
Aku terbangun dengan susah payah membuka mataku. Asap mengelilingi pandanganku. Ayah dan Ibuku yang tadinya bersamaku sudah pergi entah kemana. Sebelumnya terdengar suara ledakan atau tembakan aku tak yakin. Yang pasti aku hanya sendiri disini dan terdapat beberapa luka di kepala, lengan, dan kakiku. Sangat perih. Aku menangis.
Tak lama dua orang lelaki paruh baya mendatangiku bersama beberapa orang lainnya yang berpencar untuk menyisir area sekitarku. Berusaha menemukan sisa-sisa kehidupan yang masih bisa diselamatkan. Kedua lelaki paruh baya itu melihatku yang menangis, kemudian mencoba untuk menenangkanku. Memberiku selimut tipis yang hangat, kemudian menggendongku dan menyelamatkanku. Ketika salah seorang dari mereka menggendongku, aku tertidur di pelukannya, dalam suasana yang riuh tak terbendung.
Aku terbangun lagi di tempat yang berbeda. Kali ini di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, namun sangat nyaman. Diriku terbalut dengan selimut yang baru dan cukup tebal kali ini. Aku hanya sendiri disini. Aku penasaran dimana ini. Ketika aku mencoba untuk bangkit dari tempat tidur ini, lelaki paruh baya yang tadi menyelamatkanku datang. “Kau sudah bangun?” tanyanya dengan lembut. Aku tidak menjawab apa-apa, hanya meneliti wajahnya.
“Apa kau butuh sesuatu?” dia bertanya lagi seraya mendekatkan diri kepadaku.
“Tidak.” Jawabku singkat.
“Ah iya, panggil saja aku Martin. Apa kau lapar? Ingin makan sesuatu?”
“Dimana orangtuaku?” tanyaku kepada Martin karena aku tidak melihat mereka ada di sekitarku. “Apa kau sudah bertemu dengan mereka?”
Wajah Martin mendadak berubah sedih dan bingung. Tak tahu bagaimana cara memilih kata yang tepat untuk anak kecil sepertiku.
“Ayah dan Ibumu memintaku untuk menjagamu mulai sekarang. Jadi kau jangan khawatir ya.” Martin tersenyum.
“Kenapa? Apa Ayah dan Ibuku tidak ingin merawatku lagi? Apakah mereka benci kepadaku?”
“Tidak, bukan begitu” Martin yang mulai kebingungan menjeda kalimatnya untuk memikirkan kalimat apa yang sebaiknya dia ucapkan kepadaku. “Orangtuamu sekarang…. Mereka sudah pergi ke tempat yang indah.”
“Mengapa mereka tidak membawaku? Mengapa mereka pergi hanya berdua saja?” ucapku dengan mata berkaca-kaca.
“Nanti kita akan menyusul mereka ya” Martin tersenyum kepadaku dan memelukku yang sudah meneteskan beberapa air mata.
“Ohiya nak, siapa namamu?”
“Aku Sapphire.”
...~0o0~...
Beberapa tahun berlalu, aku tumbuh menjadi gadis remaja. Aku tak lagi menanyakan dimana kedau orangtuaku kepada Martin, karena Martin saja sudah cukup bagiku. Dia sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri. Seiring berjalannya waktu, Martin menyadari ada sesuatu yang istimewa dari diriku. Aku memiliki kekuatan, yang tidak semua Elm memilikinya. Yaitu membaca pikiran dan memiliki kekebalan tubuh yang luar biasa. Selama aku dirawat oleh Martin, tak pernah sedikitpun aku mengeluh sakit atau merasa tak enak badan. Dan juga, ketika Martin belum mengatakan apa-apa, aku sudah bisa menebak dia ingin berkata apa.
“Kau ini istimewa, Sapphire. Kau memiliki kekuatan yang tidak kami miliki.” Ucap Martin kepadaku ketika kami sedang duduk di meja makan berdua saja.
“Benarkah? Apa itu? Aku tak merasa ada yang aneh denganku.” Aku langsung mengambil air putih dan memberikannya kepada Martin.
“Tapi kau baru saja mengatakannya tadi kan?”
“Tidak Sapphire. Aku bahkan belum membuka mulutku.” Ternyata benar dugaanku selama ini. Kau bisa membaca pikiran.
“Benarkah itu? Apa itu sesuatu yang bagus?” tanyaku cuek dan tidak peduli.
“Ya. Itu hal yang sangat bagus. Jadi kau bisa membaca pikiran orang-orang yang memiliki pikiran buruk. Dan aku tebak kau bahkan juga bisa mencurinya.”
“Apa maksudmu? Mencuri apa?” aku penasaran dengan kalimat yang digantung Martin itu.
“Mencuri pikiran. Memaksa memori dari orang lain masuk ke dalam pikiranmu.”
“Bagaimana bisa?” aku tetap mendengarkan Martin walau aku tidak serius.
“Aku pernah membaca satu buku sejarah. Itu adalah buku legenda. Di dalamnya diceritakan bahka ada sekelompok Elm yang istimewa yang bisa mencuri pikiran Elm lainnya. Para Elm yang istimewa itu menyalahgunakan kekuatan mereka. Memanfaatkannya sebagai senjata yang cukup efektif untuk mengalahkan musuh, bahkan mereka bisa berbuat itu jika mereka tak menyukai seseorang. Efek yang ditimbulkan kepada musuh adalah mereka akan pingsan dan memori mereka kosong, bagai dihapus. Mereka linglung, tak tahu harus apa dan bagaimana. Namun sebagian Elm tadi bisa dicuri kekuatannya oleh orang yang lebih kuat, dan sebagian tidak bisa diambil sama sekali. Bahkan jika seseorang itu memaksa untuk mencuri kekuatan mereka, serangan akan berbalik kepada mereka.”
“Sebentar……. Martin, yang kau ceritakan tak masuk akal.” Aku mencoba untuk menggodanya kemudian tertawa.
“Yaah, awalnya aku tak yakin karena itu hanyalah legenda. Namun melihat kemampuanmu aku jadi percaya, legenda itu benar adanya.” Aku hanya tersenyum saja mendengarnya. “Sapphire, semakin dewasa kau, akan semakin besar kekuatanmu. Aku harap kau tidak menyalahgunakannya.” Martin berkata dengan sangat serius sekarang, sambil memegang kedua bahuku dan menatapku dalam.
“Tapi cara menggunakan kekuatanku saja aku tak tahu.”
“Kita akan mencari tahu.” Ucap Martin.
Sepulang bekerja setiap hari, aku langsung menemui Martin di dekat sungai. Kemudian dia akan berteori mengenai kekuatanku ini. Dia mengatakan bahwa aku Elm yang sangat langka dan dia tidak ingin aku menyalahgunakan kekuatanku jika aku sudah tau bagaimana mengendalikannya, juga tidak mau orang lain tahu karena rasa khawatirnya. Bahkan kepada Proedrus, teman dekatnya pun dia belum mengatakan hal ini.
Martin mengatakan bahwa ada beberapa Elm yang sepertiku, mirip namun belum ada yang sama persis sepertiku. Dia membaca buku legenda lainnya yang ia simpan untuknya sendiri, dan dikatakan bahwa dua Elm yang memiliki keterikatan darah sepertiku bisa saling menyembuhkan dengan catatan salah satu dari kami tidak dicuri kekuatannya. Martin juga menyuruhku untuk berhati-hati kepada siapapun itu yang berada di Coelus ini. Banyak yang mengincar kekuatanku ini.
Setiap hari setelah selesai bekerja, aku akan datang menemui Martin di dekat sungai. Waktu terus berjalan dan sebentar lagi aku akan lepas dari kata “remaja” namun kami juga tak kunjung menemukan cara bagaimana cara membaca pikiran yang benar, dan mencuri pikiran itu. Sampai hari ini aku hanya bisa membaca pikiran Martin. Dia berteori bahwa aku hanya bisa membaca pikirannya karena saat ini aku adalah orang terdekatnya. Tapi aku ragu akan itu. Aku bertanya apakah mungkin aku memiliki darah yang sama dengannya? Karena hal itulah yang menyebabkan aku bisa membaca pikirannya, namun karena kami tidak memiliki bukti yang pasti, kami harus mencari tahu lebih lanjut.
Ternyata dibalik ini semua, Proedrus, teman baik Martin merencanakan sesuatu dibelakang kami. Saat itu aku dan Martin dalam perjalanan pulang ke rumah dan ingin singgah menemui Proedrus sebentar, karena Martin ada keperluan. Martin menyuruhku untuk menunggu di depan rumah saja. Dia masuk ke dalam rumah Proedrus, berusaha memanggilnya namun aku mendengar tak ada jawaban. Kemudian senyap. Aku hanya menunggu disini.
Aku rasa Martin terlalu lama di dalam rumah Proedrus, dan tak terdengar suara sama sekali. Biasanya jika mereka berbincang aku akan mendengar suara mereka walau sangat samar. Namun ini terlalu sepi. Aku mencoba masuk ke rumahnya dan benar saja, tidak ada orang. Aku mencoba untuk menelusuri rumah Proedrus yang tidak terlalu besar ini. Aku telusuri semua ruangan, semua pintu aku coba buka. Dan sampailah aku pada suatu pintu yang agak mencurigakan, ketika aku membukanya aku malah berhadapan dengan tirai yang terbuat dari tanaman liar yang menggantung ke bawah. Aneh sekali.