SAPPHIRE From Coelus

SAPPHIRE From Coelus
Bagian XXVII



Kami bertiga sangat menikmati makan malam ini. Ruangan makan di rumah Joy dipenuhi dengan tawa. Tak terasa kami menghabiskan sepanjang malam tanpa disinggahi rasa kantuk. Aku sangat senang berada diantara mereka berdua. Banyak sekali yang Joy ceritakan kepadaku tentang masa lalunya bersama Scarlett. Hal-hal yang lucu membuat kami berbincang hingga pagi.


Matahari mulai menyinari dapur dari balik jendela. Kami bertiga benar-benar tak sadar hingga Joy membuka jendela dapurnya. Kami tertawa lagi karena ini sudah pagi. Kantuk mulai terasa. Kami bertiga memutuskan untuk tidur sebentar pagi ini. Joy pergi ke kamarnya dan aku juga Scarlett pergi ke kamar kami. Kami tidur bersama di satu kamar. 


Aku mencoba untuk memejamkan mataku, namun aku tetap tidak bisa tidur karena ada perasaan yang masih belum tenang. Aku masih memikirkan bagaimana caranya untuk mengalahkan Proedrus. Apa kelemahannya, aku belum tahu sampai sekarang. Aku membalikkan badanku dan aku melihat Scarlett juga belum tidur. Matanya terbuka menatap langit-langit kamar ini. 


“Kau belum tidur Scarlett?”


“Ah, belum. Aku sedang mencoba”


“Apa ada yang kau pikirkan?”


“Yah, aku hanya merasa bahagia sekarang. Awalnya aku pasrah, tidak punya harapan untuk hidup lagi. Namun kau menyelamatkanku dari kotak kaca itu. Kemudian aku bisa bertemu kembali dengan Joy. Dan lagi, kita memiliki darah yang sama. Itu berarti kau keluargaku. Sekarang kita hanya perlu mengalahkan Proedrus” dia berkata sambil menatapku. “Aku yakin kita bisa mengalahkannya. Kau itu lebih kuat dari yang kita bayangkan” Scarlett tersenyum. Tanpa sadar aku meneteskan air mata yang langsung saja kuhapus. 


Kami berdua terlelap cukup lama. Ketika aku membuka mataku, Scarlett masih tertidur. Aku tidak membangunkannya. Pasti dia sangat lelah. Aku pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diriku. Setelah itu aku pergi keluar kamar ini dan mendapati Alex yang duduk di ruang utama, bersama Joy. 


“Apa yang kau lakukan disini, Alex?” aku langsung menghampirinya.


“Akhirnya kau bangun juga.” Joy tertawa kecil.


“Ah, Sapphire. Aku sedang menunggumu” dia tersenyum.


“Apa? Untuk apa kau menungguku?”


“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Mungkin saja kau akan suka.”


Aku tersenyum karena melihat wajah Alex yang tersenyum. Ketika ku lempar pandanganku kepada Joy, dia juga tersenyum lebar. 


“Pergilah Sapphire” 


“Baiklah”


Aku dan Alex kemudian keluar dari rumah disusul oleh Joy, menuju motor yang dibawanya. Ketika aku duduk di motor Alex, aku melihat Joy yang masih tersenyum melihat ke arah kami berdua. Aku melambaikan tangan kepada Joy dan dia langsung membalasnya. Alex langsung menyalakan motornya dan kami pergi menuju tempat yang dimaksudnya.


Kuakui, aku sangat menikmati perjalanan bersama Alex ini. Pemandangannya sangat memanjakan mataku. Awan menggantung di langit yang biru. Di kanan dan kiriku pohon-pohon berbaris dengan rapi. Angin berhembus kencang mengibaskan rambutku. Kami melewati air terjun yang tidak terlalu tinggi, namun sangat indah. Ketika kami melewatinya, kami terpercik airnya yang dingin. Hal itu membuatku tertawa, dan Alex tertawa melihatku. 


Tak berapa lama, kami sampai di tempat yang dimaksud oleh Alex. Tempat ini luar biasa. Lapangan yang sangat luas, dengan rumput hijau dan terdapat bukit-bukit yang cukup tinggi di sekitar tempat ini. 


“Tempat ini sangat indah, Alex”


“Ini belum seberapa. Kita masih belum sampai ke tempat yang sebenarnya” Alex tertawa.


Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ternayata jalurnya tidak bisa dilalui oleh motor karena mendaki cukup terjal. Sepanjang jalan Alex tak melepaskan tanganku. Dia sangat menjagaku.


“Ternyata cukup jauh yah” sejujurnya aku sudah agak lelah, tapi aku tak ingin mengecewakan Alex. 


“Apa kau lelah, Sapphire? Kita bisa istirahat sebentar kalau kau mau”


“Tidak apa-apa Alex. Sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan ini.”


“Baiklah, yapi jika kau kelelahan kau bisa mengatakannya kapan saja.”


Kami melanjutkan perjalanan kami lagi. Berjalan menelusuri hutan-hutan yang terjal. Untung saja hutan ini tidak terlalu basah, jadi tidak terlalu licin. Tak lama, kami sampai di tempat yang Alex maksud.


“Kita sudah sampai”


Ini sangat indah. Seperti surga. Pemandangan dari tebing ini membuat perasaanku lebih tenang. Aku dapat melihat segalanya dari atas sini. Aku yang terpana, meneteskan air mata seraya menutup mulutku dengan kedua tanganku. 


“Alex, tempat ini sangat indah” 


Karena sangat bahagia, aku tak sengaja memeluk Alex. Ketika sadar, aku langsung melepaskan pelukanku. 


“Maaf Alex, aku tak sengaja”


Kami berdua duduk bersampingan sambil menikmati pemandangan yang ada di bawah kami. Aku sampai tak sanggup untuk berkata-kata lagi, hanya menatap ke bawah. Karena aku terlalu fokus, aku sampai tak dengar kalau Alex mengajakku berbicara. 


“Maaf, aku tak mendengarmu Alex. Kau tadi bilang apa?”


Alex tertawa. “Tidak. Aku hanya mengatakan bahwa kau sangat cantik” dia menggodaku lagi.


“Alex, hentikan itu! Kau membuatku malu” sejujurnya aku memang malu, karena ini pertama kalinya seseorang mengatakan ini kepadaku. 


“Lihat itu. Pipimu memerah. Bagaimana aku bisa jika tidak berkata kalau kau itu sangat cantik??”   


Alex kali ini benar-benar membuat pipiku merona. Aku tidak bisa menahan rasa canggungku karena perkataannya itu. Aku memukul bahunya karena kesal dia menggodaku seperti itu.


“Haha maaf, maaf. Aku tak tahan jika tak menggodamu”


“Dasar kau ini ya!” Aku memalingkan wajahku dari wajahnya.


Kami terdiam lagi menatap pemandangan di hadapan kami. Aku terpikir lagi tentang Proedrus. Pikiran itu membebaniku lagi secara tiba-tiba.


“Ada apa Sapphire?” ternyata Alex menyadari perubahan ekspresi di wajahku ini.


“Ah kenapa? Aku tidak apa-apa”


“Aku tahu kau berbohong kepadaku. Dan sebenarnya aku tak suka itu. Kau bisa membagikan masalahmu dengan bercerita denganku. Setidaknya itu akan sedikit melegakan perasaanmu.” Ternyata Alex sangat peka.


“Aku hanya memikirkan bagaimana cara mengalahkan Proedrus. Aku sangat bingung dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Cepat atau lambat, aku harus berhadapan dengannya.”


“Jadi ini tentang Proedrus. Aku akan selalu membantumu Sapphire. Jika ada hal yang aku ketahui aku pasti akan memberitahunya kepadamu. Dan jika kau meminta bantuanku apa saja itu, selama aku bisa memenuhinya, aku pasti akan penuhi. Jadi jangan sungkan kepadaku”


“Terima kasih, Alex. Kau sangat baik”


“Aku tahu” Alex menatapku sengan menyeringai. Kami berdua pun tertawa. “Tenang saja, Sapphire. Kita pasti bisa mengalahkan Proedrus.”


“Baiklah Alex. Aku percaya itu.”


“Jadiii apa kau mau mencoba sesuatu?”


“Apa itu?”


“Berteriak.”


“Berteriak?”


“Iya. Aku suka berteriak dari atas sini. Ini adalah tempatku menyembuhkan diri jika aku sedang sedih, atau ketika rindu dengan Ayah. Aku berteriak dari atas sini dan hal itu membuat perasaanku yang sesak menjadi lega. Kau mau mencoba nya?”


Aku tersenyum melihat Alex “Ya, aku ingin mencobanya.”


“Baiklah, pertama-tama kau harus mengambil napas yang panjang. Aku akan memberimu contoh.”


Alex mengambil napasnya dengan sangat dalam, kemudian dihembuskannya dengan sangat kencang. 


“AKU CINTA PADAMU SAPPHIRE!!!”


Sontak aku terkejut dengan perkataan Alex itu. Aku langsung menatap wajah Alex yang tertawa dan memerah. Aku juga ikut tertawa namun dengan ekspresi yang tidak percaya jika Alex akan mengatakan itu. 


“Alex, apa kau tidak salah berbicara?” aku mencoba untuk meyakinkan Alex juga diriku sendiri. 


“Tidak. Aku cinta padamu, Sapphire.” Kali ini, dia berkata dengan menatap mataku dalam-dalam sambil mengeluarkan ekspresi yang serius. Aku membeku dan tidak bisa berkata-kata. Aku hanya menatap wajahnya. Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dengan pasti. Kali ini aku tak menolak. Aku hanya membiarkan dia melakukan apa yang ingin dia lakukan. Semakin dekat wajah kami, kemudian bibir kami berjumpa. Dengan lembut dia mengecup bibirku yang kusambut dengan lembut juga. Kemudian dia menjauhkan wajahnya dari wajahku dan menatapku dengan terkejut.


“Sapphire, apa itu artinya......”


“Ya. AKU JUGA CINTA PADAMU, ALEX!!”