SAPPHIRE From Coelus

SAPPHIRE From Coelus
Bagian XVI



Ku coba lagi untuk membuka mataku. Kali ini aku sudah memiliki sedikit tenaga untuk bergerak. Hari sudah malam, entah pukul berapa aku tak tahu. Aku mencoba bangkit untuk membangunkan kedua temanku yang masih terlelap, pasti akibat terlalu letih. Sama sepertiku. Aku mencoba menepuk-nepuk badan Alex dan Garnett, berharap mereka cepat bangun. Namun mereka masih tak sadar. Aku pun menampar pipi keduanya, aku tak peduli yang penting mereka harus segera bangun. Tak mungkin aku bisa membopong badan mereka berdua. Ini sudah malam dan kami masih di hutan. Aku takut ada binatang buas atau sejenisnya yang datang menyerang kami jika kami tak segera pergi.


“Alex!! Bangunlah!!” aku sambil menepuk-nepuk pipinya dan menggoyang-goyangkan badannya dengan cukup keras. Untung saja dia bangun setelah aku melakukan itu. Dia mencoba membuka matanya yang sangat susah dibuka itu. Garnett juga sudah sadar ketika aku ingin membangunkannya. Syukurlah.


“Kalian baik-baik saja?”


“Arrrghh, kepalaku sakit sekali.” Alex memegang kepalanya hingga menarik rambutnya yang hampir sebahu itu.


“Sepertinya kami juga ikut tertidur ketika kami membawamu ke bawah pohon ini sewaktu kau pingsan, putri.”


“Ternyata membuka portal itu menguras banyak sekali tenaga kita, dan kita tidak tahu itu. Mulai sekarang kita jangan memaksakan diri lagi. Kita harus mengetahui teknik dan taktiknya terlebih dahulu.” Ucapku memberi tahu. “Apa kalian sanggup berjalan?”


“Iya, aku bisa putri. Bagaimana dengan mu Alex?”


“Ya... yaa... tentu aku bisa. Ayo kita harus bergegas pulang sebelum larut.”


Kami pun berjalan keluar dari hutan ini. Untung saja hutan ini tak terlalu jauh dari rumah Avila. Kami segera menuju rumah Avila yang menjadi tempat tinggal Garnett juga. Alex meletakkan motornya disana. Ketika kami sampai, kami langsung pamit kepada Avila dan Garnett. Alex langsung mengambil motornya dan mengantarku ke rumah Joy. Awalnya aku tak ingin diantarkan oleh Alex, tak ingin merepotkannya. Namun dia bersikeras ingin tetap mengantarku. Katanya bahaya jika seorang gadis sendirian ketika malam hari. Yaah sebenarnya aku juga tak bisa menolak tawaran Alex itu karena aku tak tahu harus bagaimana agar cepat sampai ke rumah Joy. Jika harus berjalan kaki akan menguras tenagaku lagi.


Alex mempersilahkan aku untuk naik ke motornya ini. Aku langsung naik dan memegang pinggangnya dengan ragu. Lebih tepatnya, aku hanya memegang bajunya saja. Namun seperti biasa, Alex mengambil tanganku dan mengalungkan ke pinggangnya yang ramping dan sedikit berotot itu. Aku tak bisa menolak karena aku juga tak ingin menolak. Aku hanya menyerahkan tanganku untuk merangkulnya. Kami berpelukan sepanjang jalan tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami. Aku sangat menikmati momen bersama Alex ini. Menikmati betapa sejuknya angin malam yang mengibaskan rambutku, juga menyentuh pipiku dengan lembut. Aku tersenyum di pelukannya dan aku yakin Alex juga sedang tersenyum. Aaahhhh aku ingin selamanya seperti ini.


Tak berapa lama kami sampai di rumah Joy. Memang benar ketika kita sangat menikmati momen yang kita sukai dan sangat berharga, waktu akan begitu cepat berlalu. Sebenarnya aku tak ingin turun dari motor ini dan tak ingin melepaskan pelukanku ini, namun aku harus. Aku turun dengan berat hati dan berpisah dengan Alex disini. Aku berterima kasih kepadanya karena telah mengantarku pulang. Dia juga berterima kasih kepadaku, namun ketika aku bertanya untuk apa dia mengatakan terima kasih, dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa dia akan kembali lagi kesini, datang untuk menjemputku supaya kami bisa latihan untuk membuka portal lagi. Aku mengiyakan. Alex pergi dengan motornya dan melambaikan tangannya. Aku pun membalas lambaiannya itu. Suara motor Alex menjauh, dan aku masuk ke rumah ketika Alex benar-benar sudah tak tampak lagi.


Aku langsung masuk ke rumah dan cukup terkejut melihat Joy yang sedang menungguku, padahal ini sudah cukup larut. Dia langsung mendatangiku dan memelukku. Aku heran mengapa Joy seperti ini kemudian aku langsung bertanya kepadanya. Apa dia ada masalah atau semacamnya? Kemudian dia mengatakan bahwa dia sangat takut jika aku tak kembali ke rumah ini. Aku cukup terkejut dengan pernyataan Joy tersebut. Karena kau hanyalah orang asing yang tak sengaja datang ke rumahnya ini, namun dia menyambutku dengan hangat sampai saat ini.


“Sapphire, ada yang ingin aku ceritakan kepadamu. Aku merasa gelisah karena khawatir kau tak pulang kesini lagi dan tiba-tiba entah bagaimana aku teringat akan hal ini.”


“Tidak. Mari kita ke ruang tengah terlebih dahulu.” Joy mengambil tanganku, menuntunku ke ruang tengah tanpa melepas tanganku. “Kau ingin tahu siapa dia?” ucap Joy sambil menunjuk ke foto yang dipajang di ruang tengah ini. “Aku tahu kau sebenarnya penasaran kan?”


“Ah, ba-bagaimana kau tahu? Ya sebenarnya aku ingin menyanyakan siapa sebenarnya gadis muda yang berada di sebelahmu itu. Namun aku belum menemukan waktu yang tepat untuk menanyakannya.”


“Haha, baiklah. Akan aku ceritakan. Suatu hari, aku pernah kedatangan orang asing. Dia seorang gadis, sangat cantik dan mirip denganmu. Memiliki kulit pucat, rambut yang terang, juga mata yang indah. Namanya Scarlett. Dia datang ke rumahku, mengetuk pintu dan meminta izin untuk tinggal bersamaku disini. Aku tak tahu siapa dia, dan dari mana asalnya, namun ketika aku bertanya dia mengatakan yang sebenarnya. Dan hal yang tak terduga dia berkata sama sepertimu. Dia berasal dari Coelus. Awalnya aku tak percaya, namun dia membuktikannya. Dia bisa membaca pikiranku ketika menatap mataku.”


“Aahh jadi ini sebabnya dia sangat mudah mempercayaiku waktu itu. Bahkan aku tak perlu menjelaskan panjang lebar. Tapi bagaimana seorang gadis bisa memiliki kekuatan seperti itu jika dia dari Coelus?” Batinku.


“Kami telah bersama selama kurang lebih lima tahun lamanya. Aku sangat menyayanginya seperti anakku sendiri. Namun setelah itu ada insiden yang membuatku sangat sedih. Dia pernah bercerita bahwa dia kabur dari Coelus karena ada seseorang yang mengincar kekuatannya dan berharap tak akan ditemukan disini. Namun perkiraannya salah. Tiba-tiba kami kedatangan tamu yang tak diundang. Itu adalah orang yang mengincar kekuatan Scarlett. Dia datang entah bagaimana, dari lingkaran yang bercahaya seperti pintu tempat ia keluar masuk. Dia seorang lelaki paruh baya, namun aku lupa namanya. Dia…. Dia langsung dapat menemukan Scarlettku, dan dia…. dia…. memegang kepala Scarlett….” Joy sambil terisak menceritakan ini. Pasti dia sangat terpuruk. “Dia langsung memegang kepala Scarlett dan Scarlett terlihat sangat kesakitan. Aku tak bisa menghentikannya pria itu menghentikanku dengan kekuatannya. Aku seperti orang yang lumpuh, yang hanya bisa berteriak tanpa berbuat apa pun. Kemudian Scarlett terjatuh. Ketika Scarlett sudah tak berdaya, dia mendatangiku dan menyemprotku dengan cairan aneh yang membuatku lupa semuanya. Mereka telah pergi, dan dia membawa Scarlett.” Air mata Joy tak henti-hentinya mengalir. “Aku mengatakan ini karena aku tak ingin terjadi hal yang sama kepadamu, Saphhire. Aku juga tidak ingin kehilanganmu.” Ucap Joy penuh dengan air mata. Aku tak tahan melihatnya begini. Langsung saja aku memeluknya dan mencoba untuk menenangkannya.


“Joy, aku juga ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Ucapku perlahan sambil memeluknya. “Aku juga harus pulang ke Coelus karena situasi disana sedang kacau. Pemimpin disana ternyata orang yang jahat, yang menginginkan kekuasaan daa memperbudak semua orang yang tinggal disana. Aku harus menghentikannya, Joy.”


“Apa itu artinya orang yang mengejar Scarlett adalah orang yang sama?” Tanya Joy.


“Aku tak yakin, Joy. Namun kemungkinan besar iya, dia orang yang sama.” Aku sangat yakin bahwa ini ulah Proedrus, namun aku harus memastikannya lagi. Aku tak menyangka Proedrus melakukan hal yang sekeji ini demi kekuasaan. Aku benar-benar harus membalasnya.


“Sapphire, apa kau benar-benar harus berurusan dengan orang seperti itu?” Wajah Joy seperti mengatakan bahwa aku jangan berurusan dengan orang-orang seperti Proedrus. Namun aku harus. “Aku takut kau berakhir seperti Scarlettku.” Joy kembali menangis.


“Joy, aku harus melakukan ini. Ini semua demi orang-orang yang berada di Coelus. Mereka semua tak bersalah dan berada dalam bahaya. Bagaimana mereka bisa hidup dibawah pengaruh penguasa yang jahat yang telah mencuci otak mereka semua? Aku tak bisa membayangkannya.”


“Berjanjilah kepadaku satu hal Sapphire. Kau harus menyelesaikan urusanmu tanpa harus terluka.” Ucap Joy seraya memegang kedua tanganku, dia kembali menangis.


“Aku berjanji, Joy.” Aku memeluknya lagi, walaupun aku tak tahu akan berhasil atau tidak, aku tetap menjanjikannya sesuatu yang tidak pasti seperti ini. Maafkan aku, Joy. Tak sadar, air mataku juga menetes.