
Ditengah tengah seperti ini, Tania selalu mengharapkan Al datang. Namun sepertinya Tuhan enggan mempertemukan Al dengan Tania.
Malam semakin larut, udaranya juga semakin dingin karena angin bertiup kencang. Tania mengeratkan mantelnya.
Susah payah mengingat wajah Al yang perlahan menghilang.
--
Malam hari ini, sengaja Tania tidak ikut makan malam bersama di rumah, alasannya masih sama, Tania enggan berbicara dengan anggota keluarga, Tania butuh waktu untuk melupakan semuanya. Maka malam itu ia bermain ke toko roti, membantu dua karyawan Ayah yang Tania sudah anggap Abang sendiri seperti Mas Fahri.
Mereka juga baik sama Tania, sering menceritakan sesuatu, bergurau, saling meledek.
Tania berdiri melayani pembeli, menjadi kasir. Dua karyawan Ayah yang lain sibuk mengadoni adonan dan yang satu lagi sibuk bolak balik ke oven, mengangkat roti roti yang baru matang.
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam, semua orang mengantri dengan tertib, salah seorang memberikan tangan, ingin bersalaman. Tania mengernyitkan dahinya, mendongak. Wajahnya asing, orang itu tersenyum ramah. “Rasya” Kemudian bergumam pelan.
“Rasya? Seriusan Rasya?” Tania menatap orang itu lekat lekat. Tania menjauh dari kasir, mendekat pada Rasya.
Matanya berkaca kaca, sekali lagi menatap Rasya penuh haru. Setidaknya kalau Tuhan tidak mengizinkannya bertemu dengan Al, maka dengan Rasya pun tidak masalah.
Orang itu langsung memeluk Tania, mengusap rambutnya.
Namanya Arrasya, dipanggil Rasya. Usianya beda dua tahun dari Tania dan tiga tahun dengan Al. Dulu waktu kecil, Al sering membuat nangis Rasya dengan Al yang lebih memilih Tania untuk diajak main..
Mereka duduk di depan kedai, menceritakan banyak hal.
“Kamu tau alamat toko?” Tania mengalihkan pembicaraan. “Tau, kan aku punya kontaknya Mas Fahri, minggu kemarin juga aku ke toko, tapi kamu nggak ada.”
Oh, Tania baru ingat, minggu kemarin ia pergi dengan Vaaz ke tempat yang paling indah.
“Aku lagi cari kerja di sini, buat tambahan biaya kuiah. Kemarin sih, Ayah kamu nawarin, katanya Ayah mau buka cabang baru? Aku suruh jadi karyawannya.”
“Ayah mau buka cabang baru? Tania belum tahu masalah itu.” Untuk masalah ini Tania belum tahu sama sekali, biasanya kalau apa apa Ayah pasti cerita, tapi kenapa sekarang malah tidak?
“kayaknya aku bakal terima tawaran kerja Ayah kamu untuk sementara, nanti mobil itu mau aku sewain ke temen aku yang lagi nyari kerja juga.” Tania mengangguk.
Mendengar cerita Rasya membuat Tania lega, sekarang Al sedang kuliah di Negeri Jiran. Rasya juga menawarkan nomor teleponnya Al untuk Tania hubungi, tapi Tania menolak. Entahlah, Tania tidak ingin untuk bertemu Al disaat kondisinya seperti ini.
Dan setelah berbincang banyak hal diselingi canda tawa, Rasya pamit pulang karena sudah malam. Toko roti juga sudah ingin ditutup.
Tania pun pulang setelah membantu merapihkan toko.
Saat membuka pintu rumah yang tidak di kunci, Tania kaget Ibu langsung menarik lengannya dan mendorong Tania sampai terjatuh. “Kamu ngomong apa sama laki-laki itu, hah?”
“Apa? Ibu nggak suka kalo aku maki maki pacar ibu, hah? Ibu tuh nyadar, Ibu udah punya suami dan anak dua! Ibu nggak pantes bersikap kayak gitu!” Tania berteriak, menitikkan air mata, menatap mata Ibunya tajam. Satu tamparan mendarat di pipinya, seumur hidup Tania baru merasakan sakitnya pukulan seorang Ibu yang sedang dalam amarah.
“Kamu tahu apa tentang Ibu, hah? Kamu biasa ya, buka buka pesan Ibu sama orang itu!” Ibunya mencengkram tangan Tania, Tania sekuat tenaga melepaskannya. “Kalau Ibu berani deket deket sama laki laki brengsek itu, aku jamin Ayah pasti tau kelakuan buruk Ibu.” Tania mengancam.
Ibunya berjalan cepat ke dapur, napasnya tersengal, air matanya terus mengalir, sungguh tenggorokannya juga tercekat, sakit sekali, ingin rasanya Tania berteriak. Ibu datang dengan membawa pisau, menunjukkan pisau itu ke arah Tania. “Berani kamu bilang hal ini ke Ayah, hah?” pisau itu seakan ingin menikam Tania, runcingnya yang tajam membuat Tania menangis, berada dalam tekanan seperti ini lebih baik kalau Tania mati saja.
Tania mendorong Ibunya kuat, pisau itu terlempar ke lantai, Ibunya dengan cepat menjambak rambut panjang Tania, mengomelinya dengan berbagai macam kata yang tidak enak di dengar. Malam itu, habis badan Tania oleh pukulan, semuanya memar.
Hari itu juga Ibu mengusir Tania dari rumah malam hari, mengeluarkan baju baju Tania dari lemari. Ingin rasanya Tania berteriak.
Sungguh malam ini malam yang paling menyedihkan, Tania kira semuanya akan terobati dan Ibunya akan meminta maaf, nihil, Ibu lebih memilih laki laki brengsek itu dan jelas lebih mencintai laki laki itu.
Badan sakit karena memar oleh pukulan Ibu, tapi itu tak sebanding dengan rasa sakit yang ada di hati, rasanya hati ini sepai oleh luka luka yang diberikan Ibu.
Tania berjalan keluar rumah, entah akan pergi ke mana. Andai Ayah tau tentang ini, andai Mas Fahri tau tentang ini, pasti Tania tidak akan merasa sendiri. Semuanya serba salah.
Dengan tujuan yang entah ke mana, Tania mendapat telepon masuk dari seseorang di seberang sana. Suaranya Tania kenal, kenal sekali, itu suara Vaaz.
Vaaz menjemput Tania di toko roti, matanya terlihat sembab, sepertinya Tania sedang tidak baik baik saja. Tapi Vaaz urung bertanya sebelum sampai di kedai kopi. Bukankah tempat itu tempat favorit Tania?
“Tan."
Tania tidak menjawab, menunduk ke bawah. Seolah raganya tidak berada di sini, dan hari ini juga wajah Tania pucat pasi. Ada apa dengan Tania?
Suasana di kedai kopi entah kenapa sedang sepi, hanya ada satu orang anak mahasiswa yang sedang membuka laptopnya ditemani secangkir kopi. Vaaz bangkit berdiri meninggalkan Tania, kemudian kembali lagi membawa sebuah gitar, bernyanyi lagu “Count On Me” milik Bruno Mars.
Suara Vaaz khas sekali, orang itu mencoba mengibur Tania dengan lagu yang memiliki arti. Setelah Vaaz selesai bernyanyi, Tania memeluk Vaaz erat, menangis dalam pelukannya sampai tersedu sedu. Ya Tuhan, tidak pernah Vaaz melihat Tania dalam kondisi seperti ini. Sebenarnya Tania kenapa?
Vaaz mencoba menenangkan Tania, mengelus punggungnya, orang itu tidak mau melepas pelukannya dari Vaaz, dan akhirnya Vaaz balas memeluk Tania, hatinya ikut hancur bersama dengan pendirian Tania yang goyah, ia terduduk di bawah, Vaaz susah payah menahan tubuh Tania agar tidak terjatuh, tapi tubuhnya seakan tidak memiliki tulang, lumpuh layu.
“Cerita, lo kenapa?” Tania menggeleng. Menurutnya pelukan dari Vaaz sudah cukup membuatnya tenang.
Tania memegang tangan Vaaz, bergumam di sela sela isak tangisnya. “Jangan tinggalin Tania sendiri.” Tania menatap wajah Vaaz sambil menitikkan air mata. Vaaz mengangguk pelan.
Menurutnya, kalimat itu cukup untuk memberi tahu kalau Tania sedang tidak baik baik saja, tapi Vaaz cukup pintar dalam menangani Tania yang sedang seperti ini, ia bahkan tidak memaksa Tania untuk bercerita, mungkin nanti, saat semuanya sudah membaik. Dan Vaaz harus tahu, sepertinya keadaan Tania tidak akan membaik.
Ya Tuhan, sepertinya firasat akan kehilangan Tania benar benar akan terjadi, memang tubuh Tania masih di sini, tapi kenapa Vaaz tidak merasa Tania ada di sini. Ke mana Tania yang dulu sangat ceria?