SILENT MEMORIES

SILENT MEMORIES
Chapter 24 | 22.20 : Cerita itu Selesai



Setelah kejadian kemarin, Vaaz sudah tau semuanya karena memang Tania yang menceritakan.


Kalau Vaaz yang merasakan, mungkin ia sudah mati, kemarin dia bilang seperti itu. Beruntungnya ia memiliki teman yang kuat yang mampu menahan dan tidak melakukan hal hal yang negatif.


Hati Tania benar benar hancur. Sekarang ia berada di toko roti sedang istirahat dan satu pesan masuk dari Vaaz. Ingin membuka pesan itu tapi seseorang mengetuk ngetuk pintu.


Tania membukanya. Rasya?


"Kenapa?"


"Tan, boleh minta tolong, nggak? Ini ada pesenan roti lumayan banyak, tapi alamatnya gue nggak tahu." Rasya memberikan catatan alamatnya.


"Oh, ini deket sekolah Tania. Yaudah nanti kita ke sana. Tania ganti baju dulu, ya." Rasya tersenyum, menunggu Tania di bawah.


Semenjak toko ini dibuka, kalau ada pesanan yang minta untuk diantar, maka dengan senang hati Tania yang kadang mengantarnya. Lagipula Rasya pegawai baru dan belum mengenal jalan di sini.


Lima menit Tania turun. Rasya sudah siap dengan empat kotak roti, ia memberikannya pada Tania, sementara Rasya yang akan membawa motor menuju ke sana.


Sepuluh menit sampai, ternyata tempatnya masuk ke gang gang kecil, mau tidak mau motor tidak bisa masuk dan Tania harus mengantarnya sendiri.


Berjalan menyusuri gang gang kecil membuat Tania bingung sendiri, ia juga sudah melangkah jauh. Merasa ganjil Tania balik badan, dan saat itu juga seseorang memukulnya dari belakang sampai pingsan, tubuhnya digotong seseorang.


Setengah jam pingsan, Tania langsung siuman, ia mengerjap beberapa kali, berpikir ia berada di mana. Tangan dan kakinya diikat, mulutnya juga dilakban agar tidak mengeluarkan suara.


Tania menangis, air matanya tumpah untuk yang kesekian kali. Andai Vaaz ada di sini.


Sebenarnya Tania berada di mana? Tempatnya kumuh sekali. Ia meronta ronta minta dilepaskan. Dan seseorang yang paling Tania benci akhirnya datang.


"Tania... Kenalin, ini om. Om ini pacarnya Ibu kamu." Mendengar itu Tania langsung menangis, memberontak.


"Sttt, jangan berontak dong. Santai sayang... Om nggak jahat, kok."


"Kemarin kamu mau coba bunuh om, ya? Sebelum kamu bunuh saya! Saya yang bunuh kamu duluan!" Orang itu mengeluarkan pistol dari sakunya, menempelkannya pada kepala Tania.


Ya Tuhan, andai Ibu melihat ini.


Tania menggeleng, memberontak, tidak tahu harus berbuat apa.


Saat orang itu siap menembak, seseorang masuk, menghentikan niatnya untuk menembak Tania, kemudian berbincang.


Sementara itu Vaaz begitu cemas saat ponsel Tania tidak aktif. Dan Rasya juga masih menunggu di depan gang sana.


Gemetar Vaaz menelpon Zidan di seberang sana, meminta bantuan. Tak lama Zidan menghampiri Vaaz di toko roti, berbincang tentang kecemasannya mengenai Tania.


"Trus gue harus gimana nih? Tania nggak ada kabar."


"Sabar, Vaaz, ini gue kabarin temen gue dulu."


Vaaz sudah frustasi, tak lama Rasya datang. Vaaz langsung menghampirinya. "Tania di mana?"


"Gue kira Tania udah pulang, tadi ikut gue nganter roti-"


"Maksud Lo apaan, hah!" Vaaz langsung menarik kerah baju Rasya. Zidan yang melihatnya langsung melerai.


"Vaaz! Kebiasaan Lo nyelesain apa apa pake kekerasan!"


"Duduk, ceritain sebenarnya ada apa." Napas Vaaz tersengal, takut sesuatu terjadi pada Tania.


"Tadi ceritanya ada telpon masuk mesen roti empat kotak. Karena gue nggak tau alamatnya di mana, gue ajak Tania, soalnya dia tau alamatnya di mana. Pas gue nganterin, ternyata masuk gang tempatnya, jadi yang nganter roti dia doang, gue tunggu depan. Tapi udah lama kok Tania nggak balik balik, gue juga sempet masuk ke gang ga tapi emang sepi banget." Rasya panjang lebar menceritakan.


"Nggak salah lagi, ini pasti ulah orang itu. Lo inget, kan? Rayna juga pernah diculik kaya gini sebelum dia meninggal."


Vaaz dan Zidan segera menuju lokasi yang mereka tahu.


Pelaku dari kasus Rayna dan Abangnya Zidan belum ditemukan, sementara sekarang ada kasus baru yang jelas jelas mengancam nyawanya Tania.


Ya Tuhan, Vaaz harus berbuat apa? Haruskah ia juga kehilangan Tania?


Lokasi pertama nihil, tidak ada siapapun. Vaaz mulai cemas. Lanjut mereka ke lokasi kedua, sama nihilnya, seperti tahu Tania akan dicari, mereka selalu mencari tempat baru yang tersembunyi, seperti dulu Rayna


diculik.


Vaaz mulai frustasi, menepikan motornya, menghela napas, bingung harus berbuat apa.


Sementara Zidan sibuk menelpon teman temannya meminta bantuan.


"Ayo Vaaz, ikutin gue." Zidan menunjukkan ke mana jalan yang dimaksud temannya, orang itu memberi instruksi lewat ponselnya.


Dua puluh menit perjalanan akhirnya sampai. "Kata temen gue, tempatnya di sana. Lo masuk duluan, kalo emang bener ada, Lo langsung telpon gue, nanti gue baru telpon polisi." Mendengar strategi itu Vaaz mengangguk. Ia berjalan menuju rumah itu dengan tubuh gemetar. Tangannya mengetik nomor Zidan.


BRAKK!!!


Pintu terbuka, matanya terbelalak, ia segera menekan tombol hijau untuk menelpon Zidan. Air matanya hampir tumpah melihat kondisi Tania. Bajunya sudah sobek, wajah yang semula cantik kini kotor berdebu, sudut bibirnya lebam dan keningnya berdarah, orang itu setengah sadar melihat Vaaz datang dan tersenyum. Tangan dan kakinya diikat, sementara mulutnya dilakban.


Suasana sepi, Vaaz memanfaatkannya untuk melepaskan Tania dari sini.


Tapi Vaaz tiba tiba dari belakang ada yang memukul, kemudian menyeretnya dan menonjol Vaaz beberapa kali.


Dilihatnya Tania terpejam, sementara Vaaz berusaha melihat dengan jelas siapa orang yang melukainya barusan. Ia tersentak, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Ternyata, seseorang yang berbulan bulan ini Vaaz cari untuk mengungkapkan kematian Rayna, juga orang yang sama yang telah melukai Tania dan memiliki hubungan khusus dengan Ibunya Tania. Orang ini lah sumber dari masalah. Teringat dua jam yang lalu, Vaaz memberikan foto orang ini pada Tania lewat ponselnya, tapi Tania belum melihatnya.


Ya Tuhan, sebenarnya ada rencana apa di balik ini semua?


Vaaz bangkit berdiri, menatap orang itu tajam, balas memukul orang itu beberapa kali, suasana jadi runyam, masing masing tidak mau kalah, dan disaat yang genting seperti ini, Vaaz sekali lagi menelpon Zidan agar segera ia menghubungi polisi.


"Ternyata Lo yang bunuh Rayna! Sekarang Lo mau bunuh temen gue juga! Dan Lo emang anjing, udah berani ngerebut Ibunya Tania dari dia!!" Vaaz naik pitam, langsung menonjok orang di depannya. Orang itu mundur beberapa langkah, sudut bibirnya lebam. Tak lama kerumunan orang datang, menghajar Vaaz sampai orang itu tidak sadarkan diri.


Vaaz mengerjap, berpikir ia ada di mana. Vaaz menarik napas dalam dalam, ternyata ia berada di lokasi yang berbeda. Dalam waktu beberapa jam komplotan itu berhasil membawanya entah kemana.


Tania, di mana Tania sekarang?


"Woy! Lepasin gue atau gue laporin polisi! Siapapun!"


Tangan dan kakinya Vaaz terikat, ia berteriak meronta ronta minta dilepaskan. Seseorang yang telah membunuh Rayna dan melukai Tania datang dihadapan Vaaz, ruangan yang gelap membuat Vaaz mengingat wajah pembunuh itu.


"Vaazhera...Vaazhera...Lo terjebak sama pergaulan Lo sendiri. Lo salah milih pergaulan. Lo mati ditangan temen temen Lo sendiri, Lo mati di lingkungan Lo sendiri, bodoh!!"


"Sampe kapan pun gue nggak pernah sudi bergaul di lingkungan Lo! Gue terpaksa bergaul sama geng Lo cuma buat ngungkap kematian Rayna! Tapi ternyata Lo brengsek juga, berani ngerebut istri orang!"


Satu pukulan mendarat di pipi Vaaz, orang itu mencengkram pipi Vaaz, mendekatkan wajahnya. "Asal Lo tau, gue otak dibalik dalang semua rencana. Dari mulai Zidan, Rayna, sampe temen Lo Tania."


"Udah tua Lo nggak punya otak!" Vaaz naik pitam, satu pukulan lagi mendarat di pipinya.


"Kalo sampe Lo berani macem macemin Tania, abis Lo sama gue!"


Ya Tuhan, kalau sampai terjadi apa apa dengan Tania bagaimana? Kalau anak anak gengnya macam macam dengan Tania bagaimana? Mana Zidan yang katanya ingin datang? Mana polisi yang katanya ingin membantu Vaaz?


Berjam jam Vaaz didiamkan tanpa kejelasan apapun. Seseorang itu datang, menawarkan suatu perjanjian.


"Lo bisa bebas kalo Lo nggak akan bilang polisi dan lapor polisi! Tapi gue nggak bisa jamin keselamatan Lo berdua kalo berhari hari Lo ada di sini dan lama lama busuk! Polisi juga nggak akan bisa nemuin lo di sini!"


Vaaz menunduk, menggeleng mantap kalau ia yakin polisi akan menemukannya di sini. Serta Vaaz yakin, kalau Tuhan sedang menjaga Tania di mana pun ia berada.


Rasa rasanya ini sudah melewati satu hari, tapi belum ada tanda tanda pertolongan dari Zidan atau pun kepolisian.


Vaaz di sini benar benar tidak diberi makan maupun minum sedikit pun, benar benar penyiksaan.


Mata dan ujung bibirnya lebam membiru, wajahnya kotor, seseorang menepuk nepuk pipinya yang kotor berdebu. "Vaaz bangun! Vaaz! Waktu kita nggak banyak!" Zidan dengan kesalnya menepuk pipi Vaaz dengan keras. Orang itu mengerjap beberapa kali. Meludahi Zidan dengan kesal. Orang itu cepat menghindar. "Gue Zidan bodoh!"


"Lo kemana aja si! Lo-"


"Nggak usah berdebat sekarang, Vaaz! Lo tau nggak Lo dibawa kabur sama orang sialan itu? Jadi sekarang gini rencananya, dengerin gue. Gue nyamar jadi orang orang komplotan yang mukulin Lo, di depan udah ada polisi, sekarang Lo cari Tania, bawa kabur dia." Zidan menjelaskan sambil membuka ikatan tangan Vaaz. Mendengar penjelasan Zidan Vaaz mengangguk paham, berjalan mencari Tania.


Ruangan ini benar benar luas, gelap dan saat mengeluarkan suara maka akan bergema. Bagaimana ia akan melihat Tania kalau ruangannya benar benar gelap?


Vaaz menyusuri setiap tempat, firasatnya Tania tidak berada di sini. Vaaz mengintip satu ruangan yang isinya ada anak anak geng juga kayaknya di dalam sana ada Tania.


Vaaz menggeser pintu yang tidak tertutup itu sedikit, mengintipnya. Benar Ya Tuhan, Tania sedang terlelap, tubuhnya terselimuti oleh kain, wajahnya kotor, dan lebam membiru. Vaaz duduk di samping pintu, berpikir ia akan melakukan apa.


Kalau di lihat lihat, orang yang berada di sekeliling Tania terlelap sekali. Jarak dari Tania juga lumayan jauh. Apa Vaaz nekat saja? Mungkin ini jalan satu satunya.


Vaaz gemetar membuka pintu, menggigit bibir karena takut. Menghampiri Tania yang terlelap. Pelan pelan membuka selimut yang membungkus tubuhnya. Eh, Tania tidak diikat? Vaaz membuka selimut itu, menepuk nepuk pelan pipinya agar ia bangun.


"Tania, ini gue Vaaz, bangun! Ayo kita kabur dari sini! Lo harus bangun." Vaaz membisikkan kata kata itu di kuping Tania.


Tania tidak bangun, Vaaz memakaikan jaket miliknya pada Tania yang bajunya sudah sobek sobek, pasti ulah orang sialan itu.


Vaaz mengangkat tubuh Tania, membawanya keluar, saat berada di ambang pintu, seseorang memanggilnya. "Woy!" Vaaz menoleh, "Lo Vaaz?" Vaaz hanya mengangguk.


"Yaudah sana, hati hati, gue di sini cuma jagain temen Lo doang nggak ada maksud apapun." Vaaz yang mendengarnya melongo, kalau begitu kenapa ia harus gemetar dan takut?


"Lo siapa?" Vaaz bertanya. "Anak buahnya Zidan." Mendengar jawaban orang itu Vaaz tersenyum simpul. Keren juga Zidan punya anak buah. Vaaz sampe kalah, kan.


Vaaz sesegera mungkin mencari jalan keluar sambil menggendong Tania. Sampai di halaman ia celingukan. Meletakkan Tania dipinggiran. Berpikir sejenak, Kabur pake apa?


Zidan yang penampilan sudah seperti perampok melempari Vaaz dengan kunci mobil. "Cepet Lo kabur dari sini, nanti anak buah gue bilang kalo Lo berdua udah kabur. Biar semua komplotannya keluar."


"Yah, gue belum pernah nyetir lagi."


"Bodoh! Gue nggak mau tau cepetan Lo kabur!"


"Mobilnya di mana?"


"Parkiran luar. Yuk, gue anter." Zidan menggendong Tania, Vaaz berjalan di belakang Zidan. Dalam suasana seperti ini entah harus bagaimana. Jantungan kah? Seperti menonton film film yang dikejar komplotan, dan sekarang Vaaz merasakannya.


"Buka mobilnya." Vaaz membuka pintu mobil, Zidan meletakkan Tania di samping kemudi. Vaaz melongo. "Cepetan, Vaaz!" Zidan menggertak Vaaz yang masih pelanga pelongo.


Vaaz langsung masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin. Satu tembakan melambung di udara. Disusul tembakan yang lainnya, Vaaz menarik napas dalam dalam, memberanikan diri menggas mobil yang sekalipun ia belum pernah membawa kendaraan roda empat itu.


Jarak sepuluh meter masih terlihat dari kaca mobil, Vaaz malah berhenti, suasana terlihat runyam, beberapa polisi terlihat memadati. Satu tembakan mendarat lagi, seseorang jatuh dan Vaaz mulai meng-gas mobilnya saat situasi tidak terkendali.


Sampai dijalan besar Vaaz celingukan. Ke mana? Vaaz tidak tahu ini di mana.


Ia gemetar mencari ponsel Zidan, siapa tahu tertinggal. Benar. Ponselnya ia letakkan di bangku belakang mobil. Vaaz dengan gemetar membuka google maps, agar bisa menunjukkan jalan ke rumah Tania.


Ia melihat Tania yang terlelap, Vaaz harus bilang apa sama orangtuanya?


Sekarang jam dua belas malam, ternyata Vaaz disekap hampir dua hari. Ia menguap, ternyata mengemudi bukan hal yang susah untuk Vaaz. Hanya bermodal nekat ia bisa membawa Tania kabur dari penjahat itu.


Ya, walaupun ia gemetar dan takut sesuatu terjadi pada mobilnya Zidan.


Perjalanan empat puluh menit, ternyata komplotan itu membawa pergi jauh entah kemana.


Masuk ke dalam gang rumah Tania, suasananya ramai, beberapa mobil polisi ikut memadati. Vaaz memarkirkan mobilnya di halaman rumah Tania, beberapa orang celingukan, menyelidik, langsung menghampiri mobilnya.


"Tania, bangun. Udah sampe rumah Lo nih." Vaaz menepuk pelan pipi Tania.


Vaaz menarik napas dalam dalam. "Tan, kalo sesuatu terjadi, gue yang akan tanggung jawab. Gue yang akan bilang kalo gue penyebab Lo kaya gini." Vaaz membuka pintu mobil, berjalan menggendong Tania.


Semua orang yang melihat hanya bisa diam, bergumam membicarakan. Saat masuk ke rumah, ternyata Ibunya Tania sedang menangis sesenggukan. Vaaz langsung meletakkan Tania di sofa, Ibunya langsung memeluk hangat Tania. Sementara Ibunya Vaaz juga hadir di sini, memeluk Vaaz yang matanya berkaca kaca, wajahnya kotor dan lebam membiru.


Vaaz duduk dibangku luar, bersandar di sofa, Ibunya Vaaz memberikan minum, sesekali mengelap air matanya karena haru melihat Vaaz bisa pulang meski harus babak belur seperti ini.


Vaaz menghampiri Tania yang sudah siuman, orang itu mengerjap beberapa kali sebelum menyadari ia sudah berada di rumah sendiri. Menangis menatap Vaaz yang terluka, menangis melihat Ibunya yang juga ikut mengeluarkan air mata.


"Siapa yang buat kamu kaya gini Tania?" Ibunya bertanya lembut, menatap manik mata Tania penuh selidik. Menangis.


Tania memejamkan matanya, menangis. "Maaf Tante, saya dan geng saya yang udah buat Tania seperti ini. Saya bener bener minta maaf." Tania yang mendengarnya berhenti menangis, menatap Vaaz dengan penuh maksud. Kenapa mengaku padahal bukan pelakunya? Bahwa mereka sama sama korban.


Tania menggeleng, menahan tangan Ibunya yang ingin berdiri menghampiri Vaaz. Ibunya menangkis tangan Tania, langsung berdiri mengancam Vaaz. "Jadi karena kamu anak saya kaya gini, hah? Kamu tau nggak perasaan saya gimana melihat kondisi anak perempuan saya seperti ini? Kamu ngerti nggak, kamu itu penghancur anak saya!!"


Ibunya Vaaz maju, tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu. "Harusnya kamu sadar, anak kita itu korban, korban penculikan! Liat wajahnya Vaaz. Biru."


"Kalo anak kamu udah mau mengaku perbuatannya, lantas apa lagi yang harus dipertimbangkan? Saya nggak mau tahu, bawa orang ini ke kantor polisi." Sementara Ayahnya Tania berusaha menenangkan Ibunya yang sebentar lagi mungkin bisa kalap dengan amarahnya.


Tania menangis, berusaha menjelaskan. "Bu! Aku kayak gini-"


"Gara gara saya. Saya ngaku. Saya mohon maaf Tania nggak bisa jaga kamu, nggak bisa jadi temen yang baik buat kamu." Vaaz gemetar mengatakannya.


Sementara di depan matanya sendiri, Ibunya Tania langsung memeluk Tania dengan hangat, di depan mata Vaaz. Akhirnya Vaaz bisa tersenyum lega. Kemudian polisi langsung membawa Vaaz keluar dari rumah Tania. Vaaz balik badan. Tania masih menangis.


Sebelum benar benar pergi, Vaaz menoleh ke belakang, tersenyum pada Tania yang sedang dicium oleh Ibunya, Vaaz yang melihat mengangkat jempol menghadap Tania, wajahnya terlihat bahagia.


Tania masih berada dalam dekapan Ibunya, Tania langsung berlari mengejar Vaaz yang sudah masuk ke dalam mobil. Vaaz membuka kaca mobil sebelum polisi pergi membawanya.


"Ken-apa Va-az la-kuin it-u?" Susah payah Tania untuk berbicara, tangisnya pecah.


"Denger Tania. Tiga hari dari sekarang kita ketemuan di bandara, ya. Nanti gue ceritain semuanya." Vaaz tersenyum mengatakan itu pada Tania, sekali lagi mengelap air mata Tania yang tak berhenti. "Sttt, udah jangan nangis lagi." Vaaz menenangkan.


Setelah itu polisi mulai menghidupkan mesin. "Kita ketemu di bandara, ya." Vaaz sekali lagi tersenyum, menutup kaca dan polisi itu mulai meng-gas mobilnya. Tania yang menyaksikan menangis sampai terduduk di bawah. Lima detik mobil Vaaz menghilang di kelokan.


Seseorang dari belakang memeluknya hangat. Ibunya Vaaz. "Maafin anak Ibu ya sayang. Kamu seseorang yang berhasil merubah Vaaz menjadi orang yang lebih baik. Kamu perempuan baik. Ibu nggak akan percaya kalau Vaaz berani melakukan hal itu sama kamu. Vaaz itu sayaaang banget sama Tania. " Ibunya Vaaz mencium kening Tania, sekali lagi memeluk Tania dengan hangat. Mungkin pertemuan ini menjadi pertemuan yang terakhir kali untuk Tania bertemu dengan Ibunya Vaaz. Seorang Ibu yang baik hati.


Tania mengangguk, balas memeluk Ibunya Vaaz.


Setelah itu Ibunya Vaaz pamit pulang, akan menyusul Vaaz dikantor polisi.