
Menjelang malam, lalu lalang semakin ramai, apalagi jalanan di depan terlihat macet, beberapa bajaj ikut terjebak dalam ramainya jalanan. Tania tersenyum melihat bajaj yang baru saja melintas itu, ada satu kenangan paling mengesankan.
Tania membuka dompetnya, tersenyum, disana rupanya masih ada foto Tania dan Vaaz. Sedang berfoto di dalam bajaj, Tania yang mengenakan seragam sekolah, dan Vaaz yang mengenakan kaos oblong putih juga tak lupa dipundaknya menyangkut handuk berwarna biru, persis tukang bajaj sungguhan.
Tania tengah tertawa, sedangkan Vaaz tengah tersenyum simpul menatap kamera, menampilkan wajah tampannya.
-
Jumat pagi itu, Tania terlambat bangun karena tidur terlalu larut. Pagi ini juga Mas Fahri jalan lebih cepat ke tempat kerjanya dibanding hari hari biasanya. Ayah juga pagi ini jalan lebih pagi ke toko karena memang sedang banyak pesanan. Tania menatap jam dinding yang terus berdetik. Sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.
“Aduh, Buuuu! Tania takut terlambat, gimana dong?” Tania memakai sepatu sambil sesekali meneguk susunya. “Aduh, satu satu dong Tan. Minum minum dulu, pake sepatunya nanti.” Ibunya mengingatkan.
“Ah udah deh, Tania berangkat, Assalamualaikum.” Tania bersalaman sambil berlari menuju keluar, mencari ojek. Wajahnya sudah terlihat kesal, tukang ojek di pangkalan sudah tidak ada kalau jam segini, sibuk mengantar yang lain yang datang lebih dulu. Kalau sudah begini Tania jadi tidak semangat sekolah, lebih baik kembali saja pulang ke rumah.
Wajahnya berkeringat, padahal baru selesai mandi. Satu satunya jalan Tania harus berjalan sekitar seratus meter lagi untuk naik angkutan umum. Matahari semakin meninggi, cuacanya semakin panas, beruntung angkutan umum ke arah sekolah Tania banyak, jadi Tania bisa sedikit lega.
Sampai di sekolah pukul enam lewat empat puluh menit, gerbang sekolah sudah terkunci oleh gembok yang menempel. Tania geram. Barbalik arah. Menghembuskan napasnya lelah, ‘Maafin Tania Bu, sekali aja Tania nggak sekolah.’ Berjalan gontai meninggalkan sekolah, entah arah kakinya akan kemana, asal jangan pulang ke rumah.
Perihal alasan urusan nanti, bisa dipikirkan kalau pikiran sedikit tenang. Tania tidak tau sekarang ia akan kemana. Toko roti? Jangan. Kedai kopi? Aduh, apalagi, banyak kakak kelas kadang yang juga sama seperti Vaaz, terlambat sedikit pasti belok kemana mana, termasuk kedai kopi itu, jadi tempat paling favorit.
Lumayan agak jauh dari sekolah, dengan pikiran yang entah kemana, suara klakson bajaj membuat kuping Tania pengeng, sangat mengganggu. Tidak, Tania tidak ingin naik bajaj untuk sekarang, yang sedang dipikirkan, kemana ia akan berjalan?
“Tania!” orang yang dipanggil menoleh, suara Vaaz. Atau Tania yang sedang halu?
“Vaaz? Ngapain?” Tania menatap Vaaz tak percaya, orang itu sudah rapih dengan kaos putih oblongnya, dilengkapi dengan handuk biru yang dicantolkan di bahu kirinya, persis tukang bajaj sungguhan.
Vaaz menepikan bajajnya, mematikan mesin itu agar suaranya tak mengganggu orang. “Kok nggak sekolah?” Tania nyengir. “Terlambat.” Vaaz mengangguk pelan.
“Ayo ikut gue ke pasar aja.” Tania melongo.
“Ngapain?”
“Udahlah ikut aja.” Tania langsung naik di belakang, menutup pintu dan Vaaz langsung menggas bajaj, berjalan menyusuri padatnya jalanan sepagi ini.
“Kok tumben sih Vaaz pake bajaj? biasanya naik motor.” Tania membuka topik pembicaraan, asik menatap pemandangan dengan hilir angin pagi yang segar. “Iya, tadi Ibu mau ke pasar, eh tiba tiba Ibu bilang kepalanya pusing, daripada Ibu kenapa-napa di pasar, akhirnya gue aja deh yang ke pasar. Pas di depan mau ngambil motor, eh motornya di pinjem sama om gue, kebetulan ada bajaj. Yaudah naik bajaj.” Vaaz panjang lebar menceritakan. Tania mengangguk paham, sungguh, Vaaz sangat menyayangi Ibunya. Untuk pergi ke pasar saja tidak ada malunya untuk anak laki laki seperti dia.
Bajaj di parkir di halaman pasar, Tania turun, mengikuti kemana Vaaz berjalan. “Emang yang mau dibeli banyak, Vaaz?” Tania berusaha menyeimbangi langkah kaki Vaaz, orang itu berjalan cepat sekali, lihai seperti ibu ibu yang sudah sering ke pasar, seperti tau dimana letak tempat yang akan dibeli.
Vaaz memberikan kertas pada Tania, lumayan banyak.
Kakinya berjalan menuju tukang cabai, Vaaz menawar dengan Bahasa sunda dengan piawai, seperti orang sunda sungguhan. Tania tersenyum melihatnya, Vaaz sudah seperti ibu ibu yang pandai menawar barang barang kebanyakan.
Ada ya, cowok tampan tapi pendiam yang pandai sekali menawar barang seperti ibu ibu?
“Eh, ngapain senyum senyum?” Vaaz melihat Tania aneh. Tania menggeleng, “Sejak kapan bisa Bahasa sunda?” Vaaz mengambil kembalian dari tukang cabai itu, bilang terimakasih dengan Bahasa sunda. “Ibu kalau di rumah marah marahnya pake Bahasa daerah. Percaya nggak? Nanti kalau main ke rumah kita coba.”
“Kok gitu Vaaz?” Vaaz mengangkat bahu, bilang tidak tahu. Kakinya terus berjalan menyusuri pasar yang semakin hari semakin ramai.
“Tau nggak, Tan. Dulu tempat ini nggak terurus banget, biasa dipakai untuk hal hal yang negatif, anak anak sekolah kalo pulang, pulangnya ke sini, ya entah apa yang mereka lakuin. Sampe ada kakek kakek tua yang berkali kali suka teriak teriak nggak jelas, intinya kakek itu bilang, kalau sebenarnya ini tempat nggak boleh di lakuin buat hal hal yang negatif, soalnya makhluk halusnya pada marah dan nggak terima.”
Tania berjalan sambil menatap wajah Vaaz, sesekali tertabrak dengan orang yang berlalu lalang karena nampaknya wajah Vaaz dan ceritanya kali ini benar benar menarik, tidak mengada ngada. Mendadak atmosfir di sini menjadi seram, Tania memegang tangan Vaaz, takut.
“Meski kakek itu udah sering ngingetin, tetep aja namanya anak muda, tau apa yang membuat mereka nggak berani ke sini lagi? Makhluk halusnya nampakin diri.”
Tania memegang erat tangan Vaaz, Vaaz malah melanjutkan cerita dan terus berjalan mencari tukang ikan. “Kata anak muda si, makhluk halusnya serem serem, ada yang tanpa kepala, ada yang tanpa muka, pokoknya macem macem.”
Tania berhenti berjalan, Vaaz juga ikut terhenti. Kenapa?
“Takut? Sekarang mah udah nggak ada, liat aja tuh isinya manusia semua, kan? Lets go! Daftar belanjaan masih banyak.” Vaaz menuntun Tania, mengenggam tangannya menyusuri pasar. Berjalan mencari langganan ikan yang biasa dibeli Ibunya.
“Nah, itu dia.” Vaaz mulai melihat lihat ikan, sesekali bertanya. Ternyata kalau di lihat lihat sepertinya mereka sangat akrab, si tukang ikan itu sungguh pemurah padahal usianya sudah lanjut, sesekali Vaaz tertawa entah dia mentertawakan apa, mereka juga lagi lagi menggunakan Bahasa sunda. Mana Tania ngerti.
Tatapan laki laki itu tertuju pada perempuan paruh baya yang sedang terdiam, barang belanjaannya banyak, gelagatnya seperti mencari seseorang untuk dimintai bantuan.
“Eh, bentar.” Vaaz berhenti dari langkah kakinya, meletakkan kantung plastik di bawah, menengok ke belakang dan menghampiri orang di sana. “Tunggu situ ya, Tan. Awas belanjaannya dicuri.”
“Mau ke mana, sih?” Tania bertanya bingung, Vaaz malah menghampiri Tania lagi sambil memberikan dompet berisi uang, kemudian berbisik. “Ada misi penting.” Misi penting apa maksudnya?
Dari kejauhan Vaaz mendekati wanita yang usianya sudah paruh baya, berbicara sesuatu, lantas langsung mengangkut barang belanjaannya yang lumayan banyak dan terlihat berat. Tania yang melihatnya tersenyum.
Vaaz memang suka berantem, memang suka sekali mencari masalah, dan yang terakhir Vaaz ikut salah satu geng berkelas di Jakarta, itu baru katanya, dan Tania urung menanyakan hal itu, masih menunggu waktu yang tepat mengenai waktu.
Tapi di balik itu semua tersimpan banyak sekali jiwa jiwa sosial yang tinggi, yang jelas itu jadi bukan seperti Vaaz sungguhan. Kalau Tania boleh jujur, saat bersama Vaaz di luar sekolah, seperti sedang jalan dengan orang baik, bukan seperti Vaaz yang suka sekali berantem di sekolah, mencari keributan dengan orang yang mengganggunya, bukan, sungguh berbeda.
Saat berada di luar, Vaaz sungguh menghormati orang orang disekelilingnya. Berbeda saat di sekolah. Mungkin, berada di luar membuat Vaaz masih dihargai dengan orang orang di sekitar, namun saat ada di sekolah, semuanya hilang, semuanya sudah tidak ada yang menghargai Vaaz karena menganggap Vaaz terlalu memberontak, karena memang dia di cap sebagai anak yang begitu dan akan terus begitu, sehingga tidak ada kesempatan untuk dirinya berubah.
Tak lama Vaaz kembali dengan senyuman yang mengembang. “Dapat duit, lumayan buat jajan.” Vaaz menunjukkan pada Tania, tersenyum puas. Astaga, jadi karena duit?
“Masa? Itu bukannya uang kembalian dari tukang ikan?” Vaaz diam memikir, menggaruk ujung hidungnya yang tak gatal.
Tania tersenyum. “Nggak kok, uang kembalian ikan udah di taro di dompet.” Tania membuka dompet itu, nihil, adanya dua lembar uang serratus ribuan. Jelas jelas tadi Tania liat sendiri Vaaz masukin uang kembalian ke saku kirinya.
Vaaz jadi celingukan sendiri mencari uang kembalian, pura pura sebenarnya, Tania tahu, kok. Kenapa sudah berbuat baik harus malu dan tidak mengakui begitu? Bilang saja, tadi abis bantuin nenek nenek, kan masalahnya selesai, tidak perlu mencari uang kembalian yang sebenarnya sedang dipegang.
Tania mengerti kenapa Vaaz begitu, karena Vaaz selalu mendapat cap jelek dari orang orang sekitar, dia juga berpikir kalau Tania tidak akan percaya kalau tadi Vaaz habis bantu mengangkut belanjaan orang lain. Lagi lagi Tania tersenyum, Vaaz memang benar benar orang baik.
“Yaudahlah, habis ini kita beli sayur mayur abis itu baru makan di tempat kesukaan Ibu.” Vaaz berjalan meninggalkan Tania. Membawa barang belanjaannya sendiri tanpa perlu bantuan. “Vaaz.” Tania memanggil pelan.
Sekarang keduanya sudah berada di tukang sayur mayur, Vaaz memilih beberapa sawi hijau yang masih segar, lalu membayarnya.“Vaaz.” Tania memanggil pelan. Vaaz hanya menoleh, “Nggak ada yang salah kan, berusaha jadi orang baik?” Vaaz menatap Tania, menggeleng pelan.
Tania tersenyum. “Oh, ya, tadi tukang ikan bilang apa?”
“Oh, tukang ikannya lagi cari calon istri, katanya lo cocok sama dia, mau nggak?.” Tania yang mendengarnya tertawa lebar. Kenapa tertawa? “Sttt, jangan ketawa lebar lebar, nanti pedagang di sini pada suka lho.”
“Bagus dong.”
“Ih, apanya yang bagus? Justru lo dalam bencana kalau pedagang di sini pada suka, mereka jadiin lo kuli, kata Ibu bukan kata gue.” Tania yang mendengarnya cemberut, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Vaaz. Mana mungkin, Vaaz suka ngarang cerita.
“Jadi gimana… mau jadi calon istri?” Vaaz bertanya sambil matanya menyusuri tempat makan yang dimaksudnya tadi. “Oh, itu dia tempatnya.” Vaaz bergumam pelan, berjalan ke tempat yang lumayan ramai, duduk dan langsung memesan.
“Calon istri…siapa?” Tania bertanya bingung. Vaaz tersenyum, “Calon istri tukang ikan. Nanti lo jadi juragan ikan lho di pasar, terus jadi tambah pinter juga gara gara setiap hari makan ikan, gue setuju kok.” Tania yang mendengarnya hanya memutar bola mata dengan malas, kembali menikmati soto dengan nikmat.
Selesai makan mereka kembali ke parkiran, yang sekarang sedang dipikirkan Tania adalah bagaimana caranya membuat alasan tentang hari ini Tania tidak sekolah karena terlambat?
Keduanya sudah masuk di dalam bajaj, tadi Vaaz meletakkan barang belanjaannya di sebelahTania sebelum duduk di kursi kemudi. “Vaaz.” Tania memanggil pelan, Vaaz membetulkan kaca spion di atas kepalanya agar bias melihat wajah Tania.
“Emang bener Vaaz ikut geng, geng apa sih, emangnya?” Tania bertanya serius, wajahnya berubah. Vaaz tersenyum. Kok malah senyum?
“Geng apa? Geng bajaj?” Vaaz nyengir kuda, menatap Tania yang sekarang wajahnya terlipat.
“Serius, Vaaz!!” Tania jengkel, menarik napas dalam dalam. Capek ngomong sama Vaaz lama lama
“Nggak ada yang perlu dikhawatirkan Tania, semuanya akan tetap baik baik aja. Gue nggak ikut geng aja udah di cap jelek, gimana ikut geng? Lagian, gue janji sama lo, gue nggak akan ngelakuin sesuatu yang berbahaya, yang orang pikir kalau masuk geng itu pasti negatif.” Tania yang mendengarnya mengangguk pelan, meskipun sedikit ragu dengan janji Vaaz.
“Sekarang mau main ke rumah gue, nggak?” Tania yang mendengarnya melotot, “Ngapain?” Vaaz menghembuskan napasnya kasar. “Gue berubah pikiran, lo lebih cocok jadi calon istri tukang bajaj, makanya sekarang ketemu calon mertua dulu, dapet restu atau nggak.” Tania yang mendengarnya tertawa, menggeleng pelan. Kenapa Vaaz jadi drama begini?
Kalau dipikir pikir, Vaaz cocok juga jadi Bapak rumah tangga. Orang itu lihai dalam berbelanja, menawar barang dagangan, satu hal yang belum orang tahu, hatinya Vaaz lembut, dan hanya Tania yang baru merasakan.
Yang lainnya? hanya tau kalau Vaaz tukang berantem, membuat onar, dan pemalas.