
Tap... Tap... Tap... Tap...
Suara langkah kaki yang begitu cepat berlari menelusuri hutan asing yang tak tahu ada di mana. Lelaki itu terheran karena pemandangan hutan ini berbeda dari apa yang dia lihat. Sebelumnya, pohon-pohon menjulang tinggi, indah, memiliki sesuatu yang mengkilap berwarna-warni seperti buahnya, namun mirip dengan permata. Tetapi sekarang, sepanjang mata memandang hanya ada semak belukar yang memiliki duri dan seluruhnya berwarna hitam. "Sial, ada dimana aku?! Kenapa tiba-tiba aku bisa berada disini??!" Tanya lelaki itu pada dirinya sendiri. "Aku harus segera keluar dari tempat ini".
Lelaki itu terus berusaha berlari agar bisa keluar dari hutan aneh itu. Namun sayangnya, Ia tak pernah mendapatkan jalan keluar. "Sial!!! Sepertinya daritadi aku hanya berputar-purar saja disini. Dimana jalan keluarnya???!!! Sialaaannn!!!! Apa seseorang melihatku??" Lelaki itu terus mengumpat karena tak kunjung keluar dari tempat itu.
"Berhentilah berlari anak muda!" Suara lelaki paruh baya menggema di hutan itu. Sontak lelaki itu berhenti di tempat Ia berdiri dan berteriak "Siapa kau???!!! Apa yang kau lakukan terhadapku??!! Dan dimana aku???!! Keluarkan aku dari sini!!!
"Hahahaha dasar anak manusia tidak tahu berterima kasih!!! Apa perlu aku memberimu hadiah agar kau ingat kepadaku??”
“P-proedros??”
“Bagus jika kau tau aku. Sekarang, jika kau ingin keluar dari sini dengan selamat, silahkan kembalikan apa yang telah kau curi dari tempat tinggalku!! ".
"T-tapi Proedros, aku tidak mengambil apa-apa” Lelaki itu menjawab dengan suara yang gemetar.
"Hahahaha, dasar manusia tidak tahu diri. Aku bisa melakukan apa saja kepadamu jika kau berbohong"
“Apa-apaan ini??!! Kenapa tumbuhan itu seperti mengejarku??? Ini pasti ulah si tua bangka itu. Aku harus berlari secepat mungkin dan keluar dari tempat ini”
Berlari dan terus berlari. Hanya itu yang bisa dilakukan lelaki itu hingga tenaganya mulai terkuras dan hampir habis.
“Haahhh hahhh hahhhh haaaahhhh..... Sialaaaaan!!! Ketika lelaki itu mulai melambat, semak berduri itu pun langsung menghampiri seakan ingin melahap tubuhnya.
“Arrrgghhhhhhh tanaman apa ini???!!! Enyahlaaaahh!!!! Proedrus, tolong lepaskan akuuu!!!” Jerit lelaki itu. Namun sayang, tak ada jawaban. Semak berduri itu terus melilit tubuh lelaki itu dengan kencang hingga tubuhnya mengeluarkan darah akibat duri yang ada di semak itu. Lelaki itu terus menjerit dan memohon ampun agar dilepaskan. Dan dia juga mengakui kesalahannya dan mengembalikan apa yang Ia curi. Namun tetap saja tidak ada jawaban. Semak berduri tadi sudah menjalar hingga bagian lehernya dan melilit lehernya sampai lelaki itu kehabisan darah dan juga napas. Kemudian mati. Tak berhenti sampai disitu, semak berduri itu terus menggerogoti tubuh lelaki yang penuh darah itu hingga lenyap tak bersisa.
...~0o0~...
“Bu, aku pergi yaa!!” teriakku dari lantai bawah kepada ibuku yang sedang berada di loteng. Ia tengah membereskan barang-barang lama di rumah kami yang diperkirakan sudah tidak terlalu perlu untuk dipakai. “Jangan lupa bekalmu Alex!” Suara Ibu bersahutan dengan suara plastik kresek, meredam sedikit suara Ibu namun masin terdengar jelas olehku.
Aku adalah anak tunggal yang tinggal hanya berdua dengan ibuku. Ayahku tiada ketika umurku 15 tahun. Ibu sangat terpukul atas kepergian ayah karena bisa dikatakan ayah pergi dengan cara yang tidak biasa. Ayah menghilang begitu saja ketika ingin mengantarkan pesanan roti kepada pelanggan. Hilang selama dua bulan lebih, kemudian Ayah kembali. Namun kembali dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Hal itulah yang membuat Ibu sangat terhempas. Aku pun merasakan hal yang sama, namun aku harus tetap kuat untuk ibu karena aku adalah anak lelaki satu-satunya yang bisa Ibu andalkan. Hanya aku yang dimiliki Ibu. Aku tidak boleh bersedih dihadapannya, karena akulah tempat ibu bersandar. Sampai sekarang pun Ibu masih sering menangis ketika malam tiba dan aku selalu memeluk ibu untuk meredakan kesedihannya.
Aku belajar di Culinary Pastry School yang terletak di pusat kota. Untung saja rumahku dekat dari tempatku belajar sehingga aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya menaiki bus atau kendaraan umum lainnya. Aku bisa menghemat uangku karena biaya pendidikanku saja tidaklah murah. Aku ingin sedikit meringankan beban ibu. Kami memiliki toko roti sebagai usaha untuk menyambung hidup. Hanya toko roti kecil. Maka dari itu aku bertekad untuk mengembangkan usaha ini dengan menjadi seorang patissier profesional.