
"Karena.. Jika ingin masuk harus menggunakan batu pengenal yang memperbolehkan masuk ke desa, atau tidak menghadap ke pemimpin desa (Kage)" Jelas penjaga tersebut
"Em.. batu ini yang paman maksud?" ucap Miyuki memperlihat kan Batu yang terlihat seperti lencena
"Eh.." terkejut penjaga
"Ya itu batu yang paman maksud, kamu dapat dari mana" ucap penjaga tersebut
"Oo... ini aku dapat dari kakak, katanya mungkin aku akan memerlukannya" ucap Miyuki dengan polosnya
"oh.. jika begitu kau boleh masuk" ucap penjaga tersebut dengan tersenyum
"Benarkah?" tanya Miyuki senang
"Tentu, silahkan. Hati hati ya" ucap penjaga dan diangguki oleh Miyuki. Kemudian Miyuki berlalu pergi sambil melambaikan tangan
"Kasihan tak ada yang menjaga nya" batin penjaga tersebut yang melihat Miyuki pergi menjauh
Kini Miyuki jalan jalan di pasar membeli permen dan makanan manis yang ia suka, setelah nya ia pergi kesebuah taman. Namun langkahnya terhenti ketika menatap Bocah yang lebih tua darinya, bocah tersebut berambut merah namun satu yang menarik perhatiannya, didalam diri bocah tersebut ia melihat monster (Bijuu) yang mengerikan. Membuat Zein yang ada dipikiran Miyuki menyuruh nya untuk pergi dari sana, Namun Miyuki hanya diam saja. Ia diam menatap bocah tersebut
"Kenapa kau diam saja Miyu, mau harus pergi" telepati dari Zein
"Tidak" Telepati Miyuki
"Kenapa? jika kau tak pergi itu akan berbahaya. Monster (Bijuu) itu masih belum dapat bocah itu kendalikan, bagaimana jika kamu terluka karenanya" Telepati Zein
Namun Miyuki masih saja diam, ia menatap bocah lelaki tersebut dengan sedih karena yang ia lihat didepan matanya membuat nya teringat akan temannya dulu, Naruto.
Walau ia tak tahu Naruto memiliki monster (Bijuu) didalam dirinya tapi posisi bocah didepannya itu sama dengan Naruto, Teman dari kakak sepupunya yang sangat berarti baginya
Posisi ketika semua orang menghindarinya, menghinanya, menjelek jelekkan dirinya, ia ingat semua itu. Terlebih ia pernah merasakannya
Ia berjalan mendekat membuat Zein tak habis pikir dengan jalan pikir Miyuki.
Miyuki mendekati bocah bersurai merah tersebut yang tengah diolok olok oleh bocah bocah lainnya
"Hentikan!" pekik Miyuki membuat bocah bocah tersebut menatapnya
"Apa yang kalian lakukan" ucap Miyuki dengan membantu bocah bersurai merah berdiri
"Siapa kau! Jangann ikut campur urusan kami" ucap salah satu bocah pembully
"tadinya aku tak ingin ikut campur, tapi kalian sudah kelewatan!" ucap Miyuki penuh penekanan
"Lalu kau ingin melakukan apa heh?!" tantang bocah pembully tersebut
"oo.. kalian ingin ku bakar" ucap Miyuki dengan memperlihatkan api di tangannya membuat bocah bocah pembully pergi terbirit birit karena tak ingin dibakar
"apa kau tak apa?" tanya Miyuki menatap bocah bersurai merah
"pergi kau, kau pasti ingin mengolok olok diriku kan" ucap bocah tersebut menatap Miyuki dengan tajam
"eh.. tidak, untuk apa aku meng-olok diri mu" ucap Miyuki bingung
"bohong!"
"Tak perlu membantuku nanti ujung ujung nya kau membully ku dan...."
"Dengar! aku memiliki teman seperti mu, dia diolok, di benci, di hina. Namun ia masih mempertahankan senyum bodoh di wajah nya, ia tak pernah melihatkan kesedihannya kepada siapa pun. Yang selalu ia lihat kan hanya senyum bodoh penuh keceriaan" Miyuki menarik napas dan kembali menjelaskan membiarkan Bocah didepannya mendengarkan ceritanya
"Satu hal yang perlu kukatakan kepada mu, Tetap pertahan kan senyum dan tawamu sampai kau menemukan seseorang yang sangat berarti bagimu. Yang sanggup berjalan berdampingan denganmu.
Seseorang yang kau cinta atau yang berharga untuk mu. Sahabat, teman atau siapapun yang tulus mengulurkan tangannya untuk mu" ucap Miyuki dengan mengulurkan tangannya membuat mata bocah didepannya berkaca kaca
"Walau kata kata ku terdengar menjijikan bagi mu, tapi aku tahu kau pasti sedih. Menangis dalam diam, sendirian dikamar, di tempat sepi atau tempat yang dapat membuat mu mencurahkan isi hati mu
Maka dari itu, terima uluran tangan ku, peluk aku. Dan Lepaskan semua beban mu, jangan dengar kan ucapan orang orang yang membicarakan mu. Jadikan itu pelajaran untuk mu
Dan mari kita tertawa bersama" ucap Miyuki panjang lebar dengan senyum di wajah nya ia masih mengulurkan tangannya membuat bocah itu menangis dan memeluk Miyuki dengan erat
Sedangkan Miyuki, ia berusaha untuk tak menangis, saat ini seseorang tengah membutuhkannya. Jadi ia terus tersenyum dengan mengusap lembut punggung bocah tersebut
"agh... Mengapa mereka semua membenci ku? apa salah ku? apa? apa salahku? tolong katakan pada ku apa salah ku?" ucap Bocah bersurai merah dengan memeluk Miyuki
"Syutt... tak ada yang slaah, kau tak salah. mereka yang salah, mereka belum tahu siapa kamu" ucap Miyuki dengan mengusap punggung bocah tersebut
"Sudah lh jangan menangis, mari makan bersama" ucap Miyuki dengan memperlihatkan permen dan manisan ditangannya
"Hg.." dehem bocah tersebut dengan menghapus air matanya
"Oh ya, aku Miyuki. Kamu?" tanya Miyuki dengan tersenyum dan mengulurkan tangannya
"a..aku Garaa" ucap Bocah bersurai merah tersebut yang bernama Garaa dengan gugup karena malu. Malu? mengapa? Malu karna ia menangis didepan perempuan. Dan tak lupa ia menyambut uluran tangan dari Miyuki
"Baiklah ayo makan permen nya" ucap Miyuki dengan tersenyum
*
*
*
*
*
Hi reders 👋
Apa kabar?
Author minta maaf klo ada typo dan alur cerita yang berbeda dari sang pencipta karena Author hanya meminjam karakter nya saja
Dan Mon maaf Author jarang up soalnya Author sibuk belajar karena ujian, besok pun author ujian. Mohon doanya ya hehe
Sekian dari Author
PAPPAY 👋