SAPPHIRE From Coelus

SAPPHIRE From Coelus
Bagian XX



“Siaal!!! Proedrus jalan mendekat ke arah tempat persembunyianku. “Sial! Aku akan ketahuan!!” aku berbicara dalam hati. Jika sampai aku ketahuan, aku akan langsung menyerangnnya mau tidak mau. Ketika tangan Proedrus telah menggapai pegangan lemari ini, ada seseorang yang memanggilnya dan menggedor-gedor pintu rumahnya seperti terburu-buru. Sontak Proedrus menghentikan tangannya untuk membuka pintu lemari ini dan langsung menuju ke depan rumahnya untuk membukakan pintu itu. Jantungku yang tadinya ingin meledak, perlahan stabil. Untung saja ada seseorang yang memanggil Proedrus, karna sebenarnya aku juga sungguh sangat belum siap untuk menyerangnya.


Aku langsung keluar dari lemari ini dan mencoba untuk melarikan dirir dari sini sesegera mungkin. Aku berlari dari tempat ini ke tempat aku datang sebelumnya. Bagian belakang rumah Proedrus. Selangkah lagi aku keluar dari tempat ini namun ada sebuah tangan yang menarikku dengan kencang. Aku terjatuh dengan cukup keras. Ketika aku mencoba siapa yang telah menarikku seseorang itu menyeringai. “Kenapa kau masih nekat kesini? Dasar pengganggu kecil” katanya sambil berekspresi dingin. Hal yang kutakutkan pun terjadi. Akhirnya Proedrus memergokiku.


“Bagaimana bisa kau kesini hah?”


“Kau pikir selama di bumi aku tidak mencari tahu apa-apa setelah kau mencampakkan ku? Aku tahu kau sengaja melakukan ini kan? Kesadaranku kembali ketika aku di bumi!” jawabku dengan nada yang kesal.


“Wah wah wah, pintar juga kau ternyata. Tapi sangat disayangkan, kau tak cukup pintar untuk mengalahkanku”


Dia kembali menarik lenganku dan memaksaku ikut berjalan denganya. Entah kemana dia akan membawaku. Awalnya aku kebingungan, namun ternyata dia membawaku kembali ke lab itu. Untung saja, disana ada Alex yang bisa menyelamatkanku. Semoga Alex sudah penuh persiapan dan segera menolongku. Aku harap dia bisa mengalahkan Proedrus dan mengakhiri semua ini. Aku sangat memerlukan bantuannya.


Awalnya aku berteriak dengan kencang, namun ketika aku tahu Alex disana, aku tak lagi berteriak dan hanya sedikit memberontak. “Lepaskan aku!! Pergi dariku!! Lepaskan aku!!!!!!!”


Ketika kami sampai di lab ini betapa terkejutnya aku ketika aku tak melihat kehadiran Alex disini. Dia tidak ada disini. Dia meninggalkanku. Wajahku muram seketika. Aku ingin menangis. Sungguh tega Alex meninggalkanku disini. Aku berharap banyak padanya namun dia menghilang. Aku membeku seketika.


“Apa yang telah kau lakukan kepadanya?” Tanya Proedrus dengan marah karena melihat peneliti itu masih terikat di kursi dalam keadaan pingsan. Aku hanya bisa menyunggingkan senyuman namun buka kutujukan untuk Proedrus. Senyuman kecewa karena mengingat betapa teganya Alex terhadapku. Namun tanpa sadar Proedrus murka. Dia langsung memegang kepalaku dan menatap mataku. Aku tak bisa memalingkan pendanganku sama sekali ketika menatap matanya. Aku terus menatap matanya, namun anehnya tak lama Proedrus mengerang kesakitan kemudian memegang keningnya dengan sebelah tangan dan sebelahnya lagi masih mencengkram lenganku dengan erat. Aku tidak tahu apa yang terjadi namun aku tidak merasakan apa-apa.


“Sialan.” Proedrus mengumpat dan langsung menarik tanganku lagi. Entah kemana lagi kali ini dia akn membawaku.


Ternyata di lab ini terdapat ruangan bawah tanah. Kakiku dipaksa menuruni anak tangga yang cukup banyak ini. Kemudian sampailah kami di sebuah tempat yang kelihatan seperti penjara. Berbentuk segi empat dan masing-masing sisinya yang berfungsi sebagai dinding itu terbuat dari kaca yang kokoh dan sepertinya kedap suara. Ada seseorang di dalamnya. Aku langsung dipaksa masuk dengan kasar sampai aku terjerembab. “Apa yang kau lakukan??! Biarkan aku keluar!!!” aku mengetuk-ngetuk kaca ini dengan keras dan mencoba berteriak kuat namun suaraku tercekat. Aku masih memikirkan Alex.


“Membusuklah selamanya disitu” ucapnya seraya pergi meninggalkan aku berdua di dalam penjara yang sempit ini.


Aku tidak bisa berbuat apa-apa disini. Sialan dia. Bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari sini? Pikiranku segera teralihkan ketika melihat seorang wanita yang juga dikurung bersamaku disini. Aku mencoba mendekatinya perlahan. Dia tergeletak di lantai ini dan memejamkan matanya. Sepertinya dia tertidur. Wanita ini sangat kurus dan menyedihkan. Dia juga terlihat begitu lemas dan tidak hidup. Aku mencoba untuk mengajaknya berbicara namun dia tak menjawab. Apa jangan-jangan dia sudah mati? Aku bertanya dalam hati. Aku mencoba menyentuh tangannya yang tidak memiliki daging itu. Sialan Proedrus. Apa wanita ini tidak diberi makan? Dia kelihatan putus asa dan kelaparan. Aku langsung berteriak lagi dengan memukul-mukul dinding kaca ini dengan keras.


“Heiii Proedrus! Bawakan wanita malang ini makanan atau dia akan mati!!” namun kemudian suara yang asing terdengar di telingaku.


“Berhentilah berteriak. Perbuatanmu itu sia-sia. Dia tidak akan mendengarkanmu sekeras apa pun kau berteriak.” Ucap wanita itu tiba-tiba sambil terduduk. Aku terkejut.


“Ah, maaf. Aku hanya khawatir kepadamu.”


“Aku baik-baik saja.”


“Tapi kau tak terlihat jika kau baik-baik saja. Lihat tubuhmu yang kurus itu. Bagaimana kau bisa berakhir disini?” tanyaku kepadanya seraya mendekatinya.


“Kalau aku boleh tau apa kekuatanmu itu?” aku bertanya dengan ragu, namun wanita ini menjawab tanpa berpikir.


“Membaca pikiran.” Pungkasnya dengan mantap. “Hanya keturunanku yang memiliki kekuatan ini, dan aku yang terakhir.”


“Apa??? Tunggu sebentar. Apa jangan-jangan namanu Scarlett?” tanyaku yang langsung teringat akan cerita Joy sewaktu di bumi.


“Ba-bagaimana kau tahu namaku?” dia tercengang. “Kita tidak pernah bertemu sebelumnya kan?”


“Ya memang kita tidak pernah bertemu. Namun aku pernah bertemu dengan orang yang memberimu tempat tinggal di bumi waktu itu. Joy.” Aku langsung menyebut nama Joy agar wanita ini percaya.


“Apa??!!” wanita ini perlahan kembali duduk suasana hening tercipta. Wanita ini terdiam, kemudian tak lama wanita ini langsung menangis sejadi-jadinya. Dan mengatakan bahwa dia sangat merindukan Joy. Dia tak menyangka dia masih mampu mengingatJoy karena kekuatannya telah diambil oleh Proedrus sebelumnya. “Joy…”


“Joy adalah orang yang paling baik dan tulus yang pernah aku temui.” Ucapnya sambil menangis sesenggukan. Aku ingin bertemu dengannya lagi, sekali saja.


“Ya aku tahu itu. Aku juga mendapat kasih sayang dari Joy. Aku juga sangat merindukannya sekarang. Aku memeluk wanita ini, berusaha menenangkanya. Kau tahu? Joy sangat sayang padamu. Sebelum aku kembali kesini, dia berpesan kepadaku untuk menyelamatkanmu. Dia juga masih ingat atas kejadian yang menimpamu ini dan berharap kau akan kembali padanya. Kita harus keluar dari tempat ini.” Aku mengusap air mata yang mengalir deras di pipinya.


“Aku tidak bisa. Aku tak mampu berjalan lagi karena kekuatanku sudah dimiliki Proedrus. Dia mengeruk habis tenagaku. Aku hanya bisa berbaring dan duduk saja.”


“Kita harus mencari cara. Pasti kita akan temukan.” Jawabku optimis kepadanya, walau aku juga tidak tahu apakah kami benar-benar bisa keluar dari tempat ini.


“Ohya, namaku Sapphire. Aku sampai tak ingat memperkenalkan diriku.”


“Tak apa Saphhire. Ini karena aku yang menangis.” Dia tertawa kecil dan sekali lagi mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya.


“Dan ada satu hal lain yang ingin kukatakan kepadamu Scarlett.”


“Apa itu Sapphire? Teruskanlah kalimatmu.” Dia langsung mempersilahkan aku untuk meneruskan kalimatku yang aku hentikan itu.


“Aku juga bisa membaca pikiran sepertimu.”


“Apa???!!! Itu mustahil!!!!. Sepengetahuanku, keturunan yang memiliki darah yang sama sepertiku sudah dibantai habis oleh Proedrus. Tak memiliki sisa. Namun aku sempat mendegar rumor yang tidak aku percayai bahwa masih ada satu orang keturunanku, dia istimewa. Kekuatannya itu tidak bisa diambil atau dikuasai siapa pun. Jika seseorang itu mencoba untuk mengambilnya maka serangan akan berbalik kepada orang yang mencoba untuk mengambilnya. Namun sampai sekarang aku masih tidak percaya. Atau jangan-jangan….. orang itu adalah kau?”