SAPPHIRE From Coelus

SAPPHIRE From Coelus
Bagian VII



Pusing. Pandanganku buram. Kucoba menutup dan membuka mataku lagi. Masih sama. Pusing sekali. Kucoba bangkit dari tempat tidur namun aku terjatuh. “Ughhh... apa yang terjadi semalam?” tanyaku pada diri sendiri. Kuusap-usap mataku berharap agar semut-semut ini segera pergi dari hadapanku. Ya semut-semut itu pergi, aku sudah bisa melihat, namun kepalaku terasa mau pecah sekarang. Tetap kupaksakan berdiri dan berjalan ke dapur. Kutuangkan air putih ke dalam gelas kemudian meminumnya. Tak cukup hanya satu gelas. Kutuang lagi air ke dalam gelas lalu meminumnya dalam sekali tenggak. Ku buka mataku lebar-lebar dan kupegang kepalaku berharap sakit kepala ini segera pergi.


“Alex, makanlah sup yang ada di meja makan. Ibu sudah membuatkannya untukmu. Makanlah selagi hangat agar mabukmu reda” ucap ibu dari depan.


Aku mencoba mendengarkan kata-kata ibu dengan seksama. Aku mabuk? Sial! Bagaimana bisa aku mabuk sedangkan aku ingat hanya minum sedikit kemarin malam. Aku masih tak peduli dengan apa yang terjadi. Yang aku pentingkan hanyalah kepalaku untuk saat ini. Langsung aku menuju meja makan dan langsung menyuapkan satu sendok sup buatan ibu. Aaahhh sup ini sangat segar dan enak. Langsung kuhabiskan sup buatan Ibu ini sampai tak bersisa. Setelah itu aku langsung pergi ke depan untuk menemui Ibu.


“Bu, a-apakah mabukku parah tadi malam? Padahal aku hanya minum sedikit saja loh” tanyaku ragu


“Kau minum bersama siapa kemarin?” Ibu langsung menimpali pertanyaanku dengan pertanyaannya.


“Aku minum bersama teman-teman kampus ku, Bu. Seperti biasanya saja, aku hanya minum dua gelas”


“Tapi mabukmu sangat parah kemarin. Terlebih lagi kau diantarkan pulang oleh seorang gadis dan kau mengakui dia sebagai pacarmu. Setahu Ibu kau kan tidak punya pacar. Siapa gadis itu?” tanya Ibu dengan nada yang agak menyindir, namun aku tau dia tersenyum dibalik itu, mencoba menggodaku.


“Apa??!! Aku diantar seorang gadis?” tanyaku kembali dengan sangat terkejut.


“Iya, dengan seorang gadis yang cantik dan memiliki kulit yang sangat putih dan pucat. Tidak mungkin kau tidak kenal dia kan?”


“A-aku tidak ingat Bu, ingatanku masih samar. Apakah Ibu bertanya siapa namanya?”


“Ibu tidak bertanya, karena malam itu sepertinya dia seperti terburu-buru karena ada urusan katanya. Tapi tidak mungkin kau bertemu dengannya di jalanan kan? Lain kali ajak dia kesini. Ibu ingin bertemu dengannya, kenalkan kepada Ibu” ucap Ibu panjang lebar.


Aku hanya berlalu tanpa mendegarkan perkataan Ibu. Aku kembali ke kamarku. Mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi kemarin malam.


“Siapa gadis itu ya? Dimana kami bertemu? Kenapa dia bisa mengantarku pulang? Apa yang aku lakukan kemarin malam?” pertanyaan demi pertanyaan berkutat di otakku. Memaksaku berpikir keras karena rasa penasaran. Namun karena tau ini semua sia-sia, aku langsung berhenti dan ke depan untuk membantu Ibu menjaga toko seraya berharap ingatanku akan kembali seiring berjalannya waktu.


...~0o0~...


Ketika pria itu terbangun, aku langsung berlari keluar dari ruangan bernyanyi itu dan meninggalkannya disana. Namun hanya baru beberapa langkah saja, aku langsung membalikkan lagi langkahku kembali untuk membantu pria tadi.


“Siaaaaaallllll!!!!!” aku tak bisa meninggalkannya disana. Apa yang ada di kepalamu Sapphire?? Ayolah kau harus mencari Garnett, gerutuku namun tetap berjalan ke ruang bernyanyi itu. Arrrrgghhh!!!


Ketika aku sampai di ruangan itu, langsung kudapati pria itu masih duduk di sofa. Matanya sudah terbuka namun belum sepenuhnya. Ku tatap dia dari depan pintu, dia menatapku balik kemudian tersenyum. Aku hanya bisa menghela napas melihat tingkah anehnya. Segera kudatangi pria itu dan memberikan tanganku dengan maksud memberikan bantuan agar dia bisa bangkit. Namun yang terjadi adalah dia mengambil tanganku dan diletakkannya di pipinya. “Oh jadi begini ketika seseorang terkena sihir” pungkasku. Tanpa berlama-lama langsung saja aku mencoba membantu pria ini berdiri dan kuletakkan tangannya ke pundakku agar dia tidak jatuh.


Kami berjalan keluar dari tempat ini. “Pria ini berat juga” aku menggerutu. “Kau bilang apa nona?” jawab pria itu. Sial dia mendegar perkataanku. Langsung saja aku mengalihkannya.


"Dimana rumahmu?” tanyaku.


“Tidak jauh dari sini, hanya tinggal beberapa blok saja”


“Baiklah, tunjukkan aku jalannya” jawabku.


“Hey sebenarnya ada dimana rumahmu? Kau bilang hanya beberapa blok dari sini”


“Sebentar lagi kita sampai”


“Apa??! Kau tidak sadar kalau daritadi kita hanya berputar-putar?” jawabku dengan melepaskan rangkulannya.


“Tidak nona, sebenarnya tadi kita sudah melewati rumahku, namun aku masih ingin bersamamu” jawab pria itu dengan nada santai dan sambil tersenyum.


Entah mengapa aku tersipu dengan kata-katanya. Sial! Dia membuat ku kesal dengan membuang waktuku yang berharga namun kekesalan itu hilang sekejap saja karena perkatannya barusan. Sadarlah Sapphireee!!!


Dia kembali meletakkan tangannya ke pundakku seraya berbisik di telingaku “Ayo antarkan aku pulang”. Aku mematung namun dia menarikku dengan rangkulannya. Lagi-lagi aku hanya menurut, tidak bisa menolak. Kembali kubantu dia berjalan dengan memegang tangannya yang diletakkannya di pundakku. Tak lama kami berjalan, ia berhenti di depan toko roti kecil. Kemudian dia melepaskan tanganya dari pundakku.


“Terima kasih nona sudah mengantarkanku sampai ke rumah” ucap pria itu.


“Kita sudah sampai? Jadi toko roti ini rumahmu?” tanyaku.


“Iya. Ini rumahku” jawabnya dengan ekspresi yang masih seperti orang yang terkena sihir.


“Kau tau? Kita sudah melewati toko roti ini tiga kali!!!” kataku kesal. Plaakkkk. Tak sengaja aku menepuk pipinya agak keras karena rasa kesalku kepadanya. Aaahh, ma-maaf. Aku tidak sengaja.


“Hahahaa, kau imut sekali. Aku sudah bilang padamu kalau aku masih ingin bersamamu” ucapnya sambil tersenyum lagi. Tak lama setelah itu, seseorang muncul dari dalam toko roti itu. Seorang wanita paruh baya, namun cantik.


“Alex, kau sudah pulang? Kenapa tidak langsung masuk?” tanya wanita itu.


“Ibu, aku pulaaaannnggg!!! Bu, ini pacarku” ucap pria itu seraya merangkulku dengan sikap kegirangan.


Lagi –lagi pria ini menganggap aku pacarnya. Aku harus mencari tahu apa itu arti pacar yang sebenarnya. Aku hanya bisa tersenyum kecil karena tidak mengerti itu apa itu artinya. Apakah itu makna yang baik atau buruk aku tak tahu.


“Terima kasih sudah mengantar Alex pulang. Maaf telah menyusahkanku. Dia suka begini kalau sudah mabuk” ucap wanita itu sopan.


Apa itu mabuk? Lagi-lagi aku tidak mengerti. Apa yang dimaksud wanita ini adalah seperti terkena sihir? Ah iya mungkin benar.


“Eee i-iya tidak apa-apa Nyonya. Sepertinya aku harus segera pergi. Aku pamit dulu” jawabku.


“Baiklah kalau begitu. Apa tidak apa-apa kau pulang sendirian? Harusnya Alex yang mengantarmu pulang, ini malah sebaliknya. Alex, kau harusnya malu!” ucap pria itu seraya menepuk pundak Alex.


Alex hanya tersenyum. Ya dia tidak berhenti senyum ketika kami sampai di rumahnya ini. Aku juga membalas perkataan wanita itu dengan senyuman. “Ahh tidak apa-apa nyonya, aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan” jawabku jujur.


“Oww begitu rupanya. Baiklah hati-hati di jalan ya” ucap wanita itu ramah dan nasib baiknya dia tidak bertanya apa urusanku. Kemudian kulanjutkan perjalananku untuk mencari Garnett. Memang takdir atau entah bagaimana aku langsung merasakan energi Elm tak jauh setelah aku berjalan dari toko roti itu. Aku menemukan Garnett namun sayangnya aku gagal menyelamatkannya.