SAPPHIRE From Coelus

SAPPHIRE From Coelus
Bagian VI



Malam ini aku makan malam bersama wanita paruh baya ini. Betapa senangnya hatiku. Dia sangat ramah, periang, dan selalu tersenyum. Aku sangat nyaman dengan sikapnya yang hangat dan terbuka kepadaku. Aku merasa seperti bersama Proedrus namun bedanya dia perempuan.


“Jadi nak, darimana asalmu? Bagaimana kau bisa sampai kesini?” tanya wanita itu dengan penasaran.


“Kau tidak akan mempercayaiku jika aku mengatakan yang sejujurnya” jawabku.


“Katakan saja dengan jujur, aku akan mencoba mengerti” jawab wanita itu seraya tersenyum.


“Baiklah. Namaku adalah Sapphire dan aku bukan berasal dari bumi” kataku singkat.


Wanita itu mengernyitkan alisnya. Menatapku dengan tatapan yang terpaksa untuk percaya dan tidak lupa tersenyum.


“Aku sudah bilang, pasti ini sulit dipercaya” aku langsung menjawab karena ekspresi wanita itu.


“Tida tidak nak, kau boleh melanjutkannya. Aku ingin mendengar cerita darimu” pungkas wanita itu.


“Baik. Aku akan menceritakan semuanya. Namun aku ada satu permintaan”


“Apa itu nak?”


“Tolong rahasiakan semua ini dari manusia manapun. Apakah kau bisa?”


“Hahaha tentu nak, kau bisa mempercayaiku”


“Terima kasih, aku akan memegang kata-katamu Nyonya” ucapku sambil membalas senyumannya.


“Baiklah, sekarang aku ingin mendengar semua cerita tentangmu” jawab wanita itu tak sabaran.


“Aku adalah seorang puteri dari planet yang bernama Coelus” ucapku. “Aku datang ke bumi karena terjadi masalah di planetku. Ada yang mencuri salah satu temanku. Namanya Garnett. Dia dibawa oleh manusia yang jahat yang mencuri bunga Acanthus dari planet kami. Bunga acanthus adalah bunga yang mampu menahan sinar matahari karena orang-orang di planetku tak tahan pada sinar matahari dan karena itu juga bunga acanthus adalah bunga yang sangat berharga bagi kami” ucapku dengan panjang lebar.


“Wowww, itu sebabnya kau tidak berani keluar pada siang hari tadi. Hahaha aku pikir kamu hanya berpura-pura karena tidak ingin kulit putihmu itu menjadi gelap” goda wanita itu lagi.


“Hahaha, tentu tidak Nyonya. Tak masalah jika kau tidak mempercaya—” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, wanita itu langsung menutup mulutku dengan jari telunjuknya.


Aku membalas ucapannya dengan mengangguk kemudain segera melanjutkan makan malamku karena aku harus mencari Garnett lagi malam ini.


Setelah selesai makan malam, aku membantu wanita ini membereskan meja makan dan membersihkan piring. Kemudian aku meminta izin untuk pergi keluar mencari Garnett. Wanita itu langsung mengizinkanku bahkan memberikanku kunci cadangan untuk berjaga-jaga kalau wanita itu tertidur dan tak mendengarku pulang.


Langsung aku keluar dari rumah ini dan segera melanjutkan pencarianku. Sama sekali tak kurasakan keberadaan Garnett. Tak putus asa, aku terus mencarinya ke tempat-tempat yang mungkin banyak didatangi oleh manusia. Pertama-tama, aku mencarinya ke sebuah tempat makan. Sejauh ini sudah ada sekitar dua puluh tempat makan yang aku datangi dan hasilnya nihil. Sama sekali tak kurasakan kehadiran Garnett.


Kedua, aku mendatangi sebuah tempat yang dari luar kelihatan ramai dan banyak orang yang mengantri untuk masuk. Terdengar suara musik dan suara orang bernyanyi dari depan sini. Aku mencoba masuk dan tiba-tiba ada seseorang yang tanpa basa-basi menarik tanganku menuju meja depan untuk memesan sebuah ruangan bernyanyi itu. Aku terkejut setengah mati ketika tanganku ditarik oleh lelaki asing ini. “Heyyy siapa kau??!! Apa yang kau lakukan??!” teriakku cukup keras. “Sssttt... tenanglah nona, aku hanya ingin ditemani” bisik pria itu.


Pria itu menggengam tanganku erat seraya memesan ruangan bernyanyi ini. Aku sudah mencoba meminta tolong, tapi pria itu bilang kepada orang-orang kalau aku ini adalah pacarnya. Aku tidak mengerti sebenarnya. Apa itu semacam budak? Tapi itu tidak mungkin karena semua orang-orang disini tertawa kecil melihat kami berdua. Tak ada pilihan, aku juga tidak bisa melepaskan genggamannya ini. Terpaksa aku mengikuti kemauan pria ini. Menemaninya di ruangan bernyanyi.


Ketika akan berjalan ke ruangan bernyanyi, kami diantarkan oleh salah satu petugas. Setelah kami diantarnya, dia meninggalkan kami berdua. “Siaaal” aku mengumpat dalam hati. “Tujuanku adalah mencari Garnett!! Kenapa aku malah terjebak disini bersama pria aneh ini?”


Pria itu langsung memencet tombol-tombol yang terhubung ke layar. Aku hanya terduduk di sofa ruangan ini. Tentu saja aku sudah mencoba untuk kabur, namun pria ini dengan cepat menangkapku dan berkata “Tolong temani aku”. Melihat sorot matanya yang begitu dalam, seketika aku luluh. Sangat banyak kesedihan yang mendalam disana. Sebenarnya siapa dia?


Ketika sudah selesai, musik pun dimulai. Pria itu mengambil suatu benda yang terdapat bulatan di atasnya. Alat itu yang digunakannya untuk bernyanyi. Aku hanya menonton dari sofa ini melihatnya bernyanyi. Dia seperti orang yang terkena sihir. Tidak bisa sepenuhnya mengendalikan dirinya. Entah mengapa aku merasa kasihan kepadanya dan akupun tak tahu mengapa akun menurut saja ketika dia memintaku untuk menemaninya. “Sapphire, kenapa kau begitu bodoh? Kau harusnya mencari Garnett!!” umpatku kepada diriku sendiri dalam hati. Umpatan yang tidak berguna. Toh aku masih disini, menemani pria ini.


Ketika aku mendengarkan suara pria ini, aku seperti terhipnotis. Indah sekali. Aku mendengarkan dengan seksama lagu yang ia bawakan. Itu adalah lagu yang sangat menyentuh. Ketika sudah bernyanyi beberapa lagu, yang tadinya berdiri, dia pindah duduk ke sebelahku. Menatapku sambil bernyanyi. Aku pun menatapnya tanpa berkedip. “Apa yang aku lakukan?” teriakku dalam hati. Namun aku menikmati ketika aku menatap matanya. Sangat indah walau dalam kegelapan. Kemudian dia menyandarkan kepalanya ke pundakku, masih sambil bernyanyi. Tak lama suara nyanyian itu hilang, berubah menjadi tangisan kecil.


“Hey, apa kau baik-baik saja?” tanyaku.


Pria itu tidak menjawab. Ia hanya terdiam dan dalam diamnya tak lama ia tertidur di pundakku. Aku mencoba memanggilnya namun dia benar-benar tertidur pulas. Mungkin ia kelelahan. Atau jangan-jangan dia benar-benar terkena sihir? Tanyaku dalam hati. Aku tak mempermasalahkan dia yang tertidur di pundakku. Aku hanya membiarkanya dan menyandarkan kepalaku ke kepalanya.


Entah berapa lama sudah kami seperti ini. Sebenarnya aku sudah lelah, pundakku terasa pegal namun aku tak tega jika membangunkannya dan pergi dari sini. Untung saja tidak lama setelah itu, dia terbangun. Mengangkat kepalanya namun matanya masih tertutup. Cepat-cepat aku keluar meninggalkan tempat itu karena aku tidak ingin jika dia menahanku lagi. Langsung saja aku keluar dari tempat itu dengan berlari kecil. Hanya baru beberapa langkah saja, aku langsung membalikkan lagi langkahku. "Siaaaaalllll!!!!"


“Untung saja matahari belum naik” ucapku sambil melanjutkan perjalananku mencari Garnett. Kali ini jangan sampai aku bertemu orang seperti pria tadi lagi. Akan menyusahkan dan membuang waktuku dalam pencarian. Baiklah, aku harus mencari Garnett sekarang.


Kutelusuri lagi jalanan ini yang semakin sepi. Kabut menutupi jalanan ini. Aku tidak tahu ini sudah pukul berapa, namun yang pasti aku hanya seorang diri berada di sisi jalan ini. Kemudian tiba-tiba saja aku merasakan kehadiran Elm. “Itu pasti Garnett” ucapku dalam hati. Langsung saja kuikuti jejak nya yang bisa aku rasakan. Sekakin besar energi yang kurasakan, semakin dekat aku dengan Garnett. Benar saja. Tak lama, nampaklah sosok Garnett yang tengah pingsan dirangkul oleh seorang pria yang baru saja keluar dari sebuah rumah yang besar berada tepat di pinggir jalanan.


Pria itu menopang badan Garnett menuju mobil dan meletakkan Garnett di bangku penumpang. Kemudian pria itu langsung masuk ke bangku kemudi dan langsung saja pergi dari tempat itu. “Sial, aku tak sempat menghentikan mobil itu. Proedrus benar. Garnett diculik oleh manusia”. Energi Garnett yang aku rasakan perlahan memudar dan kemudian menghilang.