SAPPHIRE From Coelus

SAPPHIRE From Coelus
Bagian II



Suatu hari, bumi pernah mengalami insiden ledakan yang sangat parah dan menghabiskan hampir dari seperempat isinya. Hal itu disebabkan oleh beberapa ilmuan yang sedang meneliti kedatangan zat baru dibumi dan mereka tidak tahu bahwa zat itu sangatlah berbahaya. Karena ketidaktahuan mereka, zat itu tidak sengaja terkena sinar matahari pada saat mereka mencoba membawa zat itu ke laboratorium untuk diteliti. Dan boooommmmmmm!!!! Sebagian dari bumi hancur dan ada sedikit kepingannya yang terpisah. Kepingan ini ternyata tidak mati. Seiring berjalannya waktu kepingan itu menjadi dunia sendiri yang sekarang bernama Coelus.


Dingin, sunyi, senyap. Kabut menutupi seluruh permukaannya. Cahaya yang redup selalu menyinari. Itulah tempat tinggal para kami, para Elm. Para leluhur kami dulunya makhluk bumi yang ikut terlempar bersama bagian kecil bumi ini. Tak banyak yang tersisa, bahkan bisa dihitung dengan jari. Namun para leluhurku bisa bertahan hidup dan inilah kami sekarang. Kami para elm mengalami mutasi pada diri kami akibat insiden bumi di masa lalu. Salah satu contoh adalah cara kami berkomunikasi. Kami bisa berkomunikasi hanya dengan sentuhan. Jika kami ingin berkomunikasi, kami tinggal menjabat tangan satu sama lain atau melalui sentuhan fisik lainnya dengan catatan tidak ada benda yang menghalangi sentuhan kami.


Aku Sapphire. Putri dari planet Coelus. Bisa dibilang jabatanku satu tingkat dibawah Proedrus. Terkadang aku juga bisa memerintah para elm namun aku juga sangat dekat dengan mereka. Sepeti teman. Aku tidak suka jika aku terlalu dianggap istimewa dan terlalu dihormati.


Kami, bangsa Elm tidak bisa terkena cahaya matahari secara langsung. Tak boleh. Ini adalah larangan dari sang pemimpin, yaitu Proedrus. Beliau sudah seperti sosok Ayah bagi kami, terutama bagiku. Aku sangat menghormati beliau. Sangat bijaksana dan gagah. Aku sangat mengaguminya. Walau tak diketahui dengan pasti tentang apa yang Proedrus katakan yaitu akibat jika elm terkena sinar matahari secara langsung maka tubuh akan merasakan sakit yang luar biasa seperti terbakar dari dalam, kemudian meledak. Walau begitu, kami semua sangat takut akan hal itu. Tetapi selama coelus memiliki Acanthus, itu bisa melindunginya dari sinar matahari walau tak seluruh dataran coelus terlindungi. Acanthus adalah bunga berwarna merah muda dengan gradasi orange di kelopaknya. Bunga ini tumbuh seperti pohon yang menjulang tinggi dan memiliki buah yang kami namakan Pinthus. Buahnya mengkilap, berwarna-warni sepeti permata. Sangat indah. Dan itu sangat berharga untuk bangsa Elm.


Walau itu adalah hal yang sangat mengganjal di kepalaku, aku tetap menyimpannya karena rasa kepercayaan ku terhardap Proedrus yang sangat tinggi. Tak pernah sekalipun aku meragukan Proedrus.


Aku memiliki dua orang teman yang sangat dekat denganku. Namanya mereka Meetha dan Pierre. Kami telah bersama-sama sejak kecil. Mereka tak pernah mengganggapku sebagai seorang putri, begitupun sebaliknya denganku yang tak masalah jika Mereka berbicara santai kepadaku. Tak ada jarak diantara kami dan seluruh penghuni coelus tau akan hal itu.


Meetha pernah bercerita kepadaku bahwa suatu waktu ketika dalam tidurnya dia pernah bermimpi didatangi oleh sosok manusia yang wujudnya sangat mengerikan, dan manusia itu ingin mencuri bunga Acanthus dari coelus. Dia ingat betul bahwa manusia itu akan melenyapkan para elm beserta planet coelus agar bisa menguasai acanthus untuk dibawa ke bumi. “Sungguh mimpi yang sangat buruk” Batinku. Namun walaupun aku berpikir demikian, aku tetap mengatakan kepada Meetha bahwa itu hanyalah bunga tidur. Ini salah satu perkataan Meetha yang sampai sekarang aku tidak bisa melupakannya begitu saja.