
Scarlett memintaku untuk membuktikan apakah aku benar-benar orang yang dimaksud olehnya. Jika memang benar, ada harapan untuk kami keluar dari sini, sekaligus juga menyelamatkan nyawa Scarlett. Wajahnya yang layu, menjadi bersinar mendengar ceritaku ini.
“Aku tak tahu pasti Scarlett, aku juga baru mengetahui ini tadi saat Proedrus memegang kepalaku dan menatap mataku begitu dalam. Setelah itu dia mengerang kesakitan. Itu saja.”
“Itu berarti dia sedang mencoba untuk mengambil kekuatanmu juga Sappire. Dia tahu kau satu darah denganku, istimewa. Kekuatanku tidak bisa diambil alih, maka dari itu dia membuangmu ke bumi. Agar tidak ada yang menghalangi rencana busuknya itu.”
“Tapi mengapa baru sekarang dia ingin mengambil kekuatanku? Mengapa tidak dari dulu saja? Mengapa selama ini dia sangat baik kepadaku dan merawatku? Kenapa??”
“Sapphire, kekuatan kita akan bertambah seiring berjalannya usia. Semakin dewasa kita, semakin kuat pula kekuatan itu. Aku tahu dia merawatmu dengan tujuan lain, dan ini lah tujuan itu. Tapi hal yang membuatku bertanya-tanya adalah mengapa Proedrus memenjarakan kita di ruangan yang sama seperti ini.”
“Memangnya ada apa Scarlett?” aku juga bertanya-tanya dibuatnya.
“Kau bisa menyembuhkanku. Dua orang Elm dengan darah yang sama seperti kita bisa saling menyembuhkan jika salah satu Elm masih memiliki kekuatan. Itu yang dikatakan Ibuku, namun aku masih belum pernah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Apa mungkin dia tidak tahu tentang informasi ini?”
“Mungkin. Kalau begitu kita harus mencobanya terlebih dahulu, agar kau mendapatkan kekuatanmu lagi dan pulih. Apa kau tahu caranya?”
“Kau harus memegang kepalaku dan menatap mataku.”
“Oh itu sama seperti ketika Proedrus ingin mengambil kekuatanku.”
“Ya persis seperti itu.”
“Baiklah.” Aku langsung meletakkan tanganku di atas kepala Scarlett kemudian menatap matanya yang juga menatap mataku. Seketika mataku dipenuhi oleh sinar yang sangat terang namun aku tak bisa menutup mataku. Kepalaku sedikit sakit seperti terpukul benda tumpul namun masih bisa kutahan. Tak lama sinar itu perlahan redup dan aku merasa lelah. Tenagaku terkuras. Aku langsung tergeletak mencoba mengambil napas sebanyak mungkin sebisaku, sampai aku perlahan tertidur.
Ketika aku terbangun aku merasa kepalaku masih sakit dan mencoba mengingat apa yang terjadi. “Oh iya aku baru saja mencoba untuk—” aku terdiam sebentar kemudian kesadaranku pulih dan aku langsung menemui Scarlett yang juga tertidur. Aku mencoba untuk membangunkannya untuk bertanya apa yang sudah terjadi. Ketika aku mencoba untuk menyentuh lengannya, matanya langsung terbuka dan dia terlihat sangat sehat.
“Sapphire, kau sudah bangun? Lihat diriku! Ternyata kita memang memiliki darah yang sama dan kau adalah seseorang yang istimewa itu!!” Scarlett langsung memelukku kegirangan dan kali ini penuh dengan tenaga. Aku juga senang sekali dapat menyelamatkan Scarlett. “Tapi Sapphire, apa kau tidak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja, setelah bangun dari tidur tadi. Hanya saja kepalaku masih sedikit sakit.”
“Kalau begitu kau harus beristirahat lagi.”
“Scarlett, aku khawatir Proedrus mengetahui kalau kau sudah sehat. Aku tak ingin itu terjadi dan membuat Proedrus mengetahui rahasia besar ini.”
“Itu mudah. Aku akan pura-pura sakit saja. Ketika dia datang kesini aku akan tertidur seperti sebelumnya.”
“Apa Proedrus akan tertipu?”
Benar saja, tak lama kami berbincang suara gerendel pintu terdengar seperti ada yang mencoba untuk membukanya. Scarlett cepat-cepat untuk berbaring seperti sebelumnya. Aku terduduk disini menunggu siapa yang datang itu. Ternyata Proedrus. Dia membuka akses agar suara dapat terdengar dari luar dan dari dalam.
“Bagaimana? Apakah nyaman tinggal disini?” Tanya Proedrus kepadaku sinis. Aku tak menjawab. “Aku punya tawaran untukmu, Putri Sapphire. Apa kau mau mendengarnya? Yah ini selagi aku berbaik hati memberikanmu penawaran.”
“Lupakan itu dan enyahlah dari sini!”
“Oww, itu sangat tidak sopan. Baiklah aku akan tetap mengatakannya” Predrus berjalan lebih mendekat ke arah ku. “Dengarkan aku baik-baik. Aku akan membiarkanmu hidup jika kau ingin bergabung denganku. Untuk menguasai Coelus.” Dia menyeringai dan memasang wajah yang licik.
“Aku tahu kau akan hanya memanfaatkanku jika aku bergabung denganmu. Aku tidak akan pernah melakukan itu!” dia tertawa.
“Yah, kau kuberi waktu untuk berpikir dahulu, memang tidak baik mengambil keputusan dengan terburu-buru.” Seringainya kembali ia lemparkan kepadaku, dan aku membalas dengan tatapan sinis. Nikmati saja waktumu disini. Pilihan ada di tanganmu. Dia berkata seraya berjalan keluar dan tidak lupa dia mematikan akses suara itu.
Aku langsung menemui Scarlett yang sudah membuka matanya dan mencoba untuk duduk. Aku bertanya kepadanya apakah aku harus menerima tawaran Proedrus itu dan ketika aku sudah menjadi sekutu nya akan lebih mudah mengalahkannya. Namun Scarlett melarangku. Dia mengatakan Proedrus itu sangatlah licik. Dia bisa saja hanya memanfaatkanku dan mengancam akan membunuhku, atau akan benar-benar membunuhku. “Proedrus itu akan tahu jika kau punya maksud lain, dia bisa membaca gerak-gerikmu.” Ucap Scarlett. Tak lama terdengar lagi suara gerendel pintu. Apa Proedrus kembali untuk memaksaku bergabung dengannya? Pikiranku dipenuhi oleh hal-hal negatif. Scarlett langsung mengambil posisi lagi, langsung saja dia merebahkan dirinya. Ternyata itu bukan Proedrus. Itu si peneliti. Dia membawa makanan untuk kami berdua, namun dia tampak berbeda, seperti orang linglung. Dia juga tidak mengenaliku. Kalau dia mengenaliku pasti dia akan mengutukku. Dia tidak berkata apa-apa dengan tatapan datarnya itu.
Dia membuka sedikit celah yang ada dan celah itu hanya bisa dibuka dengan kunci khusus, memang di desain untuk memberikan makanan. Dia hanya meletakkan makanan disitu tanpa berkata apa-apa. Aku langsung berlari menuju ke arahnya dan mencoba meraih tangannya dan berteriak memohon agar aku dibebaskan. Namun gerakan peneliti itu cukup gesit. Dia langsung menutup pintu kecil itu dan menguncinya. Dia langsung berlalu pergi.
“Aneh, kenapa dia tidak mengenaliku?”
“Itu yang terjadi ketika kau telah mengambil ingatan seseorang.” Scarlett menyela, berbicara dengan mata yang tertutup dan masih tergeletak disana.
“Ahh, jadi bergitu. Pantas saja.”
“Baiklah Sapphire, lebih baik kau bawakan makanan itu karena aku sudah lapar” ucap Scarlett. Aku langsung membawakan makanan ini kepada Scarlett. Aneh, makannya hanya ada satu porsi dan satu lagi sebuah suntikan.
“Ah, benar. Dia tidak tahu jika aku sudah pulih” Scarlett tertawa.
“Apa maksudmu?”
“Selama aku disini, peneliti itulah yang menyuntikkan cairan ini sebagai pengganti makanan, agar aku tak mati. Sekarang aku mampu untuk menyuntikkan cairan ini kepada diriku sendiri” ucapnya. “Hah, padahal aku rindu untuk mengunyah dan menelan makanan.”
“Kau bisa memakan punyaku jika kau mau,” tawarku.
“Tidak Sapphire, kau harus makan itu supaya tenagamu terisi.” Ucapnya seraya mengambil suntikan itu dan menyuntikkannya ke bahunya.
Suara gerendel pintu itu berbunyi lagi, agak lama dia mencoba untuk membuka pintu itu dan pada akhirnya terbuka. Kali ini siapa lagi yang datang?