belakang.
Tania mulai meng-gas mobilnya, meninggalkan toko roti.
"Kak Taniaaa!!!" mendengar itu Tania langsung menghentikan laju mobilnya, melihat dari kaca spion.
Kelvin?
Orang itu menghampiri Tania.
"Tania Shaqila Aileen?" Tania mengangguk.
"Surat dari Vaaz. Saya adiknya Vaaz, kak." Napasnya Kelvin tersengal, Tania menatap Kelvin tidak percaya. Jadi, waktu itu Tania pernah makan berdua dengan adiknya Vaaz?
Ya Tuhan, benar benar diluar dugaan.
"Saya udah lama banget nyari kak Tania untuk ngasih surat itu ke Kakak. Tapi nggak pernah ketemu. Setiap hari saya suka nunggu di kedai kopi, tapi kak Tania nggak pernah dateng lagi. Dan tadi aku pulang buru buru karena mau mastiin, ini Tania yang Vaaz maksud atau bukan. Pas saya liat fotonya bener. Saya langsung cari surat surat yang Vaaz kirim."
Tania mengangguk, menitikkan air mata. "Terima kasih, ya. Kamu baik sekali seperti Vaaz." orang itu tersenyum. Berpamitan.
Tania melanjutkan perjalanan, berjalan menuju rumah Mas Fahri untuk mengembalikan mobil, kemudian lanjut berjalan menuju bandara menggunakan taksi.
Kabarnya, beberapa bulan lagi Mas Fahri akan melangsungkan pernikahan. Tiga bulan yang lalu Tania dikenalkan dengan seorang perempuan yang cantik. Seorang psikolog. Usianya beda dua tahun lebih tua Mas Fahri. Mereka bertemu di kampus, sebenarnya sering bertemu, kemudian Mas Fahri dikenalkan dengan calonnya ini lewat seseorang.
Orang itu juga sekarang sudah mapan, toko rotinya tersebar di beberapa tempat di Yogyakarta.
Seseorang menelponnya dari seberang sana, Tania sudah tahu, pasti itu Gema.
"Hallo!"
"Berisik! Bodo!"
Kesal ia langsung memutuskan sambungan.
Gema, seseorang yang dikirim Mas Fahri untuk menggantikan dirinya. Mengajarkan Tania belajar di rumah selama kurang lebih dua tahun.
Jadi, selama Tania tinggal di Yogyakarta waktu itu, ia minta untuk homeschooling di apartemen yang bisa dibilang luas yang telah Mas Fahri sewa.
sebenarnya dulu Mas Fahri menginginkan Tania untuk sekolah formal. Namun Tania menolak, masa masa SMA nya tidak akan kembali bahagia setelah Vaaz pergi. Ia juga takut mengenal seseorang yang nantinya akan melupakan Vaaz. Vaaz tidak akan pernah terganti.
Dan Tania juga waktu itu tidak percaya dengan siapapun apalagi orang baru. Maka dari itu ia memilih homeschooling dan Mas Fahri memperkenalkannya dengan Gema.
Kata orang dia tampan, tapi menurut Tania tampan tak berguna kalau begitu menyebalkan.
Sampai di Yogyakarta ternyata Gema sudah menejemput. "Saya kan nggak minta jemput." Tania melipat keningnya, kesal. Berjalan lebih cepat dibanding Gema.
"Ini demi keselamatan kamu juga, Rona. Kamu itu jangan-"
Tania balik badan, melotot pada Gema. "Udah berapa puluh ribu kali saya bilang? NAMA SAYA TANIA! BUKAN RONA! IH, NYEBELIN BANGET, SIH."
"Iya iya, saya minta maaf. Kamu maafin saya nggak, Rona?"
"Maafin, tapi ada syaratnya!"
"Apa?"
"Pertama jangan panggil saya Rona, kedua kamu abis ini temenin saya ke Malaysia buat nyari temen saya, Vaaz. Udah abis ini jangan banyak tanya!!!"
Tania meninggalkan Gema yang tercenung menatapnya.