
Aku masih berada di pelukan Joy ketika aku terbangun. Joy sama sekali tak melepaskan pelukannya bahkan ketika tidur. Aku sangat tak ingin melepaskan pelukan ini, namun terdengar bel rumah. Ada seseorang yang menekannya. Itu pasti Alex. Suara belnya terdengar olehku, namun tidak dengan Joy yang masih tertidur sangat pulas. Perlahan aku mencoba untuk melepaskan tangan Joy yang merangkulku namun itu malah membuat Joy terbangun. Aku jadi merasa tak enak karena sudah mengganggu tidurnya.
“Kau sudah bangun, Sapphire” sapa Joy dengan mata yang masih belum sepenuhnya terbuka.
“Ah iya Joy, hari ini aku ada janji dengan Alex.”
“Oooowwwhh” jawab Joy panjang sambil menunjukkan senyum dan memicingkan matanya yang mengandung banyak makna. “Kalian mau kemana?”
“Ehmmm, aku mau latihan hari ini dengan Alex. Aku harus tahu apa kekuatanku sebenarnya, agar aku bisa melumpuhkan penguasa Coelus yang jahat itu. Si tua Bangka yang tidak tahu diri.”
“Ah, baiklah aku mengerti. Namun mengapa harus bersama dengan Alex?” Tanya Joy heran. Benar juga, sebelumnya aku tak menceritakan bahwa Alex memiliki darah seorang Elm. Namun sebaiknya aku tidak menceritakannya dulu kepada Joy.
“Karena hanya dia teman yang aku punya disini, Joy.” Jawabku sebisa mungkin. “Baiklah Joy, aku harus segera pergi sekarang.” Aku mencoba menghindar agar Joy tidak terus-terusan bertanya karena Alex sudah ada di luar.
“Baiklah kalau begitu, hati-hati Sapphire.” Joy tersenyum.
Aku langsung lari ke depan pintu dan melihat Alex sudah menunggu di sana. Dia melambaikan tangannya kepadaku dan aku membalas lambaiannya. Entah mengapa perasaanku semakin dalam terhadapnya, bahkan aku benar kalau dia lah yang memencet bel rumah walaupun bisa jadi tu orang lain. Aku langsung menghampirinya dan seperti biasa dia mempersilahkan aku naik ke motor kesayanganya itu.
“Apa kau sudah siap, Sapphire?”
“Aku selalu siap kapan pun itu.”
Pertama-tama, kami pergi ke rumah Avila untuk menjumpai Garnett. Seperti biasa, Alex meletakkan motornya di rumah Avila. Kami bertiga berjalan kaki menuju hutan. Sepanjang jalan menuju hutan, Garnett tak henti-hentinya mengoceh. Ternyata dia cerewet juga. Dia mengoceh tentang Proedrus yang tega melakukan hal semacam ini demi kekuasaan. Sedang Alex tak membuang sedikitpun pandangannya padaku. Aku merasakannya dan setiap kali aku melihatnya, apsti dia juga melihatku. Aku sangat canggung dibuatnya. Kami tertawa bersama sepanjang jalan, terlebih melihat tingkah Garnett.
Sesampainya di hutan, kami langsung memulai latihan untuk membuka portal itu. Aku menawarkan diri untuk memulai pertama, namun Alex langsung menolaknya.
“Perhatikan gerakanku ya, kau bisa mengkoreksi nya setelah itu.” Alex langsung saja membuat lingkaran tepat di depan tubuhnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, namun alhasil hal itu malah menyebabkan sinar yang terlalu terang dan Alex langsung terpental akibat itu. Sontak aku dan Garnett berteriak menyebut namanya. Dia terpental cukup jauh dan tubuhnya membentur pohon. Aku dan Garnett langsung menghampiri Alex yang sudah tergeletak. Aku mencoba untuk membangunkan Alex, namun dia masih tak sadarkan diri. Aku sangat cemas.
“Garnett, apa seharusnya kita hentikan saja ini semua? Aku takut sesuatu yang buruk mungkin terjadi juga kepadamu.”
“Putri, jika kita tidak mencoba, kita tidak akan tahu. Kita harus menyelamatkan Coelus bukan? Kau disini saja menemani Alex, aku akan mencoba membuka portal itu dengan hati-hati.”
“Baiklah Garnett. Jangan terlalu memaksakan dirimu.”
Aku mengangkat kepala Alex dengan perlahan dan meletakkannya di pangkuanku. Garnett kemudian pergi agak menjauh dari kami dan melakukan gerakan yang sama seperti yang Alex lakukan tadi, namun dengan kecepatan yang lebih rendah. Yang terjadi hanya sinar yang bermunculan membentuk lingkaran, namun portalnya masih belum terbuka. Tak lama Garnett berhenti. Mungkin karena dia tau batas kekuatan dirinya agar tidak pingsan lagi. Kemudian tiba-tiba Alex terbangun. Aku sangat terkejut dan langsung saja membantunya untuk duduk. “Alex, bagaimana kondisimu? Bagian tubuh mana yang sakit?” Sungguh aku sangat mengkhawatirkan Alex.
“Kepalaku sudah pasti sakit, dan kali ini sakitnya bertambah ke punggungku. Sepertinya terbentur cukup keras tadi. Aku sudah melakukan hal yang bodoh.” Alex masih bisa tertawa dengan situasi seperti ini.
Garnett menghampiri kami berdua dengan tubuh yang terlihat sudah agak letih. Aku menyuruhnya untuk duduk dan beristirahat sedang aku yang kali ini harus membuka portal itu. Kuulang lagi gerakan yang dilakukan Alex dan Garnett. Kututup mataku dan kugerakkan tanganku membentuk lingkaran. Perlahan aku menambah kecepatanku. Cahaya mulai bermunculan membentuk lingkaran dari gerakan tanganku. Namun tetap saja, portal itu tak muncul. Sejenak aku ingin menambah kecepatannya, namun aku langsung teringat kepada hal yang menimpa Alex. Akhirnya aku memberhentikan gerakanku. Waahh benar-benar menguras tenaga, letihnya bukan main. Aku seperti baru saja mengangkat beban berat sambil berlari jauh. Kakiku gemetar. Aku rasa aku tak bisa melakukan ini untuk kedua kalinya.
“Sapphire!!! Sudah hentikan itu!!” Alex sedikit berteriak memanggilku dari jarak yang tidak terlalu jauh. Dia menyuruhku berhenti namun hati ini belum puas. Aku rasa aku ingin melakukannya lagi sampai portal benar-benar terbuka. Namun memang aku seharusnya berhenti, daripada aku pingsan nantinya dan merepotkan kedua temanku itu. Aku menuruti apa kata Alex dan menghampiri mereka berdua dengan langkah dan gemetar. “Sapphire, ayo kita istirahat dulu. Aku tahu kau sangat lelah. Terlihat dari langkahmu yang gemetar.” Aku langsung duduk di sebelah Alex. Kami duduk di bawah pohon tempat kami bertiga pingsan kemarin. Sepertinya pohon ini adalah pohon yang paling besar, paling rindang, dan paling kokoh diantara sekian banyaknya pohon di hutan ini.
Aku hanya memandang lurus kedepan sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menyapa tubuhku. Mataku terpejam karena angin dengan lembut menyentuh wajahku. Aku sedikit terkejut ketika menyadari bahwa Alex sudah berada lebih dekat denganku, tepat disampingku tanpa jarak. Berbeda dengan Garnett yang sudah tertidur pulas. Alex hanya tersenyum melihat ekspresiku yang terkejut. Ya ampun, senyumannya itu sangat manis. Dia menampakan gigi-giginya yang berbaris rapi dan putih itu. Lesung pipinya yang indah terbentuk ketika dia tersenyum. Rambutnya yang bergelombang dan hampir sebahu itu berkibar seraya dia menundukkan kepalanya sambil tertawa. Tak sadar mataku terpana cukup lama karena pemandangan ini. Belakangan baru aku menyadari bahwa Alex sangat sempurna.
Alex menatapku balik dan tatapan itu membuatku salah tingkah. Langsung ku campakkan pandanganku ke arah berlawanan. Sial!!! Dia memergokiku sedang menatapnya. “Sapphire, tolong jangan palingkan wajahmu.” Aku hanya bisa membeku dan membisu karena tersipu. Aku kembali dikejutkan oleh Alex yang menyentuh pipiku dengan lembut, kemudian membalikkan wajahku agar kembali menghadap wajahnya. Tahukah kau Alex? Aku merasakan jantungku ingin keluar dari tempatnya sekarang juga. Debar jantungku terlalu cepat hingga terdengar sangat jelas. Atau debaran ini telah menyatu dengan milik Alex? Aku bisa merasakan bahwa bukan hanya jantungku saja yang berdebar sedemikian keras, namun juga jantung Alex. Aku kembali menatap wajahnya yang rupawan itu. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Semakin dekat, dan kemudian dia menutup matanya. Aku juga hampir menutup mataku namun aku langsung tersadar. Tidaaakk…. Aku tidak bisa. Aku langsung menjauhkan wajahku dari wajah Alex. Kemudian aku langsung berdiri dan sedikit menjauh. Aku benar-benar membuat tingkah yang konyol di depan Alex.
Tak sengaja aku melihat wajah Alex sepintas. Dia hanya tersenyum kecil. Apa seharusnya aku membiarkannya saja ya? Aaarrgggh tidak. Ini bukan waktu yang tepat. Bisa gawat jika Garnett tiba-tiba saja bangun dan melihat kami. Aku membuang semua pikiran itu dan mengelilingi pohon yang besar ini. Aku terhenti kemudian menyentuh batangnya yang sangat kokoh. Entah mengapa aku tak sengaja membentuk lingkaran sambil menyentuh batang pohon ini. Ketika tanganku membentuk putaran ketiga aku mengatakan jika aku sangat ingin cepat pulang ke Coelus. Secara tiba-tiba muncullah cahaya dan terbentuklah lubang dari gerakan tanganku yang membentuk lingkaran tadi. Aku sangat terkejut. Aku mencoba meletakkan tanganku ke dalamnya, dan benar saja itu menembus entah kemana. Aku tak bisa melihat ke dalamnya karena dipenuhi oleh sinar yang berkilauan. Hanya sinar. Mataku tidak bisa menembus sinar itu dan melihat apa sebenarnya isi dari lingkaran ini. Seketika aku teringat, apa jangan-jangan ini adalah portal menuju Coelus? Cepat-cepat aku berteriak memanggil Alex dan Garnett.