SAPPHIRE From Coelus

SAPPHIRE From Coelus
Bagian XXV



“Sapphire!!!” aku dapat membaca gerak bibir Alex yang mengucapkan namaku itu. Dia kembali. Sungguh aku sangat rindu kepadanya. Aku yang melihatnya ada di luar, mengumpulkan tenagaku yang terisa dan langsung mencoba untuk berlari menemuinya. Namun sayang untuk bangkit saja aku susah. Aku sampai terjatuh namun Scarlett membantuku untuk berdiri. 


Alex kebingungan bagaimana caranya membuka kotak kaca ini. Dia mondar-mandir mengambil sesuatu untuk mencoba memecahkannya, namun gagal. Kaca ini sangatlah tebal. Sepertinya peluru sekalipun tak dapat menembusnya. Aku tak dapat membantu Alex dari dalam sini. Aku hanya menatapnya dengan air mata yang mengalir. Scarlett membantu menghapus air mataku. 


Alex mencoba naik lagi ke atas untuk menemukan kunci daru ruangan ini. Namun nihil. Dia tak menemukan kunci yang cocok. Aku menunjuk pada sebuah lemari yang berada di sisi kanan ruangan kaca ini. Sepertinya aku pernah melihat peneliti itu membuka lemari itu sebelum membuka ruangan kaca ini. Alex langsung membuka lemari itu, dan membongkarnya. Semua celah ia bongkar sampai ia menemukan kunci yang juga terbuat dari kaca. Itu pasti kuncinya.


Alex langsung mencoba membuka pintu ini dengan memasukkan anak kunci itu. Dan benar saja, pintu langsung terbuka. Alex langsung memeluku yang masih berlinang air mata. Dia menghapus air mataku, mencoba menenangkanku. 


“Aku pikir kau tak akan datang, Alex”


“Tidak mungkin. Aku pasti datang dan akan menyelamatkanku. Dan maaf, aku tidak bisa datang lebih cepat.”


“Tidak apa-apa, yang penting kau sudah disini.”


“Ah…. Teman-teman, maaf menyela. Lebih baik kita keluar dahulu dari tempat ini.” Ucap Scarlett.


“Iya benar. Ayo kita segera ke tempat persembunyianku.”


Aku baru tahu Alex memiliki tempat persembunyian. Kami langsung menuju kesana. Aku yang masih tertatih-tatih dibantu Alex berjalan sedangkan Scarlett melihat situasi. Aneh. Ternyata peneliti itu sudah pingsan dan terikat lagi dibuat Alex.  Semga saja Proedrus tidak cepat menyadari hal ini.


Sampailah kami di tempat persembunyian Alex. Ini cukup jauh dan juga tempat ini berada di bawah tanah. Menurutku Alex cukup pintar dengan membuat tempat persembunyian seperti ini. Dia menutup pintunya dengan penutup kayu yang ia buat sendiri kemudian ditutupi lagi dengan daun-daun kering. 


Alex menyuruhku untuk berbaring di tanah beralaskan daun yang lembab ini. Dia tak berhenti memelukku dan meminta maaf. Dia tak bermaksud kabur waktu itu. Alex menjelaskan semuanya. Yang terlintas di pikirannya waktu itu jangan sampai kami tertangkap bersamaan. Itu akan mempermudah Proedrus untuk segera melakukan apa yang dia inginkan. Aku pun mengerti. Aku juga mengatakan jika awalnya aku menyangka bahwa Alex akan kabur begitu saja. Ternyata aku salah. 


“Ah iya Alex. Aku sampai lupa memperkenalkanmu kepada temanku, Scarlett.” 


Kemudian mereka memperkenalkan diri secara bergantian. Scarlett bertanya bagaimana aku bisa mengenal Alex dan aku menceritakan semuanya. Seketika ruang persembunyian Alex ini dipenuhi dengan tawa, walau aku tahu ini hanya untuk sesaat namun walau begitu aku merasa bahagia. 


Kami juga bercerita tentang Joy kepada Scarlett. Wajah Scarlett mendadak muram. Dia sangat merindukan Joy. Jadi kami berpikir apakah ada kemungkinan untuk kemai kembali ke bumi terlebih dahulu lalu kembali lagi untuk mengalahkan Proedrus. Aku tak tega melihat wajah Scarlett yang sangat merindukan Joy. Aku pun sama. Sangat amat rindu kepada Joy. 


“Apa kita sebaiknya ke bumi dulu?” aku langsung mencetuskan kalimat ini karena sepertinya mereka berdua pun ingin pulang.


“Apa itu memungkinkan, Sapphire?” Tanya Alex.


“Aku juga tak tahu. Namun aku yakin tempat persembunyianmu ini tak mudah untuk ditemukan oleh mereka. Dan menurutku juga ketika kita keluar dari tempat ini kita sudah siap menghadapi mereka. Jika kita keluar masuk hanya memerhatikan sekitar pun akan membahayakan kita”


“Ah, tunggu sebentar. Jika kita hendak ke bumi aku harus memastikan sesuatu.” Ucap Scarlett seraya mendatangiku yang masih berbaring. Dia memeriksa seperti mencari sesuatu di badanku. “Nah, ini dia. dugaanku benar ternyata.”


“Apa yang kau lakukan Scarlett?”


“Aku menemukan pelacakmu.”


“Apa???!” pelacak???”


“Ini bekas luka?” tanyaku.


“Yah ini terluka karena aku mengeluarkan pelacak itu. Proedrus menanamkannya pada setiap Elm yang pernah Ia temui. Ini lah sebabnya Proedrus langsung tahu keberaanku di bumi dengan akurat.”


“Sialan!! Banyak sekali akal si tua itu!” aku sudah bisa mengumpat karena tenagaku berangsur kembali .


“Kalau begitu kita juga harus mengeluarkan punyamu, Sapphire. Pelacakmu berada di belakang lehermu.”


“Wah, pintar juga dia meletakkannya disana. Pantas saja aku tidak menyadarinya. Sebaiknya kita segera mencabutnya.” Ucapku.


“Alex, apa kau memiliki sesuatu yang tajam disini?”


“Sebentar…” Alex menjelajahi tempat persembunyiannya yang sempit ini. Kemudian dia memberikan alat seperti pisau yang terbuat dari kristal namun bercahaya.


“Kau dapat ini dari mana, Alex?” Scarlett bertanya heran.


“Ah, itu aku membuatnya sendiri dari kristal-kristal yang menggangung di pohon-pohon tinggi itu. Karena aku berpikir aku harus memiliki setidaknya satu senjata.”


“Wah, kau pintar juga ya.” Scarlett memujinya yang kemudian dia membantuku untuk duduk. 


“Ini mungkin agak sakit Sapphire. Karena pelacak ini ditanamkan di bawah kulitmu.”


“Kalau begitu lakukanlah dengan cepat.”


Entah apa yang dilakukan Alex di depanku. Dia menatapku tersenyum. “Kita akan melewati ini” bisiknya dengan tersenyum lagi. Sangat manis. Scarlett kemudian langsung melakukan aksinya. Pisau itu menyaku denganku. “AAAaaaaaa!!!!” aku berteriak kencang namun Alex langsung menyumpal mulutku dengan tangannya. Dia meredam suaraku. Ah jadi itu mengapa dia berada di depanku.


“Selesai….” Scarlett kemudian menunjukkan bentuk pelacak itu kepada kami. Aku masih mengerang kesakitan namun terasa seperti pulih. Alex merobek sedikit bajunya yang kemudian dia lilitkan di leherku untuk menutupi luka ini. Bentuk pelacak itu berwarna putih bening hampir tak terlihat. Scarlett kemudian menghancurkan pelacak itu sampai benar-benar menjadi debu. 


“Baiklah, sekarang kita sudah siap menuju bumi.” Ucap Scarlett kegirangan karena aku tahu dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Joy. Sama hal nya denganku, aku juga sangat merindukan Joy. Dan mungkin Alex juga merindukan Ibunya. Memang sebaiknya kami ke bumi terlebih dahulu.


Alex langsung membuka portal. Kelihatannya dia jauh lebih mahir daripada aku. Hanya dengan sekali percobaan saja portal sudah terbuka.


“Wah, kau sudah mahir sekarang ya, Alex.” Ucapku mengaguminya.


“Ya Sapphire. Selama disini aku terus belajar untuk membuka portal ini.”


“Lalu apa kau sempat kembali ke bumi?” tanyaku.


“Tidak. Aku hanya membuka portal saja dan tidak kembali. Aku khawatir itu akan memakan waktu jika aku kembali. Aku sangat mengkhawatirkanmu waktu itu.” aku hanya bisa tersenyum dan tersipu. Aku juga melihat wajah Scarlett yang menatapku dan juga melempar senyuman untukku. 


Kami bertiga kemudian langsung masuk bersama-sama ke dalam portal yang dibuka oleh Alex. Kami semua bergandengan tangan. Dan sampailah kami di bumi. Di tempat kami terakhir kali membuka portal. Di pohon yang besar di dalam hutan.