SAPPHIRE From Coelus

SAPPHIRE From Coelus
Bagian X



Sepulangnya kami dari tempat Bu Vidya, Joy merasa lelah dan ingin langsung beristirahat di kamarnya. Aku pun juga langsung pergi ke kamarku mencoba untuk tidur karena malam ini aku harus mencari Garnett lagi. Tak berapa lama aku berbaring di ranjang yang empuk ini, aku mendengar suara bel rumah berbunyi. Aku mengintip dari jendela kamar. Itu seorang pria. Gawattt!!! Bagaimana kalau dia berniat jahat? Ah tapi kalau dia berniat jahat dia tidak mungkin membunyikan bel. Yang penting aku harus tetap waspada.


Aku pun langsung pergi keluar menemui siapa pria yang berkali-kali memencet bel. Karena aku tidak ingin mengganggu Joy yang sedang beristirahat, aku sendiri yang akan keluar untuk membukakan pagar. Begitu kubuka pagar, aku langsung mendapati wajah yang tidak asing. Ya ampun, ini pria meyusahkan yang kuantar pulang kemarin malam. Ada apa dia kesini?


“Aah, a-aku kesini ingin bertemu dengan Joy, eee mm... ma-maksudku aku ingin mengantarkan barangnya yang tertinggal di rumahku” ucapnya gugup begitu melihatku.


“Siapa kau?” tanyaku tanpa basa-basi.


Kemudian dia memperkenalkan dirinya. Namanya Alex. Dia langsung memberikan barang yang tertinggal itu karena aku menatapnya sinis. Ternyata barang yang tertinggal itu adalah cairan bunga Acanthus milikku. Aku bahkan tak sadar kalau barang itu tertinggal. Betapa cerobohnya aku. Selama di perjalanan aku malah tertawa kegirangan dalam boncengan Joy tanpa memikirkan resiko yang dikatakan Proedrus. Sekarang saja aku tak sadar kalau aku sedang di luar rumah. Untung saja pria ini mengajak berbincang di dalam rumah, jadi tidak perlu aku repot-repot ingin masuk dan bertingkah aneh. Tapi aku heran, mengapa sampai sekarang tidak ada efek apa-apa setelah aku terkena sinar matahari beberapa lama? Bahkan aku merasa lebih bugar. Atau mungkin karena matahari hari ini tidak terlalu cerah ya? Pikirku mencoba tak terlalu memikirkan.


Aku pun mempersilahkan pria ini masuk untuk berbincang. Semoga saja pria ini tidak ingat kalau akulah yang mengantarkan dia pulang kemarin. Aku mempersilahkan dia duduk di ruang tengah dan aku langsung pergi ke dapur untuk membuatkan teh dan membawakan camilan. Pria itu sangat banyak tanya. Untung saja aku bisa menjawab semua pertanyaanya dengan kebohongan sudah pasti. Kemudian dia mengucapkan sesuatu yang cukup membuatku kaget hingga tersedak. Dia menyadari kalau aku lah orang yang mengantarkannya pulang kemarin malam. “Siaalll!!! Padahal ini yang kuhindari” ucapku dalam hati. Apa Bu Vidya yang mengatakan semua kepadanya ya? pria itu bertanya apa saja yang dia lakukan kemarin malam karena dia sama sekali tidak mengingat apa yang telah terjadi. Aku pun menceritakan semuanya.


Ketika sudah selesai bercerita, tiba-tiba saja pria ini berkata maaf dan ingin menebus kesalahannya. Sejenak aku berpikir mengapa aku tak minta bantuan pria ini untuk mencari Garnett? Toh aku bertemu Garnett di sekitar rumah pria ini. Awalnya pria ini seperti keberatan, namun karena dia sangta ingin menebus kesalahannya dia pun beredia untuk membantuku. Aku berterima kasih kepadanya. Pria ini cukup manis dan menggemaskan sampai-sampai aku tak sadar telah mencubit pipinya. “Dasar Sapphire anak yang bodoh!!!” teriakku dalam hati.


Ketika aku mencubit pipinya, kami berdua terdiam. Aku terkejut begitu pula dia. “Bodoh!!” tak henti-henti aku mengumpat kepada diriku sendiri dalam hati. Aku meminta maaf dan namun dengan licik, pria itu ingin membalasnya dengan cara yang sama. Aaargghh!!! Siaaalll!!!! Aku dengan terpaksa mengiyakan. Aku tak menyangka dia akan melakukannya namun dia melakukannya. Aku sedikit terkejut juga tersipu karena dia mencubit pipiku sambil mengatakan kalau aku polos dan lucu. Pipiku memerah, begitu juga dengan pipinya. Untungnya dia langsung mengalihkan pembicaraan karena menyadari suasana yang canggung ini. Dia bertanya kapan ingin mencari Garnett. Aku langsung menjawab malam ini. Aku mengatakan bahwa Garnett diculik. Pria itu heran bagaimana bisa aku memiliki teman. Karena aku tidak bisa menjelaskan dengan panjang lebar, aku hanya meminta pria itu agar tidak banyak bertanya dan untungnya pria itu mengerti.


Ketika malam tiba, langsung saja aku dan pria itu menuju ke lokasi di mana Garnett terlihat untuk pertama kali. Kami langsung mendatangi rumah itu. Kami duduk di bangku yang ada di seberang rumah itu. Kami memantau dari sini sambil mengisi perut, mengingat kami juga belum makan malam. Jujur aku sangat mengkhawatirkan Garnett saat ini. Apa yang terjadi kepadanya sekarang? Apa dia sudah makan? Bagaimana kalau dia dikurung dan diperlakukan dengan kasar oleh manusia yang menculiknya itu? Namun Alex mencoba menenangkanku dari semua pikiran-pikiran itu.


Aku terus melihat ke arah rumah itu nyaris tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Namun tak ada tanda-tanda pergerakan dari rumah itu. Garnett, dimana kau berada sebenarnya?


Sudah hampir pukul empat pagi dan masih tak ada pergerakan apa-apa. Aku juga merasa kasihan kepada pria ini karena tampak jelas dia sudah lelah. Matanya yang sudah sayu itu berbicara kepadaku. Awalnya aku menolak, namun ini sudah hampir pagi, matahari sebentar lagi akan naik. Mengingat hal itu aku mengiyakan perkataan pria itu. Aku memintanya agar membantuku lagi besok. Dengan rasa yang agak berat, dia mengiyakan permintaanku. Tidak ada cara lain selain meminta bantuannya. Aku tidak kenal siapa pun di bumi. Jadi hanya ini cara satu-satunya agar aku bisa menemukan Garnett lebih cepat.


Kami harus pulang sekarang karena matahari sebentar lagi naik. Aku masih tak mengalihkan pandanganku pada rumah itu, ketika aku naik ke motor Alex, aku melihat ada mobil yang berhenti di depan rumah itu. Ketika pintunya dibuka, itu adalah Garnett yang datang bersama seorang pria dengan mobil yang sama seperti malam sebelumnya. Sontak aku langsung mengatakan kepada Alex bahwa temanku ada di sana. Aku langsung loncat dari motor Alex dan berlari ke arah Garnett. Aku berlari sekencang yang aku bisa dan berteriak memanggil Garnett agar dia dapat mendengarku. “Garnett!!!” teriakku. Untung saja dia mendengarku, dan ketika dia menoleh wajahnya sangat terkejut melihatku. “Putrii??!!”


...~0o0~...


Ketika aku sudah berada di dekat Garnett, aku langsung memeluknya. “Garnett, mengapa kau bisa sampai kesini?? Apa kau diculik olehnya??!!” Ucapku sambil menahan tangis dan emosi. Aku langsung mengarahkan jariku, menunjuk ke pria yang membawa Garnett ini.


“Apa??!! Jadi apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?


Mengapa kau disini dan bagaimana bunga Acanthus...” kata-kataku dipotong oleh Garnett yang mencoba menenangkanku.


“Putrii... putri... baik aku akan menjelaskan semuanya. Tenang putri. Ayo kita masuk dulu” Garnett mempersilahkan aku masuk ke rumah yang aku pantau selama berjam-jam ini. Begitu aku masuk, aku dipersilahkan duduk dan Garnett menyuguhkan aku teh untuk menenangkanku.


“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi, Garnett?” tanyaku tak sabaran setelah mengambil napas yang panjang dan menghelanya.


“Putri, sebenarnya aku tak bisa lagi ke coelus.”


“Apaa??!! Apa aku tidak salah dengar? Bagaimana bisa??!!”


“Tidak putri. Aku juga tidak tahu mengapa. Lagipula aku tidak ingin tinggal disana.”


“Apa yang salah dengan coelus, Garnett?? Para elm semua baik—”


“Iya itu hanya di depan putri” Garnett menginterupsi.


“Apa maksudmu?”


“Semua elm tidak memperdulikan keberadaanku di sana. Tidak ada yang mau menyapaku. Bahkan aku tidak punya teman. Itulah sebabnya aku selalu sendiri dan pendiam. Sampai suatu hari aku penasaran apakah yang dikatakan Proedrus benar tentang sinar matahari. Kau tahu kan aku yang bekerja menjaga bunga acanthus? Pernah aku mencoba meletakkan tanganku cukup lama di bawah sinar matahari yang menyinari bunga acanthus. Dan tidak terjadi apa-apa. Tidak seperti yang Proedrus katakan. Dan semenjak itulah aku memberanikan diri untuk pergi ke bumi.”


Aku terdiam dan berpikir sejenak dengan perkataan Garnett. Apa dia berkata jujur? Apa selama ini Proedrus berbohong?