
Aku tak menyangka Alex mengatakan hal itu ketika berteriak. Aku juga tak menyangka aku akan berani untuk berteriak hal yang sama. Awalnya aku sedikit malu, namun karena aku melihat Alex berani berkata seperti itu, maka tidak ada salahnya jika aku berkata begitu juga, karena aku juga tidak ingin memendam perasaanku lagi.
Cukup lama kami menghabiskan waktu disini. Duduk bersebelahan, juga berbagi cerita bersama. Karena keasyikan, kami menyadari ketika matahari sudah mau tenggelam. Indah sekali. Kami duduk sebentar lagi untuk menikmati pemandangan ini selagi masih disini. Sungguh momen yang menyenangkan dalam hidupku. Aku tak berhenti menatap Alex dengan rambutnya yang berkibar dihembus angin dan lesung pipinya yang dalam itu membuat senyumannya semakin sempurna.
Malam menghampiri dan ini saatnya aku dan Alex pulang. Waktu benar-benar tak terasa berjalan ketika aku sedang bersama Alex. Perlahan aku dan Alex menuruni bukit ini. Untung saja jalanannya dipenuhi oleh pencahayaan yang cukup, jadi kami tidak terlalu khawatir akan salah mengambil langkah. Alex juga tak melepaskan tangannya, memegang tanganku sepanjang jalan ini.
Ketika kami sudah sampai di bawah, Alex langsung mengendarai motornya mengantarkanku pulang. Lagi-lagi kami berkendara di malam hari, ditemani angin malam yang berhembus kencang. Aku memeluk Alex erat dengan tersenyum. Sepertinya jantungku berdegup sangat kencang sekarang. Alex sesekali menggenggam tanganku dari depan dan melihat ke arahku dengan senyuman manisnya itu.
Sesampainya kami di rumah Joy, Alex menyuruhku untuk langsung masuk dan istirahat. Aku menuruti perkataannya. Dia tidak akan pergi jika aku belum masuk ke rumah. Tingkahnya sangat lucu. Aku segera masuk ke rumah Joy.
Ketika aku masuk, aku melihat Joy dan Scarlett masih berbincang di ruang utama sambil memakan cemilan manis yang terbuat dari gandum. Mereka menyambutku dengan saling tatap dan senyum yang merekah. Aku pun membalas dengan senyuman juga.
“Ada yang baru pulang kencan nih” Joy membuka pembicaraan yang sedikit menggodaku. Aku terkejut juga sedikit tersipu.
“Wahh, aku jadi iri” Scarlett ikut-ikutan menggodaku,
“Ah tidaakk, aku hanya......” aku tidak bisa menyelesaikan kata-kataku. Karna memang apa yang dikatakan mereka itu benar. Bahkan kami saling menyatakan perasaan kami dengan berteriak dari atas tebing.
“Lihat Scarlett! Dia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya” mereka tertawa karena melihat ekspresiku yang salah tingkah. Aku tak bisa menyembunyikan sesuatu seperti ini.
“Ayolah Sapphire. Kau harus berbagi cerita kepada kami” mata Scarlett memohon agar aku menceritakan kejadian hari ini.
“Tapi aku..... sebenarnya sedikit malu untuk menceritakannya”
“Untuk apa malu? Kami kan kelaurgamu. Kau harus berbagi cerita maupun itu susah atau senang.”
“Baiklah Scarlett. Tapi kalian jangan menertawakanku ya”
“Itu tergantung pada ceritamu” Joy langsung menjawab.
“Kalau begitu aku tidak akan menceritakannya.” Aku berpura-pura memasang wajah kesal. Mereka langsung membujukku dengan cara mereka yang menggemaskan.
“Ayolaah Sapphireee. Ayo aku sangat penasaran dengan ceritamu” Scarlett berbicara sambil mengguncang-guncang badanku dengan lembut. Aku tak bisa menahan tawaku. Aku juga tak bisa jika tak menceritakan pengalamanku ini. Akhirnya aku bercerita kepada Joy dan Scarlett.
Aku bercerita jika Alex mengajakku ke sebuah tempat yang sangat indah. Tempat dimana Alex biasa menghabiskan waktunya ketika dia sedang ingin menyendiri.
“Apaa???!!!! Ahhhh itu sangat romantis!!” Scarlett sedikit berteriak ketika aku menceritakan bagian dimana Alex berteriak jika Ia mencintaiku dari atas tebing.
“Lalu apa yang kau katakan setelah itu??” tanya Joy penasaran.
“Awalnya aku menatap wajahnya, tidak percaya jika dia berteriak seperti itu. Tapi dia memang menyatakan itu dengan sungguh-sungguh.”
“Lalu?”
“Lalu.......” aku tersenyum tak menyelesaikan kalimatku. Mereka berdua tertawa.
“Lalu apa yang terjadi Sapphire???” goda Scarlett.
“Ahh aku malu mengatakannya”
“Jangan bilang...... ah aku tahu. Kau menerima cintanya kan?” Scarlett menyeringai. Sangat nakal. Joy hanya tak berhenti tertawa.
“Iya” aku berbisik namun disambut dengan teriakan Scarlett yang kuat. Dia mendengar perkataanku dengan suara yang lembut itu dengan baik.
“Benarkah itu Sapphire?? Jadi kau dan Alex sudah resmi berpacaran?” Joy ternyata juga mendengarnya.
“Ya bisa dibilang seperti itu” aku malu-malu menjawabnya.
“Kalau begitu besok kita harus merayakannya!!” Joy sangat bersemangat. “Aku akan mengundang Bu Vidya dan Alex kesini”
“Apa? Bu Vidya juga diajak? Apa itu perlu Joy?” aku sedikit gugup ketika Joy menyebut nama Bu Vidya.
“Tentu, itu harus!”
Tak terasa hari sudah pagi dan malam kemarin ditutup dengan diriku yang habis-habisan digoda oleh mereka berdua. Kemarin malam juga aku tidur dengan tenang. Sepertinya masalah Proedrus tidak lagi terlalu membebani pikiranku, itu malah menambah semangatku untuk segera melawannya. Scarlett juga sangat mendukungku. Dia berkata dia sangat bersedia membantuku, dan akan selalu ada disisiku ketika aku membutuhkannya.
Bel rumah berbunyi, aku langsung membuka pintu karena Joy yang sedang memasak dan Scarlett membantunya. Ternyata itu Alex. Aku sedikit terkejut karena pagi-pagi dia sudah datang kesini.
“Alex. Ada apa kau pagi-pagi begini sudah datang?”
“Aku..... ah ada yang ingin ku katakan kepadamu”
“Sapphire, siapa yang datang?” Joy berteriak dari dapur.
“Ini Alex Joy”
“Kalau begitu suruh dia masuk! Jangan hanya berdiri saja disitu!”
“Baiiikk Joy.”
Aku langsung mengajak Alex masuk dan mempersilahkanya duduk di ruang utama. Aku langsung ke dapur untuk membuatkan teh.
“Ada yang sudah kangen Joy” ucap Scarlett sambil tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
“Scarlett, tidak begitu” aku langsung membantah. “Alex kesini karena ada yang ingin disampaikannya”
“Hmm, menyampaikan apa ya kira-kira Joy?” lagi-lagi Scarlett tertawa.
“Sudah sudah! Mungkin memang ada sesuatu yang penting. Kau senang sekali ya meledek Sapphire seperti itu! Dasar anak nakal!” mendengar Joy mengatakan itu aku mengejeknya dengan senang.
“Aku tak peduliiiiiii” ucap Scarlett sambil menunjukkan ekspresinya yang menjengkelkan. Memang dia anak nakal.
Aku langsung pergi ke ruang utama dan membawakan Alex teh yang aku buat tadi. Aku langsung meletakkannya di meja, tepat di depan Alex. Dia langsung meneguknya. Sepertinya memang dia haus. Aku tersenyum.
“Sapphire, sepertinya aku menemukan sesuatu” Alex membuka pembicaraan dengan tergesa-gesa.
“Apa itu Alex?”
Alex mengambil sebuah buku yang berada di sampingnya. Buku itu memiliki sampul berwarma cokelat tua yang lusuh. Memiliki halaman yang tak begitu tebal. Sampulnya terbuat dari kulit, dan diikat dengan tali rami meski aku juga tak begitu yakin, karena ini sudah sangat lusuh. Dia memberikannya kepadaku.
“Entah mengapa aku memiliki perasaan kalau buku ini sangat penting. Aku menemukannya di bawah lantai tempat tidurku ketika aku sedang berberes rumah. Aku menemukan retakan di lantai. Karena aku penasaran, aku membongkar keramiknya. Dan benar saja, seperti dugaanku. Ada sesuatu didalamnya. Benda ini seperti sengaja dikubur”
“Apa ini ada hubungannya dengan Kakek dan Ayahmu?”
“Iya bisa jadi. Aku juga berpikir seperti itu. Yah walaupun aku tak tahu apa isi buku itu. Aku bahkan belum melihatnya dan langsung pergi kesini”
Aku tertawa kecil karena tingkah Alex. Dia belum membuka buku ini ternyata.
“Baiklah, sepertinya kita harus segera membukanya”
“Ya Sapphire. Sepertinya kau yang harus membukanya”
Perlahan aku membuka tali rami yang tersimpul rapi pada buku lusuh ini. Memang tidak ada tertulis apa-apa pada sampul buku ini. Ketika aku membuka halaman pertama, kedua, ketiga, buku ini membuatku terkejut.
“Apa? Ini hanya buku kosong?” Alex tampak kecewa melihat buku ini. Dia membalik-balikkan semua halaman kertas itu dengan agak kasar.
“Alex! Jangan dibalik dengan kasar, buku itu bisa sobek!”
“Ini hanya buku kosong Sapphire!!” nada berbicara Alex agak tinggi. Mungkin dia merasa tertipu dan benar-benar kesal.
“Tapi bagiku ini bukan buku kosong. Tidakkah kau bisa melihat bacaan yang begitu banyak di dalamnya?”
“Apa??!”