SAPPHIRE From Coelus

SAPPHIRE From Coelus
Bagian XIII



“Kita harus pulang ke coelus!” Kukatakan dengan mantap di depan Garnett, untuk meyakinkan dan mengajaknya pulang ke coelus.


“Tapi putri, aku sudah mengatakannya kepadamu bahwa aku sudah tidak bisa lagi ke coelus. Aku sudah beberapa kali mencoba. Namun karna coelus memang tak cocok denganku jadi aku memutuskan untuk tinggal di bumi saja”


“Garnett, coelus adalah tempat tinggal kita. Kau harus mencoba lagi Garnett, kau tidak boleh menyerah”


“Tapi putri...”


“Garnett, kau membantahku?” aku sedikit kesal dengan Garnett yang lebih memilih untuk tinggal di bumi daripada di coelus. “Garnett, aku akan memastikan para Elm tidak akan memperlakukanmu dengan buruk lagi setelah ini” janjiku kepada Garnett.


“Baiklah putri, jika itu perintahmu aku akan mencoba lagi” terlihat kesedihan di wajah Garnett. “Kapan kita akan pulang, putri?” tanya Garnett.


“Nanti malam, setelah matahari turun. Saat itu akan aman bagi kita untuk keluar”


“Putri, apa kau lupa kalau kita tidak apa-apa jika terkena sinar matahari?”


“Astaga Garnett, aku sampai lupa bertanya hal ini. Jadi kita akan baik-baik saja jika terkena sinar matahari dalam jangka waktu yang lama sekalipun?” Aku penasaran.


“Tentu putri, itu tidak apa-apa. Aku selalu terkena sinar matahari selama dibumi. Aku seperti merasa hidup ketika terkena sinarnya. Sebaiknya kau mencobanya putri” ucap Garnett sambil tersenyum.


“Jadi selama ini Proedrus telah banyak berbohong kepadaku? Kepada kita semua? Kau tahu Garnett? Dia memberikanku cairan bunga Acanthus sebelum pergi kesini dan menyuruhku untuk berhati-hati dengan sinar matahari.”


“Cairan bunga Acanthus? Agar melindungi dari sinar matahari? Hahahaha kau sudah tertipu putri” Garnett tertawa.


“Dasar tua bangka sialan! Pantas saja ketika aku bersepeda bersama Joy aku tidak merasa keanehan apapun. Malah aku merasa bersemangat dan bahagia. Jujur aku sangat kecewa pada Proedrus. Dia adalah orang terdekatku, namun dia tega melakukan ini semua. Maka dari itu kita harus ke coelus untuk mengetahui rencana si tua bangka itu.”


“Baiklah putri, kalau begitu kita harus segera ke coelus, sekarang juga. Sebelum rencana Proedrus semakin besar.”


Kami kemudian menelusuri jalanan di bumi ini. Awalnya Avila dan Davis menawarkan tumpangan kepada kami, namun aku menolak. Aku tidak mau ada manusia yang terlibat dengan masalah kami. Cukup aku dan Garnett saja, Elm, yang akan menyelesaikan ini semua.


Aku bertanya kepada Garnett dimana biasanya dia pergi ke coelus dari bumi. Dia mengatakan bisa darimana saja asalkan itu adalah tanah kosong tanpa rumput. Tapi biasanya dia melakukan itu di hutan yang sunyi dan tidak ada manusia di sana agar tak menarik perhatian.


Ketika sudah sampai di hutan tempat biasa Garnett pergi ke coelus aku langsung saja ingin cepat-cepat pulang ke coelus untuk menghentikan Proedrus. Aku langsung memegang tangan Garnett. Kami bergandengan menuju coelus.


“Apa kau siap Garnett?”


“Aku selalu siap kapan pun putri siap.”


Kami berdua langsung memejamkan mata berharap kami bisa pulang ke coelus. Tapi tak terjadi apa-apa. Aku tidak percaya ini. Aku menginstruksikan Garnett agar tetap fokus dan tak membuka mata jika aku belum menyuruhnya. Kami melakukan ini lagi dengan harapan apa yang kami lakukan ini berhasil. Namun masih sama. Tidak ada yang berubah.


Kemudian Garnett mengatakan bagaimana jika aku saja yang mencoba sendirian, karena dia sangat yakin kalau kedatangannya ke coelus itu telah diblokir aksesnya. Awalnya aku tidak tahu dan tidak percaya bahwa ini bisa dilakukan. Ini semua terjadi akibat aku terlalu percaya kepada Proedrus, menyerahkan semuanya begitu saja tanpa mengetahui apa-apa. Sedikit banyaknya terdapat kesalahanku pada semua apa yang telah terjadi ini. Aku akan bertanggung jawab atas ini semua, untuk para Elm.


Aku langsung menuruti perkataan Garnett. Aku lepaskan tangannya dan mencoba pulang sendiri ke coelus. Garnett menjauhkan pijakan kakinya dari tanah yang aku pijak. Kemudian aku mencoba menutup mataku kembali, berharap aku bisa menembus ruang waktu menuju coelus, berharap sekelebat cahaya putih itu muncul menyinari kelopak mataku yang tertutup. Namun tetap tak terjadi apa-apa.


“Garnett, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan??” Aku sedikit frustrasi karena ini semua. Kedatanganku ke coelus juga diblokir oleh Proedrus. “Dasar tua bangka itu tidak tahu diri!!!” Umpatku.


“Putri, sebaiknya kita pulang dulu. Kita pikirkan bagaimana caranya agar bisa pulang ke coelus. Kalau putri begini kita tidak akan mendapatkan jalan keluarnya.”


Seketika aku teringat Joy. Aku belum menemuinya dari kemarin. Apa aku harus menemuinya dulu? Akibat Proedrus, aku tidak bisa memberikan kepercayaanku kepada siapapun lagi. Joy memanglah wanita yang sangat baik, namun aku takut dikecewakan lagi. Tapi bagaimanapun juga aku harus menemuinya dahulu. Karena dialah orang yang menyelamatkanku ketika aku tiba disini.


“Baiklah putri. Aku juga harus menemui Avila dan Davis untuk berbicara tentang ini.”


“Apa kau tidak khawatir jika mereka terlalu banyak tahu tentang kita?” Tanyaku khawatir. Namun aku tak melihat itu sama sekali di mata Garnett. Dia sangat mempercayai teman-temannya itu.


“Aku percaya kepada mereka putri. Mereka selalu membantuku, seperti mereka menawarkan tumpangan kepada kita tadi.”


“Baiklah Garnett, yang terpenting kau harus tetap hati-hati.” Garnett menjawab dengan mengangguk. Kemudian kami berjalan bersama menuju rumah Avila. Ketika kami sampai Alex sudah ada disitu. Apa yang dilakukanya disini? Mengapa dia datang lagi kesini? Aku langsung bertanya kepadanya apa yang dilakukannya di rumah Avila. Dia mengatakan dia ingin bertemu denganku, berharap aku masih berada disini. Namun Avila berkata kepadanya kalau aku dan Garnett pergi untuk menyelesaikan urusan kami. Alex bertanya kepada Avila apakah kami akan kembali namun dia tidak tahu pasti. Kemudian Alex menatakan entah bagaimana dia merasa bahwa kami akan kembali, itulah sebabnya dia masih berada di rumah Avila, menunggu kami kembali. Dan dia benar. Kami kembali.


“Apa yang ingin kau katakan, Alex? Apakah ada hal penting yang ingin kau bicarakan denganku?”


“Iya Sapphire. Aku.... ada hal yang sangat penting yang harus aku beritahu kepadamu.”


“Tapi Alex, saat ini aku mau pulang menemui Joy. Dia pasti khawatir.”


“Aku akan mengantarmu.” Ucap Alex dengan nada serius, dengan tatapan yang sangat dalam.


“Ah, mmm, ya.... Baiklah.” Sial! Aku salah tingkah.


Kemudian aku pun langung berangkat pulang bersama Alex menaiki motornya. Aku berpamitan untuk sementara kepada Garnett, dan kedua temannya. Aku merasa canggung ketika berada di atas motor ini bersama Alex. Aku tak tahu harus membicarakan apa. Tak lama dia membuka pembicaraan.


“Sapphire, apa jika aku bertanya sesuatu kau akan menjawabnya dengan jujur?” Tanyanya.


“Haha ada apa ini? Mengapa kau tiba-tiba seperti ini?”


“Tidak tahu, aku merasa bahwa aku harus menanyakan ini. Dan aku merasa bahwa perasaanku ini tidak salah.” Ucapnya yakin.


Aku yang bingung dengan apa yang terjadi, sangat ragu untuk menjawab. Apa ini tentang perasaan Alex kepadaku? Kau sudah gila Sapphire!!! Bagaimana bisa kau memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Aku langsung membuang pikiran itu.


“Apa yang ingin kau tanyakan, Alex? Aku akan menjawabnya dengan jujur.”


“Baiklah Sapphire, ketika sampai di rumah Joy aku akan menanyakannya. Ketika di jalan aku tidak bisa fokus. Yang terpenting sekarang kau harus berpegangan erat.”


Alex kemudian langsung mengambil tanganku. Menariknya, kemudian mengalungkan kedua tanganku di pinggangnya. Apa yang sebenarnya terjadi sekarang? Bagaimana aku bisa menahan rasa kepercayaan diriku jika sudah begini? Tidak.... tidaakk.. aku harus tahan. Mungkin saja ini adalah salah satu perlakuan Alex karena khawatir atau semacamnya, tidak lebih. Aku pun tidak menolak ketika tanganku ditarik Alex dan sekarang berada di pinggangnya. Aku semakin mengeratkan tanganku, memeluknya dan merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Sangat nyaman.


Sesampainya di rumah Joy aku langsung disambut dengan pelukan hangatnya. Rasanya tak ingin ku lepas. Aku harap Joy tidak mengkhianatiku seperti apa yang Proedrus lakukan kepadaku. Kemudian Joy mempersilahkan kami berdua masuk. Kami pun langsung menuju ruang tengah. Joy meninggalkan kami di ruang tengah. Dia pandai membaca situasi. Entah mengapa aku merasa canggung duduk berdua dengan Alex. Jantungku berdegup cepat, namun Alex masih bungkam. Dia masih belum membuka pembicaraan.


“Jadi.... apa yang ingin kau katakan, Alex?”


“Sapphire, aku bingung harus mulai dari mana. Aku takut jika aku bertanya hal ini kau akan marah atau tidak percaya padaku.”


“Apa itu? Katakan saja.” Aku sangat penasaran dibuatnya.


“Baiklah. Tapi kau harus berjanji untuk menjawab nya dengan jujur.”


“Aku berjanji.” Ucapku langsung sangking penasarannya.


Alex menarik dan membuang napasnya sebelum dia bertanya. “Sapphire, kau bukan berasal dari bumi kan?”