SILENT MEMORIES

SILENT MEMORIES
Chapter 11 | 20.35 : Cerita di Masa Kecil



Tania sedang memainkan ponselnya, membuka media sosial, tak lama ada seorang ibu ibu yang tengah duduk di dekat Tania. Mereka sedang duduk berempat, ada suaminya, anak laki-lakinya dan yang paling kecil anak perempuan berusia kurang lebih empat tahunan.


“Permisi, saya boleh minta tolong fotoin, nggak?” ibu-ibu itu nyengir, memberikan handphonnya pada Tania. Tania tersenyum, mengangguk.


Satu…dua…


“Bu, Mas-nya tuh, ngeledekin aku mulu.” Anak berusia empat tahun itu jengkel, melotot tajam kearah Masnya. “Mas, jangan gitu, ah, sama adeknya.” Ibunya mengingatkan.


Satu…dua…ti…


“Bu! Masnya, tuh!” karena geram, Ibunya mencubit tangan anak pertamanya, abisan tidak bisa dibilangin. “Aku nggak ngapa ngapain, Bu. Awas ya kamu kalau ikut Mas main, Mas nggak mau ngajak!” ucap anak pertama dengan jengkel.


Tania berdehem mengingatkan. “Oh, iya, foto aja Mba nggak papa. Maklum anak saya emang suka berantem.” Ibu itu nyengir, menatap kamera.


Cekrek. Satu gambar di dapat. Hasilnya sang Ayah sedang asik menatap layer ponsel, anak laki-lakinya menatap kamera tanpa tersenyum, mungkin jengkel dengan Ibu dan adiknya, dan adik perempuannya menangis karena barusan Masnya bilang ia tidak akan diajak bermain, sementara si Ibu asik tersenyum menatap kamera.


Setelahnya Tania mengembalikan handphone itu dan kembali di tempat duduk, ingat kejadian masa kecil waktu itu.


-


Waktu itu usia Mas Fahri delapan tahun, Tania empat tahun. Dulu kata Ibu, Tania itu tomboy, lebih suka bermain dengan laki-laki dibanding dengan perempuan. Kalau main dengan laki-laki, pasti orang itu selalu pulang sambil menangis, tidak tau apa yang dilakukan oleh Tania sampai semua laki laki yang berteman dengannya bisa sampai pulang sambil menangis.


Berbeda kalau dia bermain dengan teman perempuannya, justru ia yang akan pulang ke rumah sambil menangis. Tania memang aneh.


Mas Fahri selalu mengingatkan, “Tania, jangan suka buat temen kamu sama temen Mas Fahri nangis, nanti kamu diomelin loh, sama Ibunya.” Ucap Mas Fahri sambil membuat mainan dari pohon pisang. Tania yang mendengarnya mengangguk paham.


“Tania main dulu ya, Mas, sama Danu.” Tania berdiri, membawa sekantung plastik gundu untuk bermain di tanah merah bersama dengan Danu. “Iya! Tapi anak orang jangan di tangisin.” Tanpa mendengarkan ucapan Mas Fahri, Tania sudah lebih dulu menghilang, berlarian ke rumah Danu yang berada di seberang rumah Tania.


“Danuuu!!! Main, yuk!” Tania memanggil Danu dari depan pagar rumahnya. Tak lama orang yang dipanggil keluar. “Kenapa?”


“Ayo main.” Tania menunjukkan sekantung plastik yang berisi gundu. Danu berjalan menghampiri Tania. “Hari ini Ayah aku ulang tahun, jadi mainnya nanti aja, ya.”


“Emang ulang tahun yang ke berapa?” Tania bertanya bingung, terlihat Danu berpikir sejenak. “Yang ke tiga puluh lima.”


Tania mendekatkan dirinya pada Danu, berbisik. “Kan kalau orang ulang tahun umurnya berkurang, terus Ayah kamu nambah tua, kalau orang udah tua, pasti meninggal. Berarti nanti, Ayah kamu meninggal duluan.” Danu yang mendengar hal itu langsung berteriak kencang, menangis dan langsung masuk ke dalam rumahnya.


Daripada Tania harus ditegur oleh Bundanya Danu berkali-kali, lebih baik ia melarikan diri, berlari secepat kilat. Takut dimarahi oleh Bundanya Danu.


Sampai di rumah ia meletakkan bungkusan gundu, duduk di dekat Ibu. “Bu, emangnya umur Ayah berapa?” Tania bertanya sambil mengatur napas, ngos-ngosan habis berlarian dari rumah Danu ke rumahnya. “Emangnya kenapa?” Ibu menatap manik mata Tania, ada yang tidak beres.


“Nggak papa.” Tania menjawab memastikan. “Tiga puluh enam.” Ibunya menjawab datar, bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar. Tania menepuk jidat. Itu berarti Ayah Tania… ahh, jangan sampai.


Lanjut setelah jam makan siang tiba, Tania sudah duduk anteng menunggu Ibu yang sedang menghidangkan makanan di dapur. Tania sedang memperhatikan Mas Fahri dan Ayah yang sedang berduel bermain play station. Sangking geregetannya dia, Tania jadi berdiri sambil lompat lompat sendiri, semangat mendukung Ayah sambi berteriak kecil.


Tak lama Ibu datang, membawakan semua makanan ke depan. “Mas, mainnya udah dulu, sekarang makan dulu.” Ucap Ibu mengingatkan. “Yah, Bu, padahal pendukungya Ayah lagi semangat banget sampe loncat loncat segala.” Ibu langsung menatap Tania yang masih berdiri. “Sini Tania, makan dulu. Kan kalau mau loncat loncat harus punya tenaga.” Ibu tersenyum, menarik tangan Tania untuk duduk, makan dulu.


Biasa, Tania mendadak lupa segalanya kalau sudah keasikan sendiri, ya, walaupun cuma jadi pendukungnya Ayah.


Tania duduk, wajahnya berkeringat karena habis olahraga loncat loncatan, Ibu langsung menghidupkan kipas angin, setelahnya menyendokkan nasi untuk Tania. Menu hari ini special, ada tempe bacem dan ceker goreng pesanan Tania.


“Yaelah Bu, ceker kurus begitu di masak juga.” Mas Fahri jadi iba melihatnya. “Yeee, bilang aja Mas Fahri mau.”


“Sorry ya, Mas Fahri nggak suka ceker kaya kamu. Ngabisin waktu makannya.” Mas Fahri mulai melahap nasi dan tepe bacemnya.


“Bukannya menghabiskan waktu, Mas. Dengan makan ceker, kita belajar sabar, kan memerlukan waktu banyak, apalagi dagingnya nggak ada Cuma tulang doang, hehehe…” Ayah tertawa, meledek Tania yang memang gemar gadoin ceker.


“Taniaaaa…”


“Masuk! Tania sedang makan.” Ayah yang bersuara. Siapa ya?


Tanpa menunggu apapun, Ayah langsung menyendokkan nasi untuk Danial makan. Tania jadi memutar bola matanya malas. Bukannya tidak suka kalau ada Danial disini, Tania cuma sebal kalau Danial menghabiskan lauk pauk yang sengaja Ibu sediakan.


Tanpa diberitahu siapapun, orang itu selalu tau kalau di rumah ini sedang ada makanan enak. Tanpa diundang akan datang. Waktu itu Tania pernah bertanya tentang Danial perihal ini, kenapa ia jadi suka makan di rumah Tania?


Dengan senyuman Ayah menjawab, “Makan enak di keluarga itu bukan tentang banyaknya lauk pauk yang disajikan, mewahnya piring piring yang menjadi alas untuk makan. Bukan. Tapi, bagaimana kebersamaan itu ada dalam keluarga. Pertanyaannya, Danial kalau makan selalu bareng tidak bersama keluarga yang lainnya? Kebersamaan itu penting Tania, hal sekecil apapun akan kalah dengan yang namanya kebersamaan, apalagi di dalam hubungan keluarga. Lihatlah wajah Danial saat maka bersama kita, wajahnya cerah, senyumannya juga timbul, bisa jadi karena dia merasa nyaman ada di dekat kita. Apalagi kalau setelahnya Ayah berdongeng seperti biasa, wajah Danial pasti langsung berbinar, ingin mendengarkan.”


Setelahnya Tania mengangguk mengerti. Waktu itu juga Danial pernah mengajak Tania untuk makan bareng di rumahnya. Walaupun lauk pauk tersaji di piring piring kaca yang paling mahal sekalipun, Tania menolak, lebih nikmat jika makan bersama keluarga sendiri, duduk bersama dengan Ayah, Ibu dan Mas Fahri.


Siang hari itu Tania mendadak lesu, tempe bacamnya habis. Apalagi ceker pesanan Tania, tandas dalam sekejap mata, setelah makan seperti biasa, Ayah selalu bercerita, dengan enaknya Danial mendengarkan sambil memakan ceker, sampai piringnya bersih.


Setelah makan siang itu, Tania dan Danial main ke luar, menghampiri teman teman yang lain, siang bolong seperti ini biasanya Ibu suka berteriak untuk menyuruh Tania tidur siang. Tapi karena Tania memang anak yang bandel, kadang dengan nurutnya ia mengikuti kemauan Ibu, tapi setelah Ibu pulas, Tania akan kabur keluar, main lagi.


Hari ini jangan disangka Tania tidak disuruh tidur siang. Malah Ibunya bilang. “Tania jangan mian terus, kamu kan perempuan, nanti kalo item jelek. Apalagi di luar panas.” Dengan entengnya Tania selalu menjawab.


“Nggak papa Bu, Tania item aja.”


Setelah semua teman teman Tania berkumpul, mereka memulai permainan dengan gambreng, menentukan siapa yang jaga hari ini. Jangan dikira kalau di sini ada anak perempuan. Nihil. Anak perempuan di rumah Tania lebih memilih tidur dan menuruti Ibunya dibanding harus panas panasan di luar.


Kalah gambreng malah Tania yang jaga, orang itu bersiap menutup matanya dan teman temannya akan bersembunyi.


Satu menit menutup mata Tania mencari teman temannya, mencari kemana biasanya orang orang bersembunyi, namun hasilnya nihil, tidak ada orang sama sekali di sana. Tania jadi terduduk Lelah di pinggir jalan, memperhatikan teman temannya yang barang kali sudah lelah dan lama menunggu akhirnya keluar. Namun masih sama, tidak ada seorang pun yang keluar dari persembunyiannya. Menyebalkan.


“Mas Fahri!” orang yang dipanggil menoleh, “Kenapa?”


“Tania mau ikut main.” Mas Fahri mendadak lesu. “Aduh, jangan ngikutin Mas Fahri terus, kamu main aja sama temen teman kamu.” Mas Fahri menatap Tania jengkel. Tania mendekat, memegang baju Mas Fahri erat, takut kabur. “Tapi Tania mau ikut.” Tania memasang wajah paling melas, mendongak pada Mas Fahri agar ia mengijinkannya. Mas Fahri pasrah kalau sudah lihat wajah melas Tania, bilang. “Yaudah, ayo ikut.”


Tania tersenyum girang. Tidak peduli bagaimana nasib teman temannya yang lain. Terserah juga mereka mau keluar dari persembunyian atau tidak, yang jelas, Tania senang bisa ikut main dengan Mas Fahri.


Tengah bolong seperti ini, teman temannya Mas Fahri memilih bermain kasti di rumah Akbar. Halaman rumahnya besar seperti lapangan, di sepinggiran rumahnya juga ada lampu lampu taman sebesar bola basket. Tanaman hias apa saja ada, membuat indah mata memandang.


 


Hari itu Tania dapat kesempatan memukul bola kasti, pukulannya mantap, berhasil memantulkan bola sekencang mungkin, bola itu melambung tinggi, orang orang yang melihatnya berdecak kagum. Tania hebat. Namun bola itu mendarat cepat menembus lampu taman, membuat kacanya pecah menjadi kepingan, semua tatap mata masih fokus memperhatikan sebelum menutup mulut dengan tangan. Pastilah harga lampu itu mahal.


 


Sedetik kemudian teman teman Mas Fahri berlarian keluar, takut disuruh dimintai pertanggung jawaban, termasuk si empunya rumah, ikut lari tunggang langgang. Mas Fahri dengan kencang memegang erat tangan Tania, mengajaknya berlari sekencang mungkin.


Tania ikut berlari, namun sempat terhenti karena ikatan rambutnya terlepas. Rambut hitam legamnya terurai oleh angin. Kemudian tersadar kalau ikatan rambut kesayangannya terlepas, berteriak. “Ikatan rambut Tania, Maaasss…!!!”


Mas Fahri tidak menggubris itu, ia malah menggendong Tania, ikut berlari mengikuti teman temannya yang lain.


Setelah bersembunyi di rumah orang, yang rumahnya pun tidak terlalu jauh dari rumah Akbar, mereka semua beristirahat termasuk Tania. Mengipas ngipas wajah dengan tangan, keringat bercucuran di wajah mereka.


Menjelang sore, semuanya ingin pulang tapi takut dimarahi orangtua masing masing, apalagi kejadiannya tengah bolong seperti itu.


“Mas, kok kak Akbar juga ikut lari? Kan kita yang mecahin lampunya.” Mas Fahri tersenyum. “Dia juga takut diomelin orangtuanya, nanti nggak boleh main sama kita lagi, termasuk kamu.”


Tak lama Ibu datang, sepertinya Ibu tau kenapa kedua anaknya ada disini. “Tania, ayo pulang. Kamu ngapain sayang di sini?” Ibu mendekat pada Tania, mencium lalu menggendongnya. Mas Fahri yang melihat jadi iri, memutar bola matanya malas.


“Tadi Tania abis mecahin lampu orang, Bu. Jadi takut pulang.” Tania berkata jujur, masih dalam gendongan Ibunya. “Yaudah, sekarang pulang yuk, sama Ibu.” Ibunya lagi lagi mencium pipi Tania dengan lembut.


“Tapi beli siomay, ya, Bu.” Tania nyengir, Ibunya mengangguk mengiyakan. “Ayo Mas, pulang. Kamu mau sampai malam di sini? Mau jadi orang yang nggak bertanggung jawab? Mau lari dari masalah terus?” ucap Ibunya sebal. Mas Fahri hanya menghembuskan nafasnya kesal.


Jujur, Mas Fahri bukan orang seperti ini, yang kalau ada masalah akan lari tidak bertanggung jawab. Tapi kenapa sekarang ia lari dari masalah? Bukankah Ayah selalu bercerita bahwa bertanggung jawab itu penting?


Sudahlah, setelahnya Mas Fahri akan mendengarkan ceramah dari Ayah yang ceritanya panjang kali lebar.