
“Alex!!! Garnett!!! Cepat kesini!!!” teriakku cukup keras. Alex berlari langsung menghampiriku. “Lihat ini Alex!”
“Sapphire, bagaimana bisa— kau berhasil membuka portalnya Sapphire!!! Bagaimana kau melakukanya?”
“A-aku, aku hanya iseng membentuk lingkaran menggunakan tanganku di batang pohon ini dengan mengucapkan aku sangat ingin cepat pulang ke Coelus. Hanya itu.”
“Mungkinkan Coelus adalah kata kuncinya? Kata itu yang membuka portalnya.” Alex berteori. “Yah itu tidak penting sekarang. Yang penting kau sudah berhasil membuka gerbang penghubung ini.”
Tak berapa lama kami berbincang muncullah Garnett dengan wajah yang sayu dan mata yang masih setengah terbuka. “Apa yang kalian lakukan disini?” Tanya Garnett sambil menggosok matanya.
“Garnett, lihat ini! Sapphire telah membuka portalnya!” seru Alex.
Mata Garnett langsung terbelalak mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Alex. Garnett mendekatiku dan langsung mendekati portal ini. “Putriii kau berhasil!! Akhirnya kita bisa mengalahkan Proedrus!!!” Garnett sedikit berteriak.
“Baiklah teman-teman, jadi apa rencana kita?” aku tersadar bahwa kami belum memiliki rencana sama sekali. Yang terpikirkan hanyalah cara untuk membuka portal ini, namun tidak dengan rencananya.
“Kita masuk sama bersama-sama, kemudian kita serang Proedrus.” Dasar Alex ini sangat tidak memikirkan strategi dan bahaya.
“Hei, kau tau? Proedrus itu bukanlah orang biasa. Aku yakin bahwa dia memiliki kekuatan yang kita tidak tahu itu apa. Dan otaknya sangat licik. Kita harus menyusun strategi.”
“Sepertinya kita tidak bisa pergi bersamaan putri. Aku takut hal itu akan lebih membahayakan keselamatan kita.”
“Ya, aku tahu. Aku yang akan pergi sendiri—” belum aku menyelesaikan kalimatku, Alex langsung menginterupsiku.
“Tidak. Aku akan ikut denganmu.”
“Tapi itu akan lebih berbahaya, Alex.”
“Tidak, lebih berbahaya jika kau sendiri. Aku akan pergi berdua denganmu, dan aku akan melindungimu dengan segala kemampuanku.” Alex meyakinkan aku dengan kata-kata manisnya itu. Yah aku akui Alex ini sangat pintar merayu, dan aku suka itu. Setiap kali mendengar kata-kata manis Alex, atau melihat tingkah lucunya, aku selalu tersipu.
Tiba-tiba saja lingkaran yang terbentuk di batang pohon itu mulai mengecil, seperti ingin tertutup. Kami tak sadar bahwa kami sudah cukup lama berbincang. Ternyata portal ini otomatis akan menutup jika sudah beberapa menit terbuka, mungkin 10 menit. Aku perkirakan kami berbincang tak sampai 15 menit.
“Portalnya tertutup!” seru Garnett. Entah mengapa aku refleks langsung masuk ke dalam portal yang semakin kecil itu. Ku langkahkan kakiku dengan cepat sebelum portal itu benar-benar tertutup. Aku berhasil masuk.
Aku mencampakkan pandanganku ke tempat sekitar ini Gelap dan asing. Ini adalah tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Dan betapa terkejutnya aku dengan kehadiran Alex disini. Sebelum aku berhasil mengeluarkan suara yang keras, Alex langsung membungkan mulutku dengan tangannya. “Sssttt. Jangan berteriak Sapphire.” Kata Alex dengan nada yang berbisik.
“Alex! Bagaimana kau bisa ikut kemari?” tanyaku ikut berbisik.
“Aku hanya mengikutimu. Aku kan sudah bilang kalau aku tidak akan meninggalkanmu sendirian.” Pungkas Alex dengan kata-kata itu sekali lagi. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi toh kami juga sudah disini. Aku mencoba untuk membuka portal itu lagi, tidak di batang pohon, namun di udara seperti latihan kami yang gagal di bumi. Aku juga mengucapkan kata-kata yang sebelumnya, hanya saja kata Coelus aku ganti dengan kata Bumi. Namun portal tidak terbuka. “Apa kau mencoba untuk membuka portal ke Bumi, Sapphire?” Tanya Alex.
“Benar. Namun ini tidak bekerja seperti tadi.”
“Yah, mungkin kau benar.” Kami berdua hanya bisa berspekulasi akan kebenaran yang kami tidak tahu.
“Sapphire, sebaiknya kita langsung mencari Proedrus dan mengalahkannya. Masalah strategi, kita akan pikirkan sembari kita menelusuri tempat ini.”
Aku dan Alex kemudian berjalan menelusuri redupnya tempat ini dengan penuh hati-hati. Tak lama kami berjalan, aku melihat cahaya. Langsung saja kami berjalan menuju cahaya itu. Kami tiba di hutan yang aneh menurutku. Aku tidak pernah melihat hutan ini sebelumnya di Coelus. Tempat ini diisi oleh sinar matahari dan dipenuhi oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi, indah, dan memiliki sesuatu yang mengkilap berwara-warni seperti buahnya. Seperti permata, sangat indah sampai-sampai aku tergiur untuk mengambilnya. Namun aku langsung menyadarkan pikiranku. Aku disini untuk mengalahkan Proedrus. Tak lama kami memasuki hutan ini, Alex tiba-tiba saja memegang kepalanya dan mengerang kesakitan. Aku langsung menghampirinya dan bertanya kenapa dia sampai mengerang kesakitan begitu. Aku mencoba menenangkannya dan menyuruhnya untuk duduk. Air matanya keluar. Dia menangis. Sungguh aku sangat tidak mengerti mengapa, namun aku langsung saja memberikannya pelukan, siapa tahu emosi nya akan mereda.
“Ada apa Alex? Apa ada sesuatu yang salah?” tanyaku mencoba menenangkan.
“Sapphire, hutan ini….” Kata-katanya terpotong. Dia menangis sesenggukan. “Hutan ini tempat di mana Ayahku dibunuh. Sekelebat memori tiba-tiba saja muncul dalam kepalaku.” Aku langsung terkejut mendengar pernyataan Alex. Semakin ku dekap erat dia sambil ku tepuk-tepuk punggungnya.
“Alex, aku turut menyesal atas apa yang terjadi kepada Ayahmu.”
“Proedrus… itu ulah Proedrus. Aku benar-benar akan menghabisinya.” Mata Alex menyala penuh amarah. Aku sampai takut melihatnya.
“Alex, ingat kita jangan sampai gegabah dalam mengambil tindakan. Kita tidak mau salah mengambil tindakan dan membiarkan Proedrus menang kan?” Sekali lagi aku mencoba meredakan emosi Alex agar dia dapat kembali berpikir jernih.
“Kau benar Sapphire. Lihat saja ketika kita sudah berhasil melumpuhkannya aku akan benar-benar menghabisinya, membuat dia benar-benar menderita.”
Kami kembali menelusuri tempat ini hingga tibalah kami di sebuah bangunan seperti tempat tinggal seseorang. Langsung saja aku dan Alex saling betatapan dan saling memberi kode untuk mendekati rumah itu, sekali lagi dengan hati-hati. Bahkan kami berusaha untuk tidak mengeluarkan suara ketika berjalan atau berlari.
Ketika kami sudah berada cukup dekat, kami mengintip dari jendela yang ada di belakang rumah itu. Jendelanya cukup tinggi namun kami masih bisa melihat ke dalam dengan sedikit berjinjit. Tampaklah ruangan yang mirip seperti laboraturium. Tidak ada orang di dalamnya. Banyak sekali benda-benda yang terbuat dari kaca bening. Tiba-tiba saja ada suara langkah kaki berjalan dari depan menuju ruangan ini. Aku dan Alex langsung menundukkan kepala kami. Aku tidak tahu itu siapa dan apa yang dilakukannya disini.
Terdengar suara teriakan disertai pecahan kaca yang sangat berisik. Seperti suara gelas yang pecah. Bukan, maksudku dipecahkan. Karena sangat penasaran, aku mencoba untuk mengintip lagi dari jendela itu namun langkah kai itu semakin jelas, seperti mendatangi kami berdua. Segera ku tundukkan lagi kepalaku dan tidak jadi melihat ke dalam. Benar saja. Tiba-tiba pecahan kaca itu dilemparkan keluar jendela. Untung saja. Kalau sampai aku mengintip tadi akan jadi apa kami berdua. Hampir aku mengeluarkan suara, namun Alex dengan cepat membungkan mulutku dengan tangannya. Kemudian terdengarlah percakapan dari dalam ruangan itu.
“Proedrus, maaf aku masih mencoba untuk menemukan ramuan yang kau minta.” Kata pria itu dengan suara bergetar.
“Apa? Kau masih belum menemukan ramuan itu? Sudah berapa lama aku memberimu waktu?” Benar. Itu suara Proedrus.
Rasanya ingin saja aku langsung menemuinya. Aku melihat wajah Alex yang penuh amarah. Mumgkin dia menahan emosi nya dengan sangat kuat hingga wajahnya memerah dan berkeringat. Tangannya mengepal dengan kuat.
“I-iya Proedrus, aku masih mencoba—”
“Mencobaa??!! Berapa lama kau sudah mencoba?!” suara Proedrus cukup tinggi. Sepertinya dia marah sekali. Aku tak pernah mendegar Proedrus mengeluarkan suara yang begitu kuat seperti ini.
“Maaf Proedrus, tetapi ramuan itu sangat sulit untuk diciptakan. Aku sudah berkali-kali mencoba namun masih gagal. Aku akan berusaha semampuku Proedrus, tolong beri aku kesempatan lagi.”
“Baiklah. Karena disini sudah tidak ada Sapphire si penghalang kau masih kuberi waktu.”
Apa? Dia menyebutku penghalang? Dasar tua Bangka tidak tahu diri. Ekspresi wajahku dibaca oleh Alex. Aku hampir saja benar-benar mendatangi tua bangka itu, namun Alex langsung memegang tanganku seolah tau jika aku akan mengambil tindakan yang bodoh. Dia mengisyaratkan untuk diam dengan meletakkan jari telunjukkan di depan bibirnya. Aku menuruti Alex. Sebenarnya apa yang mereka rencanakan?