SAPPHIRE From Coelus

SAPPHIRE From Coelus
Bagian XXIV



Ketika tirai yang terbuat dari tanaman ini aku buka, aku langsung disuguhkan dengan pemandangan yang sangat asing bagiku. Lapangan terbuka yang hijau dan tersinari oleh matahari. Sangat indah namun sedikit aneh. Mengapa tempat seperti ini ada di dalam rumah Proedrus? Kutelusuri tempat ini, karena sangat mencurigakan. Langkah demi langkah dengan pasti kuambil untuk menemui Martin. Karena tinggal tempat ini yang belum aku jelajahi. 


Tempat ini dipenuhi oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi dan memiliki sesuatu yang berkilau seperti buahnya. Aku coba memetik buah ini karena sangat penasaran. Aku mengatakan ini buahnya karena dia mengantung diantara ranting-ranting pohon, satu per satu namun aku tak yakin apakah ini benar buahnya. Bentuknya bundar, kecil, bersinar dan sangat berkilau seperti permata. Sepertinya benda ini menyerap sinar matahari. Matahari adalah salah satu sumber kekuatan para Elm. Sinarnya dapat menambah energi.


Tak lama aku berjalan, aku menemukan sebuah bangunan yang tidak begitu besar. Aku mendengar seperti ada keributan dari sana. Aku langsung berlari mendatangi bangunan itu. Dari kejauhan aku melihat ada portal yang terbuka. Aku baru pertama melihat portal karena selama ini aku hanya menggambarkannya dari penjelasan Martin. Dia pernah bercerita kepadaku para Elm bisa membuka portal ke bumi dan tidak bisa sembarang membuka portal jika tidak ada hal yang mendesak.  Namun dia tidak mengatakan apa alasannya dan dia belum bisa mengajarkanku karena aku belum cukup dewasa, cukup berbahaya.


Aku melihat dari kejauhan jika Martin dipaksa masuk ke dalam portal itu oleh Proedrus dan satu orang lain yang aku tidak kenal dengannya. Martin ditarik oleh kedua orang itu dan dicampakkan ke dalamnya. Aku tak sempat menahan mereka berbuat seperti itu, tapi mengapa mereka melakukannya? Aku mencoba berteriak untuk menghentikan mereka namun sia-sia. Ketika aku sampai ke bangunan itu portalnya sudah tertutup. Proedrus yang menutup portal itu. 


Sesampainya aku menangis dan bertanya kenapa mereka melakukan hal itu kepada Martin. Proedrus yang ada di hadapanku menjelaskan hal yang masuk akal. Dia mengatakan bahwa Martin harus menyelesaikan sesuatu di bumi. Namun dari gelagat bicaranya, sepertinya dia berbohong. Dan lagi, Martin dipaksa masuk oleh mereka berdua. Ketika aku berhadapan dengan Proedrus ternyata pria asing yang membantu Proedrus itu berada di belakangku tanpa kusadari. Ketika aku lengah karena aku sangat sedih dan marah, dia memanggilku dari belakang. Aku langsung menghadap ke belakang dan seketika dia menyemprotkan cairan aneh. Ketika cairan itu mengenai wajahku, aku langsung mengerang kesakitan. Dan aku merasakan tak hanya wajahku yang disemprotkan, namun seluruh badanku juga. 


Tak lama tangisku pun reda, mereka membantuku naik ke atas tempat tidur kecil yang disediakan disini. Entah mengapa aku merasa sangat tenang, dan juga patuh kepada mereka. Namun aku masih bisa mengingat apa yang terjadi dengan jelas. Aku memejamkan mata, mencoba untuk terlelap, namun aku mendengar percakapan mereka.


“Sepertinya rencana kita akan berhasil, Proedrus. Lihat saja dia jadi jauh lebih tenang dan tak bertanya tentang Martin lagi.” Ucap lelaki itu.


“Ya namun kita harus menunggu dulu. Apakah cairan bunga Acanthus buatanmu itu benar-benar bekerja.”


“Sepertinya akan bekerja, Proedrus. Kita bisa lihat dari ekspresi putri yang sudah tertidur itu.”


“Kalau dia sudah bangun, akan kita bentuk kembali ingatannya. Dan ketika saat itu berhasil, kita akan langsung melakukan rencana kita. Dan juga kau harus menyempurnakan Kristal Anthanasius milikku.”


Hanya itu yang dapat ku dengar sebelum aku benar-benar terlelap. Aku bermimpi bertemu kedua orangtuaku. Kami berpelukan. Wajah mereka begitu bercahaya melihatku. Mereka tak mengatakan sepatah kata pun, hanya tersenyum bahagia. Kami pun berjalan bertiga menuju cahaya yang sangat terang.


Perlahan aku membuka mataku dan terbangun. Aku merasa kosong dan kebingungan. Aku ada dimana? Ingatanku samar. Aku melihat Proedrus berjalan mendekatiku. 


“Kau sudah bangun, putri?” tanyanya dengan lembut.


“Ah, i-iya. Ada dimana aku?” 


“Kau sekarang ada di rumahku, putri.”


“Apa yang baru saja terjadi kepadaku, Proedrus?”


“Kau tadi pingsan di depan rumahku putri. Kau memanggil-manggilku namun ketika aku menemuimu kau sudah tergeletak. Jadi aku membawamu untuk istirahat disini.”


“Apa? Aku pingsan?” aku tak begitu ingat mengapa aku pingsan. “Terima kasih Proedrus kau telah membantuku.


“Iya sudah kewajibanku, putri. Atau jangan-jangan putri pingsan karena terkena sinar matahari?”


“Apa? Itu mustahil. Bukanya sinar matahari itu sumber kekuatan para Elm?”


“Apa kau tidak mendengar kabar saat ini putri? Bahwa sinar matahari bukanlah sumber kekuatan Elm. Malah sebaliknya. Ada seseorang yang memanipulasi pernyataan itu.”


“Tentu putri. Aku menemukan ini” Proedrus merogoh sakunya dan menunjukkanku botol semprotan yang di dalamnya terdapat cairan bening. 


“Cairan apa ini Proedrus?”


“Ini adalah cairan bunga Acanthus.”


Proedrus menjelaskan bagaimana cairan ini bekerja. Dia mengatakan bahwa harus menyemprotkan cairan ini ke seluruh Coelus. Cairan ini bersifat memblokir cahaya matahari, dan aku langsung memerintahkan agar segera melakukan itu. Proedrus pun langsung melaksanakannya. Cairan bunga Acanthus itu sudah ditebar. Awalnya para Elm kebingungan, namun Proedrus menjelaskan semuanya. Aku sedikit curiga kepada Proedrus, karena aku berpikir berita ini sudah tersebar di kalangan Elm, namun ketika hendak menebar cairan ini Proedrus kembali menegaskan berita ini. Namun aku sangat percaya kepada Proedrus. Dia tak mungkin berbohong.


...~0o0~...


Perlahan, aku mengumpulkan kesadaranku yang sedikit demi sedikit menyatu. Kubuka mataku yang sangat tertutup erat ini dengan susah payah. Aku berada di dalam ruangan kaca ini lagi. Aku mencoba untuk bangkit namun aku sangat tak berdaya. 


“Sapphire….!!! Kau sudah bangun??? Apa kau baik-baik saja? Apa yang telah mereka perbuat kepadamu??” Tanya Scarlett yang langsung menghampiriku dan mengusap-usap kepalaku.


“Apa yang terjadi Scarlett?”


“Hah? Harusnya aku yang bertanya itu kepadamu, Sapphire! Kau tau? Kau sudah dua hari tak sadarkan diri. Aku sangat khawatir kepadamu.”


Aku menghela napas dengan sangat berat. Sepertinya untuk mengeluarkan suara saja sangat sulit. Aku sangat lemas tak berdaya. Aku melihat Scarlett yang bangkit dan mengambilkanku makanan. Dia mengatakan aku harus makan karena selama dua hari aku hanya diberikan suntikan yang sama seperti dirinya, dan itu tidak cukup. Mereka masih meletakkan makanan di depan ruangan kaca ini walaupun mereka tahu aku masih belum bangun.


“Aku merasa mereka seperti menunda-nunda kematianku”


“Memangnya apa saja yang mereka perbuat di atas sana?”


“Mereka membawaku ke ruang penyiksaan. Dan…. Menyiksaku dengan berbagai macam alat.”


“Dasar tua bangka tidak punya perasaan!!” Scarlett mengumpat. “Sapphire, aku turut menyesal dengan apa yang terjadi kepadamu” katanya sambil mengelus kepalaku.” Aku lupa memberitahumu bahwa kita ini, terlebih kau tidak mudah untuk mati.” Aku kembali menghela napas.


 “Itu terdengar seperti sebuah kutukan.” Aku tersenyum sinis.


Suara pintu dari atas terdengar lagi. Kali ini sedikit lebih keras dari biasanya. Aku menebak-nebak apakah itu Proedrus ataukah si peneliti itu yang mencoba masuk. Sialan!!! Mau apa lagi mereka? 


“Takkkk....” suara pintu dari atas terdengar seperti dibuka paksa. Apa mereka kehilangan kuncinya sehingga suaranya terdengar agak keras seperti besi yang dihancurkan. Aku tak peduli lagi mereka akan berbuat apa lagi kepadaku. Selama kekuatanku belum pulih, aku tidak berdaya untuk melawan.


Aku mendengar langkah kaki yang begitu terburu-buru untuk masuk ke dalam sini. Aku hanya memejamkan mataku, tak peduli siapa yang akan masuk kali ini. 


Aku mendengar suara ketukan yang menggebu-gebu dari luar kotak kaca ini. Awalnya aku tak mau menanggapinya, namun ketukanya semakin kencang. Aku langsung membuka mataku dan mencoba memandang ke arah sumber suara. 


 “Alex??!!!”