
Aku mengendarai motorku sekitar 25 menit dan tibalah aku di rumah Joy. Langsung aku menekan bel rumahnya. Sekali-dua kali namun tak ada respon. Karena tak ada respon aku berteriak memanggil Joy. Tiba-tiba saja seorang perempuan berkulit pucat membukakan pagar untukku. “Apa perempuan ini yang dimaksud Ibu?” aku berbicara dalam hati. “Aah, a-aku kesini ingin bertemu dengan Joy, eee mm ma-maksudku aku ingin mengantarkan barangnya yang tertinggal di rumahku”
“Siapa kau?”
“Ahh, dimana sopan santunku, maaf. Perkenalkan, aku Alex” ucapku seraya memberikan tanganku kepadanya. Perempuan itu seperi ragu-ragu untuk menjabat tanganku. Dia menatapku dengan tatapan aneh.
“Aku Sapphire”
“Ah, oke Sapphire. Namamu sangat bagus” ucapku tersenyum. Namun dia tak merespon senyumanku.
“Joy sedang istirahat, kau bisa memberikan barang yang tertinggal itu kepadaku” pungkasnya.
“Oh iya” aku mengambil barang itu dari tasku dan langsung memberikan itu kepadanya.
“Ah, ini tertinggal di rumahmu?” tanyanya heran.
“Iya benar. Ibuku berkata sepertinya ini barang yang berharga. Maka dari itu aku langsung mengantarkannya kesini”
“Ini milikku, dan Ibumu benar. Ini sangat berharga untukku. Terima kasih banyak” katanya sambil tersenyum.
“Wow, senyum yang indah” kata-kata itu tak sadar keluar dari mulutku. Bodoh!!
“Maaf, kau bilang apa?”
“Aaahh,, tidak ada. Apa boleh aku berbincang sebentar denganmu?”
“Ku lihat kau tidak punya niat jahat kepadaku, terlebih kau anaknya Bu Vidya. Jadi aku mengizinkanmu” pernyataannya ini baru saja membuatku tertawa kecil.
Dia mempersilahkan aku masuk ke rumah Joy dan kami duduk di ruang tengah. Dia langsung berlalu ke dapur dan membuatkan teh juga membawakan camilan. Entah mengapa aku sangat gugup, seperti baru pertama kali bertemu perempuan. Aku harus melaksanakan perintah Ibu untuk meminta maaf dan berterima kasih kepadanya, kemudian langsung pulang.
“Apa benar kau saudara jauh Joy? Karena selama ini dia tidak pernah mengatakan kalau dia punya keluarga” Entah mengapa malah pertanyaan ini yang keluar. Rasa penasaranku mengalahkan kewarasanku. Dasar sinting!
“Iya benar, aku keluarganya. Aku kesini untuk tinggal sementara dengan Joy”
“Darimana asalmu?”
“Ah, i-itu a-aku dari tempat yang sangat jauh. Pokoknya aku kesini untuk menjaga Joy” jawabnya sedikit gugup. Mungkin dia tidak ingin membicarakannya. Aku langsung kembali ke tujuan awalku.
“Begini, Sapphire. Aku kesini sekalian untuk meminta maaf dan berterima kasih kepadamu”
“Untuk apa?”
“Kau yang mengantarkanku pulang kemarin malam kan?” pertanyaanku ini membuatnya tersedak.
“Ah, iya. Kau ingat rupanya. Ku pikir orang yang terkena sihir akan lupa”
“Terkena sihir? Maksudmu?”
“Ah, bukan. Ma-maksudku ma.... ma.... mmm.... mabuk! Iya mabuk”
“Iya, aku tak menyangka aku akan mabuk separah itu. Padahal seingatku aku hanya minum dua gelas saja. Aku tidak melakukan hal yang aneh kepadamu kan?” tanyaku ragu.
“Semua kelakuanmu aneh pada malam itu” ucapnya tanpa berpikir.
“Hah? Boleh aku tahu apa saja yang aku lakukan malam itu?”
“Kau mengajakku bernyanyi”
“Apaaa??!!” aku sangat terkejut mendengar itu. “Aku mengajakmu bernyanyi? Maksudmu kita pergi ke tempat karaoke?”
“Ahh, ya bisa dibilang begitu”
Mendengar perkataannya aku langsung menepuk jidatku. Perlakuan ini membuatnya tertawa dan itu sangat manis.
“Tapi aku sangat beruntung bertemu denganmu” kataku tersenyum.
“Aku yang sial bertemu denganmu. Dasar!”
“Hahahaha, iya baiklah. Apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku?”
Dia berpikir sejenak dan menatapku dengan tatapan yang aneh lagi. Sangat tajam dan licik tatapannya itu. Mebuatku merinding.
“Baik. Aku ada satu permintaan”
“Apa itu? Bilang saja kepadaku” dalam hati aku berharap agar permintaannya tidak aneh-aneh.
“Aku ingin kau membantuku untuk mencari temanku”
“Apa? Kau kehilangan teman? Bag-”
“Dan tolong jangan tanya kenapa” dia langsung memotong perkataanku. Hmm sunggung gadis yang misterius. Aku yakin ada yang ditutupi oleh Joy.
“Baiklah. Aku akan membantumu mencari temanmu itu”
“Terima kasiiihhh” katanya sambil mencubit pipiku dan tersenyum manis. Aku terkejut begitu pula dia.
“Ah, maaf. Aku tidak bermaksud mencubit... pipimu..”
“Kalau begitu aku juga harus mencubit pipimu” kataku iseng dan menatapnya licik, menirukan tatapannya.
“Apa? Ka-kau?!”
“Iya, kenapa? Apa kau keberatan?”
“Ta-tapi tadi a-aku hanya..... baiklah kau boleh mencubit pipiku. Tapi jangan terlalu kencang” ucapnya kemudian mendekatkan wajahnya dan memejamkan kedua matanya erat-erat. Pemandangan ini sangat mengelikan dan aku tak dapat menahan tawaku.
“Hahahaha, Sapphire kau sangat polos dan lucu” kemudian aku mencubit pipinya dan itu membuatnya tersipu. Sontak aku juga tersipu melihat pipinya yang memerah. “Baiklah, kapan kita akan mencari temanmu itu?” tanyaku mengalihkan situasi ini.
“Malam ini. Kemarin malam setelah mengantarmu pulang, aku sempat bertemu dengannya, tak jauh dari rumahmu. Namun dia dibawa pergi oleh seseorang”
“Dibawa pergi? Apa dia diculik?” tanyaku penasaran.
“Sepertinya begitu. Maka dari itu kau harus membantuku”
“Baiklah. Pertama-tama kita harus ke tempat terakhir kali kau melihatnya itu. Kita harus memantau rumah itu.”
“Aku setuju”
Tak lama kami berbincang, malam pun tiba. Sapphire langsung mengajakku ke rumah itu. Sapphire mencoba meminta izin keluar kepada Joy, dan Joy langsung memberi izin tanpa mengatakan apa-apa. Kami pun langsung pergi ke lokasi yang dimaksud nya. Benar saja, ini tidak jauh dari rumahku. Kami memantau rumah itu dari sisi seberang. Cukup lama kami disini dan untungnya orang-orang yang lewat tak ada yang merasakan kehadiran kami yang sudah ber jam-jam berada disini. Duduk di bangku jalanan sambil mengisi perut.
Beberapa jam berlalu dan tidak ada pergerakan keluar masuk di rumah itu. Aku sudah mengantuk mengingat ini sudah pukul dua pagi. “Sapphire, apa boleh kita lanjutkan besok saja?” ucapku dengan nada lemas.
“Apa kita dobrak saja pintu itu?”
“Apaaa??!! Jangan melakukan hal yang diluar batas, Sapphire!”
“Tapi Alex, bagaimana kalau temanku itu butuh pertolongan? Bagaimana kalau dia dikurung, lalu diikat tangannya, tidak diberi makan dan minum?! Aku sangat khawatir”
“Temanmu baik-baik saja, Sapphire. Percayalah padaku”
“Dari mana kau tahu? Apa kau bisa membuktikannya?” aku tertusuk oleh perkataan Sapphire yang begitu tajam, mengingat aku tidak bisa membuktikan semua itu. Aku hanya berusaha menenangkannya. Namun yang kudapat adalah perkataan semacam itu. Dasar gadis menyebalkan.
Beberapa saat kemudian akhirnya dia menyerah juga dalam pencarian ini. Namun ini sudah hampir pukul empat pagi. Sial!! aku sangat jengkel namun aku tidak bisa berkata apa-apa karena hanya dengan cara ini aku bisa menebus kesalahanku kepadanya.
“Alex, apakah besok kau mau membantuku lagi untuk mencari temanku?” dia memelas saat berbicara denganku. Sangat licik. Namun aku tak dapat menolak melihat matanya yang berbinar itu.
“Ugghhh, baiklah baik aku akan membantumu lagi besok” kataku dengan terpaksa. Dia pun tersenyum dan itu membuat aku tersipu. Sapphire, berhentilah memberikan senyuman maut itu atau aku akan pingsan disini. Ketika kami hendak pulang, dia pun masih melayangkan pandangannya ke rumah itu. “Sudahlah Sapphire, besok kita akan kesini lagi” ucapku mencoba menghibur. “Ayo, aku akan mengantarmu pulang”. dia mengangguk dan langsung naik ke motorku. Namun ketika baru saja aku menghidupkan motorku dia langsung menepuk pundakku.
“Alex!! Itu temanku!!! Dia datang ke rumah itu bersama seorang pria”
“Apa?!” karena ini sudah hampir pukul empat pagi, mobil yang berhenti di seberang jalan itu kelihatan jelas. “Apa rencanamu, Sapph...” belum siap aku menyelesaikan perkataanku, dia langsung loncat dari motor ini dan berlari ke seberang sana.
“Sapphiiiree!!!”