SAPPHIRE From Coelus

SAPPHIRE From Coelus
Bagian XII



Aku sangat-sangat lelah karena kemarin malam tidurku tak cukup. Namun bagaimana pun aku tetap harus membantu Ibu menjaga toko. Sepulangnya aku ke rumah tentu saja aku langsung disambut Ibu yang mulai mengatur dan merapikan toko agar dapat segera dibuka. Toko dibuka jam delapan pagi. Ibu memiliki beberapa karyawan sebenarnya. Mereka yang bertugas untuk membuat roti, dan juga urusan dapur. Ibu yang menjaga toko sekaligus kasir. Namun Ibu memintaku agar tetap menjaga toko jika ada waktu luang meskipun terkadang aku melarikan diri.


Ibu langsung mendapati wajahku yang lesu ini dan melontarkan pertanyaan dengan sedikit tawa. “Alex, mengapa wajahmu kelihatan lesu begitu?”


“Perempuan itu. Dia memintaku untuk menolongnya mencari temannya.”


“Apa?”


“Bu, tolong jangan tanya karena aku juga tidak tahu mengapa. Perempuan itu tak ingin menjelaskanya” aku langsung menjelaskan sebelum Ibu bertanya lebih lanjut.


“Yasudah sebaiknya kau harus mandi dulu agar wajahmu yang layu itu kembali segar.”


“Ya, dan setelah mandi aku akan tidur” lanjutku dengan melemparkan senyuman kecil untuk Ibu.


“Dasar kau ini. Ibu beri waktu satu jam untuk tidur dan kau harus segera kesini!”


Aku langsung berhambur lari ke kamarku tak peduli Ibu berteriak mengatakan apa. Aku langsung ke kamar mandi dan menuntaskan semuanya. Aku pikir setelah aku mandi aku akan segar kembali namun dugaanku salah. Aku masih tetap harus tidur. “Ibu, maafkan anakmu ini, aku benar-benar butuh tidur dan satu jam saja kurasa tak akan cukup” ucapku yang bahkan tidak didengar oleh Ibu.


Aku langsung merebahkan tubuhku di kasurku. Saat ini, kasurku lah tempat paling nyaman sedunia. Aku berbaring ke kanan dan kupeluk gulingku yang empuk ini. Tak butuh waktu yang lama, aku memejamkan mataku dan langsung tertidur.


Aku mendengar suara langkah kaki yang begitu cepat, seperti menghindari sesuatu. Seirama dengan suara napas yang terengah-engah. “Dimana aku?” tanyaku dalam hati. Tempat ini dipenuhi oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi, indah, dan memiliki sesuatu yang mengkilap berwarna-warni seperti buahnya. Sesaat aku tergoda untuk mengambilnya karena sesuatu yang menghiasi pohon yang menjulang tinggi itu sangatlah cantik. Namun tak sempat aku mengagumi keindahan tempat ini, aku dikejutkan dengan suara seorang pria paruh baya yang entah dari mana asalnya. Seperti berbicara dari langit. Apakah itu Tuhan? Apa aku sudah mati? Tidak mungkin. Karena suara itu sepertinya berbicara dengan orang lain. Tidak, bukan sekadar berbicara namun bertengkar. Aku mencoba mencari sumber suara satunya lagi. Aku mendengar pria itu menyebutkan satu nama, tapi tidak terlalu jelas. Roedus? Odrus? Aku tak yakin. Ketika aku merasa aku sudah sangat mendekati suara satunya itu tiba-tiba yang kudengar hanyalah suara teriakan yang sangat kencang dan menderita. Karena teriakan itu aku langsung kembali ke alamku, terbangun dari mimpiku..


Siaaalll. Mimpi apa aku barusan? Tak pernah sebelumnya aku mengalami mimpi seseram dan semenakutkan ini. Aku juga sempat penasaran mengapa aku bermimpi seperti itu. Apa karena aku kelelahan dan kurang tidur? Masih teringat jelas bahwa tadi aku berada di tengah-tengah pertengkaran dua orang laki-laki yang tak kulihat wajahnya. Biasanya mimpi tak sejelas ini. Sontak aku langsung teringat pada sosok Ayah.


“Alex!! Ada apa?” tanya Ibu dengan memperlihatkan wajah yang khawatir. “Kau berteriak sangat kencang. Apa yang terjadi, Alex?”


“Ah, hanya mimpi buruk, Bu” jelasku singkat tak mau membuat Ibu khawatir.


“Baiklah, sepertinya kau kelelahan. Kau istirahat saja hari ini. Ibu akan menjaga toko”


“Tidak apa-apa Bu, aku sudah kembali segar. Tidurku sudah cukup” ucapku berbohong.


“Tidak. Kau istirahat saja. Ibu akan membuatkanmu sup.”


Rupanya sejelas itu raut wajahku. Sebenarnya aku sedikit tidak enak badan gara-gara mimpi sialan itu. Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhku dan membasahi bajuku. Aku segera mengganti bajuku dan entah mengapa potongan-potongan mimpi tadi masih menghantuiku. “Sialan!!”


“Alex, ada apa?”


“Tidak ada apa-apa, Bu” ucapku berbohong lagi.


“Ini sup nya. Segera lah dimakan selagi hangat”


“Terima kasih, Bu.” Kemudian Ibu berlalu pergi, namun belum sampai Ibu ke depan pintu kamarku, aku memanggil Ibu. Aku tiba-tiba saja bertanya tentang Ayah. Aneh. Padahal aku sangat menghindari pertanyaan yang berhubungan dengan Ayah, namun kali ini aku menanyakannya.


“Bu, apa yang sebenarnya terjadi kepada Ayah?”


“Alex, mengapa tiba-tiba saja kau bertanya tentang ini? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Ibu.


“Tidak Bu, aku tiba-tiba hanya penasaran karena Ibu selalu menghindari pertanyaan semacam ini.”


“Kalau kau hanya penasaran sebaiknya kita tidak membicarakan ini, Alex. Ibu kan sudah pernah bilang.”


“Iya. Ada sesuatu yang menggangguku, Bu. Tentang mimpi tadi. Itu adalah mimpi yang sampai sekarang aku tidak bisa melupakannya”


“Perlahan kau akan melupa...”


“Tidak, Bu. Tidak bisa. Mimpi itu seakan menggerogoti pikiranku. Seperti pesan yang mengarahkanku untuk mencari jawaban yang sebenarnya. Tolong ceritakan apa saja yang Ibu tahu, kumohon, Bu.” Aku memelas agar Ibu mau menceritakan semua yang dia tahu kepadaku, agar aku segera terbebas dari bayang-bayang mimpi buruk itu.


Wajah Ibu berubah sedih ketika aku memaksanya untuk menceritakan semuanya. Ada apa sebenarnya? Kematian Ayah memanglah janggal. Aku yakin ada sesuatu yang Ibu tutupi dari aku. Akhirnya Ibu mau menceritakan semuanya walaupun dengan berat hati. Tampak dari napas yang dihirup sangat panjang dan dihembuskan Ibu. Ibu mulai bercerita.


Beberapa tahun yang lalu, Ibu bertemu seorang pria di taman, sedang duduk sendirian. Kerena kasihan, Ibu menghampirinya padahal saat itu Ibu harus pulang untuk menemani nenek menjaga toko roti kami. Ibu duduk di sampingnya dan bertanya kabarnya. Sontak pria itu terkejut dengan kehadiran Ibu. Pria itu sedikit aneh. Ketakutannya berlebihan. Namun entah mengapa perlahan ketakutannya itu mencair karena Ibu. Kemudian Ibu bertanya apa yang dilakukan pria itu di tempat ini. Pria itu menjawab seadanya. Dia hanya mencari udara segar, duduk di taman memandang danau yang terbentang di depannya. Ibu tak berlama-lama disitu karena ia sadar harus segera pulang.


Beberapa hari kemudian mereka bertemu dan terus bertemu. Tak disengaja namun seperti terencana. Mulai dari situ, mereka mulai berhubungan. Walau Ayah sempat menolak, namun Ibu bersikeras karena rasa sayang yang sudah tumbuh seiring berjalannya waktu itu. Ayah menceritakan semua tentangnya, semua itu hal yang tak masuk akal, namun itulah kebenarannya. Ayah merasa takut jika hubungannya dengan Ibu tidak akan berhasil dan membuat Ibu sedih. Namun Ibu tak peduli. “Jika tidak mencoba apakah kita akan tahu?” Kata Ibu kepada Ayah saat itu. Dan benar saja. Apa yang ditakutkan Ayah terjadi. Namun Ibu sudah menerimana semuanya. Ini adalah salah satu alasan Ibu menyembunyikan ini semua. Dia tak mau kehilangan orang byang disayanginya lagi. Namun Ibu juga tidak mau Ayah sedih disana karena menyampaikan kebenaran adalah salah satu permintaan Ayah kepada Ibu sebelum pergi.


Ibu mengatakan bahwa Ayah tinggal bersama kakek yang aku tidak tahu seperti apa wajahnya. Aku hanya tahu namanya. Martin. Kebenaran pun dikatakan Ibu. Sebenarnya Ayah bukanlah sepenuhnya manusia. Kakek Martin adalah seorang Elm. Mereka adalah para penghuni planet Coelus. Ibu tak tahu bagaimana kakek Martin ada di bumi, Ayah tak pernah memberitahu. Kemudian kakek menikah dengan seorang perempuan. Dia nenekku. Namun beliau wafat ketika melahirkan Ayah. Ibu mengatakan bahwa Ayah sudah mengatakan ini sebelum mereka menikah. Namun Ibu tetap tak terlalu mempedulikan perkataan Ayah. Ibu tetap bersikeras untuk bersama-sama dengan Ayah. Ayah pun tak bisa menolak. Karena memang dia sangat mencintai Ibu.


Tak lama berselang itu, mereka menikah. Lahirlah aku. Anak yang juga memiliki darah seorang Elm. Ibu mengatakan bahwa setelah kakek tiada, Ayah harus menyelesaikan satu misi yang tidak bisa dituntaskan oleh kakek dahulu. Namun karena kurangnya persiapan dan Ayah hanya seorang diri, itu hanya membawa petaka untuk Ayah. Ibu tak tahu sama sekali apa yang terjadi dan apa misi Ayah. Ayah hanya mengatakan bahwa dia akan mengurus semuanya dan akan pulang, namun ia telah berbohong. Ayah tak kembali. Ternyata Ayah ada meninggalkan pesan untukku, ditulis dalam bentuk surat yang sudah lama disimpan Ibu. Ayah sudah mempersiapkan ini seandainya dia gagal. Aku harus menyelesaikan misi itu.