SAPPHIRE From Coelus

SAPPHIRE From Coelus
Bagian V



Pagi hari tiba. Aku dibangunkan oleh suara berisik dari makhluk-makhluk kecil ini. Mereka berkeliaran kesana dan kemari. Ketika aku mencoba untuk membuka mataku, aku mendengar suara gagang pintu yang dibuka dari luar. Aku terkejut setengah mati dan mencoba bersembunyi. Namun aku tak sempat dan lagipula tak ada tempat untuk bersembunyi disini. Begitu aku melihatnya, dia adalah seorang wanita paruh baya dan tidak menyeramkan. Seketika dia melihatku, dia menjatuhkan keranjang yang ia bawa seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Akupun langsung menenangkannya dan mengatakan bahwa aku bukan lah orang yang jahat.


“Ma-maaf Nyonya, saya tidak ada maksud jahat, apalagi ingin mencuri” ucapku perlahan, mencoba untuk menenangkannya yang tampak terkejut dengan kehadiranku.


“Be-benarkah itu? A-apakah kamu berkata yang sesungguhnya? Jadi apa yang kamu lakukan di sini, nak?” Jawab wanita paruh baya itu dengan nada lembut


Seketika aku langsung teringat kepada Proedrus yang selalu memanggilku dengan sebutan “Nak”. Ternyata di bumi ada juga manusia yang menyebut kata itu.


“A-aku sedang mencari temanku yang hilang, nyonya. Aku kesini karena aku tidak punya tempat tinggal. Aku hanya ingin tinggal disini untuk beberapa saat saja. Apakah nyonya bisa memberi izin untukku?” tanyaku dengan ragu.


Wanita tua itu tertawa kecil dan berkata “Apa??? Kamu ingin tinggal di kandang ayam ini?” wanita paruh baya itu melanjutkan tawanya.


Aku yang tidak bisa memahami situasi ini hanya bisa ikut tertawa kecil sambil berpikir apa itu ayam? Apakah ayam itu adalah makhluk kecil berbulu ini? Batinku.


“Yasudah Nak, kau boleh tinggal di rumah dengaku untuk sementara waktu. Aku juga tidak ada teman di rumah, tidak memiliki siapa-siapa lagi” ucap wanita itu.


“Be-benarkan itu nyonya? Aku boleh tinggal bersama nyonya?” jawabku ceria.


“Iya benar. Tapi, kau harus membantuku berjualan ya nak. Kamu tidak keberatan melakukannya kan?” kata wanita tua itu.


“Tentu tidak masalah nyonya. Sekarang, apa yang harus aku lakukan?” jawabku dengan penuh semangat.


“Pertama-tama, kita harus mengumpulkan semua telur ayam ini terlebih dahulu, kemudian kita harus mengantarkannya kepada pelanggan kita, yaitu Bu Vidya”.


“Baik nyonya” jawabku dengan cepat karena sesungguhnya aku tidak tahu apa itu telur dan siapa itu Bu Vidya. Aku hanya manggut-manggut dan melihat apa yang wanita tua itu ambil. Dia mengambil sesuatu yang bulat berwarna cokelat, berada di lantai tempat makhluk berbulu itu duduk, kemudian ia letakkan di dalam keranjang yang ia bawa tadi. Langsung saja aku meniru apa yang wanita itu perbuat. Dan juga aku harus mengingat nama makhluk ini adalah ayam dan sesuatu yang kami kumpulkan sekarang ini adalah telur.


Setelah selesai mengumpulkan telur, kami harus mengantarkan telur ini ke tempat Bu Vidya. Namun satu hal yang kutakutkan. Mengantar ini berarti keluar dari ruangan ini. Terkena sinar matahari. Aku tak tahu berapa lama perjalanan ke sana dan apakah aku mampu melewati panasnya matahari di luar sana.


“Nah, sekarang kita harus mengantarkan ini ke tempat Bu Vidya segera. Karena Bu Vidya tadi berpesan kepada saya kalau stok telur di rumahnya sudah menipis dan dia perlu ini untuk membuat roti” pungkas wanita tua itu.


“Ta-tapi Nyonya, a-aku tidak bisa terkena sinar matahari” ucapku dengan nada yang rendah, nyaris tak terdengar.


“Apa? Hahahahaa pantas saja kulitmu sangat pucat dan rambutmu berwarna putih. Tidak apa-apa Nak, matahari tak seburuk yang kau bayangkan. Itu adalah rahmat dari Tuhan. Ayo kita pergi sekarang”


“Ba-baiklah Nyonya. Tapi sebelum itu izinkan aku menyemprotkan cairan ini ke seluruh tubuhku dulu” Jawabku dengan ragu.


“Hahaha, baik-baik silahkan Nak. Namun jika kau benar-benar tidak bisa terkena sinar matahari, aku akan mengantarkan telur ini sendiri. Tak masalah. Ucapanku yang tadi jangan diambil hati” goda wanita paruh baya itu, menatapku sambil menaikkan kedua alisnya.


“Tidak masalah Nak. Baiklah aku harus segera mengantarkan telur-telur ini kesana. Ini kunci rumahku. Kau tidak ingin berlama-lama di kandang ayam ini kan? Hahahaha”


“Tapi Nyonya, apa tidak masalah bagimu jika aku masuk ke rumahmu? Aku bisa melakukan apa saja, seperti mencuri perhiasanmu”


“Hahaha, tidak ada yang berharga di dalam rumahku Nak, kalau pun itu berharga, entah mengapa aku sudah percaya kepadamu. Aku percaya kalau kau adalah orang yang baik. Dan juga aku merasa seperti punya ikatan batin yang kuat terhadapmu. Seperti anakku sendiri. Maka dari itu aku percaya kepadamu” jawab wanita paruh baya itu seraya tersenyum.


“Terima kasih Nyonya telah mempercayaiku. Aku tidak akan menghancurkan kepercayaan yang telah kau berikan kepadaku” Jawabku dengan membalas senyumannya.


“Baiklah Nak, aku pergi dulu ya”


“Iya Nyonya, hati-hati dan cepatlah kembali” pungkasku.


Seperginya perempuan tua itu, aku langsung menutup pintu ruangan yang disebut kandang ayam ini. Aku ragu apakah aku bisa lewat di bawah sinar mahatahari menuju rumah itu? Baiklah, aku harus percaya kalau aku pasti bisa. Kusemprotkan cairan bunga Acanthus ke seluruh tubuhku tanpa terlewat satu titikpun. Setelah itu aku masih mengumpulkan keberanianku. Berulang kali aku mengambil dan membuang napas di dalam kandang ayam ini. “Huuuuhhhh ayolah Sapphire kau pasti bisa” ucapku menyemangati diri. Kemudian kuraih gagang pintu dan langsung berlari sekencang mungkin menuju rumah itu. Setelah sampai di depan rumah dengan buru-buru ku buka kunci pintunya dengan kunci yang diberikan wanita paruh baya tadi. Ketika pintunya terbuka langsung aku buru-buru masuk ke dalamnya. “Haahhh... Haahhhhh... Haaahhh...” irama napasku tak karuan dan ku coba untuk memperbaikinya. Kau berhasil Sapphire, ucapku kepada diriku sendiri dengan bangga. Ternyata benar kata wanita paruh baya itu bahwa matahari tak seburuk itu. Aku masih baik-baik saja.


Ketika aku berada di dalam rumah ini, langsung kujatuhkan pandanganku pada lukisan besar yang berada di ruang utama. Langsung aku menuju kesana karena ingin melihat lukisan itu lebih jelas. Itu adalah lukisan wanita paruh baya itu dengan seorang gadis belia yang sangat cantik. Wanita tua itu duduk di kursi, sedangkan gadis itu berdiri sambil memeluknya dengan perasaan kasih sayang yang teramat dalam. Entah mengapa aku merasakannya. Perasaan yang sangat tulus. Ku sentuh lukisan itu dan entah mengapa, lagi-lagi air keluar dari kedua mataku. Aku merasa sesak. Kemudian tak sadar, aku menangis.


“Nak, apa yang terjadi kepadamu?” sebuah suara terdengar di kepalaku dan langsung saja aku membuka mataku. Aku langsung terduduk dan melihat wanita paruh baya itu sudah berada di depanku.


“Ma-maaf sudah membuatmu khawatir nyonya. Aku tidak sengaja melihat lukisan itu dan sepertinya aku merasakan kesedihan yang mendalam” ucapku lirih.


“Tak apa Nak, yang penting kau tidak apa-apa. Itu berarti kau seharian tergeletak disini. Apa kau tidak sadar kalau ini sudah malam? Maaf aku terlalu lama pergi meninggalkanmu sendirian disini, aku ada cukup banyak pekerjaan yang harus aku lakukan tadi. Jadi aku baru bisa pulang pada malam hari”


“Tak apa Nyonya, maaf sudah membuat khawatir dan juga merepotnya Nyonya”


“Yasudah. Aku tahu kamu lapar kan? Apa yang ingin kau makan malam ini?” tanya wanita itu ramah.


“Tidak usah Nyonya, aku masih ada bekal. Aku bisa menghabiskan ini terlebih dahulu”


“Oww, kamu punya bekal. Siapa yang membuatkanmu bekal? Dan dari mana asalmu sebenarnya?”


“Sebenarnya aku—” sebelum aku menyiapkan kata-kataku, langsung saja wanita itu memberi isyarat agar aku diam.


“Husstt... sebentar tidak usah dijawab dulu. Pertama-tama, ayo kita pindah ke meja makan. Kita bercerita sambil menikmati makan malam kita” ucap wanita itu seraya tersenyum. Kemudian wanita itu memberikan tangannya kepadaku.


Aku pun langsung membalas senyuman wanita itu seraya meraih tangannya yang tampak lesu namun kokoh. Kami berjalan menuju meja makan sambil berpegangan tangan dan tiba-tiba saja dia merangkulku. Entah mengapa aku sangat senang berada dalam pelukan wanita itu. Hangat dan nyaman seperti segelas cokelat panas di pagi hari.