
Aku dan Alex masih disini, di belakang laboraturium ini. Kami berdua mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya Proedrus rencanakan. Dengan penuh hati-hati kami berdua sebisa mungkin tidak membuat suara sedikitpun. Bahkan untuk bernapas saja melakukannya dengan perlahan. Terdengar suara langkah kaki yang menjauh. Aku mencoba untuk melihatnya, dari balik bangunan ini. Ternyata itu Proedrus yang berjalan keluar dari laboratorium ini. Aku harus mengetahui kemana arah Proedrus berjalan. Aku melihat dia berjalan tak cukup jauh, untung saja masih bisa kudapati dengan mataku dari belakang lab ini. Dia keluar dari balik tanaman menggantung yang membentuk seperti tirai. Aku tersentak karena mendengar teriakan dari dalam lab ini.
“Arrrgghhh!!! Bagaimana lagi agar aku bisa menciptakan ramuan yang Proedrus minta?!! Aku sudah mencoba ribuan kali!!! Sial!!” Peneliti itu menggerutu.
“Sapphire, bagaimana kalau kita masuk ke lab ini dan langsung menyerang peneliti itu?”
“Alex, apa itu tidak berbahaya? Kita tidak punya senjata apa-apa untuk menyerangnya.”
“Sapphire, kita ada dua orang, dan dia hanya sendiri. Kita akan membuat rencana.”
“Bagaimana rencananya Alex?”
“Pertama, kita harus mengalihkan perhatiannya dulu. Dengan melempar batu atau sesuatu agar menarik perhatiannya. Kemudian kita serang dia saat dia lengah. Kau serang dia dari depan, dan aku dari belakang. Aku akan menaiki jendela ini dan masuk ke dalam. Bagaimana?”
“Aku tak yakin ini akan berhasil, Alex. Bagaimana jika Proedrus tiba-tiba kembali?”
“Maka dari itu kita harus cepat, sebelum Proedrus kembali.”
Tidak ada pilihan lain selain mengikuti instruksi Alex. Toh mau tidak mau kami harus bertindak. Sejujurnya aku sangat takut. Tapi melihat semangat Alex yang membara, itu membakar rasa takutku, mengubahnya menjadi keberanian.
Kami memetik buah dari pohon yang tinggi ini untuk kami jadikan pengalih perhatian peneliti itu. Alex melemparkannya dari samping lab ini. Bunyi yang dihasilkan buah itu cukup nyaring untuk memancing peneliti itu. Peneliti itu terkejut dan perlahan berjalan ke depan pintu untuk memeriksa.
“Proedrus, kau kembali?” Tanya peneliti itu. Dia pikir itu adalah Proedrus. Ketika dia berjalan ke depan pintu, aku langsung mengikutinya dari samping lab ini dan Alex juga sudah mengambil langkah. Dia melompat untuk memanjat ke jendela. Aku langsung mendekatkan diri ke arah peneliti itu namun wajahnya masih menghadap ke arah yang berlawanan. Masih mencari siapa dan apa yang menimbulkan suara tadi. Aku mendekatinya dengan perlahan. Seketika dia membalikkan badannya, dia langsung menatapku dengan terkejut.
“Pu-putri? Ba-bagimana k-kau--”
Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, Alex langsung menyerangnya sampai peneliti itu terjerembab ke lantai. Alex dengan sigap memegang kedua tangan peneliti itu kemudian mengikatnya dengan tali yang dia dapat entah dari mana. Sungguh penuh persiapan seorang Alex ini. Peneliti itu berteriak dan memberontak. Namun aku langsung membungkamnya. Kututup mulutnya dan kutatap matanya penuh amarah. Peneliti itu langsung terdiam dan memalingkan matanya dari mataku.
Kami langsung membawa peneliti ini masuk untuk diinterogasi. Alex memaksanya untuk duduk di kursi kemudian mengikat badan peneliti ini menyatu dengan kursi. Aku langsung bertanya apa sebenarnya yang dia rencanakan dengan Proedrus. Namun peneliti itu tidak menjawab. Dan anehnya lagi dia tidak berani untuk menatap mataku. Kemudian Alex melayangkan satu pukulan keras ke arah wajah peneliti ini. Dia mengerang kesakitan. “Bangsat!!! Lihat saja, sebentar lagi Proedrus datang kesini dan mengahibisi kalian berdua!!” Dia mengatakan “kalian berdua” namun hanya Alex yang ditatapnya dengan penuh amarah. Aku sangat penasaran mengapa peneliti ini sangat menghindari tatapanku.
“Jika kau tidak ingin mati, sebaiknya kau katakan kepada kami apa yang sedang kau rencanakan!” Alex mengancam peneliti itu, namun dia malah tertawa.
“Memangnya apa urusannya denganmu? Siapa kau?”
“Kau mau tahu siapa aku? Aku adalah cucu dari Martin, anak dari Harris.” Ucap Alex dengan lantang.
“Hah? Apa?” Peneliti itu berekspresi aneh. Seperti tidak percaya namun meremehkan. Kemudian dia tertawa kencang.
“Pantas saja kau kesini. Apa kau ingin membalas dendam? Apa kau tahu bahwa tindakanmu ini sangat bodoh? Lihat saja, kau akan segera berakhir sama seperti Ayahmu.” Peneliti itu kembali tertawa.
Alex yang mendengar kata-kata itu menjadi sangat marah. Tangannya terkepal dengan kencang dan langsung melayangkan pukulan yang lebih keras dari yang sebelumnya, bahkan menyebabkan peneliti ini hampir kehilangan kesadarannya. Aku mencoba untuk menenangkan Alex dan mengatakan bahwa kata-kata dari peneliti ini hanyalah pancingan agar kita lengah.
“Bagaimana aku tidak terbawa emosi, Sapphire?? Dia seenaknya menertawakan Ayahku yang— aarrgghhh!!!” Aku langsung memeluk Alex lagi, untuk meredakan amarahnya. Terasa ada sesuatu yang hangat menetes di bahuku. Ternyata Alex menangis. Hatinya sangat rapuh ternyata. Dia mudah sekali menangis. Tak lama dia melepaskan pelukanku.
“Maaf Sapphire, aku tidak tahu mengapa aku meneteskan air mata.” Dia tertawa namun aku tahu di dalam hatinya banyak sekali duri yang menancap.
“Tak apa Alex, menangislah kapan pun kau mau. Aku bersedia menjadi tempat berkeluh kesahmu.”
“Terima kasih, Sapphire.” Alex tersenyum sambil memegang pipiku dengan kedua tangannya.
Kemudian aku mencoba mendekati peneliti itu lagi. Dia sudah kehilangan sebagian besar tenaganya. Ku tarik kerah bajunya agar matanya menatapku. “Putri, sebaiknya kau pergi dari sini. Kalian harus pergi!” dia berbicara dengan mata tertutup.
“Hei, apa yang Proedrus janjikan kepadamu?” Dia masih tidak menjawab. Mungkin untuk mengangkat kepalanya saja dia tidak berdaya. Aku membantu untuk menegakkan kepalanya agar dia menatapku. Ku pegang kepalanya namun tiba-tiba matanya terbuka dan langsung saja kutatap matanya. Dia ketakutan. Namun kali ini, dia seperti tidak mampu untuk memalingkan matanya. Ku tatap lebih dalam lagi dan tiba-tiba saja sesuatu yang aneh berkelebat di dalam pikiranku. Aku bisa membaca pikirannya.
Memori peneliti itu langsung saja berhambur masuk ke kepalaku. Aku bisa mengetahui rencana apa yang sebenarnya mereka buat. Ternyata Proedrus menyuruhnya untuk menciptakan racun agar bunga cairan bunga Acanthus dapat bekerja lebih hebat lagi. Dia ingin benar-benar menguasai Coelus. Ternyata selama ini Proedrus hanya berpura-pura baik di hadapan para Elm karena belum sepenuhnya kesadaran mereka diambil alih. Dan yang membuat Proedrus kebal dengan efek cairan itu adalah bola kristal yang selalu dibawanya di dalam saku jubahnya. Bola Kristal itu menyimpan cahaya matahari, dan sinar itu menjalari tubuh Proedrus ketika menggenggam bola kristal itu. Jadi Proedrus tidak terpengaruh oleh efek yang ditimbulkan oleh bunga Acanthus. Tentu saja itu juga ciptaan dari si peneliti ini.
Kemudian aku melepaskan tanganku dari kepala si peneliti ini. Sejenak dia membeku, kemudian pingsan. Aku juga merasa letih dan hampir jatuh kalau saja Alex tidak menangkapku dengan cepat.
“Sapphire, apa kau baik-baik saja?” Alex tampak khawatir. Aku bisa menilai dari suaranya.
“Iya Alex, aku baik-baik saja.” Alex kemudian mencoba membantuku untuk berdiri. “aku harus menemui Proedrus sekarang, Alex.”
“Sapphire, itu sangat berhahaya. Aku tak ingin membiarkanmu pergi sendirian. Lagipula apa yang membuatmu tiba-tiba ingin menemuinya?” Wajah Alex memelas. Sangat menggemaskan.
“Alex, tidak ada gunanya jika kita terus berdiam disini. Aku sudah mengetahui rencananya, jadi aku harus tindakan.”
“Apa? Bagaimana kau tahu? Apa yang kau lakukan barusan itu adalah membaca pikirannya?”
“Ya, benar Alex. Aku bisa membaca pikirannya. Namun hanya sedikit saja yang aku tahu.”
“Tidak masalah Sapphire, itu adalah sebuah titik terang.” Wajah Alex tersenyum. “Baiklah Sapphire. Tapi kau harus berjanji satu hal kepadaku.”
“Apa itu Alex?”
“Kau harus kembali.”
Mata Alex menatap dalam sekali ke mataku. Tatapannya terlihat seperti tatapan manusia paling serius di semesta ini, juga sangat penuh harapan. Harapan agar aku kembali. Aku mengangguk berjanji kepada Alex. Ketika aku hendak pergi dia menarik tanganku kemudian memelukku dengan sangat erat. Hangat. Aku membalas pelukannya dan menundukkan kepalaku hingga masuk jauh ke dalam dada bidangnya itu.
Aku melepas pelukannya dan berjalan keluar dari lab ini. Si peneliti masih tertidur karena pukulan Alex tadi. Semoga saja tidak terjadi hal yang buruk kepada Alex. Aku langsung menuju tanaman hijau yang menggantung itu. Dengan hati-hati dan berusaha tanpa bersuara, aku menyelinap masuk. Betapa terkejutnya aku ternyata di balik tanaman hijau yang menggantung ini adalah pintu menuju rumah seseorang, tepatnya rumah bagian belakang. Aku mencoba menelusuri tempat ini. Perlahan aku melangkahkan kaki mencoba berjalan menuju arah depan. Tidak ada siapa-siapa. Ku langkahkan lagi kakiku menelusuri semua ruangan di rumah ini. Kemudian aku merasa tak asing dengan tempat ini. Dan benar saja. Ketika aku memasuki salah satu ruangan aku yakin ini adalah ruangan kerja Proedrus. Ini rumahnya. Awalnya aku merasa asing karena aku tidak pernah sampai menelusuri bagian belakang rumahnya. Ternyata dia menyembunyikan sesuatu di dalam rumahnya. Ada rahasia besar di balik ini semua. Ku terlusuri lagi karena rasa penasaranku yang melunjak tinggi. Kemudian sampailah aku di salah satu ruangan yang terdapat bola kristal berwarna biru yang cukup besar terletak di atas penyangganya kemudian di tutupi oleh kotak kaca. Aku penasaran apa itu sebenarnya. Belum sempat aku mendekati bola kristal itu, terdengar suara langkah kaki mendekat. Aku langsung bersembunyi dimana pun sebisaku. Untung saja terdapat sebuah lemari yang kecil, namun masih bisa aku masuki. Langsung saja aku masuk kedalamnya dan menutup pintu lemari ini rapat-rapat.
Itu Proedrus. Akhirnya aku dapat melihat wajahnya lagi setelah cukup lama aku berada di bumi. Aku sangat ingin menghabisinya sekarang juga. Dia langsung duduk di kursi yang menghadap meja tempat bola kristal itu diletakkan. Dia menghela napas seraya mengeluarkan bola kristal lainnya dari dalam saku jubahnya. Bola kristal itu berwarna putih dan berukuran lebih kecil. Dia letakkan juga di atas meja. Itu pasti bola kristal yang menyimpan cahaya matahari. “Sampai kapan aku harus terus berpura-pura di hadapan para Elm? Aku tak sabar ingin menguasai kesadaran mereka seutuhnya dan mengambil alih Coelus ini tanpa berpura-pura lagi. Si peneliti itu masih belum menemukan racunnya.” Dia menggerutu. Namun ada yang aneh. Bola kristal besar yang tadinya berwarna biru kini berubah menjadi merah. Aku merasa aneh dengan kejadian itu. “Taakkk” Aku tidak sengaja membuat suara yang membuat Proedrus langsung melihat ke arah persembunyianku. “Siaaaal!!!”